
Sesuai dengan petunjuk yang berhasil didapatkan oleh Lexy, saat ini Lewis dan Lexy sedang dalam perjalanan menuju sebuah fasilitas kesehatan mental yang berada di perbatasan kota itu.
Letaknya memang lumayan jauh, butuh waktu sekitar tiga jam untuk bisa sampai ke tempat itu.
" Lo udah siap ?"
Mereka baru saja sampai dan masih berada didalam mobil.
" Entah lah " Lewis menghela nafasnya
" Sebaiknya Lo siap, kita udah jauh-jauh dateng kesini " Lexy membuka pintu samping mobil itu dan melangkahkan kakinya keluar.
Sekilas dia mengedarkan pandangannya ditempat ini, menurutnya tempat ini terlihat kurang layak bagi orang sekaya Sarah. Atau mungkin wanita itu sengaja menaruh anak gadisnya disini agar lepas dari perhatian orang-orang?
Mengikuti Lexy, akhirnya Lewis keluar dari mobilnya dan berjalan menuju lobby fasilitas itu.
" Selamat siang, ada yang bisa kami bantu tuan dan nona?" Salah satu perawat wanita menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
" Siang suster, kami ingin menjenguk saudari kami " Lewis lalu memperlihatkan sebuah foto dan bukti bahwa mereka benar-benar terikat secara kekeluargaan dengan Sarah.
Suster baik hati itu mengantarkan mereka menuju ruangan dimana Sarah dirawat.
" Biasanya hanya nyonya Lucinda yang datang kemari, jadi mungkin tuan dan nona akan sedikit kesulitan untuk mendekati nona Sarah " Sang suster membukakan kunci pintu kamar Sarah.
Hati Lewis terasa panas ketika melihat kondisi Sarah disana, gadis itu hanya terduduk dan diam menghadap tembok dengan pandangan kosongnya. Seketika Lewis teringat kondisi terakhir mendiang ibunya.
" Ya Tuhan Sarah...." Lewis menutupi mulutnya, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat dihadapannya.
Sarah yang Lewis kenal adalah gadis periang yang sangat ramah, sikap hangatnya diwariskan dari mendiang ayahnya. Hubungan mereka begitu dekat, bahkan hingga Lewis menyelesaikan kuliahnya Sarah hampir selalu ada untuk pria itu.
Lewis mendekati gadis itu dan memeluknya erat.
" Maafkan aku Sarah, aku terlambat menyadari nya...." Air mata Lewis tidak terbendung lagi.
Sarah yang biasanya tidak pernah merespon terhadap apapun, baik suara maupun sentuhan tiba-tiba membalas pelukan Lewis. Tentu saja ini dianggap sebuah berita baik menurut sang suster, dia langsung berinisiatif untuk menghubungi Lucinda tetapi ditahan oleh Lexy.
" Kita lihat dulu sus, sampai dimana nona Sarah merespon Lewis "
" Tapi nona, nyonya Lucinda berpesan...."
" Panggilkan saja dokternya suster " Lexy terpaksa harus sedikit memaksa wanita itu agar dia segera memanggil kan dokter yang biasa merawat Sarah.
Sepeninggal sang suster Lexy segera memperingatkan Lewis agar lebih cepat melangsungkan niat awal mereka kesana, dia yakin suster tadi pasti akan tetap menghubungi Lucinda.
" Aku belum bisa mengajaknya berbicara Lex, aku gak tau caranya gimana..."
" Lewis..." Sarah bergumam, tapi Lewis yakin jika gadis itu telah menyebut namanya barusan.
" Iya Sarah...Aku Lewis, apa kamu ingat aku?"
Tapi hanya satu kata itu saja yang Sarah ucapkan, setelah itu gadis itu seperti kembali ke dunianya sendiri.
__ADS_1
Tak lama seorang pria dengan seragam medis lengkap dan suster wanita yang tadi memanggilnya memasuki ruangan.
" Ini dokter Lucas, beliau dokter sementara disini menggantikan dokter Jordy yang sedang cuti " Sang suster mengenalkan pria berseragam medis lengkap itu kepada Lewis dan Lexy.
" Suster tolong tinggalkan kami " Pinta sang dokter.
" Baik dokter..."
" Oia dok, saya sudah menelepon nyonya Lucinda untuk mengabarkan hal ini " Lanjutnya.
" Baik suster, terimakasih " Dokter Lucas mulai memeriksa kondisi tubuh Sarah.
" Apa dia sudah benar-benar pergi?" Dokter bertanya kepada Lexy.
" Sudah Luc..." Lexy memberitahu Lucas setelah dia mengintip dari balik pintu.
" Apa Tig sudah di posisinya?" Lexy mulai membantu Luc untuk mengganti pakaian Sarah.
