
Siang itu, David menemui Niko, lalu duduk dengan tidak sabar di sofa, sedangkan Axel berdiri mulai menjelaskan.
"Saya tidak akan berbasa-basi. Tuan David dengan kerelaan hati akan menyimpan semua bukti penculikan anda, agar tak sampai ke polisi. Asal, anda mengatakan sejujurnya siapa yang secara teknis membuat pikiran Nyonya Lena terganggu.
Dengan kembalinya, atau batalnya perintah'cuci otak' itu, tuanku masih mau membantu anda dalam melawan Paman Ketiga, meski dengan cara tidak langsung," kata Axel dengan tenang. "Perlu diingat ini bantuan terakhir dari tuanku."
"Oke." Niko sudah berjanji pada Emma akan membantu David.
David seperti tak percaya. Apa semudah ini.
"Dengan catatan, Lena akan bersamaku dalam waktu tersebut. Siapapun tak boleh bersamanya. Satu lagi, kalian tidak boleh tahu siapa yang mengembalikan pikiran Lena. Dan itu orang yang berbeda dengan sebelumnya. Jadi, jangan kalian mencoba mencari tahu soal orang-orang ku maupun mengusiknya, karena aku akan langsung membatalkan prosesnya." Niko dengan tegas.
David tertawa geram dengan mulut terkatub. Sepertinya, Niko menganggap ini lelucon.Namun, Niko pernah menyelamatkan dirinya saat di rumah sakit. Itu bukan hal mudah untuk menolong musuh.
"Berapa Minggu? Apa kau pikir aku percaya dengan menitipkan istriku pada mantan pacarnya, yang sudah menculiknya selama tujuh bulan?" David bergidik membayangkan.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Itu persyaratannya."
"Asal tidak di luar kota." David menjawab cepat dengan masih tidak terima..
"Jangan mengintaiku."
David berdecih, tangannya mengelus dagu, berpikir dalam, menitipkan Lena adalah hal sangat berisiko. "Aku harus membawa kedua orang tuamu sebagai jaminan."
Mata Niko berkedut. "Deal. Tapi aku tidak menjamin ini akan berhasil."
"Apa maksudmu? Brengsek*k!"
"Aku sudah bilang, itu tidak bisa seratus persen berhasil, tetapi lebih baik daripada kau tidak pernah mendapatkan pikiran Lena sendiri." Niko meremas kertas di tangan. "Tidak ada perjanjian di atas kertas seperti ini. Selama kalian memperlakukan orang tuaku dengan baik, sebaliknya aku akan begitu."
David berdiri. "Kamu tidak boleh menyentuh Lean walau sehelai rambutnya."
Niko memutar bola mata lalu menyeringai. Jadi, apa yang ada di pikiran David saat dulu Lena bersamanya? "Dulu, tidak ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Lena. Aku tak sebejat itu dan mengambil keuntungan."
" Maksudmu?"
"Aku tidak melecehkan Lena." Niko dengan tatapan tegas, meski kenyataannya dia mencium sekali. "Aku tidak punya pilihan untuk menculik Lena. Shinta akan membunuh Lena di Kalimantan, jika aku tak membawanya, pasti sekarang istrimu sudah di alam lain."
David duduk di samping Niko dengan seluruh tubuh menegang saat mendengar tarikan napas panjang Niko.
"Shinta meminta bantuan ke George, di penculikan pertama di kapal kargo, misi mereka gagal. Sejak itu mereka menjalin hubungan asmara.
Sebelumnya pada saat di Qatar, Shinta juga sempat membawaku, memintaku agar memisahkan kalian." Niko berdebar kencang saat menceritakan itu tanpa menatap David.
Niko melirik David dan berkata penuh penekanan. "Shinta berencana memaksa kamu agar mau kembali padanya dengan ancaman Lena, tetapi pada akhirnya, dia tetap bersikeras membunuh Lena meski kau mematuhi keinginannya.
Ketika George mendatangiku, memberiku sekoper uang untuk membunuhmu. Aku tak punya pilihan dan tergiur untuk menyingkirkan mu, jadi aku bergabung dengan mereka, untuk memastikan keselamatan Lena 'ku. Jelas, George menyembunyikan misiku dari Shinta. George terlalu banyak rencana, sepertinya yang dia pedulikan hanya uang. Shinta pikir George akan selalu mengabulkan keinginan wanita itu dengan menjadi seorang kekasih? Nyatanya, dari awal George sudah sangat ingin membunuhmu meski tanpa kemauan pamanmu." Niko mengusap air mata yang membasahi pipi.
