Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
PENYUSUP


__ADS_3

Paolo menarik tangan David yang hangat ke dalam kamar yang redup. Adiknya tidak ada di atas tempat tidur. Matanya mengitari sekitar "Emma?" pangggilnya. Tampak David menuju ke pintu balkon yang sedikit terbuka.


Paolo ikut mengintip Emma yang sedang teleponan dengan seseorang sambil tertawa. Dua pria itu tertegun setelah sekian lama Emma tak tertawa, mereka semakin membelalakkan mata ketika di seberang, Sean keluar dari pintu kamar.


"Sedang apa?" tanya Sean dengan menunjuk Emma.


Emma menjauhkan ponsel dari telinga. Lalu tersenyum pada pria tampan di seberang sambil menunjuk telepon. "Sebentar, aku selesaikan teleponku dulu."


Paolo mendapati gerakan tangan yang menyatakan setuju dari Sean. Dia bergeser hingga berdiri tepat di samping David. "Dari banyaknya kamar, mengapa kau tempatkan dia di depan kamar keponakan ku? Apa kau sengaja?"


"Aku tak kepikiran ini kamar Emma, saat itu aku lelah dan ini yang paling dekat dari kamarku." David dengan sangat penasaran mengintip karena Sean lalu meneriakkan nomer Sean sebelum akhirnya Emma masuk ke dalam kamar. "Ehem!"


"David!" Emma terkejut dengan mata membesar. Dia mendapati dua orang tengah melipat tangan di depan dada menghalangi jalannya setelah dia menutup pintu kamar.


"Habis ngapain?" tanya Paolo.


"Diluar malam-malam?" timpal David.


"Dengan pria Asia?" tanya Paolo lagi.


"Apa hubungan kalian, sejak kapan kamu kenal dia?" David dengan posesif melengkapi setiap keingintahuan Paolo.


Emma memisahkan dua pria yang biasanya saling berdebat kini berdiri berdempetan hingga dia bisa melalui mereka, tetapi dua tangannya diraih mereka sampai membuatnya mundur lagi. David meraih ponsel Emma dan melihat isinya. "Kak Dev! Apa sih!"


David memeriksa suara notifikasi yang baru berbunyi, dia melirik Paolo yang memeluk Emma dari arah belakang sehingga tangan Emma terjebak tak bisa merebut ponsel Apple. Dia membaca pesan Sean keras-keras. "Cantik! Kenapa belum tidur? apa aku perlu menemani untuk membacakan sebuah cerita?"

__ADS_1


David meringis. Cih, kakaknya Lena ternyata pandai membual. Dia melihat wajah merah padam dan mata galak Emma seakan wanita itu tak suka dia membacakan itu di depan Paolo.


"Apa itu, maksudnya?" tanya Paolo pada David dengan masih bingung.


"Tanyakan saja pada wajah gugup ponakanmu." David mendekatkan wajahnya ke wajah Emma, dan keningnya mendapat dorongan dari tangan Paolo. Namun, dia maju lagi. "Hei, apa-apa ini, Em. Kau tak mau menjawab?"


"Kak Dev, bantu aku, usir Paol," bisik Emma dengan manja dan tatapan memelas. Dia mengayunkan pandangan ke arah jeratan tangan paman dari perutnya.


"Tidak, katakan dulu. Ada apa denganmu. Dia iparku, kau jangan membuatku dalam masalah, Sayang?"


"Kak Sean itu hanya teman."


"TEMAN?" Tanya Paolo. "Sejak kapan kamu mau berteman dengan pria lagi?"


"LEPAS DULU!" Emma memutar tubuhnya ke kanan dan kiri. "Paman, memang aku tak boleh mengenal kakaknya Lena?"


"Kalian jangan sok perhatian dan terus memperlakukan aku seperti anak kecil. Mending kalian urusi hubungan kalian sendiri?" Emma membantingkan kepalanya ke kepala David sampai David mengadu dan mengelus keningnya. Kemudian saat pegangan paman mengendur dia melepaskan diri.


"Emma, kami mempedulikanmu .... " Paolo memelas, dia mendapati David meringis, sedangkan Emma tampak tak kesakitan.


"Tidak! Itu salah kalian berdua." Emma melipat tangan di depan dada. "Kalian sama-sama keras kepala, tidak ada yang mau mengakui, apalagi saling meminta maaf. Emma kangen kalian yang dulu! Kalian bertengkar, berkelahi gara-gara aku, kan?"


"Tidak benar, Emma!" seru David.


"Kita ada masalah lain," timpal Paolo berbohong.

__ADS_1


"Memang aku tidak tahu, Paman ke New York karena aku? Alasan bisnis, bohong! Aku diam selama ini karena kupikir kalian akan baikan dengan sendirinya. Namun, apa, kalian masih saling menyakiti satu sama lain?"


"Kami sudah baikan." Paolo menarik bahu David hingga menempel dan tersenyum kesal pada David, begitu juga David merangkul pinggang Paolo dengan geli.


Katakan semua salahmu, Dav."Paolo menyalahkan David, tetangganya ini adalah pembawa sial. Ayah Dhona itu teman David, tetapi David seperti tidak mau tanggung jawab.


"Kamu membuat anjing kesayanganku tergantung." David dengan geram.


"Kamu yang membawa bajingan kecil itu pada Emma." Paolo lebih kesal dan mendorong bahu David dengan kasar.


"Kau m3bunuh ibunya Charlie. Kalau kau tak memberinya rantai dia takkan tergantung di pagar!" David menarik kerah kaos Paolo. Sedangkan Poaolo justru mencengkeram lehe David.


"Mending aku telepon Kak Sean lah. Kalian rese emang!" Emma melengos pergi, dan dua orang itu sontak berhenti bertengkar, lalu berebut mengejar Emma.



Di kamar, Lena mencari suaminya kesana-kemari tak ada. Ke kamar mandi ke lantai bawah nggak ada. Dia sampai tanya Axel. Tiba-tiba dia melihat sekelebat orang. "Kakak? itu kakak kah?" Lena berjalan ke arah ruang menuju halaman belakang. Di rumah ini tidak ada pembantu di atas jam 6. Dia melihat ke pintu kaca di halaman belakang terkunci.


Saat berbalik, siluet hitam, berlengan hitam panjang membekap mulutnya.


"Diamm," bisik seorang pria dengan sebuah benda tumpul menekan pinggang Lena. "Ikut aku, diam. Atau habis isi ususmu. Tak ada yang akan mendengar, dan mereka akan datang saat kau mati. Jadi menurut. jalan!"


Lena berkedip berulang, dia berjalan dengan terseret dan nyaris jatuh karena langkah pria itu yang panjang.


"Siapa anda?"

__ADS_1


"Diam cepat!" Bisik orang itu dengan geram. Pinggang Lena nyeri saat pria itu lebih menekan dengan besi dingin. Mereka melewati ruang tamu, lalu masuk mobil hitam. Begitu tubuhnya di dorong ke mobil, pandangan Lena langsung gelap.


"


__ADS_2