
Lucinda segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan lokasi dimana sang algojo telah tertembak, setelah pria itu menghabisi nyawa kedua orang yang sedang berpelukan disana dengan menghunuskan pedangnya hingga tembus ditubuh mereka.
" Berhasil! " Pekiknya.
Wanita itu bahkan tertawa terbahak-bahak, dia tidak perlu lagi melunasi sisa pembayaran kepada algojo itu dan dia juga tidak harus mengkhawatirkan keponakan nya lagi yang akan membuka kembali kasus kematian ibunya.
" Sekarang tinggal satu lagi, menemukan keberadaan Sarah!"
" Aku harus membawanya pergi sejauh mungkin!"
Lucinda memutar kemudi mobilnya saat dia akan memasuki jalan tol dalam kota, dia berencana untuk menemui Murdock dan akan memaksanya untuk mencari keberadaan Sarah.
Tiba-tiba dering di handphone nya berbunyi.
Panjang umur sialan!
" Dimana?!"
" Oke aku akan segera kesana "
Lucinda mengakhiri sambungan telponnya dan menginjakkan kakinya di pedal gas untuk menambah kecepatan laju mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit Lucinda disambut langsung oleh Murdock, wanita itu terlihat mengerutkan keningnya saat dia menyadari ada banyak memar di wajah detektif swasta itu.
" Aku harus berkelahi dengan orang-orang itu untuk mendapatkan kembali anakmu nyonya " Menyadari tatapan heran wanita yang ada dihadapannya.
" Bukankah itu sudah menjadi resiko dalam tugasmu.." Ucapnya sinis
" Dimana Sarah?" Lanjutnya
" Ikuti aku nyonya, aku meminta pihak rumah sakit untuk menempatkan nya di ruangan khusus "
" Bagus! Dan segera urus berkas-berkas kepulangan anakku, aku harus membawanya pergi sejauh mungkin "
Sampai diruangan dimana Sarah berada, Lucinda segera menghampiri anak gadisnya yang masih dalam keadaan tertidur.
" Dokter baru saja memberinya obat tidur nyonya "
" Sebaiknya kita mengurus kepulangan nya setelah nona Sarah terbangun " Lanjutnya pelan
" Tapi itu bisa memakan waktu lama Murdock! Dan aku tidak punya waktu selama itu "
" Mengapa nyonya? Bukankah sekarang ini nona Sarah sudah ditemukan? "
" Jangan banyak bicara sialan! Aku telah menyuruh seseorang untuk melenyapkan nyawa keponakanku!"
" Sekarang ini aku harus segera pergi dari sini untuk membuat alibi, apa kamu mengerti Murdock?!"
" Anda sudah benar-benar diluar kendali nyonya, saya sudah tidak bisa lagi membantu anda " Murdock mengangkat kedua tangannya, pria itu benar-benar tidak percaya dengan kenekatan wanita yang ada dihadapannya saat ini.
Kebohongan memang akan menciptakan kebohongan lainnya yang lebih besar dan pada akhirnya kebohongan itu pula lah yang akan menghancurkan hidup seseorang bahkan lebih banyak lagi.
" Apa maksudmu sialan?!"
__ADS_1
Lucinda meraih pisau buah yang ada dimeja dekat tempat tidur Sarah dan mendorong tubuh pria itu ke dinding.
" Maaf nyonya tapi kali ini anda benar-benar sudah keterlaluan dan anda tidak tahu kekacauan apa yang sedang anda buat..."
" Kau tidak akan pernah bisa berpaling dari ku brengsek! Kau telah membantuku selama ini "
" Aku hanya melakukan apa yang kau minta nyonya, itu pun secara tertulis anda sudah menandatangani nya "
" Dan anda tahu benar jika saya hanya mengintai dan melaporkan hasilnya kepada anda " Lanjutnya
" Akan ku bunuh kamu Murdock!"
Lucinda menekan pisau itu ke leher Murdock.
" Ibu hentikan!"
Lucinda terkejut mendengar suara anak gadisnya yang telah lama membungkam.
" Sarah?!"
Sekejap dia memalingkan wajahnya dari Murdock lalu kembali menekankan pisau yang ada ditangannya ke leher pria itu.
" Aku harus melenyapkan semua bukti Sarah!"
" Tidak ibu... Hentikan! Aku mohon.."
" Semua sudah berakhir ibu..."
" Ibu...Lewis sudah mengetahui nya, aku yang mengatakan kepadanya bu..."
" Dan polisi sudah mengetahui nya juga "
" Jadi aku mohon hentikan semuanya " Lanjutnya
" Dasar kau pengkhianat!!"