Hati David bergetar, antara percaya tidak percaya. Benang merahnya adalah Shinta. "Cuci otak itu membuat nilai IQ Lena turun drastis. Kau benar-benar gila! Uffa !"
Niko memandang datar pada kemarahan David. "Ya, aku gila. Jadi, Lena masih hidup? Aku takkan membiarkan Shinta mu dan George melukai Lena sedikitpun. Kupikir karena kaya kau kaya, lalu kau bisa melindunginya, Dav? Nyatanya, kamu itu tidak ada apa-apanya!"
David mencengkeram kerah Niko dan mendorong ke sofa hingga Niko terbaring. "Jadi, kamu yang menembak Marcho malam itu?"
Niko tertawa mengejek David. "Ternyata, ada orang lain datang tanpa sepengetahuanku. Sebelum aku menembak mu, ada orang lain yang lebih dulu melepaskan tembakan dan mengenai Marcho. Sialnya, kamu memergokiku sehingga aku memilih pergi."
"Uffa !" David meninju sofa di sisi kepala Niko. "Jadi, lalu kamu menembakkan Basoka saat aku pulang kerja?"
"Bukan aku .... " Niko melirik ke samping karena napas David bau minuman keras.
"Lalu siapa kalau bukan kamu?"
"Entahlah. Kau ingat botol Rum yang kuambil dari kamarmu?" Niko mendapati mata David menyipit dengan napas tak beraturan. "Aku telah menyuntikan sesuatu ke dalam botol minuman itu."
"Lalu kenapa kau membuang botol itu?"
"Entah." Niko meringis dan keningnya berkerut dalam. Sepertinya dia masih syok saat itu karena kematian George.
"Lalu kenapa kau menolongku di rumah sakit?"
"Sebenarnya, aku lebih ingin kau mati di tanganku," kata Niko dengan tatapan nyalang dan tertawa jahat.
"Gila .... " David melepas kasar kerah baju Niko, duduk membungkuk dan memijat kepalanya yang sakit dan terasa panas. Jika Niko ingin membunuhnya, maka Niko tidak mengambil botol rum. "Apa yang kau ketahui soal keluargaku?"
"Semua ..... ke enam dari paman dan bibiku terlibat." Niko tertawa lepas sampai air matanya keluar. "Hidupmu selucu itu. Di saat semua bisa kau miliki, keluargamu sendiri tidak suka kau hidup. Wah!" Niko ternganga dengan wajah cerah.
"Apa yang kau ketahui soal mereka?" suara David kian teredam amarah.
Niko melirik pipi David yang merah padam, otot di kening pria itu menonjol dengan pandangan David yang seperti ingin membunuh. "Paman ke tiga dan ke empat yang berurusan langsung dengan George. Tetapi semua keluargamu menyumbangkan uang untuk George.
Dari mulai masalah Salmonella di pabrik, Kakak Stef yang dituduh berkhianat, setelah anak buah George yang menyusup ruangan Kak Stef dan membobol data-data perusahaan.
Mereka keluargamu mengusulkan pada George agar Marcho membuka usaha mutiara bersama Shinta di Jepang. Mereka yakin itu membuat Marcho tak terlalu fokus pada perusahaan kakekmu. Lalu membuat Anna di culik sehingga Marcho terbang ke Qatar untuk menyelamatkan. Jadinya, kamu tidak bisa menemani Lena ke Kalimantan.
Saat itulah, malam dimana Lena hilang, Shinta sudah menuju ke hotel. Aku membawanya pergi, tetapi Shinta menyusul ke Club, akan membawa Lena. Namun, aku bisa melobi Shinta agar Lena tetap bersamaku, dengan begitu, ke depan tidak akan menganggu kenyamanan Shinta.
Ketika aku datang ke rumah George, aku tak sengaja mendengar percakapan paman ke empat yang marah karena George memilihku untuk membunuhmu. Paman Keempat bersumpah akan menyingkirkan ku, setelah aku berhasil menyingkirkan mu."
Niko tertawa dalam. "Beginikah nasib orang yang tidak punya uang, menjadi boneka, dan disingkirkan saat dianggap tak dibutuhkan?" Niko terdiam karena David menatapnya dengan kebencian. "Sekarang, Shinta dan Paman ketigamu di penjara. Bibi keduamu memimpin di perusahan. Lucu ya hidupmu." Niko tertawa, untuk meredam emosinya.
