
Jembatan Charles kota Praha yang berumur nyaris 8 abad dan dibangun pada jaman Raja Charles IV masih kokoh berdiri dengan sejuta pesonanya. Di sanalah Stefanie Ailiy tengah berdiri dan menempelkan dada pada pagar jembatan. Earphone terpasang di telinganya dan memutar lagu Adele, kesukaannya. Wah nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan?
Kepala dan tangannya bergoyang mengikuti musik dalam keadaan mata terpejam. Angin sepoi membelai wajah, ini hiburan paling indah saat dia beristirahat dari memikirkan Marcho. Luar biasa.
Sean yang membawa sebuah minuman dingin, tersenyum saat mendapati stef terlihat begitu enjoy. Wanita itu tampak elegan dan jauh lebih muda saat seperti ini, apalagi dengan background sunset.
Stef sangat cantik! Cantik banged, tetapi aku tak habis pikir kenapa Marcho jarang sekali di rumah dan mengabaikan Romeo dan Stef. Apalagi di kehamilan Stef 3 bulan, kasihan sekali. (Sean)
Sean menyedot minuman dingin sambil menikmati pemandangan lampu antik dan patung bergaya Baroque klasik. Dari sini dia juga menikmati kastil Prague yang merupakan kastil terbesar di dunia. Kastil yang katanya, besarnya 7x lapangan bola seperti di negeri dongeng dan biasa menjadi tempat shooting Disney. Praha,dunia menyebutnya Prague, terletak di Republik Ceko.
“Kau dengerin apa?” tanya Sean saat Stef membuka mata lalu tersenyum padanya. Dia menerima uluran satu earphone dari tangan mungil , lalu Sean miring kiri karena Stef memilih memasangkan earphone itu ke telinganya daripada menjawab pertanyaannya. Sean mengangguk-angguk sambil mengikuti lantunan piano dengan melodi melow.
“Hello, its me. I was wondering if after all …. ” Stefanie mulai bernyanyi dan terdengar merdu bagi Sean hingga Sean tersenyum dengan kagum.
Sean yang memegang gelas, ikut menggoyangkan bahu, mengikuti Stefanie yang makin menghayati lagu berjudul 'Hello'. Mereka saling menatap, sedangkan hati mereka tenggelam dalam pedihnya cinta bertepuk sebelah tangan yang mereka rasakan satu sama lain, apalagi karena musik itu yang ngena banged. Mereka tertawa lepas saat Stefanie menyelesaikan lagu hingga wajah mereka memerah karena beban mereka terasa berkurang.
“Sean, kamu tahu nggak, jembatan ini yang dipakai buat shooting film spiderman.” Stef menarik gelas Sean dan langsung menyedotnya hingga membuat Sean membulatkan mata karena terkejut. Itu kan bekas bibirnya.
“Oh, ya? Keren sekali! Apa aku bisa jadi spiderman sekarang?” Sean tak mau memasalahkan sedotan, dia meledek Stef dengan candaan. Minumannya yang tadi tinggal setengah sekarang habis oleh Stef. Astaga, padahal dia antri untuk mendapatkan itu.
“Dan aku menjadi Marry Jane. Sean tolong selamatkan aku,” timpal Stef dengan Suara pekikan dan tawa histeris, karena menutupi hati yang menangis. Sean ikut tertawa.
“Jembatan yang megah, beruntung sekali aku bisa kesini, ke negara yang dijuluki mutiara eropa.” Sean terkagum-kagum semakin menatap ke atas pada menara jembatan.
“Tidak banyak kota lain di dunia yang bisa menandingi pemandangan indah yang di buat oleh sungai Vltava dan hal-hal lain di sekitarnya.” Stef mengembalikan gelas plastik yang kini tersisa butiran es.
“Minumanmu di dalam tasku. Kau bilang tadi tidak ingin minum dingin, tetapi juga tak mau coklat hangat.” Sean mengocok es itu agar cepat cair.
