
Tim Tiger mengarahkan laju kendaraannya di menuju titik koordinat yang sudah diberikan oleh Jared melalui GPS yang sudah ada didalam mobil mereka, Andre mengemudikan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi.
" Hei boy, jangan sampai polisi mengejar kita " Kekeh Tiger saat dia melihat angka didalam layar speedometer.
" Don't worry tuan Tig " Andre menarik kedua sudut bibirnya.
Tiba di lokasi, Tiger dan tim berbagi tugas. Jared memberitahu mereka bahwa Viper masih berada didalam fasilitas, bocah jenius itu tengah mengalihkan perhatian sang maestro dengan mengacak-acak sistemnya lewat jarak jauh.
" Aku hanya punya waktu kurang dari lima menit sebelum Viper mengetahuinya guys, so hurry up will ya..." Titah Jared melalui alat komunikasi ditelinga masing-masing tim.
" Copy that boy..." Jawab Tiger.
Tiger memberikan isyarat tangan kepada ketiga temannya saat mereka tiba didepan pintu dimana Viper berada saat ini.
" Dalam hitungan ketiga " Ujarnya dengan isyarat tangannya.
BRAK!
Tiba-tiba alarm berbunyi dengan sangat kencang seketika mereka membobol pintu masuk ruangan itu, Andre dan Luc melihat Viper tengah mencoba untuk kabur melalui pintu lain yang ada didalam ruangan itu. Tetapi nahas baginya karena Philip sudah menunggunya disana dengan senjata yang mengarah padanya, pria itu seperti bisa membaca arah langkah kaki Viper hingga sebelum sang maestro sampai didepan pintu Philip sudah terlebih dulu berada disana.
" Turunkan senjata kalian atau akan aku ledakan gedung ini !" Ancamnya sambil mengacungkan sebuah detonator bom keudara.
" Wait guys, ulur waktu 3 menit...kami sedang menjinakkan bom nya dari sini " Kali ini suara Joe yang terdengar melalui alat komunikasi yang tersemat ditelinga masing-masing tim.
" Really...?? Semuanya digital??" Bisik Lucas.
" Huh! Dimana letak keseruannya? " Lanjutnya sambil memutar bola matanya.
Lucas dan Tig lebih memilih untuk menjinakkan bom dengan cara manual ketimbang harus memainkan jemari tangan mereka diatas keyboard untuk menjinakkan sebuah bom, menurut mereka letak keseruannya adalah ketika mereka harus berpacu dengan waktu untuk memutuskan kabel mana yang harus mereka potong sebelum bom meledak.
" Yo...Viper kan? Sudahlah boy, kami sudah mengepung gedung ini " Tiger berkata dengan hati-hati, matanya tetap tertuju kepada jempol tangan Viper yang siap untuk menekan tombol pada detonator yang ada ditangannya itu.
" Kita bisa menyelesaikannya dengan cara yang lain " Lanjutnya, sambil memperlihatkan kepada bocah itu gerakan menurunkan senjata yang dia pegang dengan perlahan.
" Apa? Kau pikir aku bodoh hah?! Aku bukan anak kecil yang bisa kalian bodohi!" Meski Viper berteriak, tetapi bisa terbaca oleh Tig dan timnya jika pria itu tengah dalam keadaan cemas.
" Whoaaa, aku tidak pernah mengatakan hal itu boy " Ucap Tiger.
" Maksudku jika kamu hanya ingin mengalahkan Joe, kamu tidak perlu melakukan hal serumit ini...Kami bisa membantumu " Tig mencoba untuk membuat Viper lengah, untuk memudahkan Lucas yang tanpa Viper sadari sudah hampir berada dekat dibelakangnya siap untuk merebut detonator dari tangannya.
" Hah! Aku tidak akan termakan rayuan gila mu itu beruang besar! Aku tahu bagaimana liciknya seorang Joe!" Kekeh Viper.
" Apa kamu yakin Joe yang aku sebut barusan adalah Joe yang kamu maksud?"
__ADS_1
" Bukankah selama ini kau selalu berhasil mengalahkan dia boy? Apa lagi yang kamu inginkan ?" Lanjut Tiger
" Dia selalu punya segalanya! Teman, uang, fasilitas, dia selalu merebut semuanya dariku!"
