
Sean kembali ke apartemennya dan mencari ke asal suara berisik di kamar mandi, dimana Niko tengah menyikat baju hanya dengan celana kolor. Dia mendapati seketika wajah Niko memucat. “Kau sedang cuci baju.”
“Kupikir kamu tak jadi pulang sekarang,” ujar Niko lantas cuci tangan dan mengenakan kaos yang sempat dilepas dan digantungkan di balik pintu kamar mandi. Jantungnya berdebar, belum mengusir Emma dari kamar.
“Em-ma?” lirih Sean, lalu berpaling ke belakang dan Niko hanya menyengir lalu menariknya ke ruang tamu.
“Aduh, ceritanya panjang, jangan marah dulu. Dia datang dan maksa tidur di tempat tidurmu.” Niko menggaruk tengkuk karena tatapan tajam Sean, terlebih karena alis Sean yang terangkat satu seolah ingin tahu lebih jauh.
“Dia tadi pagi datang saat aku baru pulang kerja, dia mencari kamu kok.” Niko tertawa garing karena kedua alis Sean yang kini mengkerut.
“Ah, dia datang tadi pagi, katanya mau minta maaf setelah kemarin … sudah bikin aku kesal.”
“Bikin kesal kenapa?” tanya Sean dengan rasa ingin tahu karena Niko seolah menutupi sesuatu dan semakin salah tingkah. “Niko?”
“Itu, dia tempo hari mabuk di sini-” Niko menganga lalu mengatubkan bibir sambil mengayunkan kepala dengan kesal karena keceplosan. Terlebih mata Sean tertuju pada botol minuman di balik pintu, yang belum sempat dia buang.
“Kamu minum itu?”Sean menggigit bibir bawah. “Berdua hanya dengan Emma?”
“Aduh, jangan salah paham! Dia yang minum dan aku tidak. Aku hanya menemani, kami tidak macam-macam-” Niko diam dan meringis karena ekspresi kaku Sean yang tampak kecewa. “Dengar dulu, Sean! Aku langsung menelpon Paolo dan Paolo menjemputnya, hanya saja selimutmu dibawa untuk menutupi tubuh Emma-”
“Menutupi?” Sean mendadak berkeringat dingin, entah, mengapa omongan Niko terdengar seperti omong kosong. Niko yang selalu menjaga jarak berduaan dengan wanita di tempat sepi. Mengapa kali ini berani berduaan. Apa mereka sudah semakin dekat?
“Ah, sudahlah! Pokoknya aku tidak melakukan apapun! Kau sudah kembali, jadi urusin itu fansmu!”
“Fansku?” Sean mengernyitkan kening semakin bingung, kala Niko kembali ke kamar mandi.
“Aku mau nyuci! Bangunin saja dia, suruh cepat pergi dan jangan boleh datang kemari lagi!”
Sean kembali ke kamar sambil menarik kopernya ke depan lemari. Dia membuka koper, dan meraih jepitan rambut bergambar Matryoshka, juga satu topeng iblis dipakainya. Suara manja wanita yang mengulet membuat perhatian Sean teralihkan, dia mendekat ke Emma dan tersenyum. “Lucu sekali.”
Mata Emma mencari asal suara dan dia mengucek mata, lalu melototi sesuatu mengerikan di depannya. “Setannnnnn!!! Ahh! Ahhhh!” Dengan jantung berdebar cepat, Emma bangkit dan lari tunggang langgang, dia loncat ke arah Niko yang berlari ke arah pintu. Wajahnya terbenam pada kain basah di dada Niko dengan tanpa sadar mencengkeram kuat dada dan lengan Niko sampai membuat Niko meringis.
“Aah ... Aahh … Ahhh!” Niko terkejut bukan main, jantungnya berdebar kencang setelah melihat apa yang muncul dari kamar, hingga dia ikut bersembunyi di pucuk rambut Emma yang wangi.
“Setann Niko!” Emma mendorong Niko agar menutupi tubuhnya.
Niko mengintip sedikit dengan napas masih tersengal saat wajah menyeramkan itu terlepas oleh sebuah tangan, dan kini hanyalah wajah Sean. “Sean? Itu … Sean? Kamu Sean?”