“Pemandangan sunsetnya sangat cantik!” ujar Stef sambil menikmati ke arah matahari terbenam di atas sungai. “Em, aku saja tadinya bingung, tidak mau minuman es atau hangat, tetapi begitu lihat kamu minum itu sepertinya enak.” Dia beralih memandang Sean yang kembali menyeruput es itu dimana sedotan itu terdapat sedikit bekas lipstiknya.
Ya, itu bisa dikatakan ciuman tidak langsung enggak si ? Tak usah berpikir macam-macam, Stef! Dia kini keluargamu! (Stef)
“Kenapa jadi rasa strawberry?” gumam Sean tanpa sadar setelah menyeruput sedikit lelehan es. Dia mengocok lagi gelasnya dan menimbulkan suara berisik dari kristal es.
“Oh, ya?” Stef mengerutkan kening. “Masa?”
“Coba deh?” Sean mengulurkan gelas lagi dan menelan saliva kasar saat melihat bibir pink Stef yang akan menempel ke sedotan. Bahkan wanita itu tak memegang gelasnya hingga tangan Sean yang memegangi gelas, membuat Sean merasakan halusnya rambut Stef yang menyapu punggung tangannya. Jantungnya pun berdebar karena tercium bau mint menyegarkan dari rambut coklat nan lembut.
Stef menyedot remukan es dan sedikit air es, lalu mengecap-ngecap. Dia justru mungkin merasakan rasa manis yang berbeda mungkin bibir Sean.
Astaga pikiranku susah dikontrol. Stef! Kamu sudah menikah! Jaga pikiranmu ! (Stef)
“Tidak terasa apa-apa itu.” Stef menatap Sean yang satu kilan darinya dan mereka sempat terdiam beberapa saat lalu saling membuang muka dengan cepat. .
“Ayo, jalan lagi.” Sean melangkah lebih dulu untuk membuang suasana aneh. Dia mendengar suara langkah sepatu Stef di belakang. Angin berhembus membawa aroma manis dari Stefanie. Baunya enak banged, parfum mahal memang beda.
Mereka berjalan ke ujung jembatan dan memegang satu gembok cinta masing-masing di tangan mereka, yang baru dikeluarkan dari saku mantel mereka. Sean memasang dan menyebut nama Emma dan berharap untuk kebahagiaan Emma. Sedangkan Stefanie merasa bingung sendiri karena enggan berharap pada Marcho karena sudah terlampau kecewa.
Stef juga butuh tempat sandaran, lambat laun dia menyadari hubungannya dengan Marcho tak bisa dipertahankan lagi demi akal sehatnya. Gembok itu lalu diperuntukan untuk seseorang di luar sana yang mungkin dia belum temui.
Keduanya fokus pada gembok masing-masing. Jarak mereka satu meter, lalu mereka berdiri. Sean menatap Stef sendu, dia tahu perasaan Stef meski Stef tidak cerita.
"Aku bisa minta tolong?" tanya Sean dengan serius.
"Ya?" Stef menerima bekas gelas minum plastik dengan bingung, karena saat menerima di tangan kiri justru Sean menempelkan gelas itu di tangan kanannya. "Oh buangin ini?" Stef mendapati anggukan Sean. Pandangan Stef mengikuti pergerakan lelaki itu yang memutarinya dan berakhir menggenggam tangan kiri. Oh, jadi gelas itu diberikan kepadaku agar kamu bisa memegang tanganku.
"Ayo, jalan!" Sean menatap ke para wisatawan manca negara, tampak di depan juga beberapa turis asal Indonesia yang berkelompok tengah foto bareng.
Stef melirik tangan Sean sambil menyeimbangkan langkah. Enak juga seperti ini. Sean memang cocok jadi sahabat karib. Penuh pengertian, meski seringkali aku tidak mengatakan apapun.
"Jangan memandangiku, nanti aku tambah ganteng," kata Sean dengan nada dibuat sombong dan tanpa menoleh.
Stef tersenyum penuh arti dan melirik tas punggung Sean. Di sana ada minuman pesannya. Beruntung sekali perempuan yang disukai Sean.
