
" Aaaaaaahhh.....!!!!" Pekik Lewis saat dia membasahi seluruh tubuhnya.
Mendengar suara teriakan sang suami, sontak Lexy bangun dari tidurnya dan berlari menuju kamar mandi.
" Lew!!! Buka pintunya!!!" Lexy menggedor pintu kamar mandinya dengan perasaan was-was.
" Sakit Lex!!" Pekik nya
" Lewis kalo Lo gak buka pintunya gue dobrak sekarang!" Lexy mengambil ancang-ancang, tetapi saat dia akan berlari tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka.
Lewis keluar dari ruangan itu dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun dengan tubuh yang masih basah.
" What happen Lew??!" Lewis menutupi tubuh basah Lewis dengan handuk yang dia raih saat akan menghampiri sang suami.
" Punggung ku! Seseorang telah menyakiti punggung ku Lex!"
Seketika Lexy tertawa terbahak-bahak, rupanya Lewis masih belum mengingat kejadian terakhir sebelum dia ambruk saat Victor akan menggambar tatto Phoenix dipunggung nya.
" Kenapa kamu malah ngetawain aku!"
" Emang kamu lupa sayang? Kamu sendiri yang minta Victor untuk menggambar tatto Phoenix dipunggung mu "
" What??!!!!" Lewis bergegas menuju cermin yang berada diruang ganti baju dikamarnya.
" Jadi beneran??" Pekiknya dari dalam ruangan.
" Whoaaa!!! Ini keren sayang!!" Lewis berlari keluar dari ruangan itu.
" Apa aku sudah terlihat jantan sekarang??" Lewis memeragakan pose-pose untuk memperlihatkan otot-otot dan tatto barunya.
Lexy terkekeh, wanita itu mendekati tubuh Lewis dan mengalungkan tangannya dipundak pria itu.
" Aaaaaaahhh!!!!" Pekiknya saat Lexy menyentuh tatto nya pelan.
" Kenapa kamu melakukan hal itu Lex!! Sakit tau!"
" Katanya jantan..." Kekeh Lexy sambil berusaha untuk menyentuh kembali tatto suaminya itu.
Lewis melepaskan pelukan tangan Lexy dan berlari menjauhi sang istri yang terus saja berusaha untuk menjahilinya.
" Jangan sentuh gue Lex!"
" Ayolah Lew, cuma dikit doang "
" No...!!! menjauh dari gue...!"
Lewis lupa jika saat ini dia hanya menggunakan sehelai handuk untuk menutupi tubuh polos nya, seketika Lexy berhasil menarik handuk yang di pakainya hingga terlihat lah burung Phoenix yang tertidur dengan posisi menggantung.
" Lari lagi ntar burung Phoenix nya gak boleh di masukin sangkar " Ancamnya sambil berpura-pura memasang tampang gahar nya.
Dengan langkah berat akhirnya Lewis berjalan mendekati sang istri, dia tidak bisa membayangkan jika burung Phoenix miliknya akan terus tertidur dengan posisi menggantung seperti itu tanpa bisa masuk ke sarangnya.
Pasti akan sangat menyengsarakan pikirnya.
" Good boy " Puji Lexy saat lelakinya sudah berdiri dihadapan dengan wajah memelas.
" Tapi pelan-pelan aja sayang sentuhnya " Pintanya pasrah.
" Sekarang di lap dulu badannya, kamu belum boleh mandi Lew lukanya belum kering "
Lewis langsung menggelengkan kepalanya
" Gak mau sayang...Sakit banget, rasanya perih "
__ADS_1
" Memang nya gak kasian sama burungnya?"
Seketika wajah Lewis terlihat panik, lagi-lagi sang istri mengancamnya.
Akhirnya Lewis pasrah saat Lexy mengelap tubuhnya dengan lap hangat yang sebelumnya sudah dia persiapkan, bagaimana pun hari ini Lewis harus pergi bekerja.
Tetapi saat wanita itu membersihkan daerah sekitar burung Phoenix miliknya, tiba-tiba saja dia terbangun dan berdiri dengan gagahnya.
" Dia terbangun sayang " Lewis menyeringai
" Kayaknya dia pengen masuk ke sarangnya " Lanjutnya.
" Sarangnya lagi direnovasi sayang, empat hari lagi baru boleh ditempati " Ujarnya enteng. Selesai dengan urusan membersihkan tubuh suaminya Lexy segera mengoleskan gel dingin dipermukaan kulit bertato milik Lewis.
" Kok???" Seketika Lewis membulatkan matanya
" Kenapa sarang nya bisa direnovasi???!" Lewis lupa dengan rasa perih dipunggung nya saking terkejutnya, dan bersamaan dengan itu si Phoenix kembali tertidur dengan posisi menggantung dengan santainya. Apa yang terjadi pada Istri ku pikirnya.
" Dia berdarah setiap satu bulan sekali selama lima hari " Jawab Lexy santai, dia berpikir bahwa suaminya sudah mengerti hal-hal seperti ini.