Lucinda melepaskan pisaunya dari leher Murdock, wanita itu bermaksud untuk menusukkan pisau tersebut ke tubuh Sarah tetapi ditahan sekuat tenaga oleh Murdock.
BRAK!
" Jangan bergerak! Angkat tangan! " Perintah salah satu polisi yang memasuki ruangan itu sambil menodongkan senjata nya.
" Buang pisau yang ada ditangan anda nyonya " Pintanya lagi.
Flashback on
" Kau ingin menghancurkan Bima sayang? " Lucinda muda tengah menggoda pria yang sangat dia inginkan selama ini.
" Dia punya seorang adik perempuan yang sangat dia cintai, kau bisa melakukan dengan menghancurkan gadis itu " Lanjutnya lagi.
Wanita itu merebahkan diri nya didada bidang milik Sean dan menuliskan sesuatu dengan ujung jari disana.
" Bukankah gadis itu adalah temanmu Lucy?" Sean mencium aroma rambut wanita itu, menurut nya boleh juga ide Lucinda ini.
__ADS_1
" Kami hanya teman biasa saja dan aku tidak pernah benar-benar menyukai nya "
" Kau kucing nakal Lucinda " Kekeh Sean
Setelah upaya keras nya untuk membantu Sean mendapatkan Maharani, dia juga memberikan masukan-masukan bagaimana agar gadis itu hancur ditangan Sean. Gadis polos nan lugu tetapi sangat kaya itu begitu mudah diperdaya oleh Sean atas semua saran yang diberikan oleh Lucinda kepadanya.
Sayang niat terselubung nya untuk memiliki Sean harus pupus saat pria itu memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita yang hampir mirip dengan Maharani, hanya saja wanita itu mempunyai wajah dan latar belakang keluarga yang berbeda setelah pria itu sadar akan perilaku buruknya.
Sejak saat itu Sean menjaga jarak dengan dirinya, bahkan pria itu secara terang-terangan menolak kehadiran nya.
Tak tinggal diam saat Lucinda mengetahui bahwa Lily mempunyai seorang adik laki-laki, wanita itu langsung menjeratnya dengan menjadikan pria itu sebagai suaminya.
Meski usia mereka terpaut cukup jauh tetapi kepiawaian Lucinda untuk menjerat Peter dengan cinta dan harta telah membuat hatinya luluh kepada Lucinda, tak segan-segan wanita itu bahkan menjadikan Peter sebagai perwakilan dirinya di perusahaan keluarga nya.
Dengan cara itu Lucinda bisa dengan bebas keluar masuk rumah Sean, tentu saja jika Sean berani menolaknya maka dia mengancam bahwa Lucinda akan membocorkan masa lalunya kepada Lily.
Bahkan keretakan rumah tangga Sean telah dimanfaatkan olehnya dengan baik. Lucinda mulai menaruh racun kedalam makanan Peter dengan dosis rendah setiap hari, hingga membuat pria itu lama kelamaan merasakan sakit di dadanya sebagaimana orang yang sedang terkena sengatan jantung.
Berhasil melenyapkan Peter, Lucinda kembali harus menelan pil pahit saat Sean membawa Henrieta dan Gerry kedalam rumah nya.
Flashback off
" Anda baik-baik saja nona?" Lucas mendekati Sarah.
" Aku baik-baik saja Luc, dan untuk pertama kalinya dalam hidup ku aku merasa bebas "
" Syukurlah kalau begitu " Lucas membatu Sarah untuk turun dari ranjang, seseorang telah menunggu nya diluar ruangan.
" Paman anda sudah menunggu, semoga anda bisa melanjutkan hidup anda dengan bahagia " Lanjutnya.
" Terimakasih Luc, juga sampai kan rasa terimakasih ku yang sangat dalam kepada sahabat-sahabat mu " Sarah memeluk Lucas, pria yang telah menyelamatkan nya dari fasilitas kesehatan mental dulu.
" Anda bisa menyampaikan nya sendiri " Kekeh Lucas saat kedua sahabatnya memasuki ruangan.
Sarah pun berhambur kedalam pelukan kedua pria besar itu.
" Hiduplah dengan tenang nona " Ucap Nico, tiba-tiba dia merasakan kerinduan yang mendalam terhadap adik kesayangannya.
Hhmmm...Shak lagi ngapain yah??
Secepat kilat bayangan Sultan memasuki pikiran nya
Sialan!
.
.
.
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘
Happy reading 🤗
__ADS_1