Mereka berjalan sedikit dan kini di alun-alun kota tua bersejarah kota Praha. Jam telah pukul enam sore, Stef memasuki sebuah kedai. Dia memesan Fudge :
Coklat lembut, lembab dengan coklat cair di dalamnya. Sedangkan Sean memesan chocolate covered strawberry. Mereka juga memesan jus pear yang kental dan hangat.
Stefanie dan Sean kemudian melanjutkan perjalanan dan menghabiskan waktu menyusuri lorong waktu kejayaan Ignasian di Klementium Ine Library Prague, menyingkap sejarah pencarian cerdik cendikian dalam eksplorasi alam semesta dan teleskop sederhana dari era 1700an.
__ADS_1
Museum Nasional Republik Ceko. Pada satu titik, Klementium adalah perguruan tinggi Jesuit terbesar ketiga di dunia. Bahkan, ada buku-buku yang tersisa di sana sejak kama Jesuit. Klementium juga terkenal dengan rekaman cuaca tertua di wilayah Ceko. Bangunan yang menarik ini adalah rumah bagi perpustakaan yang indah, yang merupakan contoh penting dari arsitektur Baroque.
Malamnya mereka makan malam di Plazenka restoran dengan kehangatan Slavic dan lantunan musik akordion, dengan kuliner khas Ceko dan ruangan dikelilingi kaca patri dalam bangunan Municipal Kouse Obecni Dum di kota tua.
Stef duduk berpangku tangan kiri menatap kosong pada pertunjukan di atas panggung mini. Seorang pelayan datang mengangkat piring kotor dan mendapati Sean mengelap mulut dengan serbet putih. “Besok sehabis meeting dengan manajer pemasaran, kita langsung balik hotel saja, ya?”
“Nggak jadi jalan-jalan? Sayang loh Kak Stef, kita harus naik kapal pesiar sebelum kembali ke Naples. Mumpung gratis.”
Stef mengerutkan kening. “Ih, lain kali aku akan berikan kamu tiket liburan! Aku pengen istirahat, Sean.”
“Ya udah, aku sendirian saja. Biar aku pakai sopir. Di Naples saja aku sudah di rumah terus-menerus, bosan. Masa di sini harus di kamar lagi.”
“Sean, kamu tak perlu khawatir, pasti tiga bulan lagi Kakek Leora memintamu kesini lagi, paling tanpa aku.”
“Makanya itu, kamu temenin aku dulu besok. Bagaimana kalau aku kena copet?”
“Kau kan bisa bertarung.”
“Kalau copetnya kabur duluan?” Sean melengkungkan bibir ke bawah.
“Kenapa jadi copet kamu besar-besarin. Aku ingin tidur tahu, capek!”
“Aku deh yang bikin semua laporan itu, aku ambil alih pekerjaan kamu."
"Huh!” Stef memutar mata ke atas, berpikir. Memang menguntungkan, tetapi kasihan Sean, dengan tangan satu seperti itu pasti pekerjaan itu jauh lebih berat. Padahal aku sedang ingin menyendiri.
"Kak Stef .... " Sean memasang wajah memelas seperti anak kecil.
“Kalau begitu besok sebentar saja. Aku belum beres-beres koper, Sean.”
“Beres, Kak!” Sean sebenarnya sedang mencari referensi karena suatu saat dia ingin mengajak Emma kesini. Namun, dia tak bisa meninggalkan Stef sendirian di hotel. Sean jadi penasaran pada kabar Emma, kenapa Donna atau Emma belum menelponnya hari ini.
Keesokannya Stef dan Sean naik kapal pesiar di sungai Vlatva, sorenya mereka sudah berada di jam astronomi Praha yang usianya hampir 600 tahun. Desainnya, yang begitu cantik warna biru dan oranye, membuat Sean begitu terpukau.
"Bau apa nih, manis enak." Sean terpejam, tetapi tangannya lalu ditarik Stef hingga memasuki sebuah kedai.
