
16 Desember 2022.
Setelah absen, Lena bermain dengan teman volunteer di ruang tunggu. Tiba-tiba telepon berdering dari nomor yang tidak dikenal. Ternyata itu nomer kak Ana. Dia pun memesan taksi, lalu menunjukkan alamat yang dikirim dari nomer Anna.
Supir taksi itu tak kesulitan dengan alamat toko kurma yang dimaksud. Pria itu menceritakan bagaimana terkenalnya toko itu karena si owner sering berderma. Selain itu juga harganya paling murah tetapi dengan kualitas bagus di kota ini. Letaknya juga hanya 10 menit dari Stadion. Lena mangut-mangut, tetapi jantungnya berdebar karena ketakutan bila nanti berpapasan dengan Marcho.
Saat dokter memeriksa Anna, Lena mondar-mandir di sudut ruangan. Wanita berkerudung itu menawar ke dokter untuk minta pulang. Namun, dokter melarang dan Anna harus dirawat inap. Sekepergian dokter, Lena duduk di samping Anna, dia bingung karena wajah Anna begitu menahan sakit karena masalah pencernaan.
Sejak menonton sepak bola bersama, Anna sudah merasa cocok dengan Lena yang tidak sombong. Bahkan saat dia meminta tolong pun Lena terdengar begitu khawatir dan bilang akan langsung datang. Anna awalnya menolak untuk ke rumah sakit karena dia sudah biasa sakit perut yang hilang kambuh. Namun, Lena ternyata begitu bawel dan langsung memesankan taksi.
Tidak berselang lama Marcho datang ke rumah sakit, padahal tidak ada yang memberitahu. Lelaki itu mengucapkan terimakasih karena kesigapan Lena yang mau datang ke tempat Anna. Sebagai ucapan terimakasih, Marcho mengantar Lena ke Stadion.
⚓
"Bagaimana kamu akan meninggalkan David?" Marcho bertanya dengan netra coklat yang penuh keseriusan. Dia tak peduli walau Lena sudah menolong orang yang dicintainya. Karena masalahnya dengan Lena harus dibersihkan.
Menggigit bibir bawah, Lena kesulitan menjawab. Dia menatap lesu ke luar jendela. Tampak pemandangan indah gurun pasir keemasan yang semakin silau karena terik matahari. Dia jadi teringat pada panen padi waktu kecil, dimana-mana hamparan pohon padi menguning, perasaan familiar ini jadi sedikit menghiburnya.
Sekarang Lena menyaksikan gurun pasir ini dan belum tentu dia bisa memiliki kesempatan lagi untuk kemari. Nafasnya terasa kian sesak, tetapi bertekad agar orang lain tidak tahu akan kesedihannya. Abang, Lena kangen.
"Manis, jika kamu tidak tahu caranya ... biarkan aku menjarimu dan kamu tinggal mengikuti caraku."
"Jawab!" Marcho memiliki keyakinan lagak-lagaknya Lena akan membuat ulah. Siapapun perempuan pasti tidak mau meninggalkan manusia loyal seperti David, yang seperti mesin atm berjalan. Karena itu, Marcho mengambil cek dari dashboard, lalu meletakan di pangkuan Lena. "Ambil ini, kamu cepat tinggalkan David, sudah tinggal dua hari lagi jadi kuperingatkan kamu .... "
Lena menatap kosong pada angka di kertas persegi panjang dan satu air matanya jatuh membasahi kertas berwarna biru. Perlahan dia beralih dan menatap dengan jijik sekaligus marah pada mata Marcho dengan tanpa berkedip dan bibir terkatup. Bahkan lelaki itu mengusap kepala mungilnya sambil menebarkan senyuman licik.
"Aku akan mengunjungimu di Bali satu bulan lagi, Manis. Kita bisa menghabiskan waktu bersama. Kau tak perlu menangis lagi karena aku tidak menyakitimu. Tolong, jangan bersikap begitu kaku. Bila kau nanti merindukanku lebih awal kau bisa menghubungiku dulu."
Dengan lembut Marcho menurunkan jemari dan menghapus air mata Lena. Lalu mencengkeram dagu gadis itu. Mobil dalam 'mode otomatis mengemudi', dia bisa puas memandangi wajah manis tanpa takut diketahui David.
Mata Lena memerah dan berembun dan Marcho menggeram karena jarinya ditepis oleh tangan mungil. Lena kini saling meremas jari sendiri di pangkuan dan harga dirinya begitu terluka. Tatapan mata hazel begitu jengah membuat Marcho tersinggung. Apalagi saat wanita itu melempar pandangan ke luar jendela lagi. Ini membuat jantung lelaki itu seperti akan meledak karena marah.
"Okey, sekarang kau pura-pura menolakku." Marcho menarik tas Lena dari pangkuan, bahkan gadis itu tak berpaling. Dia hanya mendengar helaan nafas berat dari bibir mungil itu.