Sean mengangguk-anggukk dan topeng itu terjatuh dari tangannya setelah sadar jika wajah Emma menempel di dada Niko. “Ah, sorry, aku tak bermaksud mengagetkan kalian.” Sean beralih ke arah Emma yang mulai mengintip ke arahnya dan mata itu melotot. Sean kembali ke kamarnya karena tidak nyaman pada kedekatan mereka.
“Kak Sean?” Mata Emma berbinar, dia meraih topeng dari lantai dan memandangi topeng yang nyaris membuat jantungnya copot.
“Huh, tanganku panas banged, dasar cakar kucing!” gerutu Niko sambil meniup lengannya. Dia pikir tadi teriakan apa. “Hei, kau kan perempuan, jangan masuk kamar laki-laki.”
Emma menjulurkan lidah ke arah Niko, dan mengejeknya saat sebelum masuk kamar. Dia duduk di dekat koper, dimana Sean tampak sibuk mengeluarkan semua pakaian dari dalam koper dan menaruhnya di lantai. “Kak Sean …. “
“Hm …. “ Sean menyembunyikan celana inti dibawah kaosnya, lalu meraupnya dan meletakan di belakang pinggang.
“Kok, pulangnya siangan?” lirih Emma.
“Iya, nganterin Kak Stef dulu.” Sean semakin menunduk, matanya menangkap dua tangan Emma yang saling meremas di pangkuan. “Kenapa kamu bisa ada di sini?”
“Nungguin Kak Sean,” kata Emma bersemangat, dan matanya berbinar saat Sean menatapnya. “Maksudku, Donna sudah nyariin Kakak dan ingin ketemu kakak, gitu.” Emma meringis dan mengusap alisnya dengan canggung. Dia tak mau agresif, takut Sean jadi geli padanya.
Jadi, Donna. Sean sudah senang bukan main, tak tahunya hanya karena Donna. Dia terdiam saat bajunya dipegang dua tangan mungil itu. Mata Sean membesar saat Emma menghirup lipatan tumpukan baju di tangan mungil itu.
“Ini bau harum, pasti masih bersih. Kalau kotor biar aku cuci. Maksudku, aku cuci, biar kakak cepat main ke tempatku untuk menemui Donna sebentar saja.”
“Itu ko-tor, Emma. Aku saja yan cuci, ada mesin.”
“Aku akan masukan ke mesin kalau gitu!”
“Tunggu!” Sean dengan sungkan, akan melarang Emma, tetapi Emma yang mungkin terkejut atau canggung jadi menjatuhkan bajunya. Sebuah foto polaroid melayang ke ujung kaki Sean.
Emma berkedip pelan, dadanya tiba-tiba terasa tertekan seolah ada batu besar menimpa kepalanya. Dia tersenyum masam melihat foto pipi Sean dan Kak Stef yang saling menempel dengan di tangan mereka ada es krim dengan background jam astronomy. “Foto yang bagus,Kak.”
Sean mendongak ke arah Niko yang berdiri di garis pintu, Niko menggedikkan bahu dan kembali pergi. “Bagus?”
“Ah, aku haus, aku mau minum dulu!” Emma menarik napas dalam-dalam. Seluruh wajahnya terasa mendadak kaku. Dia berdiri dan menaruh foto itu pelan tanpa berani menatap Sean.
“Ah, jadi bagus?” gumam Sean setelah Emma keluar dari kamar. Dia tak mengerti apa kata bagus yang dimaksud wanita itu. Apa backgroundnya? Sean menyimpan foto itu dan memasukan ke dalam dompet.
Di depan kulkas, Niko yang akan meraih kue miliknya, tiba-tiba kuenya telah disabet hingga berpindah ke tangan mungil. Dia melirik ke kanan dan mendapati Emma mengelap embun bening di pipi. “Hei, apalagi?”
“Diam,” ketus Emma sambil satu tangan meraih jeligent susu dan membawa ke meja makan.
“Apalagi ini cewek,” gumam Niko. Dia menarik sebotol jus jeruk dan menaruhnya kaku di depan Emma yang kembali mengelap air mata dengan wajah tertunduk.
Niko menoleh ke kanan ke arah Sean yang memeluk pakaian dan berjalan ke arah mesin cuci. Dia saling pandang dengan Sean dengan bingung. Niko yang akan menyusul Sean ditarik Emma.