"Bau itu." Stef dengan mata berbinar saat mengamati seseorang yang tengah menggulungkan adonan coklat ke besi corong yang dinamakan tdrlo, dilapisi gula lalu di panggang di atas api terbuka sampai adonan cokelat dikaramelisasi dan meleleh. "Aroma manis berasal dari adonan yang terdapat kayu manis, butiran kacang kenari, dari situ Sean."
"Pantas wangi, enak." Sean menelan Saliva dan tak sabar saat Stef memesan roti setelah melihat proses pembuatannya. "Kok, kamu cuma pesan satu! Aku pesan sendiri, kah?" Sean mengerutkan kening karena bill sudah keluar.
"Sean, satu saja, makan bersama itu jauh lebih enak!" Stef dengan gemas karena muka lucu Sean yang bibir itu hampir mengences.
"Pesan satu lagi, ih pasti kurang. Aku mau habisin itu sendiri."
"Nggak! Coba dulu." Stef yang cemberut pada Sean, lalu berbinar saat pesannya jadi. "Ayo, kita foto Trdelnik nya dulu di depan jam."
"Ya ampun, makan tinggal maka! Pakai acara foto segala, Stef!"
Stef berbalik karena panggilan barusan yang tanpa embel-embel, lalu tersenyum pada Sean. "Panggil seperti itu saja, tak usah formal!" Stefanie menarik tangan Sean agar cepat jalan.
"Sudah, sini aku mau makan." Sean menyerahkan ponsel Stef setelah mengambil satu gambar dan Stef memasukan ponsel itu ke saku mantel putih. Sean dengan tak sabar mengambil sendok yang cuma satu itu dan mencicipi es krimnya. Matanya melebar karena es krim dengan aroma smoky menggunggah selera, dia menyendok dengan krim menggunung di sendok dan memasuk ke mulutnya.
"Gimana?" Stef masih memegangi Trdelnik.
"Emh," dengan tidak sabar, Sean merebut sendok dari tangan Stef dan memakan esnya lagi sebelum Stef mencoba.
"Ih, kenapa makan cepat-cepat! Emang nggak dingin apa? Jawab dulu rasanya! Kau mau habisin sendirian!" Stef merebut sendok berisi es krim yang akan masuk ke mulut Sean dan memegangi tangan Sean, lalu melahapnya sendiri.
"Aku tadi bilang mau pesan sendiri, kau melarang! Aku penasaran mau makan kue silindernya, ih." Sean meringis karena tak sengaja tangannya menarik sendok itu hingga krim itu melintang ke pipi Stefanie. Sean tertawa terbahak-bahak dan menyadari orang-orang di sekitar ikut senyum-senyum.
"Sean!" Stef mengelap pipi dengan tisu yang baru diambil dari tas. Dia menganga karena Sean mencaplok bagian atas roti yang sudah berkurang es krimnya, alhasil Sean mangap-mangap karena kedinginan membuat Stef tertawa senang. Dia melepas Trdelnik dan Sean memegangi sendiri kue seperti donat itu. "Rakus si."
"Kamu mau?" Sean teringat Stef saat kuenya hampir habis. Wanita itu menolak dan menggelengkan kepala. Sean dengan usil memeluk kepala Stef dan memaksa wanita itu agar memakannya.
"Se-hhhppp." Stef menggembungkan mulutnya karena dingin es krim yang masuk mulutnya.
__ADS_1
"Ayo, Stef habiskan hehe." Sean tertawa licik, apalagi tatapan marah Stef membuat wanita jauh lebih baik dalam mengekspresikan emosi.
Stef cemberut dan hampir menangis karena kesal. "Itu bekasmu!"
"Enak, kan? Itu kok sama kaya kue Chimney yang kita makan tempo hari."
Stef mengelap mulutnya sambil membuang muka tanpa menjawab. Dengan jengah, Stef meninggalkan Sean. Lelaki itu mengikuti dibelakangnya tanpa bersuara. Dia berjalan terus, lalu naik trem. Sean pun duduk di sampingnya tanpa bersuara. Mereka berhenti di Wenceslass Square. Leher Stef pegal karena dari tadi menghindar untuk melihat Sean.
