
Lena gemetar saat memegangi tablet, pada foto dan chat yang sudah dihapus, telah kembali ke list chat nomer kerja David. Ditatapnya dengan jeli mata sang suami yang tak berkedip.
"Aku tidak tahu apa-apa, Mah." David dengan hati-hati. "Tadi ...." David kehabisan kata-kata, posisi jadi serba salah.
"Jadi apa?" Mata Lena melebar dan menatap kesal pada sang suami. "Kenapa kamu bisa ngembaliin riwayat ini? Penasaran sama chat dia? Papa masih chat-chatan sama dia?"
"Tidak-tidak pernah!" David menggelengkan kepala dengan cepat.
"Kalau kamu nggak chat dia kenapa dia berani sekali kirim-kirim foto begitu " Bibir Lena mengerucut lima senti. Foto video vulgar itu dihapusnya lagi. Nomor itu dihapusnya lagi dan diletakkan dengan kasar di kasur.
"Loh foto apa?"
"Nggak usah pura-pura, nggak tahu!"
"Loh, Papah memang nggak tahu." David menggaruk tengkuk, dia memang belum sempat melihat foto apa. "Memang foto apa, kenapa kamu marah?"
"Papah!"
David meringis dan berkedip saat mendapat cubitan pedas di lengannya. "Katakan dulu itu foto apa?"
"Lalu kamu mau apa kalau tahu? Balikan Ama Shinta?"
David mengunci dan menarik tubuh Lena yang memberontak. "Diam, Mamah. Biar aku jelasin. Jangan begitu, nanti dedek bayi ikutan setres."
"Papah yang buat setres!"
"Iya, maaf. Sini aku jelasin dulu." David meraih tablet dan menahan tangan sang istri yang masih memberontak. Dia membuka aplikasi penyimpanan data telepon, sambil mengendus bau kenanga dari sang istri.
"Mah, Ini kan tadi di sini ni, ada tanggal dan nomor hape, tulisan kode gambar dan kode pesan. Papa itu belum sempat lihat isinya, tadi klik ini 'pulihkan' Jadinya itu balik lagi. Sekarang Papa hapus, ya. Jadi Papa tidak tahu apa isinya itu, Papa juga belum sempat baca."
"Beneran?" suara Lena mengecil, antara percaya dan tidak percaya. Berharap suaminya tidak bohong. Dia menoleh ke kanan pada sang suami yang langsung mengecup bibirnya.
"Masa Papah bohong?" David dengan serius sambil mengusek-ngusek hidung ke pipi Lena yang lembut. Namun, wajah itu masih terlihat lesu. "Kenapa sedih? Papah itu sudah jujur, dan tidak tahu apa isi chat dia. Dia juga chatnya baru kali ini, karena nomer dia yang biasanya itu Papa blokir."
"Terus kenapa Papa simpan foto kemesraan kalian di laptop Papa!" Lena menekuk bibir dan kesal bukan main, meski dia tak menggunakan nada tinggi di depan David
"Loh, foto mana, sih? Bentar, kayanya itu foto lama." David mencoba mengingat apa yang ada di dalam laptop. Ya, sepertinya dulu, dia sering menyimpan foto di laptop saat belum mengenal Lena.
"Papa mau nostalgia?"
"Tidak-tidak, Sayang. Papa juga lupa. Foto mana, sih, biar aku lihat."
"Udah Mamah hapus! Enak aja, mau lihat-lihat foto cewek lain." Lena jadi keki. David saja tak menyimpan foto antara -Lena dan David- sampai sebanyak itu. Itu sama Shinta bisa belasan ribu, hapusnya aja sampai satu jam. Menyebalkan.
David menyunggingkan senyuman di balik bahu sang istri, karena istrinya juga bisa cemburu. Lelaki itu menarik napas panjang, melepaskan tablet yang kini dipegangi Lena.
Pria memijat pundak sang istri yang begitu tegang. "Maaf, Mah. Cuma ada Mama di hati Papa. Mamah jangan khawatir begitu, dong. Dia kan hanya masa lalu."
Seberapa kalipun David mencoba menenangkan dan meyakinkannya, Lena tak bisa mengontrol pikirannya. Dia sangat pusing dan semalaman tak bisa tidur, seperti berada di neraka rasanya.