Sementara Lewis masih berdiri mematung, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini dihadapan nya. Luc menyamar menjadi seorang dokter, dan Lexy seperti sudah terbiasa dengan semua ini. Gadis itu tidak terkejut sama sekali.
" Bagaimana kalian tau?"
" Bukan saatnya bertanya Lew! Bantu kami sebelum Lucinda sampai disini..." Lexy tidak memperdulikan keterkejutan Lewis, saat ini mereka hanya fokus untuk membawa Sarah keluar dari tempat itu.
" Tapi bagaimana nanti kalau...."
PLAK!
" Sadar Lewis Damian! " Bentak Lexy
" Bantu kami atau kau akan tau akibatnya nanti!" Lanjutnya
Lexy dan Luc membungkus tubuh Sarah dengan pakaian baru yang Lexy keluar kan dari dalam tas nya, Sebuah jaket Hoodie dan celana training. Luc lalu melepaskan pakaian yang dia kenakan dan memakai baju yang sama dengan Sarah, kini mereka seperti sepasang kekasih yang tengah mengenakan baju dengan motif yang sama.
Luc dan Sarah keluar dari ruangan itu terlebih dahulu, tak lama Lexy dan Lewis mengikuti mereka dari arah belakangnya.
Setiap mereka berpapasan dengan para petugas keamanan atau petugas rumah sakit, Luc terpaksa harus memeluk Sarah, sesekali dia seperti mencium gadis itu guna menghindari kecurigaan. Orang-orang yang melihat kemesraan dua orang yang seperti sedang dimabuk cinta itu hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Anak muda jaman sekarang " Gumam salah satu dari mereka.
Sampai dihalaman depan rumah sakit, mereka melihat Lucinda sedang berjalan cepat menuju lobby depan rumah sakit. Secepat kilat Luc menggendong Sarah seperti koala dan bergegas memasuki mobil, sementara Lewis langsung mencium bibir Lexy hingga posisi pria itu membelakangi Lucinda saat mereka sedang berpapasan.
" Dasar anak muda jaman sekarang, tidak tahu etika " Gumam Lucinda.
" Tolong jangan tampar aku " Pinta Lewis saat dia melepaskan tautan bibirnya.
" Masuk kedalam mobil sekarang!" Bentak Lexy.
Kedua mobil itu bergegas keluar dari halaman gedung fasilitas kesehatan mental itu, mereka menginjak pedal gas nya dalam begitu mobil yang mereka kendarai benar-benar telah meninggalkan areal gedung tersebut.
" Lex...."
__ADS_1
" Shut da hell up Lew!" Lexy memutar kemudi mobil nya saat dia berbelok dan memasuki jalan tol.
" Sekarang bukan waktunya buat ngomong, Oke?!" Lanjutnya.
Lewis menghela nafasnya dan membuang pandangan kearah depan, dia bisa merasakan jika wanita disampingnya ini sedang melajukan mobilnya dalam kecepatan yang sangat tinggi.
" Setidaknya beri tahu aku kemana Luc akan membawa Sarah "
" Lo bakal tau nanti, diam lah...!"
" Jangan suruh gue buat diam terus oke! " Bentak Lewis, pria itu terlihat begitu kesal.
Dia merasa seperti orang bodoh saat ini, baik Lexy atau Luc atau siapapun tidak ada yang mau memberi tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini. Mengapa Luc tiba-tiba ada disana, sampai-sampai dia menyamar menjadi seorang dokter dan Lexy, wanita ini seperti sudah terbiasa dengan apa yang dia lakukan.
" Gue juga butuh tau tentang semua ini, dan kalian...Apa sebenarnya pekerjaan kalian hah??!"
" Dan apa itu tadi??!"
" Gue butuh penjelasan sekarang!!" Lewis memukul dasboard mobil dengan kepalan tangannya.
Cekiiiittttttt...!!!
Lexy menginjak pedal rem dalam-dalam hingga mobil yang dikemudikan nya berhenti secara tiba-tiba, dia membuka sabuk pengamannya dan menarik kerah baju Lewis lalu menautkan bibirnya dengan bibir milik pria yang sedang dalam keadaan syok berat itu.
Dia sempat berpikir bahwa Lexy akan menghabisi nya disana.
Well... wanita itu memang benar-benar menghabisi nya, tetapi dengan cara yang lain.
Jika dipikir lagi, Lexy itu ibarat seorang pria yang sedang membungkam mulut wanita nya yang tak hentinya bicara tak tentu arah.
Lexy melepaskan tautan bibirnya, memasang kembali sabuk pengamannya dan menancapkan pedal gas seketika.
" Lo gak denger apa yang gue bilang tadi hhmmm??"
Sementara Lewis masih terdiam, pria itu terlihat begitu sangat pucat.
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak mohon maaf othor baru bisa up malam ini, besok othor lanjut lagi yah.
Happy reading 🤗
See you all tomorrow 😘😘
Much love...
__ADS_1