
Niko keluar dari perusahaan keamanan, wajahnya berseri-seri, saat dia diterima dan akan ditugaskan untuk mengawal seorang pejabat. Sebenarnya, dia tak pernah berpikir akan kerja melenceng jauh, tetapi gajinya empat kali lipat dari gaji sebelumnya. Itupun baru gaji di masa percobaan.
Sebuah mobil berhenti tepat di samping Niko, lalu kaca jendela mulai turun. Tampak Emma tersenyum dengan sangat manis, sambil menunjuk jok samping. "Emma?" Niko melihat sekeliling di pelataran kantor keamanan yang silau dan panas.
"Cepat masuk!" Emma menahan kaki di pedal rem.
Niko menyunggingkan senyuman, dia memutari bagian depan dan langsung duduk di samping Emma. "Ko, pas banged, Em."
"Hahaha .... Iyalah, Emma gitu! Aku jemput putriku dulu."
"Dia pulang jam 2?" Niko mengetuk-ngetuk tombol kaca dengan telunjuk.
"Iya, aku ikutin kelas sampai jam 7 malam, tetapi kita jemput dia lebih awal, kasian Dhona."
Niko mengangguk pertanda mengerti, dia tidak tahu di mana ayah Dhona dan tak berani bertanya. "Aku saja yang nyetir, nggak enak masa cewek yang ... "
"Tidak apa-apa, Niko, santai saja!"
"Kudengar kau membuka showroom di sini dengan Lena?"
"Iya, kami butuh model. Apa kamu dan Kak Sean mau jadi model pria?"
"Aku? Aku nggak pernah kaya gituan." Niko meraih ponsel yang bergetar dari saku celana.
"Kamu cuma perlu pake baju desain kami, lalu kami akan arahin kamu. Pokoknya wajah Asia kamu itu, jadi nilai plus untuk brand ambasador kami. Nanti malam, aku bicarain ini dengan Lena."
"Eits, jangan! Jangan beritahu Lena kalau aku di ngara ini." Niko berubah jadi tegang. "Aku nggak enak sama suaminya, apalagi aku sudah janji."
"Oke." Emma mengangguk, baru ingat jika David pasti tidak suka. Padahal ini bagus menurutnya.
Mobil menepi ke pinggir jalan, di sebuah sekolah swasta, saat Dhona menunggu di taman sedang bermain ayunan sendirian. Emma menghampiri sang putri dan menuntunnya sambil membawa tas merah jambu milik Dhona.
Niko tersenyum lembut. Membayangkan, dia dan Lena ... memiliki putri, lalu Lena menjemput anak pulang sekolah, mungkin tampak seperti Emma sekarang.
"Paman Sean dimana?" tanya Dhona pada sang mami.
Sabuk pengaman dipakaikan ke pinggang Dhona, di jok belakang. Putrinya itu mengamati Niko.
"Dhona, Paman Sean baru pulang nanti sore. Jadi, sekarang Paman Niko yang akan menemanimu jalan-jalan, ya?" Niko dengan lembut dan condong ke belakang.
"Tapi, Mih, Dhona mau main sama Paman Sean," lirih Dhona dengan cemberut. Dia mendapat elusan di rambut.
"Kamu tidak dengar apa yang Paman Niko bilang? Paman Sean sedang kerja dulu." Emma lalu menutup pintu mobil belakang dan kembali ke jok pengemudi. Mereka menuju ke Mall terbesar di Napoli.
⚓
__ADS_1
Sean mengangkat jari kiri dari keyboard dan menatap Stef yang baru masuk, dan pintu otomatis tertutup. Ruang mereka transparan dengan kaca, sehingga Sean bisa melihat ke luar, dimana Kakek Leora sedang diikuti sekertaris, mereka tampak keluar dari ruang ruang Presdir. "Sudah selesai?"
"Huh, yah, begitulah." Stef menaruh berkas di mejanya yang berjarak dua meter dari meja Sean. Dia berjalan lagi ke mesin kopi, lalu menekan tombol mesin kopi.
Stef menerima panggilan telepon dari anaknya. "Halo, Romeo .... Kamu sudah makan, Nak?"
"Sudah Mami, Romeo makan sate, tapi nggak enak. Enak buatan Paman Sean!"
Stef tertawa langsung melirik Sean, dan Sean seolah bingung karena alis itu semakin terangkat. "Lalu kenapa Romeo chat Mami pakai emoticon marah segala?"
"Mami, Romeo telepon papi, tapi papi nggak jawab. Papi lupa mau antar Romeo les piano. Romeo nggak mau ikut les!"
"Mami coba telepon papi, ya?" Stef menghela napas panjang. Begitu gedek pada Marcho yang mulai kembali cuek.
...----------------...
Lena berdiri di ujung gerbong kereta, saat kereta melewati lembah menurun sambil memegangi lengan sang suami yang memeluknya dari arah belakang. "Curam sekali, Pah. Aku takut kalau kereta ini sampai tergelincir."
"Tidak, Sayang. Tidak akan."
Sepanjang perjalanan Lena terus menikmati pemandangan dan memeluk David, mengendus bau citruz yang menenangkan. Siangnya, mereka turun dari kereta, dan mengelilingi daerah sekitar Airterjun Staubbach.
Lena dan David memutuskan makan siang di Lauterbrunnen dengan latar belakang air terjun Staubbach.
Tampak kereta mulai mendekati puncak saat Lena terbangun dari tidurnya. David mengecup hidung dan bibir Lena dengan kelembutan saat Lena masih mengumpulkan nyawa.
"Enak sekali boboknya?"