“Duduk,” lirih Emma dengan perasaan kesal.
__ADS_1
Dikejauhan Sean menggelengkan kepala, dia sungguh bingung pada dua orang itu. Pakaiannya dimasukan mesin cuci dengan pikiran melayang pada tangan Emma yang barusan memeluk pergelangan tangan Niko. Sebenarnya mereka sedekat apa?
“Pulang sono, aku mau tidur,” kata Niko bingung sambil mendorong tisu ke depan dada Emma. “Kenapa nangis?”
“Siapa yang nangis,” gerutu Emma sambil mengeluarkan ingus dengan kesal.
“Lah itu apa?” Niko melirik jam pukul sebelas siang. Sebentar lagi padahal waktunya untuk tidur.
“Ke butik, yuk. Lena pasti nungguin aku.” Emma menaruh tisu yang kusut di atas meja makan, lalu melahap roti.
“Butik?” Mata Niko berbinar begitu mendengar nama Lena. “Aku jemur baju dulu, ya?”
Emma mengangguk dan terus menunduk, sampai kepergian Niko, sampai kedatangan Sean dan duduk di depannya.
“Apa kabarnya Donna?” tanya Sean canggung karena wajah masam Emma.
“Baik.”
“Dia di rumah? Aku mau main.”
“Ntar Kakak digigit Charlie, aku mau ke Butik.”
Sean menggaruk tengkuk, Emma tak pernah berbicara begitu padanya. Bila dia takut anjing itu, pasti Emma langsung akan bejanji menyingkirkan anjing bernama Charlie. “Apa aku titipin hadiah Donna ke kamu?”
Emma menarik napas dalam-dalam dan bibirnya kian mengkerut. “Terserah.”
“Kata Niko dai kemain kamu main ke mari?”
“Kenapa? Nggak boleh?” Emma akhirnya menatap Sean lekat-lekat.
“Memangnya kalian ngapain di sini? Nonton film.”
“Tidur-”
Sean sontak terbatuk-batuk, keselek air liurnya sendiri. Dia mengelus dadanya. Tak mengerti tidur apa yang dimaksud. Apa tidur satu ranjang berdampingan, atau apa. Apa Emma tidak risih, padahal Niko laki-laki. Atau Niko jangan-jangan berpikiran tidak-tidak, pantaslah kalau begitu mereka semakin dekat. Sean meraih uluran susu jus jeruk dan Sean menggelegaknya.
Sean masih bingung saat Emma meninggalkannya dan terus mengetuk pintu kamar, memanggil Niko. Sepertinya, Niko ikut ke butik. Dia lebih bingung karena Emma tak pamit padanya saat pulang. Niko juga tak menawarinya ikut mereka. Sean berbaring di kasurnya, yang berbau parfum wanita sambil menatap sedih pada jepitan rambut yang akan diberikan pada Donna dan Emma.
Mobil Emma membelah jalanan kota dengan Niko yang menyetir. Niko meringis gemas karena Emma kembali memukuli bahunya. Lama-lama Niko sebal bukan main pada Emma.
“Jangan marah-marah nggak jelas dan melakukan kekerasan padaku, Emm,” teriak Niko dengan melajukan mobil makin kencang.
“Dia siapa? Macho? Ya wajar, mereka suami istri.”
“Niko, maksudku itu Kak Sean! Masa pipi mereka saling menempel!”
“Keluarga.” Sean menghela napas berat, tak habis pikir. “Mereka itu keluarga. Jadi, dari tadi kamu kesal karena dia? Nangis juga karena dia?” Niko melirik sebelah dan Emma mengangguk dengan bibir mengkerut. “Sean itu tak seperti itu, dia juga takkan ganggu istri orang. Lalu Kak Stef juga bukan orang seperti itu. Baru juga foto, kalau mereka ciuman barulah itu aneh-”
“Niko, ihhh!”
“Sudahlh berisik. Kupingku mau pecah, suaramu itu melengking banged. Kalau mau foto seperti itu bilang sama Sean, mungkin dia mau.” Niko berhenti di sebuah toko kue.
“Kok berhenti?” tanya Emma.
“Kamu mau kue?” tanya Sean dengan senyuman manis.
“Boleh.”