Axel meraup wajah, setelah mendengar ini semua.
"Apa cuci otak itu merupakan ide George?" Tanya David.
"Ya!" Niko duduk, tubuhnya menegang dan gelisah. "Vincenzo adalah seorang pengacara di New York. Keponakan George itu ikut mengusut kematian George .... " Pandangan Niko kosong, bahunya bergetar.
David berpikir seraya mempelajari perubahan kontras di wajah Niko, dimana ada ketakutan di sana. "Kau .... Kau yang membunuh George .... ? "
"Kau membunuh George! Karena itu semua jari tanganmu di hari itu diperban, pasti karena zat kimia itu!" David menatap mata Axel, yang sama-sama terkejut karena Niko tidak menjawab. Rahang David dan Axel hampir jatuh.
"Benarkah kamu?" Tanya David, mundur duduk sampai satu meter. Dia berdiri dan menjauh dari Niko dan berdiri di depan Axel. Terlihat tangan Axel masuk ke dalam saku celana, akan meraih pistol. David menatap tajam Axel dan mengelengkan kepala, agar asistennya tak gegabah. Alhasil, Axel mengeluarkan tangan kembali dari saku.
Seorang pemuda tanpa background bisa bisa membunuh Bos dari para geng? Bos yang susah dilacak keberadaannya dan terlalu dijaga keamanannya. David meremas rahangnya sendiri, pantas Axel pernah kalah berantem dari pemuda itu. David menatap dengan aura mendominasi begitu Niko mendongak dan menatapnya dengan sama-sama tajam. Uffa!
"Anda takkan menang saat melawan Vincen, Tuan Niko." Axel menelan saliva, bingung karena nada bicaranya berubah pada Niko, apa dia takut pada Niko, atau tanpa sadar mengakui kehebatan pria itu.
.
.
Axel membawa tas kerja, mengikuti David ke ruang kerja. Jam menunjukkan pukul delapan malam. "Tuan, apa anda benar-benar akan membantu dia yang sudah menculik isteri anda?"
"Axel, aku tidak membantunya. Itu hanya demi keinginan Lena. Keluargaku ... menyusahkannya, Shinta juga. Bisakah kau berpikir, apa orang semacam dia tanpa Shinta dan keluargaku lalu bisa melakukan semua itu, menculik Lena sendirian, dia bukan apa-apa dan tak bisa bergerak sendirian tanpa ada sokongan.
Dan dia berniat melindungi Lena dari Shinta. Niko juga menyelamatkanku, dari anak buah paman ke empat, yang akan membunuhku di rumah sakit. Jadi aku melakukan yang seharunya, tetapi jangan dikatakan itu bantuanku, karena aku membenci Niko yang membuat Lena membenciku!"
"Apa anda percaya semua yang dikatakannya?" Axel berhenti sesaat.
__ADS_1
"Menurutmu?" David mendapati gelengan kepala Axel yang tidak percaya. "Aku tidak peduli apapun selain Lena. Aku tak mau Lena semakin membenciku saat tahu mantannya menderita. Aalagi semua itu karena aku, karena keluargaku, dan Shinta yang menginginkanku!" David mendelik saat Lena muncul dari lorong.
"Kenapa kenapa Niko menderita?" Pandangan Lena kosong.
David melengos melewati Lena. Ketika David keluar dari kamar mandi, Lena sudah duduk di pinggir tempat tidur dengan pakaian renda yang sangat indah.
Mengikat jubah tidur, David naik ke tempat tidur dan mengecupi pipi Aneira. "Ane 'ku sudah bobo."
"Maaf, aku istrimu, bukan?" Lena dengan wajah sangat sedih.
"Jangan berkata yang membuatku muak. Kau sudah terlalu banyak membuatku sedih karena perkataanmu yang melulu soal Niko." David memeluk bayinya dengan memandangi apa yang dikenakan Lena.
"Aku lelah. Kau dengar?" David merasa jijik jika wanita itu berpakaian seperti itu hanya karena mau meminta sesuatu tentang Niko. "Katakan kau mau bilang apa? Jangan soal Niko ya. Kepalaku ini sudah mau pecah."
David kembali berbicara saat Lena akan bersuara. "Tenang seperti yang kau mau, kau akan tinggal satu atap dengan Niko. Bukan karena kemauanku, tetapi agar kau mengingat siapa aku dan siapa Niko," ungkap David penuh kebencian.
