
" Huufttt...Sialan kamu Sam, tiba-tiba pindah mau apartemen segala...Cih " Ellen membuka kunci pintu kamarnya, dia lalu melemparkan tasnya ke atas sofa kamar barunya.
Wanita ini tidak lagi bisa tinggal di apartemen sebelumnya karena biaya sewa nya yang terlalu mahal jika dia harus menanggungnya sendiri, Samantha sahabatnya tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke apartemen didekat kampus dengan alasan untuk lebih menghemat biaya. Sementara ukuran apartemen disana hanya cukup untuk satu penghuni saja, sama seperti apartemen yang dia baru tinggali selama dua hari ini.
Ellen bukan tidak mampu tinggal disana, tetapi saat dia juga mencari apartemen disana sang pemilik mengatakan bahwa kamar disana sudah penuh. Dengan sangat terpaksa Ellen memilih apartemen yang letaknya sedikit lebih jauh dari apartemen yang dulu mereka huni, meski ruangan di apartemen baru nya ini kurang berkenan baginya.
" Hhmmm....Apa kabarnya dengan mereka yah " Ellen menyalakan laptopnya, tak lama senyuman penuh kemenangan terlukis jelas diwajahnya.
" Rasain kalian...!" Gumam nya.
Ellen telah membayar beberapa orang untuk menyebarkan rumor tentang hubungan Aiden dan adiknya yang menurutnya terlalu janggal untuk sebuah hubungan kakak adik, tidak hanya di kampusnya saja tetapi disekolah adik Aiden.
Wanita ini memang cukup gigih mencari informasi tentang Aiden dan adiknya, meski dia akui banyak yang merasa takut untuk memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan kepada mereka. Hingga pada akhirnya seorang gadis memberitahu dimana adik Aiden bersekolah karena secara kebetulan gadis itu mempunyai adik yang bersekolah di sekolahan yang sama dengan Kaylee, tentunya setelah dia mendengar cerita bohong Ellen.
Ellen mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih Aiden, kakak dari gadis yang bersekolah di sekolahan yang sama dengan adiknya dan ingin memberikan kejutan kepada calon adik iparnya itu.
Setelah mendapatkan informasi yang dia perlukan, dia pun mulai melancarkan aksinya menyebarkan rumor disana tentunya melalui orang-orang yang sudah dia bayar sebelumnya.
Tok...tok..tok...
" Siapa sih...Ganggu kesenangan orang aja " Keluh Ellen, dia pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamarnya.
"Iya bentar...!" Ujarnya saat orang dibalik pintu terus saja mengetuk pintu kamarnya.
Ceklek
" Kalian!!" Bola mata Ellen membulat sempurna saat mengetahui kehadiran dua orang yang saat ini sudah berdiri dihadapannya.
Ellen masih ingat benar dengan dua orang tinggi besar yang tengah menatapnya tajam saat ini, dua orang inilah yang telah menarik tubuhnya dan menahan dirinya saat dia kembali akan menyerang seorang gadis dua hari yang lalu.
" Selamat siang nona, masih ingat dengan kami kan ?" Andre bertanya sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar diikuti oleh Philip, Ellen mundur seketika.
" Apa yang kalian inginkan ?!" Ellen mencoba untuk menyembunyikan ketegangannya dengan suara keras nya.
" Anda tahu apa yang kami inginkan nona Ellen " Philip menyeringai. Pria itu menutup pintu kamar dan mengganjalnya dengan kursi.
" Duduklah nona, kami hanya ingin berbincang denganmu " Pinta Andre.
" Katakan padaku apa yang kalian inginkan dariku hah?!!!"
" Atau aku akan berteriak sekencang-kencangnya!" Lanjutnya
" Berteriak lah sesuka hati anda nona, tidak akan ada orang yang akan datang untuk membantu anda disini " Philip terkekeh.
Sungguh ancaman yang sangat menggelikan pikirnya.
__ADS_1
" Anda lumayan pintar nona, menyebarkan rumor tentang tuan muda kami dan membayar orang-orang untuk itu " Andre menekan pundak Ellen hingga mau tidak mau wanita itu terduduk di sofa.
" Apa maksud kamu hah?!! Jangan asal nuduh!" Kilahnya.
" Percuma berkilah nona, anda tidak tahu dengan siapa anda berurusan " Lanjut Andre.
" Apa maksudmu?? Aku tidak takut dengan siapapun mengerti?!! "
" Jadi jangan berani-berani mengancam ku!" Lanjut Ellen semakin berusaha keras untuk menyembunyikan ketakutannya.