“Tunggu-” Niko keluar dari mobil. Lima belas menit kemudian, keluar membawa empat paper bag.
“Banyak banged, ini aku tak habis sendirian.” Emma terpukau melihat ke dalam ke empat dus pada kue dengan hiasan indah.
“Kalau gitu bagi dengan timmu saja.”
Emma mengangguk dan tersenyum sangat manis. “Makasih, Kak Niko!”
Ketika Lena keluar dari Studio, dia mendapati mobil Emma baru parkir. Tampaklah Niko dari kursi pengemudi lalu membawa empat paper bag dan Emma menyusul di belakang. Sepertinya, mereka semakin dekat.
“Len! Sorry telat, tadi nunggu Kak Sean.” Emma menggaet lengan Lena dan masuk studio lagi.
“Kak Sean sudah pulang?” Mata Lena berbinar. “Memang kalian habis jemput dari bandara?”
“Tidak! Aku menunggu di apartemennya dengan Niko.”
Lena mengangguk. “Kamu dari pagi sudah ditunggu anak-anak,” kata Lena.
“Aku ketiduran, maaf.” Emma memasang wajah dengan penuh rasa bersalah.
Niko dapat menghirup aroma kenanga di belakang Lena. Dia rela tidur nanti asal bisa melihat Lena. Mereka bertiga masuk ke ruang pimpinan, termasuk Niko yang langsung sibuk mengambil air mineral dingin dari kulkas mini.
Emma keluar saat Lena kembali ke meja kerja sambil menelpon sopirnya agar dijemput nanti saja. Lelaki itu melihat ke luar jendela, tetapi mencuri pandang ke arah Lena yang tujuh meter darinya. Dia senyum-senyum sendiri saat Lena makan kue yang adalah kesukaan Lena.
__ADS_1
“Ada yang lagi senang, ni?” tanya Lena sambil berjalan ke arah Niko yang dari tadi senyum-senyum sedang melihat ke luar ruangan.
“Dapat bonus,” kata Niko tanpa menoleh ke Lena.
“Kalian sudah jadian?” tanya Lena sambil melihat pemandangan laut.
“Apa?” Niko menoleh ke kanan dan menatap mata hazel yang dirindukannya. Begitu cantik saat terkena pantulan cahaya siang hari. Wajah bening itu semakin bersinar.
“Kamu dan Emma sudah jadian? Apa kue ini perayaan kalian?”
“Siapa yang jadian?” tanya Emma yang baru masuk ruangan.
Niko menarik napas dalam, karena kedatangan Emma yang mengganggu.
“Kamu dan Niko,” celetuk Lena.
“Aku dan Niko?” Emma berlari dengan memeluk berkas di tangannya lalu menunjuk diri sendiri, “aku,” menunjuk dada Niko, “dan dia.” Emma lalu tertawa terbahak-bahak sampai membuat Lena dan Niko saling pandang. “Mana mungkin!”
Niko menggelengkan kepala dengan acungan jari telunjuk di depan kening sendiri. “Dia lagi kambuh, Len.”
Lena menatap bingung, Emma sudah kembali ke meja kerja tetapi masih tertawa. Lena kembali ke meja kerja di samping Emma dan menyampaikan usulan bawahannya tentang ide agar pegawai yang mendapat reward ke Indonesia sebanyak tiga orang, pada Emma.
“Kalian mau ke Kalimantan?” tanya Niko sambil sedikit duduk di meja kerja Emma, dan dua orang itu mengangguk. “Kapan? Siapa yang mengawal?”
“Suamimu jadi ikut, Len?” tanya Emma sambil mendesain sebuah pakaian musim panas di tablet di atas meja.
“Sepertinya jadi,” kata Lena juga fokus dengan komputer di depannya.
.
Sean yang membuka komputer terkejut, saat mendapati jendela mesin pencarian yang belum tertutup, karena terdapat foto Emma di dalam Email Niko. “Siapa George, sepertinya aku pernah mendengar.”
Email itu diteruskan ke emailnya dan riwayat itu lalu dihapus. Dia tak beristirahat dan langsung meluncur ke kantor David, mumpung hari ini belum masuk kerja. Tentunya, dengan kondisi satu tangan yang cacat, dia hanya bisa memesan taksi, daripada merepotkan sopir.