Lena merasa terluka dengan apa yang dilakukan David.
"Lain kali jangan berpakaian seperti itu, merayuku demi Niko!" David melepas jubah dan melemparkan ke Lena. "Pakai itu dan tutupi tubuhmu. Aku membenci semua yang kau lakukan jika itu karena Niko. Aku suamimu, Sayang! Hah, kesabaranku sudah habis demi Tuhan!"
Lena berkedut melihat bagian depan tubuh pria itu yang mengenakan kolor dan menampakkan beberapa tato yang hampir pudar. "Boleh aku memelukmu?"lirih Lena dengan takut. "A ....ku .... Jika aku memang istrimu, biarkan aku tahu rasanya di peluk kamu."
"Apa-" David menganggukkan kepala dengan refleks, kebencian seketika buyar. Dia memandangi Lena yang pindah ke samping. David menatap wajah Lena yang memerah dan gugup. Jubah itu menutupi pakaian Lena yang menerawang pada bagian depan.
"Aku tidak mau tinggal satu atap dengan Niko," lirih Lena saat David menyentuh pipi, membuat merinding karena takut.
"Dia tidak akan menyentuhmu karena kamu adalah istriku. Ini hanya demi kamu ...."
"Demi aku? Aku rasa itu demi kamu sendiri, karena keinginan mu itu agar aku bisa mengingat siapa kamu?"
"ha? tidak seperti itu."
"Benarkah, kamu tidak menerimaku yang seperti ini? Padahal kamu bilang adalah suamiku. Mengapa Niko bisa menerima aku apa adanya, daripada suamiku sendiri yang tak mau menerimaku seperti ini?"
David mencengkeram rahang Lena. "Aku hanya kasian padamu, Sayang. Aku ingin mengembalikan duniamu. Bukan hanya soal aku, tetapi tentang pikiranmu pada semua orang, yang pernah kamu temui."
"Tentang kamu saja, seharunya sudah cukup. Kamu suamiku, aku hidup denganmu, aku bisa belajar darimu secara langsung. Apa itu terlalu berat bagimu memberitahuku setiap waktu, atau itu terasa melelahkan dan menghabiskan waktumu? di sini aku pikir Niko yang benar-benar memperdulikan ku, bahkan aku tahu dari tatapan mata Niko, pengorbanannya
Aku berbicara seperti ini bukan untuk membandingkan mu. Kurasa itu yang aku inginkan dari dalam dadaku, agar kau sendiri langsung, memberitahuku."
Takjub karena Lena mulai berpikir kritis dan memakai otak, keinginan dan perspektifnya sendiri, David langsung bergeser turun memeluk perut Lena dengan kepala terbenam di dada empuk sang istri yang terasa banyak menandon asi. "Kamu ingin aku melakukannya?"
Lena merasakan tubuhnya tak menolak, tak jijik. "Aku ingin percaya padamu." Dipilin rambut David yang bau shampo. "Aku mau tahu itu semua dari mu."
"Oh ini menyenangkan." David meleburkan pikirannya dan makin tenggelam pada perasaan rindu. "Istriku, aku tidak mau jauh-jauh darimu lagi. Ketidaknyamanan mu itu karena aku."
"Ya. Jadi siapa Shinta?" suara Lena penuh penasaran, di tengah kantuk.
"Dia temanku sejak TK. Kami menjadi lebih dekat sejak kuliah. Dia berselingkuh dengan teman dekat di kampus. Saat di Qatar aku melihat perselingkuhan mereka, aku memutuskannya. Dia tidak terima sampai menculikmu dia kali."
"Bagaimana pertemuan kita pertama kali?" Lena merasakan denyut jantungnya lebih kencang.
"Kamu berlari dan menabrakku, di tengah kerumunan. Lalu aku memintamu jadi pacar sementara, itu lebih seperti memaksa!"
Lena mendengar tawa kecil David yang membuatnya ikut tersenyum. Dia terus mendengar cerita David
Sebuah keyakinan timbul bahwa apa yang dikatakan David adalah kebenaran. Gelombang hangat muncul di relung jiwa terdalam, perlahan menyebar ke seluruh tubuh, membawanya pada perasaan emosional.