" Oke guys, bom sudah berhasil kami jinakkan...Kalian bisa menangkapnya sekarang " Pinta Joe.
" Well boy, untuk hal yang kamu sebutkan tadi kamu hanya perlu melakukan satu hal untuk mendapatkan semuanya..."
" Kamu hanya perlu menjadi orang yang layak untuk mendapatkan semua itu, bukan dengan cara menuntutnya " Tiger menganggukkan kepalanya kearah Lucas.
Sadar dirinya tengah dibuat lengah, Viper langsung menekan tombol detonator tersebut dan...
BUM!
Terdengar ledakan kecil entah di bagian mana dalam gedung itu bersamaan dengan terambil nya detonator itu dari tangan Viper, Lucas pun berhasil menahan tubuh kecil pria itu dengan mendorongnya ke sisi meja dan langsung memasangkan borgol dikedua pergelangan tangannya.
" Joe! Apa kamu bercanda dengan mengatakan bom tersebut telah berhasil kalian jinakkan?! " Teriak Tiger
" Hehe...Sorry Tig, aku tidak menyangka bahwa Viper telah menaruh sebuah bom diruangan pak dekan " Kilahnya
" Are you freakin crazy?!! Bagaimana jika kalian salah menjinakkan bom tadi hah?!!" Kali ini Lucas yang berteriak.
" Kau bisa membunuh kami semua tuan Joe " Sambung Philip.
" Gue bakal kasih pelajaran sama bocah gila itu !" Keluh Tiger
" Seenaknya aja bilang gak nyangka " Lanjutnya dengan meniru ucapan Joe.
" Hei! Gue masih bisa denger kalian ngomong!" Terdengar suara Joe kembali.
Andre kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, perginya mereka meninggalkan lapangan parkir gedung itu bersamaan dengan tiba nya tim kepolisian di lokasi kejadian.
" Apa pria tua itu berulah lagi?" Gumam Harry. Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk segera menyisir lokasi kejadian dan menemukan kemungkinan korban jiwa serta mengumpulkan semua bukti-bukti.
Harry lalu menghubungi seseorang dengan ponselnya, sudah lama rasanya dia tidak berbicara dengan pria tua dengan sejuta rencana gilanya.
" Hallo Jav..."
.
.
" Apa kalian sudah berhasil menangkap orang itu?" Tanya Sultan kepada teman-temannya saat mereka sedang beristirahat.
__ADS_1
" Kami sudah menyerahkannya kepada FBI, ternyata dia adalah buronan di beberapa negara bagian " Jawab Lucas sambil menaruh kembali senjata yang tersemat dibeberapa bagian tubuh nya kedalam lemari penyimpanan.
" Baguslah.... Bagaimana dengan Joe?" Tanyanya lagi.
" Aahh! Bocah sialan itu hampir saja bikin jantung kita copot!" Teriak Tiger dari balik pintu sebuah lemari.
" Hei! Aku bilang aku tidak menyangka dia menaruh bom diruangan pak dekan oke!" Joe membela dirinya, pria itu baru saja tiba didalam ruangan bersama dengan Lexy dan Jared.
" Well Hallo Lexy junior..." Sapa Sultan kepada Jared, Sultan merasa begitu bangga dengan kejeniusan bocah remaja yang ada didepannya.
" Hallo Daddy Kaylee..."
" Hallo son " Sultan memeluk Jared dan menepuk pundaknya.
" Singkirkan tangan Lo dari anak gue!" Lewis memasuki ruangan.
" Iissshhh... Papi mu itu memang suka berpikir buruk sama daddy..." Ujar Sultan kepada Jared.
" Jangan dekat-dekat sama dia son, atau kamu akan menjadi seperti kakakmu Keenan "
" Memangnya anak Lo Keenan kenapa?" Tanya Sultan tanpa merasa bersalah sedikitpun.
" Jangan pernah berpikir untuk meracuni anak gue Jared sialan!"
" Memangnya kak Keenan dikasih racun sama Daddy Kaylee?" Tanya Jared dengan polos nya.
" Iya...Bisa dibilang begitu " Jawab Lewis
" Racun apa pap? Kok kak Keenan baik-baik saja selama ini " Jared menautkan kedua alisnya.
" Racun otak mesum!" Jawabnya asal.
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘
Happy reading 🤗
__ADS_1