Setelah menunggu setengah jam di kantor, akhirnya David selesai meeting. Paolo kebetulan juga main, sepertinya, dari percakapan mereka, mereka habis meeting bersamaan.
“Enak liburan ke Praha, Se?” tanya Paolo sambil duduk di samping Sean.
“Liburan? Aku kerja, tetapi juga bisa dibilang liburan.” Senyuman Sean merekah.
“Donna mencarimu, ayo main ke tempatku. Dia baru pulang sekolah.” Paolo sambil mengotak-atik ponsel.
“Tapi, Emma tidak ada di rumah, apa boleh aku tetap ke sana?”
“Kenapa harus ada Emma? Kan mau ketemu Donna?” Satu alis Paolo terangkat satu dengan rasa ingin tahu.
“Anjing itu.” Sean meringis ngeri sekaligus trauma, dan Paolo tertawa disambut senyuman David yang sibuk dengan laptopnya.
Pintu terbuka, Axel masuk sambil membawa tablet ditangan lalu mendekat ke David dan menyerahkan tablet berisi laporan. Axel melirik ke arah Sean sambil memberi salam hormat dan dibalas senyuman Sean. Axel berjalan ke Sean, lalu mengajak ke meja kerjanya yang bersebelahan dengan meja sang Tuan.
“Tuan Sean, silahkan duduk.” Axel mengotak-ngatik komputernya. “Ini desain tangan robotic yang dikirimkan perusahaan itu. Jadi, seminggu lagi anda akan ke sana untuk menyingkronkan ulang sistem sensor robotic tersebut. Silahkan anda pilih tampilannya. Semua ini sudah diupragde ke teknologi canggih terbaru dengan beberapa kelebihan bila anda diserang musuh.”
Sean menoleh ke kiri dan membalas senyuman adik iparnya. “Seminggu lagi, bukankah Lena akan ke Kalimantan? Apa aku tak boleh ikut?”
“Aku akan menemani Lena. Juga ada beberapa yang harus kuurus di Bali. Jadi, Kak Sean tak perlu ikut dulu tidak apa-apa, kan?” David dengan tatapan sungkan.
“Okelah, kalau itu maumu.” Sean mengembus napas lega.
“Aku akan ikut menyusul dong, Dav. Kamu belum mengajakku bermain di negara istrimu.” Paolo menatap langit-langit ruang kerja David. “Lagipula, kau takut buaya kan, biar aku saja yang turun ke area penangkaran.”
“Shit!” David berdecak karena ucapan Paolo.
“Memang kau berani ke penangkaran buaya?” Paolo menangkap kotak tisu yang dilemparkan David, dengan masih tertawa.
“Buaya?” gumam Sean sambil melirik Axel.
“Tuan David trauma parah dengan segala hal yang menyangkut buaya,” bisik Axel di telinga Axel.
“Aku mendengarmu, Axel,” geram David.
“Kenapa malu, kalau kau takut lalu bagaimana kau menjaga Lena di penangkaran buaya?” tanya Paolo dengan nada serius.
David mengehela napas berat. “Kau berangkat denganku, Paol.”
“Sippp.” Paolo menyeringai.
Sorenya, David, Paolo dan Sean berjalan berdampingan diikuti Axel dan lima pengawal. Semua mata pegawai memberi hormat dan terpukau kepada ketampanan ketiga orang tersebut.Rasa lelah mereka setelah seharian bekerja pun seakan langsung terobati.
Tak elak mereka pegawai memiliki idola baru, yaitu Sean, walau tangan itu cacat, siapa yang takkan terpesona pada kesayangan Tuan David itu, yang juga tak kalah cakep dan gayanya yang begitu cool.
Bahkan Sean masuk dalam jajaran top model pendatang baru, apalagi wajah asia itu memenuhi videtron di Mall dan jalan-jalan besar sebagai brand ambassador dari merk pakaian yang tengah naik daun. Jika tak ada Boss David, mereka sengaja minta foto bareng seperti tadi siang dan sekaligus titip salam untuk Niko, tetapi bila ada David dan asistennya, sungguh mereka pun tak berani memandang Sean dengan terang-terangan, tak mau bila sampai mereka diundang manager HRD, lalu mereka mendapat peringatan kedisiplinan.
__ADS_1