Setiap hari dipenuhi cerita David, Lena juga pernah bertemu Niko saat di kantor polisi untuk memberi keterangan. Ketika Niko tersenyum tulus, itu membuat debaran aneh di dalam dirinya. Keabu-abuan itu mulai jelas, melihat Niko tidak ada perasaan hangat seperti saat melihat David.
Padahal setiap melihat David, semua perasaan melebur menjadi satu, marah-benci-senang-penasaran, tetapi lebih besar perasaan takut, seakan dia takut kehilangan David.
...****************...
Niko dijatuhi hukuman 12,5 tahun atas pembunuhan terhadap Geroge. Itu sudah diringankan setelah sebelumnya dituntut jaksa penuntut umum dengan hukuman 18 tahun. Niko mampu meyakinkan hakim dengan alibi kuat, bahwa dirinya ada di bawah tekanan dan ancaman George, yang mengancam keselamatan Lena dan Emma.
Josh-paman ke tiga David dijatuhi hukuman seumur hidup karena terbukti dan bersalah atas pembunuhan terhadap adiknya sendiri. Josh juga menjadi dalang utama atas semua kejahatan yang menimpa keluarga Leora, demi menguasai perusahaan pabrik coklat sang ayah. Termasuk percobaan pembunuhan pada David dan Marcho.
Paman dan Bibi yang lain dijatuhi hukuman yang lebih ringan karena mereka terhasut untuk menyumbang dana, termasuk Shinta.
.
.
Tiga belas tahun kemudian ....
Lena mendapatkan sebuah undangan pernikahan tertulis Niko dan Emma. Diremasnya undangan itu dan dibuang ke tempat sampah.
Hubungannya dengan Emma juga berantakan sejak di rumah sakit karena Emma mengusirnya saat menjenguk Niko. Emma menjauhinya sampai berbuntut pemutusan hubungan kerja sama, dan mengembalikan semua saham Lena dari butik setelah membagi keuntungan.
.
"Mah ...." David menggendong Aneira di punggung, mendekati Lena. Dia melihat kertas undangan di dalam tong sampah.
"Pernikahan Emma .... " Lena tak melanjutkan kata-kata, alisnya berkerut, karena tidak ada perubahan dari wajah David. "Kamu tahu ini?"
"Mah .... Emma sudah seperti adikku sendiri. Kita tidak mungkin tidak datang."
"Papah datang sendiri saja." Lena dengan wajah masam, mulutnya terasa kecut seperti makan buah lemon. Dia mengambil alih Aneria dan menurunkan ke lantai. "Ayo, potong kukumu, Nak."
"Kak Se akan datang bersama Kak Stef," ucap David dengan ragu sebelum Lena pergi. "Fyuh." Dia tahu istrinya sangat membenci Niko sejak lima tahun lalu, saat Lena mulai menyadari bahwa dirinya telah di cuci otak oleh Niko.
"Aku tidak akan datang, dan jangan menyebut mereka lagi!" Lena menjauh dan terus menuntun sang putri.
"Mamania, Papa Dav, Paman Paolo dan saya, pergi melihat Tante Emma. Dia cantik sekali." Aneria dengan wajah imutnya, tak sabar menceritakan kepada sang mama. Namun, dia sedikit takut karena wajah galak sang mama.
"Oh, ya, Tante secantik apa?" Tanya Lena dengan penasaran.
"Ane tadi foto Sam Tante. Tante bilang kalau Ane l akan dibuatin baju yang sama dengan Tante." Aneria tepuk tangan dengan gemas. "Bajunya seperti ibu peri!"
Lena melihat putrinya yang berusia 12 tahun itu memperagakan bila seseorang mencoba mengukur ukuran pinggang dan panjang kaki mungil itu. Lena tersenyum dan merapikan rambut sang putriy yang acak -acakkan. Lalu melangkah ke kamar Ane.
Sang putri menunjukkan foto Emma yang begitu cantik dalam gaun pernikahan.
"Papa menangis saat memfoto Tante Emma dan tante ikut menangis, Paman Paolo juga." Aneira menggeser foto-foto di galeri saat mamah memotong kuku di jari kaki mungilnya.
Lena mengangguk-angguk, pandangannya berkaca-kaca saat Ane bercerita bahwa Emma di peluk David dan Paolo, lalu Ane ikut minta peluk.
"Jadi, undangan itu sebenarnya ditujukan kepadaku," batin Lena sedih. Dia tidak siap menemui Niko setelah apa yang di alaminya saat kepergian Niko ketika di hutan.