" What????!!!! Berdarah??? Ya Tuhan!!" Seketika Lewis panik bukan main.
Dia meraih tubuh sang istri yang terlihat terkejut dengan reaksinya, lalu menaruhnya perlahan di atas kasur dan meraih handphone nya untuk menghubungi Sultan.
" Sultan! Istriku berdarah! Aku tidak ke kantor hari ini!" Tanpa basa-basi pria itu langsung berbicara begitu Sultan merespon panggilan nya, lalu menutupnya kembali.
Sementara di kantor
" Nic, apa maksud si Lewis? Dia bilang Lexy berdarah!" Sultan masih kesal dengan Lewis
" Shak juga akan mengalami hal itu setiap bulan " Jawabnya santai
" Maksud Lo??!!" Sultan sudah akan beranjak dari duduknya
" OOO ..Itu ternyata maksud nya " Sultan kembali duduk dikursi nya.
Kembali ke kamar Lewis dan Lexy
" Lew... Hentikan!" Pinta Lexy saat pria itu berusaha untuk membuka segitiga pengaman milik nya dan akan menaruh kapas yang sudah dibubuhi iodine.
Padahal Lexy sudah berusaha untuk memberikan pengertian kepada suaminya itu.
" Kenapa darahnya banyak sekali!!!" Seketika bola matanya membulat sempurna.
" Kamu bisa mati kehabisan darah sayang!"
Lewis kembali menghubungi Sultan
" Sultan! Ya Tuhan... Darah nya banyak banget!! Dia bisa mati!! "
" Tolong aku! " Lewis berjalan mondar-mandir.
" Tolong minta dokter Mady untuk datang kemari!" Lanjutnya
" Oke... Terimakasih Sultan! Lo memang sahabat terbaik gue!"
Sementara diseberang sana Sultan dan Nico sedang tertawa terbahak-bahak karena telah berhasil mengerjai si pria cantik yang pea tiada tara.
Tak berselang lama dokter Mady datang ke kamarnya ditemani oleh salah satu pelayan, Wanita itu terlihat menyunggingkan senyumnya.
Ini lebih konyol dari tuan Sultan - Mady
" Tolong istriku dokter! Darahnya banyak sekali!"
__ADS_1
Madison mulai melakukan pemeriksaan, dia tersenyum kearah Lexy yang tengah menahan rasa malunya.
" Maafkan aku dok " Bisiknya
" Bagaimana dokter?? Apa kau bisa menghentikan pendarahan nya??"
" Darahnya akan berhenti setelah lima hari tuan Lewis " Jawabnya enteng
" Saya akan memberikan resep untuk nona Lexy untuk mengurangi rasa sakitnya "
Duarrr!!!!
Sepertinya sang dokter baru menyadari jika dia telah salah mengucapkan kata diakhir kalimat nya.
" Sakit??!!!!!" Pekiknya
" Bukan....Bukan.... Maksud saya untuk mengurangi pendarahan nya "
" Kalo ngomong yang benar dokter! Apa kau berusaha untuk membuat jantungku meledak hah!!"
" Lew! Hentikan!!!" Bentak Lexy
" Belikan resep ini! " Lexy meradang, dia kesal dengan kekonyolan suaminya
Tanpa pikir panjang Lewis menyambar kertas yang diberikan oleh Lexy dan pergi meninggalkan mereka didalam kamar. Dia berpikir pasti resep yang diberikan oleh dokter Mady sangat penting bagi istrinya, dia tidak mau mengambil resiko untuk menyuruh salah seorang pelayannya dan pada akhirnya nanti malah salah membeli resep.
" Jangan bergerak hingga aku kembali!"
Tak berselang lama, Lewis kembali ke kamarnya dengan muka masam dengan membawa bungkusan plastik besar. Pria itu menaruh plastik tersebut dan menjatuhkan dirinya diatas ranjang disamping Lexy.
" Apa yang kamu beli hingga sebanyak itu Lew?" Lexy mengerutkan keningnya
" Aku tidak mau lagi membeli resep yang dibuat oleh dokter Mady!" Lewis memajukan bibirnya beberapa senti
Lexy meraih bungkusan plastik besar itu dan melihat isi dalamnya, seketika tawanya menggema.
" Kenapa kamu membeli pembalut sebanyak ini sayang?"
Lewis mendengus kesal, dia masih mengingat bisikan-bisikan para pelayan apotek ketika dia menyerahkan kertas resep obat tersebut.
" Ukuran berapa tuan? " Kekeh salah seorang pelayan.
" Maksudnya?"
" Anda sedang mencari pembalut bukan? Disini ada berbagai macam ukuran dan merk "
Tanggung malu Lewis meminta pelayan itu untuk memasukkan semua jenis dan merk pembalut yang ada di etalase toko itu lalu segera membayarnya dan bergegas pergi dari sana.
Sial! Ini pasti kerjaan Sultan!- Lewis
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘
Terimakasih atas dukungan kalian pada novel ini hingga ratingnya terus naik
Love you all seluas cakrawala 🤗😘
__ADS_1