Sean menjauh sedikit saat Stef memilah barang. Lelaki itu melihat boneka Matryoshka, lalu berniat membeli untuk Donna. Juga membeli dua topeng, entah mungkin, salah satunya diberikan pada Emma. Dia melirik Stefanie membeli oleh-oleh untuk Romeo dan Lena.
Sepertinya, Stef benar-benar marah, kalau dia menyerobot bekasku kan aku nggak marah. Kenapa kalau aku paksa dia, justru marah begitu. Wanita aneh! (Sean)
Sean membayar belanjaannya dan melirik Stef yang baru datang. "Sorry," kata Sean dengan rasa bersalah dan wanita itu hanya mengangguk dengan kaku.
Sesampai di hotel yang satu ruangan terdapat empat kamar, Sean menaruh semua belanjaan di atas meja santai. Dia melirik Stef yang tak menyapanya. "Hei, masih marah? Maaf dong, Kak Stef." Bahu Sean tersentak saat Stef masuk kamar dan membanting pintu kamar. "Wah, beneran marah."
Di kamar, Stef langsung beres-beres karena empat jam lagi penerbangan. Tubuhnya beneran letih, dia jadi terbawa emosi. Ingin sekali rasanya pijat. Satu jam berlalu, jam menunjukkan pukul sembilan malam saat pintu kamar diketuk. Stef berdiri dengan pinggang pegal.
"Hai, Kak!" Sean meringis dengan perasaan bersalah, apalagi wajah Stef kini tampak pucat. Dia mengulurkan Trdelnik yang baru dibelinya di kedai terdekat. "Ini untukmu. Jangan marah lagi."
Stef mengerutkan kening. "Aku nggak marah karena itu dan aku nggak mau makan lagi." Stef berbalik dan melihat tiga kopernya yang tinggal ditutup, mengabaikan Sean.
"Yah, padahal ini aku beli jauh jalan kaki." Sean menatap lemas pada kue itu.
"Aku nggak mau makan itu, Sean! Keluarlah, aku sedang beres-beres." Stef dengan suara meledak-ledak dan mulai menutup kopernya satu persatu. Dia melirik peralatan makeup yang belum diberesin.
"Kenapa kamu tidak pakai asisten pribadi." Sean masuk dengan ragu dan duduk di kursi depan cermin rias, di tempat yang terus dilirik Stef.
"Untuk apa? Kalau apa-apa bisa sendiri."
"Namanya itu menyusahkan diri sendiri."
"Kau di sini cuma mau bikin aku kesal, ya?" suara Stef meninggi dan ingin berteriak rasanya.
"Kakak yang kenapa, kalau marah kan ada sebabnya. Kenapa tidak pernah berbagi kepadaku. Setidaknya, perhatikan diri kakak itu. Emosi juga tidak boleh terus dipendam." Sean bolak-balik melirik Stef dan es krimnya bergantian.
"Sean! Jangan masuk ke rana pribadiku."
"Kakak tidak lihat, es krim ini, seiring bergesernya waktu, meleleh membasahi roti dan kertasnya, lalu kena tanganku. Begitupun emosi kakak, kakak mungkin baik-baik saja jika dilihat dari luar, tetapi itu palsu. Beberapa orang-orang bisa merasakannya, salah satunya aku."
Stef melototi Sean. Anak muda ini mulai berani menceramahinya membuat Stef semakin tidak terima.
Sean mengecilkan suara dengan waspada. "Aku merasakan dingin es di punggung tanganku. Tapi kakak lihat roti yang tadi kokoh lalu terkena cairan, perlahan lembek dan lama-lama mengembang, endingnya hancur tak berbentuk."
"Kau menyindirku, Sean?" Stef berdiri dan mendekati Sean dengan marah, matanya berkaca-kaca.