Lena tersenyum lembut dan sedikit linglung sedang di mana, bahkan dia terkejut dengan pria di sampingnya. Barulah setelah satu menit, Lena ingat bahwa dia telah menikah. "Papah .... uh, nggak sampai-sampai.."
"Sebentar lagi, Sayang. Mana yang pegel?"
"Punggung." Lena condong ke depan, membiarkan suaminya yang langsung memberi perhatian dengan menekan bahu mengunakan jempol. Tekanan jempol dengan gerakan memutar itu membuat mata Lena kembali kiyip-kiyip keenakan. "Lebih keras, Pah, kanan lagi, bawah tulang belikat, iya itu itu. Di situ .... ! "
David jadi tukang pijat dadakan sambil melakukan panggilan suara, lewat earphone nya. Ya, dia baru bisa menelpon sang Sekertaris, karena tadi takut mengganggu tidur sang istri. Ada perasaan bahagia setiap dia membuat istrinya merasa nyaman, karena keadaan mood sang istri yang sering naik dan turun.
David tersenyum menawan, dia mengambil kamera dan memotret sang istri sejenak yang tengah berdiri di dekat jendela, lalu dikirimkan ke laptop dan langsung dijadikan wellpaper. Dia kembali bekerja, sesekali mouse nya di tekan pada layar di pojok kanan bawah di tulisan 'show dekstop' untuk melihat foto sang istri yang begitu tampak damai hatinya.
__ADS_1
Lena masih memandang keluar dengan terus berdzikir di dalam hati, dan tak sadar bahwa sempat difoto sang suami. Rasanya Lena ingin menangis karena bahagia. Takbir terus berkumandang di relung hati sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Penyayang karena telah diberikan karunia yang banyak.
Hatinya bergetar menikmati keindahan hamparan salju putih, yang makin berkilau di bawah sinar matahari yang kekuningan. Matahari seperti sinar lampu, kehangatan tersamarkan oleh dinginnya suhu di disekitar puncak gunung Jungfrau.
Kereta mulai mendekati puncak, di gunung Jungfrau Lena menatap gletser yang memanjakan mata dari dalam kereta. Dia melirik sang suami, yang masih sibuk dengan laptop. Tanggung jawab yang diemban David, yang tak bisa ditinggalkan, membuat Lena harus banyak-banyak mengelus dada.
Lena ingat tiap kali, dia bangun malam dan menemukan suaminya tengah bekerja dan melakukan sambungan meeting dengan kantor di belahan bumi lain yang di tempat lain masih pagi, atau siang. Meski begitu, Lena belum pernah mendapati suaminya mengeluh dengan jam kerja dan tidur yang kadang berantakan.
Pabrik minuman instan yang telah didirikan oleh David sejak lulus kuliah, sekarang sudah memiliki cabang di 150 negara. Terlebih David sudah tak memiliki saham di pabrik coklat milik kakek Leora. Jadi, David bisa memplotkan waktu ke perusahaannya sendiri di usia yang akan menginjak usia 31 tahun ini.
Semua orang turun untuk menikmati Gletser dan diberi waktu 30 menit diluar. David menarik tangan Lena dengan lembut, setelah memakaikan kacamata hitam karena salju disini sangat reflektif, dan menjadi mudah buta salju.
Lena menginjak kaki di salju, dengan sepatu anti selip dan ternganga dengan begitu kagum sampai meneteskan air mata. David memeluknya erat-erat. "Pah, terimakasih telah membawaku ke tempat ini."
"Uh-hu. Sama-sama, Sayang." David mengelus rambut Lena dan merasakan tekanan keras kepala Lena di dadanya dan lingkaran tangan Lena, sampai dia sedikit sesak karena begitu erat pelukan dari sang istri.
Pengawal pria mengambil gambar Lena dan David dalam beberapa jepretan.
Merekapun telah di atas kereta GANTUNG.
"Mas, kita tidak akan bisa membeli waktu. Waktu sekarang takkan kembali lagi di lain waktu. "Lena menggenggam tangan David erat-erat saat mereka berdiri berdampingan.
"Karena itu kita fokus pada detik ini, aku jadi teringat saat kita mengatakan itu 'hidup untuk detik ini' lalu kita langsung tertabrak mobil box. David menarik Lena agar duduk di pangkuan. "Jadi, apa kau sudah memilih nama? Mari persiapan nama secepatnya."
"Aku mau Papa yang memberi nama."
David menatap Lena penuh arti. "Aku terpikirkan nama singkatan kita David-Lena menjadi 'Dale' .
Dale yang sebenarnya artinya Lembah, tetapi bisa diartikan rendah hati, setia, memiliki jiwa mendidik, penuh semangat, mudah beradaptasi. Ini akan menjadi identitas kuat untuk keluarga kita.
Aku juga akan memilih ... ehm kalau perempuan." David melirik puncak salju. "Aneira, artinya salju, dingin, putih."
"Aneira Dale? Bagus, Mas." Lena tersenyum lepas.
"Hanya saja, jika lelaki aku ingin menamainya Eirwen Dale Sujatmiko."
"Wah, Mashaallah Tabarakallah terimakasih, Papah. Nama bapak dicantumin." Lena begitu tersentuh.
...----------------...
__ADS_1
"Melamunin apa?" tanya Sean yang sedang makan di kantin, karena Stef tak menyentuh makanan yang sudah diambil.
Stef menatap mata Sean, dia sulit sekali untuk menjelaskan akan kegelisahannya soal desas-desus Marcho yang Keluar negri dengan Shinta. Pikirannya berkecamuk, apa yang mereka lakukan. Apalagi Pamannya David terus memanasi dengan kata-kata yang tidak enak.