Pecco yang kasar membuat Lena merasa sangat bingung—terkadang bahkan tidak mengetahui pikirannya sendiri. Pecco menguasai pandangan, keinginan, dan pendapat Lena. Seiring waktu, Lena kehilangan perasaan bahwa wanita itu tidak memiliki hak atas perspektifnya sendiri.
Masuk ke dalam kamar, Pecco membawa sepiring makan yang hanya berisi sepertiga bagian. Saat itu Lena sudah pada tahap tidak mengetahui apa yang seharusnya diketahui.
"Makanan ini adalah hadiah, hak istimewa, bukan sekedar hak. Setiap suapan akan menambahkan perasaan cintamu pada Niko. Betapa baiknya dia memberikanmu makan, ya kan?"
"Ya."
__ADS_1
"Apa kamu mencintai David?"
" ....." Lena tidak dapat berpikir.
"Kau mendapat hukuman kau tidak bisa menjawab !"
Lena menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca. "Tidak."
"Tidak?
"Hanya Niko yang aku cintai."
Pecco menjatuhkan piring kasar di lantai sampai makanan ada yang bertebaran membuat wanita itu menatap makanan itu seolah barang yang sangat berharga.
"Siapa David?" Tanya Pecco seraya menarik piring semakin menjauh dari Lena.
Wanita itu meneguk saliva, perutnya keroncongan.Lena menggelengkan kepala.
"Siapa David? Kamu rakus bila mencintai dua orang sekaligus? Apa itu membuatmu bingung?" Pecco dengan pandangan bak orang paling bijaksana.
Lena mengangguk-angguk.
"Niko adalah orang yang selalu ada di sisimu. Tanpanya kau menderita, seperti sekarang. Ya?"
"Ya."
"Sedangkan, David melupakanmu. Dia tidak mencarimu membiarkanmu kesulitan. Dia tidak bertanggung jawab dan pasti membencimu. David bisa normal menjalani rutinitas seperti biasa meski tanpamu. Dia tidak peduli padamu. Bukankah itu bisa disamakan dengan perilaku jahat. Ya?"
"Ya."
"Jadi sekarang, jadilah gadis yang baik dan tersenyumlah untukku, rasakan sudut mulutmu naik. Sekarang, pikiran kamu mulai terasa hangat... dan sisa pikiran yang belum saya taruh di sana akan hancur... mereka runtuh... sedang dibersihkan." Pecco berbicara dengan nada lembut terus mengamati.
"Ikuti kata-kataku. Setiap kau mendengar nama David. Katakan kau membencinya. Semakin nama itu kau dengar , semakin itu membuatmu membencinya. Orang jahat pantas dibenci. Kau membenci David karena dia melupakanmu. Ya? "
"Ya."
"Katakan kau membencinya."
"Aku membenci David," kata Lena bergetar dengan kembali melihat makanan. Dia merasakan elusan dia rambut penuh kasih sayang.
"Gadis baik."
Mata Lena berbinar. "
Sekarang kau mendapatkan hadiah, karena kau bersikap baik." Pecco menarik piring dan mengulurkan ke depan Lena. "Makanlah, ini kebaikan Niko padamu."
Lena dengan takut dan ragu meraih piring itu menunggu perintah.
"Makan, dan katakan mantranya."
"Aku mencintai Niko." Lena mengambil sesendok nasi dengan masih melihat pria itu. Lalu pria itu mengangguk, dia melahap dan mengunyah dengan air mata berlinang.
"Niko sangat baik padamu. Ya?"
Lena mengangguk. Setiap kali mengambil satu sendok dia mengatakan mantranya dan menunggu anggukan Pecoo, lalu memakannya di tengah perutnya yang begitu lapar. Inilah waktunya makan setelah seharian tidak diberi makan dan badannya selalu lemas.
Pecco tidur di tempat tidur Lena, meminta Lena duduk di kursi menjaga di sepanjang malam. Pecco tidak membiarkan Lena tidur.
Selain itu juga Pecco mengatur apa yang Lena makan, semuanya membuat fisik wanita hamil itu lemah. Akhirnya, Lena melupakan nama sendiri. Segala hal, cara berpakaian, berjalan diatur Pecco. Dia seperti bayi, Pecco tak memberikan ruang untuk berpikir kritis. Semua keinginannya adalah keinginan yang dikatakan Pecco.
...****************...
Pernikahan mewah tengah digelar di gedung mewah. Semua orang bahagia. Hampir semua orang datang, tak terkecuali Shinta.