"Iya! Aku tak mau melihat hati kakak hancur seperti roti ini-" Sean terkejut karena Stef menyerobot roti dan memasukan semua itu ke bibir mungil lalu mulut itu mengembung penuh. Kesepuluh jari Stef belepotan es krim yang mencair karena penghangat ruangan, kue itu berbaur tak beraturan di mulut dan tangan Stef.
Sean yang masih duduk, membeku karena air mata Stef berjatuhan dan menyatu dengan es krim. Dengan kelopak mata wanita itu bergetar dan menatapnya seolah penuh kebencian.
"Kau lihat, semua beres, dan tanganmu tak kedinginan ... sekarang apa yang membuat tanganmu tak nyaman tidak ada lagi. Begitupun aku, akan semakin memendam itu hingga kamu tidak akan pernah mendapatiku seperti itu lagi.
"Aku akan memberikan pelukan dan sebuah kepedulian yang tulus, tanpa mengusik kehidupan kakak. Aku bisa menjadi tembok untuk Kakak bersandar dan melampiaskan amarah." Mata Sean terus terpaku pada mata emas Stef.
Sebuah tinjuan penuh emosi yang tertahan, melayang dari tangan mungil yang terkepal kuat dan mendarat di dada Sean hingga kaos pria itu penuh noda coklat. Mata Stef menyipit, dia menggelengkan kepala lalu berbalik membelakangi Sean.
Bibir Stefanie mewek dan pipinya semakin beruraian air mata. Tak kuasa pada rasa tidak karuan yang tengah dirasakannya. Dia tak tahu kenapa ingin menangis, juga malu pada Sean karena dari kemarin emosinya berubah-ubah. Di sisinya, tidak ada yang peduli selain Sean dan Lena. Orangtuanya yang telah berumur sibuk mencurahkan perhatian pada rumah tangga kakak sulungnya. Itu terjadi, sejak mereka tak setuju karena dia bersikeras menikah dengan Marcho. Sepertinya, insting orangtuanya benar.
Stef jatuh terduduk, tetapi tak sampai ke lantai. Seseorang menahannya. Dia mendongak dan mendapati wajah tampan Sean. Perlahan kakinya merasakan lantai kayu yang halus dan Sean juga ikut duduk. Stef mendorong Sean hingga Sean duduk mundur, Stef tertunduk pada kehamilannya.Tulang-tulang seperti dicabut seluruhnya y begitu lemas tak berdaya.
"Stef," suara Sean berat, tangannya menyingkirkan rambut panjang lurus itu ke belakang telinga hingga menampakkan pipi kanan Stef yang basah. "Lemah tidaklah salah. Kamu bukan Tuhan yang selalu kuat."
"Badanku sakit semua, Se," suara Stef sangat kecil dan kepalanya pusing. Dia berusaha berdiri sendiri dan saat Sean akan menyentuh tangannya, dia meneplak tangan Sean.
"Dasar keras kepala," gerutu Sean tak sabar akhirnya.
"Suka-suka aku," ketus Stef, masih saja memiliki tenaga untuk menjawab. Dia merambat di kursi yang tadi duduki Sean. Tisu diambil sebanyak-banyaknya dan mengelap mulut sendiri. "Aku jadi kotor semua."
"Butuh bantuan? Bilang Napa," gerutu Sean ikut berdiri dan melihat mata Stef dari pantulan cermin. "Mau aku panggilkan terapis pijat kehamilan?"
"Mana ada terapis malam-malam. Lagipula kita mau pulang."
__ADS_1
Sean garuk-garuk kepala kala Stef berjalan ke kamar mandi. Lelaki itu merapikan peralatan makeup perempuan dengan dimasukan ke masing-masing pouch. Dia sedikit hafal, karena Stef selalu berdandan di kantor. Tentunya, setelah tangan yang kotor lengket dibersihkan dengan tisu basah. Dia tak mau dimarahi atasannya itu. Walau sekarang bukan jam kerja, tetap saja dia tak mau Stef marah, karena dialah yang selalu kena imbasnya. Meski begitu dia senang karena Stef tampak seperti manusia normal kalau marah seperti ini.