David pun menyadari bila Lena makin uring-uringan saat perjalanan pulang ke Italia dan menghindarinya walau begitu Batak kentara. Selalu saja ada yang dikerjakan istrinya saat David mencoba mendekati Lena.
⚓
Sesampai di rumah di Naples, Lena bergegas melewati ruang tamu dan nyaris menabrak seseorang. Dia mundur ke belakang karena ada Niko dan punggungnya justru membentur dada bidang yang dia yakin David.
Kenapa dia di sini. Ah, karena kakak. (Lena)
Niko berkedip cepat, dia harusnya keluar dari tadi, tetapi Sean memintanya untuk mencari berkas di kamar. Dia menatap David yang mengeluarkan aura membu*nuh.
Lena semakin tegang, karena tak pernah mengira seperti apa rasanya berjumpa di rumahnya sendiri dan terlebih dalam posisi ada suami di belakangnya, membuat Lena merasakan hawa dingin di punggung. Lena mengangguk tanpa berkata-kata, langsung melewati Niko. Lena takut bila suaminya akan marah.
"Sorry, Sean menyuruhku mengambil ini." Niko dengan senyuman tak bisa disembunyikan karena tak menyangka bisa melihat wajah Lena, yang sekarang tampak seperti orang lain, tampak misterius tetapi dia telah tahu kepribadian wanita itu.
" ..... " David menelan saliva kasar dan mendapati tas milik Sean. Dia menatap Niko sangat dingin. Meski dia yakin akan perasaan Lena padanya. Siapa yang tahan dengan situasi ini. Tampaknya itu yang dirasakan Lena semalam saat melihat chat dari Shinta. "Ya ... Senang bertemu denganmu." David mengangguk dan mencoba bersikap normal, dia melewati Sean dengan dada terasa sesak.
Dengan seringai licik, Niko melihat David, lalu meninggalkan rumah itu. Mobilnya mengarah ke apartemen yang ditinggalinya dengan Sean.
Usahanya mendekati Emma juga lancar, dengan begitu maka dengan sendirinya dia akan memiliki banyak kesempatan bertemu dengan Lena tanpa perlu dia mengatur rencana.
__ADS_1
⚓
Di tempat lain, malam itu, Stef baru selesai meeting dengan kepala pelayan untuk jamuan besok saat perkumpulan keluarga besar dari Kakek Leora. Dia lelah pada kehidupan pernikahannya. Apa-apa sendiri. Marcho juga jarang di rumah, dan selalu menggantung perasaannya.
Sudah lelah-lelah menyiapkan begini, lalu besok saat hari H, hanya mendapat pengucilan dari paman dan pak dhe dari suaminya. Pernikahan seperti apa ini. Bahkan Marcho tak memperhatikan badannya yang telah buncit, apa tidak penasaran bahwa dia telah mengandung anak Marcho. Suaminya justru sibuk diluar negeri dengan mantan tunangan David.
Kalaulah sudah tidak suka, mengapa Marcho tidak menceraikannya saja. Stefanie pergi ke kamar sang anak dan tidur di samping Romeo. Ponsel dilihatnya, tak ada kabar apapun dari Marcho seperti biasa. Dia begitu muak pada pengabaian bertahun-tahun ini.
Sebuah notifikasi muncul dari nomer baru ....
-Aku berada di Naples, Bidadari. Saya yakin 100 persen, kurang dari 3 x 24 jam, kau akan menemukanku, Stefanie Ailiy-
Stef menghapus nomer itu. Dia jadi teringat saat di Bali, setelah pernikahan Lena.
Malam-malam, Stef keluar dari toilet setelah buang air kecil. Dia duduk di meja rias untuk menghapus make up yang belum sempat dia bersihkan karena letih setelah prosesi melepas pengantin saat Lena-David masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya dia sudah mandi sore, tetapi wajahnya hanya dibersihkan dengan sabun muka, padahal make-upnya tipe anti air, yang harus dibersihkan dengan cairan pembersih kursus agar benar-benat bersih, hingga takkan menyebabkan jerawat.