Marcho mengotak-atik ponsel Oppo, lalu mengembalikan ke dalam tas mini di pangkuan Lena. "Aku telah memasukan nomerku. Kau bisa menelponku kapan saja dan aku telah menyimpan nomermu. Ini ceknya kumasukan ke dalam tasmu. Kalau kurang kamu bisa menghubungiku."
__ADS_1
"Terserah." Lena menggigit pipi bagian dalam begitu getir. Kakinya terasa begitu dingin karena semua tentang David itu memenuhi pikirannya. Ditambah sekarang dia sangat tidak nyaman dengan perlakuan Marcho. Dirinya terasa dibagi dua, dan rasanya nano-nano seperti orang mabuk kendaraan, karena dia tak tahu rasanya mabuk oleh minuman beralkohol.
Terlepas dari tawaran Marcho yang penuh kelembutan bercampur intimidasi, Lena sangat tidak tertarik pada semua hal yang keluar dari mulut Marcho atau apapun semua hal tentang pria yang yang telah mengambil kesuciannya. Kata-kata lembut Marcho terdengar menggelikan di telinganya. Bukan Marcho, bukan Niko, yang dia inginkan.
Kenapa David sangat berbeda setelah aku mengenalnya. Dulu aku selalu bertanya-tanya lelaki seperti apa itu David yang memiliki aura dingin sejak pertemuan pertama. Sekarang setelah mengenalnya, aku jadi ingin memilikinya. Aku jadi serakah dan justru sangat menginginkan David untuk menjadi milikku seutuhnya. Namun itu seperti mimpi dan tidak mungkin terjadi. Seperti ketidakmungkinan salju turun di gurun pasir yang bersuhu 38 derajat celcius ini.
⚓
Lena yang baru membuka kunci kamar mess langsung beralih dan menatap Ika yang ternyata sudah dalam keadaan siap. Setelah buang air kecil, kemudian Lena dan Ika ikut mobil Rafa. Mereka makan siang sebelum ke stadion.
Menghembus napas lega, Lena bersyukur karena David hari ini sibuk. Dia jadi memiliki waktu sendiri untuk bisa bernapas tenang. Namun, dia juga gelisah karena waktunya dengan David tinggal dua hari.
Perempuan itu juga sangat takut bila David tahu bahwa dia akan pergi lalu menghalanginya. Karena saat itu terjadi, dia takkan bisa mengatakan alasan pahitnya. Dia juga tak memiliki kekuatan untuk menolak setiap permintaan David, apalagi bila mendapati tatapan suram netra deepblue.
Axel mendapat laporan dari anak buahnya bahwa Lena pergi bersama Ika, dan tampak lama berada di mesin atm. Setelah diperiksa ternyata Ika yang mengambil uang tunai begitu banyak.
⚓
"Kamu kenapa si? sejak pagi diam terus. Apa aku melakukan kesalahan?" David berdiri diluar kamar mandi dengan tangan terlipat di depan dada dan wajah tertekuk.
"Benarkah? Oh ya, kudengar tadi setelah kamu absen, kamu mengantar Anna ke rumah sakit dan Marcho mengantarmu pulang?" David mengenali perubahan wajah Lena yang memucat, lalu kekasihnya berjalan ke meja rias.
David menyusul dengan rasa penasaran. Tangan kekarnya mendorong bahu Lena ke bawah hingga Lena duduk dan tampak semakin tegang. "SAYANG."
David merebut sisir berwarna hitam dari tangan mungil, lalu mulai menyisiri rambut Lena yang lembab dan berbau vanila. "Kita harus terbuka, loh Sayang?"
DEG. Mata Lena membulat, dia tak mungkin cerita yang sebenarnya. "Oh! Seperti apa yang kamu katakan. Aku hanya mengantar kak Ana, lalu Kak Marcho mengantarku pulang."
David menyipitkan mata. "Jadi, apa yang membuatmu banyak pikiran?"
"Aku sedang sangat kangen kamu, Mas." Lena memelas dan pria itu kini duduk di bawah. Tangan kekar itu sibuk, lalu dalam sekejap mengeluarkan sesuatu dari saku jubah. Mata Lena melebar pada cincin bermata putih berkilauan. "Mas apa ini .... "
David mengecup dengan hati-hati punggung tangan mungil yang gemetaran. Dia memasangkan cincin yang syukurnya itu pas di jari manis Len! Jantung David berdebar dan tersenyum lega saat bisa memasukannya dengan lancar. Hanya untuk ini saja, dia sampai berkeringat dingin.
"Ini untuk kamu yang akan menjadi istriku sebentar lagi, Nana Sayang." David menggigit jari manis yang mungil dengan gemas. Lena meringis kesakitan. Pria itu mengeryitkan kening karena Lena tampak biasa saja. "Apa kau tak senang?"
