
Pergelaran resepsi pernikahan Lena begitu mewah dengan nuansa warnah putih. Lantai dipenuhi asap buatan dengan efek lampu warna biru. Sementara bagian langit-langit begitu terang dengan dekorasi bunga-bunga segar, sehingga para tamu gatal untuk tidak melihat kecantikan yang memanjakan mata. Terlebih bau wangi alami yang menyegarkan seperti bau bunga sedap malam, kian membuat mereka tenggelam dalam pesta malam yang juga sebagai ajang pencarian relasi bisnis.
Dua sudut bibir Lena terus terangkat dengan wajah terasa hangat saat dia merasakan betapa mengagumkannya menjadi ratu sehari di samping pangeran tampan yang walau begitu cool, membuat siapa saja ingin menggodanya. Bukan hanya David dan Lena yang menjadi pusat perhatian, Sean rupanya mendapat tatapan kekaguman dari banyak pasang mata saat menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Kakaknya Lena itu menyumbangkan sebuah lagu yang ditujukan untuk adik dan adik iparnya.
George terkekeh di sudut ruangan, dia mendekati Sean saat pemuda itu mengambil minuman. "Suara yang bagus. Kamu memiliki banyak keahlian. Salut-salut."
Sean tersenyum tipis, dia mendapati jam tangan mahal milik pria di sampingnya, sama seperti apa yang dikenakannya. "Kebetulan bisa bertemu di sini?"
"Tentu aku diundang. Hahaha sepertinya tawaranku sangat kecil." George melirik jam tangan Sean. "Mainlah ke kantor ku. Mungkin kita perlu berteman, Sean."
David berbisik ke Axel agar mengawasi George yang bermuka dua dan penuh akal bulus. "Jangan sampai Sean masuk ke dalam perangkap George."
Axel mengangguk pertanda mengerti, lalu menyingkir dan mendapati Shinta yang tak diundang, justru datang dengan Marcho. Sungguh semua pasang mata kini tertuju pada Shinta yang bagi Axel, tak tahu diri, karena pakaian Shinta ikut mencolok, seperti mencari perhatian. "Kenapa itu pake pula gandeng-gandeng tangan Marcho."
Lena merem4s lengan David, dadanya tiba-tiba terasa sesak meski dia berusaha untuk tetap tersenyum. David kok mengundang Shinta?
"Mih, itu Papih!" Romeo menunjuk sang papi yang baru datang dengan langsung naik ke panggung. Stef memelintir bibirnya, dia menatap datar pada ibu mertua dan nenek yang juga tampak tidak nyaman pada kehadiran Shinta di pesta. Sementara Kakek Leora masih berbicara dengan tamu lansia, walau sempat melirik kedatangan Shinta.
Stefanie mau tidak mau, mengikuti Romeo yang berlari ke arah papinya yang kini sudah berada di depan Lena dan David. Putranya menghambur dan memeluk ke paha sang papi, dimana Marcho hanya melirik ke arahnya. Apa si maksudnya pegang-pegang lengan Marcho, niat banget ganggu pesta aja ni cewek.
Shinta memiringkan kepala dan melirik dengan tatapan menyelidik pada setiap apa yang dikenakan Lena. "Wow! Senang ya, hidup dengan merebut pasangan orang? Meninggalkan pacarmu hanya demi hidup nyaman dengan kekasih orang?"
Lena menggelengkan kepala dengan ragu sekaligus mulai berkecamuk di dalam dada karena dia merasa tidak merebut. Dia melirik David dan pria itu menggenggam tangan mungilnya.
"Terimakasih, sudah datang di acara bahagia kami. Namun, karena kamu berbicara buruk, mungkin kami perlu memanggil security, lalu kamu pasti akan malu sendiri. Sebaiknya kamu berkaca pada cermin dulu, akan siapa kamu dan kelakuanmu sendiri, sebelum asal berbicara.
Dengar Shinta, aku yang mengejar istriku dari awal. Ucapanmu tak penting di sini dan istriku tidak perlu mendengar omong kosongmu." David dengan tatapan menantang ke dalam mata Shinta. "Sekarang kau mencoba merayu Marcho? Jadi, ada apa denganmu, Shinta?"
Shinta tertawa dengan tatapan merendahkan pada Lena. Dia melirik Marcho yang mengabaikan tatapan Stef. "Katakan, Marcho sayang."
__ADS_1
Sh*it! Kenapa aku terjebak dalam hubungan David. Oh, ayolah, Stef! Jangan menatapku seperti kau sangat jijik padaku? (Marcho)
"Menjauh dari papiku!" Romeo mendorong paha wanita dewasa hingga wanita itu menjaga jarak dan melepas pegangan dari lengan papi.
Bagus, Boy! Mata Marcho membulat saat Shinta mendorong putranya dan semua orang memekik saat tubuh kecil melayang dan Lena sempat menangkap tubuh mungil. Romeo menjadi menangis histeris. David menggendongnya, tetapi Romeo mengarahkan kedua tangan ke papi minta digendong papi.
Stefanie menatap tajam pada Marcho, dia mengambil alih Romeo dari gendongan David. Dia menahan napas, dia pikir Marcho mau menenangkan putranya. Ternyata harapannya salah, karena Marcho justru menggandeng Shinta dan turun dari panggung. Refleks Stef turun dari panggung dari sisi yang berlawanan, sabar pada tatapan orang-orang. Dia berusaha menepuk bahu sang putra, putranya sedang tantrum dengan tidak terkendali sampai tangannya kewalahan. Sean yang berdiri tidak jauh, langsung mencoba membantu Stef.