Sang mempelai pria, melihat sekitar dengan perasaan was-was. Apa yang dicarinya, tidak ada. Niko melihat David menggendong Aneira, yang menggunakan gaun sama seperti Emma.
Sejak pertemuannya dengan David di apartemen Emma, sikap David berubah baik padanya. Tidak salah dia mengatakan semua itu pada David. Tapi .... Dimana Lena?
David memegangi tangan sang putri yang berjalan dengan lompat tak sabar saat menaiki panggung. Keamanan mencegah orang-orang yang akan naik panggung.
Sebuah tangan diulurkan David ke depan perut Niko, Niko sempat tertegun dan ngelag karena senyuman David. Padahal, perasaan bersalahnya karena menculik Lena belum juga hilang.
Tak kunjung mendapat balasan, David menarik bahu Niko, dada mereka menempel ,dan tepukan keras David membuat Niko tersadar lalu tertawa.
"Selamat menempuh hidup baru, penjahat," bisik David dengan nada lelucon tapi terdengar penuh ketulusan.
"Yeah. Terimakasih telah datang." Niko dengan ramah, lalu suaranya berubah berat. "Maaf untuk masa lalu." Dia mendorong David dan mendongak melihat pria tinggi itu. "Terimakasih untuk semua bantuanmu."
"Tentu." David tersenyum manis.Lalu berubah datar, dia melirik sejenak pada Emma yang membungkuk dan berbicara dengan sang putri.
Dengan canggung, David memandang wajah Niko juga sama canggungnya. "Niko, sorry. Dia tidak datang, karena tidak enak badan."
"Ya aku tahu." Niko tahu Lena pasti sehat, itu hanya alasan David. "Semoga istrimu cepat sembuh. Dia-"
"Mamina!" Suara pekikan Aneira mengalihkan pandangan orang-orang yang di atas panggung, dan mengikuti pandangan Aneira ke depan panggung.
Mata Niko, David dan Emma berkedut, terkesiap saat melihat Lena dengan gaun burkat putih, menatap kaku kemari.
"Lena," gumam Niko dengan mata mendelik.
David berkedip beberapakali, menoleh ke arah Niko sesaat lalu kembali melihat istrinya yang sangat cantik, sampai orang-orang terfokus pada Lena.
"Benarkah itu Lena?" Emma dengan tidak percaya.
"Mamina, sini! Mamina!" Aneira bingung karena mamahnya justru berjalan membungkuk dan belok ke kanan.
Semua orang di atas panggung sedih, sepertinya Lena takkan naik ke atas panggung.
Dada Lena membentur seseorang, dia akan jatuh dan ditangkap Marcho. Dia berdiri dengan dibantu Marcho.
"Hei, panggungnya di sana," kata Marcho dengan melirik atas panggung.
"Aku ... " Lena menggelengkan kepala dan melepas pegangan kakak iparnya. Dia melewati kerumunan orang dengan terus menunduk tetapi tangannya diraih seseorang.
"Lena, kau mau kemana?"
Lena mendongak dan berusaha melepas diri dari genggaman tangan robotik. "Kakak lepas."
"Ayo, ke atas panggung kan?" Sean menjepit dagu sang adik dan mendapati mata itu merah. "Hei?"
Lena menggelengkan kepala.
"Bukankah kamu berdandan dan datang kemari untuk mengucapkan selamat?" Sean meremas kedua tangan adiknya. "Ayo, temani Kakak," suara Sean serak."Ini berat untu Kakak, tidak bisakah kamu menolong Kakakmu ini?"
Bibir Lena bergetar, pandangannya meredup melihat kelopak mata sang Kakak Bergetar.
"Aku ingin mengatakan sesuatu pada Emma, Dek. Ayo, setelah ini kita bebas kok, mau tidak bertemu mereka seumur hiduppun terserah, tetapi mereka pantas untuk mendapatkan ucapan selamat. Mereka mengundang kita, meminta restu. Apa kita tidak merestuinya? Sejahat itu kah kita?"
__ADS_1
Bahu Lena bergetar menahan emosional. "Untuk bertemu Ema, aku masih kuat. Tapi, Orang yang jahat seperti-" Lena kesal karena kakaknya menjepit bibirnya. Dia tak punya waktu saat kakaknya melingkari pinggang dan menyentak hingga kakinya mau tak mau melangkah bersama sang kakak.