Jangan tanya Marcho di mana. Para lelaki sibuk berkumpul dengan keluarga dan minum sampai pagi. Sebuah gedoran keras membuat Stefanie memalingkan muka dan menemukan suara itu dari balkon. Stefanie refleks berlari dan mengira pintu belum dikunci, jadi kemungkinan terkena angin.
Ternyata pintu terkunci dan mendapati bayangan seseorang si luar pintu yang membuat Stef mundur beberapa langkah. Gedoran makin keras, mengharuskan Stef membuka pintu, tak mau bila Romeo nanti terbangun dan menangis.
Mata Stef terbelalak pada darah yang mengalir di perut pria itu. Dia mengira itu penjahat, kenapa juga bisa sampai di balkon kamarnya. Lelaki itu mengesot ke dalam kamar dan menyuruhnya menutup pintu.
"Siapa kamu? Kamu penjaga, ya?"
"Cepat tutup!" Pria itu mengeluarkan senapan api dari balik saku celana dan Stef dengan gemetar langsung loncat ke arah pintu.
"Kain-kain cepat!"
Stef kembali meraih kain apa saja yang dia bisa ambil, dia tak sadar memberi handuk yang baru dipakainya. "Apa perlu panggil dokter? Aku tidak punya kenalan dokter di sini," kata Stef dengan gemetar saat melihat perut pria itu yang melintang goresan darah. Tubuhnya menggigil karena baru melihat darah sebanyak itu.
"Ambilkan ponselku di saku kiri."
Stef dengan gemetar meraba saku kiri itu dan dia melempat pisau lipat karena kaget begitu melihat apa yang dia lihat.
Stefanie dengan susah payah meraih ponsel itu. Dia mencari sebuah nama yang disebut pria itu, lalu Stef memanggil nomor itu dan membuat suara dalam mode on.
Stef hanya memandang ngeri saat pria berpakaian formal membawa koper yang adalah peralatan dokter. Pria berjas mengobati pria Asia, menjahit luka iris sepanjang 10 sentian. Dokter itu pergi, Stef melihat jam 3 pagi, dia berharap Marcho segera pulang.
"Siapa namamu?" tanya pria itu yang baru keluar mengganti baju.
"Stef ... "
"Nama lengkap?"
"Stefanie Aily. Eh, anda jangan bawa putraku." Stef dengan ngeri saat pria yang terluka di perut justru menggendong Romeo.
"Ikut ke kamar sebelah, biar darah-darah dilantai itu dibersihkan."
"Saya tetap di sini, anda pergi saja .... "Stef tak bisa berkata-kata lagi karena pria itu merogoh saku celana yang berisi senapan api.
Setelah cukup lama menunggu di kamar sebelah, setengah jam kemudian Stef kembali di suruh kembali, ke kamar yang bersih.
Pria itu memberikan ponsel. "Berikan nomormu."
"Untuk apa?" Stef bergidik melihat aura psikopat orang itu. Sepertinya, orang itu biasa berbuat kasar.
"Kirim nomer rekeningmu. Aku tidak mau berurusan denganmu lagi. Tutup mulutmu dan jangan pernah beritahu siapapun apapun yang terjadi hari ini."
"Saya tidak akan beritahu siapapun. Anda tak perlu pedulikan saya." Stef meremas pahanya dan berharap pria itu segera pergi.
Suara bel berbunyi, pria itu langsung menilik pengintip pintu, lalu berbalik dan menahan tangan Stef.
"Mau kemana?"
"Itu suara suamiku, dia pulang, dia mabuk. Aku harus membukakannya."
"Jangan, tak boleh ada yang masuk sini selama aku di sini."
__ADS_1
"Sampai kapan anda di sini? Dia suami saya." Stef berkedip pelan dan duduk di sofa lagi dengan tak tenang.
Sampai pagi menjelang saat Stefanie tak sengaja tertidur, dia melihat sekeliling dan orang itu sudah tak ada. Dia mengecek ke kamar mandi. Matanya terpaku pada ponselnya yang jadi berada di meja depan sofa. Dia memeriksa ponsel yang diberi sandi, sekilas tak ada yang berubah. Stef menghela napas lega.
Di hari berikutnya saat Stefanie sedang sarapan di restoran hotel. Orang itu tiba-tiba muncul dengan membawa sebuah mainan yang langsung diberikan ke tangan Romeo. Romeo saja sampai ketakutan dan tak mau meneruskan makan . Rasanya, Stef ingin berteriak pada tamu hotel dan minta tolong.