Marcho geram saat Sean mendekati Stef dan tampak mengambil alih putranya. Dia mendapati tatapan tajam dari kakek Leora. Masa bodoh, dia harus membawa Shinta pergi lebih dulu dari tengah kerumunan yang mulai berbisik macam-macam padanya.
David kehilangan senyuman. Lagi, Shinta seperti melempar kotoran ke wajahnya ... di depan umum, di pesta pernikahannya. Dia berbicara dengan penuh kelembutan pada istrinya, tetapi jelas sorot mata Lena tak dapat menyembunyikan kekesalan.
Leora berbisik pada pengawalnya agar mengikuti Marcho & Shinta. Lalu dia kembali asik bercengkerama dengan teman-teman lamanya. Tanpa sadar Leora menoleh ke Paolo dan Emma dalam balutan pakaian paling mahal, terutama kalung berlian langka yang dipakai Emma. Leora menyipitkan mata dan jantungnya berdebar. Ada apa? Serius mereka datang?
"Selamat atas pernikahan tetangga tercinta," ucap Paolo dengan sangat elegan. Dia menarik sesuatu dari dalam jas, lalu memberikan kotak kecil persegi berwarna putih yang dilingkari pita hitam. "Hadiah yang kecil ini berisi sebuah ketulusan hati kami. Saya saya harap ini tidak akan menyinggung kalian."
Lena kini begitu semangat dan menerima hadiah dari Paolo, lalu dia berpelukan dengan Emma. "Terimakasih, Emma. Kalian sudah datang."
"Kau tidak tahu terimakasih?" Satu alis Paolo terangkat tinggi, lalu suaranya makin meninggi. "Tahu begitu, saya tidak akan membuang waktu untuk kesini."
David tersenyum dengan penuh gereget dan ingin menggigit Paolo. "Siapa yang
mengundangmu, cih."
"Paman .... semua melihat kita." Emma memperingatkan kita, jemarinya mencengkeram lengan paman agar tidak berulah. Matanya berkedut melihat Leora naik ke panggung.
"Kau mau bertarung, Cemen?" Paolo tersenyum licik dan alis terayun dengan cepat. "Takut, ya? Hahaha."
Tangan David terkepal kencang, tetapi Lena mengelus tangannya itu hingga dia masih ingat sedang di mana. " .... "
__ADS_1
"Kenapa diam?" Paolo lalu memajukan kepala hingga bibirnya hampir menempel di telinga David. "Crocodile."
Tubuh David menggigil hebat. Dia sampai tak sadar Lena terus memanggilnya. Pangeran pesta itu juga tak sadar kapan Paolo pergi, tetapi Paolo sudah turun dari panggung. Sekali lagi, tampak Paolo mengangkat satu alis dengan seringai dan mata memutar, begitu melecehkannya.
"Mas, kamu kenapa keringatan. Sakit?" Lena mengelapi wajah David dengan tisu dari asisten perempuan. Dia juga bingung begitu Kakek tadi datang dan Paolo yang berjarak empat meter itu, hanya melirik kakek sekitar empat detik, lalu langsung pergi. Seolah Paolo menghindari Leora.
"Kau tidak apa-apa, cucuku?" Leora mengambil tisu dan mengelapi leher David dan wajah cucunya yang terus berkeringat. Cucunya yang kini duduk, bilang tidak apa-apa. Namun, dia tak percaya. Lima lembar tisu saja langsung basah, David seperti mandi keringat dengan wajah memucat.
Leora teringat setiap kali di David habis menemui Paolo, pasti reaksinya seperti ini. Sampai akhirnya peperangan darah tak terelakkan di antara David dan Paolo. Mata biru cucunya seolah ketakutan dan cemas luar biasa.
Di parkiran, Emma bernafas cepat dengan bibir terus berkedut. Pamannya itu takkan mau mendengar setiap perkataannya membuat dia ingin menumpahkan semua amarahnya. Namun, Paolo kini seperti baru menang lotre dan terus bersiul.
"Paman! Aku bilang juga apa, paman tidak perlu ikut. Sekarang kau membuat kita jadi tontonan orang-orang," kata Emma sambil menghela nafas panjang saat baru masuk mobil super car. Dia benar-benar gedek pada Paolo, hingga dia berulangkali meninju bahu kekar itu dengan begitu keras.
"Bagus! Anak Cemen itu harus merasakan rasanya seperti itu." Dengan puas Paolo menyeringai dan mulai mengemudikan dengan perasaan senang luar biasa seperti ada sesuatu meledak yang selama ini ditahan-tahannya. "Kau lihat ekspresinya tadi."
"Nggak lucu! Nggak lucu! Nggak lucu!" Emma berbicara keras dan terus meninju dengan kesal pada sang paman.
"Hust! Hust! Hust! Kau mau aku menabrak? Sudahlah tak perlu membahas dia! Gara-gara dia kau hidup seperti ini-"
"Sudah Paman, Diam! Jangan membawa-bawa hidupku. Rese ih!"
"Itu tak seberapa dengan apa yang kau alami-"
"Aku bilang jangan membahas hidupku!" Emma menjejak dashboard mobil, seolah-oleh ketel dalam dirinya mendidih.
"Kalau kau-"
"Kau sudah janji, Paol! Paman sudah janji takkan membahas soal aku dan Dhona!" cebik Emma dengan mata yang mulai memanas.
__ADS_1
"Sh**it David si4lan!" Paolo meninju stir.
Gara-gara David, keponakannya ini takut mengenal pria dan ingin terus melajang. Emma yang dulu selalu terbuka dan ekstrovet kini lebih hobi menghabiskan waktu di rumah. Jika bukan karena pesta malam SIAL4N itu di rumah David. Pernikahan keponakannya dengan orang yang sudah dijodohkan takkan gagal.