__ADS_1
"Mas-" Otak Lena terasa mati, dia tak dapat berkata apa-apa. Semua kalimat entah hilang kemana. Hanya perasaan bersalahnya dan keserakahan untuk ingin memiliki yang justru semakin besar di dalam dada. Lena tersenyum dengan penuh ketulusan dan hatinya seperti terbagi dua dan juga terasa sangat sakit. "Lihat, ini cantik sekali."
"Iya, kamu cantik, Sayang." David mengangguk dengan hati bergetar dan mata berbinar.
"Cincinnya yang cantik, Mas!" rengek Lena saat David menggendong pahanya hingga kini dia lebih tinggi dari David. Lena berpangku sikut pada bahu kekar, dimana pria itu justru mencuri kesempatan nakal dengan terbenam di antara belahan dadanya yang menggunung.
"Dengar dulu, aku belum selesai."
Lena mengernyitkan kening saat David mendongak. Sungguh pemandangan dari atas ini sangat indah pada alis tebal yang rapi dan kening berkilau semu-semu merah. Terutama bibir tebal semerah cerry dan tatapan penuh kasih sayang David. "Katakan, Mas .... "
"Besok keluarga besarku akan tiba. Jadi, aku akan mendadanimu besok setelah kamu absen. Mereka sangat antusias mendengar cerita soal kamu,ndan ingin bertemu kamu secara langsung, Sayang."
"Apa-keluarga?" Kepala Lena langsung terkulai ke belakang begitu loyo, pandangannya seketika berkunang-kunang.
"Lena?" David menurunkan pacarnya di tempat tidur dengan hati-hati, dan menunggu tatapan Lena untuk kembali fokus padanya.
"Aku akan bertemu keluargamu mas?" Lena memegangi perutnya yang sakit dan mendadak mual.
"Iya. Tadinya mama telepon istri Marcho, tetapi daripada cuma dua orang. Akhirnya Kakek mencarter penerbangan, enam saudara dari Papa Ardian. Mereka datang kemari bersama lima sepupuku, Sayang. Untuk pihak dari Mamaku, mereka memilih langsung ke Bali."
David tersenyum bangga. Dia begitu berdebar-debar karena tatapan Lena yang begitu dalam. Sentuhan telapak tangan mungil di pipi membuatnya langsung terpejam. Sentuhan berbau kenanga yang selalu membuat mabuk itu menjadikan dia lebih percaya diri dan seakan-akan menemukan diri yang seutuhnya.
"Kau bilang istri Kak Marcho, Mas?" Lena mempelajari wajah David yang sangat mulus tanpa bopeng dan bulu mata lentik.
"Kau pasti kaget, ya. Marcho memiliki seorang istri dan satu anak, tetapi masih berani dekat-dekat dengan Anna? Dulu Marcho dan Anna sudah mau menikah, tetapi ayah dari Anna diam-diam meminta sebuah penawaran jika Marcho beneran akan menikahi Anna. Tentu saja, itu tanpa sepengetahuan Marcho dan Anna. Namun, kakek dan papa sejak itu selalu menentang hubungan mereka."
Lena menggigit bibir bawah dan kenyataan ini semakin pahit baginya. Dia terbaring, tetapi punggungnya terasa seperti memikul beban berat. Jadi Marcho telah menikah? Lalu bagaimana aku sanggup bertemu istri Marcho? Aku tak sanggup. Aku tidak mau, itu sangat menakutkan.
David membuka mata dan tersenyum tak sabar saat mendapati Lena terpejam. Leher jenjang itu langsung diterjangnya, bekas gigitan tipis yang telah ungu, kembali di perbaharui di tempat yang sama hingga leher itu kembali penuh gigitan merah. Dia senang mendengar setiap rint1han Lena yang membuatnya bersemangat.
Dini hari itu terasa bagitu berarti. Ciuman ringan dan perlahan begitu lama. Mata hazel dan deep blue saling bertemu. Kehangatan memancar diantara mereka yang tak pernah melepas pelukan selama setengah jam. David menyunggingkan senyuman karena Lena tertidur setelah berciuman begitu lama.
Lelaki itu menarik selimut hingga menutupi leher Lena yang penuh tanda cinta yang tampak begitu jelas karena lampu kamar tidak dimatikan. Jari panjang menelusup ke punggung Lena dan terus mengeksplorasi kekasihnya yang seperti begitu lelah hari ini sampai dia melepas kaitan b.r.a. Namun, gadis itu tak bereaksi karena telah berenang ke alam mimpi.
Tentu saja ini pekerjaannya dua hari ini. Saat calon istrinya tertidur dia lalu berpindah dan memeluk Lena dari belakang dengan menjaga dua gunung dalam pelukannya.
__ADS_1