"Jangan membuat kegaduhan. Bersikaplah seperti biasa, atau kau mau bila putramu ini mengalami seperti yang aku alami malam itu. Dan panggil aku Jefri."
Stef bergidik karena senyum mengerikan orang itu. Pria yang jelas dengan tatapannya seperti orang bengis. Tangannya meremas sendok garpu ditangannya.
Ponsel Stefanie berdering, membuyarkan lamunannya tentang Jefri. Jelas SMS itu pasti dari Jefri.
Stefanie lalu mengangkat video call dari Sean, dimana Sean tampak di kamar
yang baru. "Kamu sudah pindah?"
"Sudah, Kak Stef. Lihat, nih si usil." Sean mengarahkan kamera ponsel, ke wajah Niko yang setengah terbenam di kasur-yang satunya
"Halo, Kak Stef. Belum tidur?" Niko melambaikan tangan. "Main ke tempat kami, kak. Kami kekurangan makanan." Niko dengan nada bercanda lalu tertawa .
"Nggak usah di dengerin, Kak." Sean kembali mengarahkan kamera ke wajah sendiri. Sean lagi-lagi mendapati guratan kesedihan di wajah wanita itu.
"Kak Stef, barusan ini, aku kirim berkas yang kamu minta. Jadi, besok aku pagi-pagi, aku ambil berkas di rumahmu, setelah kamu menandatanganinya, lalu aku bawa ke kantor."
"Oke, terimakasih sudah merepotkan. Kau sudah bertemu Lena? Dia sudah pulang, kan?"
"Iya tadi siang, Niko papasan pas Lena pulang. Aku juga belum sempat telepon."
"Aku belum sempat menghubungi Lena. Palingan dia juga capek. Lagipula besok ketemu di rumahku. Ya sudah, selamat beristirahat, Sean."
"Selamat beristirahat juga, kak Stef. Selamat malam." Sean mematikan telepon. Dia berjalan ke tempat tidur Niko, yang berukuran Queen. "Kamu kelihatan happy banget."
"Biasa saja. Kapan aku mempertontonkan kesedihan, Unfaedah!"
Sean miring ke kiri. "Jarang-jarang kamu seharian terus nyanyi."
"Itu hobi baruku." Niko tertawa ringan. Jelas saja dia semangat setelah melihat Lena. "Kemarin waktu aku mampir ke toko buku bareng Emma, dia nawarin kita jadi model."
"Emma?" Sean mendadak tersenyum semeringah.
"Sean, Emma itu cantik, ya?"
"Ya, cantik." Sean dengan senyuman penuh arti. Jantungnya kembali berdebar lebih cepat.
"Aku sama dia cocok, nggak?"
"Apa?" Sean langsung membeku. "Cocok dalam hal?"
"Dia orangnya asik dan baik."
"Ya," suara Sean tertahan. Kenapa Niko jadi membahas Emma.
Tidak mungkin kan, Niko beralih secepat itu dari Lena. Atau, tidak-tidak. Sean membuang pikiran buruk, dia yakin Niko bukanlah orang yang akan mempermainkan perasaan seorang wanita. Sean terus mendengar Niko memuji Emma.
"Bagaimana ....? " tanya Niko.
"Apanya yang bagaimana?" Sean sampai tak mendengarkan pertanyaan Niko padanya.
"Aku akan mengajak Emma kencan."
"Niko, kamu terlalu cepat!" Sean menggelengkan kepala. Kenapa harus Emma. Perempuan yang tengah dia taksir.
"Aku hanya mengajaknya kencan. Dia bisa menolak kalau memang tidak mau." Niko dengan penuh semangat. Dia tahu Sean pasti akan selalu mendukungnya.
"Tapi, Niko. Dia sahabat Lena, nanti kalau kamu dan Emma ada masalah. Aku yang jadi nggak enak sama adekku."
"Kau tahu aku, kan?"
Sean mengangguk pasrah. Dia berbalik memunggungi Niko yang asik bermain game di ponsel. Lalu bagaimana dengan perasaanku pada Emma?
__ADS_1