" Baiklah jika menurutmu demikian nona, kita lihat hukuman apa yang setimpal dengan kelakuan mu itu " Kekeh Andre.
" Apa maksudmu brengsek!" Pekik Ellen
" Kita masih punya hukum yang bisa kita gunakan untuk menjatuhkan hukuman untuk mu nona Ellen " Ujar Andre
" Apa karena anda merasa anda adalah anak dari seorang pemilik stasiun televisi ada bisa menggunakan media untuk memutar balikkan fakta nona?" Sambung Philip
" Atau anda merasa karena ibu anda adalah seorang jaksa jadi anda bisa kebal terhadap hukum nona Ellen?" Lanjutnya.
" Kalian....!" Pekik Ellen geram
" Owh...apa anda berpikir kami akan menghukum anda dengan cara kami? "
Selama mereka " berbincang " dengan Ellen, diam-diam Andre mengirimkan lokasi mereka kepada Keenan dan Aiden melalui ponsel miliknya.
Tak berselang lama suara ketukan pintu menghentikan aktivitas mereka sejenak, dengan isyarat yang diberikan oleh Andre, Philip menyingkirkan kursi yang dia gunakan untuk mengganjal pintu dan membukanya.
" Selamat datang tuan-tuan dan anda nona " Sambut Philip.
" Siang Phil..." Aiden memasuki ruangan diikuti oleh Kaylee dan Keenan.
" Selamat siang nona Ellen " Sapa Aiden, sementara dia membalas anggukan kepala Andre lalu mendudukkan dirinya dikursi seberang Ellen.
" Apa anda sungguh sangat ingin tahu tentang hubungan kami nona?" Lanjut Aiden.
" Kami ini kakak adik sungguhan nona, tidak ada tambahan selain itu " Kekeh Aiden.
" Apa Andre dan Philip menyakiti mu sebelum aku datang tadi ?" Menatap wajah Ellen.
" Ti...tidak Aiden.." Salah tingkah karena tatapan Aiden.
" Baguslah...Itu artinya mereka mematuhi perintah ku untuk tidak mengotori tangan mereka dengan urusan remeh "
Deg
__ADS_1
Intonasi suara Aiden memang terdengar begitu tenang, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu mengusik batin Ellen.
" Kami sudah mengetahui semuanya Ellen, percuma jika kamu berkilah " Lanjutnya.
Kenapa tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan suara disaat Aiden sedang berbicara??-Ellen
" Aku mengakui kegigihan mu Ellen, mungkin sebaiknya kamu meneruskan usaha ayahmu di stasiun televisi "
" Karena setelah ini aku berani menjamin tidak akan ada satu kampus pun yang bersedia menerima mu sebagai mahasiswa mereka " Aiden tersenyum.
Glek.
Aiden meraih ponselnya dari dalam saku mantelnya, lalu menghubungi seseorang.
" Uncle Tig bagaimana?"
" Apa uncle Nic tahu tentang hal ini ?"
" Owh...Oke uncle Tig, habis ini kita makan-makan di kedai burger "
" Thanks uncle...You're the best!" Aiden menutup kembali layar ponselnya.
Tiba-tiba ponsel milik Ellen berdering, wanita itu ragu saat dia akan mengangkat nya.
" Angkat saja nona Ellen " Ucap Aiden.
Pelan Ellen meraih ponselnya, lalu mendekatkan benda pipih itu ditelinga nya. Tak lama bola matanya membulat sempurna, tangannya bergetar dan tangisnya pecah seketika. Keberaniannya selama ini seakan hilang entah kemana, bahkan untuk membela dirinya seperti yang tadi dia lakukan dengan cara berkilah pun sudah tidak lagi bisa dia lakukan saat seseorang diseberang sana mengatakan banyak hal kepada nya.
Saham terbesar di stasiun televisi milik sang ayah tiba-tiba ditarik sepihak oleh pemilik modal terbesar disana, dan sang ibu dimutasikan ke kota sebuah kota kecil di bagian timur negara itu.
Dengan isyarat yang diberikan oleh Aiden, semua orang meninggalkan ruangan itu.
" Tuan muda terlalu baik hati kepada anda nona Ellen " Andre menepuk pundak Ellen saat dirinya akan meninggalkan ruangan itu mengikuti para tuan muda dan temannya.
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘
Happy reading 🤗
__ADS_1