
" Ahh... Kebetulan kamu kesini Lew, dokter bilang Sarah butuh seseorang untuk memicu emosi nya " Nico mengajak pria yang baru saja datang ke markas bersama dengan Lexy itu ke ruangan dimana Sarah berada.
" Waktu kalian menemuinya di tempat itu, kalo gak salah dia manggil nama kamu kan?" Lanjutnya.
Lewis masih mengikuti Nico dari arah belakang pria itu, hingga mereka tiba di depan pintu ruangan Sarah. Disana sudah ada tim dokter yang sedang menunggu kedatangan Lewis.
" Dok... Saya serahkan orangnya kepada anda semua "
Nico lalu meninggal ruangan itu untuk kembali bersama tim nya di ruangan yang lain.
" Kami akan meninggalkan anda bersama dengan nona Sarah tuan " Salah satu dokter itu mempersilahkan Lewis untuk mendekati Sarah.
" Kami akan memantau anda dari ruangan yang berbeda " Lanjutnya.
Lalu semua tim dokter tersebut meninggal ruangan itu dan hanya meninggalkan Lewis dan Sarah berdua didalam sana.
" Sarah..." Lewis mendekati gadis yang masih tertunduk itu.
" Apa yang terjadi dengan mu?"
" Kenapa kamu gak pernah bercerita padaku " Lewis menarik Sarah kedalam pelukannya.
" Apa yang terjadi Sarah...??" Bisik Lewis
Sementara disebuah ruangan kecil dipinggiran kota.
" Apa kau sudah mendapatkan kabar terbaru tentang anakku Murdock?!" Lucinda memasuki ruangan ditemani oleh dua orang pengawal.
Salah satu pemandangan baru bagi Murdock, karena biasanya wanita itu akan datang sendiri setiap kali dia menemuinya.
" Seseorang pernah melihat nona Sarah bersama dengan dua orang pria dan satu wanita di sebuah penginapan diperbatasan kota wilayah Utara " Murdock memberikan beberapa bukti foto dari hasil screenshot CCTV dari sebuah penginapan.
" Ini foto-foto terbaru yang anda minta nyonya " Pria itu menyerahkan satu map coklat yang berbeda.
" Aku sudah memerintahkan anak buah ku untuk memeriksa lokasi penginapan itu, tapi mereka sudah tidak ada disana " Lanjutnya.
Lucinda memeriksa foto-foto yang diberikan oleh sang detektif swasta.
" Sepertinya keponakan anda Lewis mulai mencari tahu kebenaran tentang kematian mendiang ibunya " Murdock menyalakan rokoknya, lalu menghisap nya pelan.
" Kau sudah tau kan apa yang harus kau lakukan Murdock? Aku tidak ingin seorang pun tahu tentang kejadian itu " Lucinda menatap tajam kearah pria bertubuh sedikit bulat itu.
" Aku sudah menghubungi beberapa orang temanku di kepolisian nyonya, mereka memberikan informasi bahwa Lewis berniat untuk membuka kembali kasus kematian ibunya melalui pengadilan "
" Jangan biarkan itu terjadi brengsek!" Lucinda berdiri dari duduknya dan menggebrakkan tangannya diatas meja.
" Hentikan dia sebelum semua terlambat!" Lanjutnya.
Murdock mengangguk sambil mematikan batang rokok yang masih menyala itu diatas asbak yang ada didepannya, lalu menyemburkan asapnya melalui hidung dan mulutnya.
__ADS_1
" Itu bisa diatur nyonya, tapi apa sebaiknya anda menemui keponakan anda itu? Bukankah dia sudah menikah sekarang?"
" Anda bisa menemui nya untuk mengucapkan selamat atas pernikahan nya bukan?" Lanjutnya
" Apa maksud perkataan mu itu Murdock? Apa kau ingin aku terlihat bodoh dihadapan bocah itu?" Lucinda kembali duduk dikursi nya.
" Setidaknya jika dia bertanya kepada anda perihal kematian ibunya, anda bisa meyakinkan nya bahwa peristiwa itu murni bunuh diri "
" Dimana dia tinggal sekarang?" Lucinda kembali berdiri, wanita itu hendak meninggalkan ruangan kecil itu.
" Aku akan memberikan alamatnya melalui pesan singkat " Murdock meraih handphone nya dan mulai menuliskan alamat yang Lucinda minta, sementara wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan seksi itu sudah meninggalkan ruangan diikuti oleh dua orang pengawal nya.
.
.
" Lucinda...? Ada apa kemari ?" Sean menyambut kedatangan wanita itu di rumahnya, pria itu terlihat mengerutkan keningnya.
" Kau menyakiti hatiku dengan pertanyaan mu itu Sean..." Lucinda mengulurkan tangannya, dia ingin agar Sean bersikap selayaknya laki-laki sejati yang mengecup punggung tangan wanitanya.
Pria itu memang meraih tangan Lucinda, tapi untuk dijabat tangannya.
" Kau masih sama seperti dulu Sean " Kekeh Lucinda
" Ku dengar wanita ular itu sudah mendekam di penjara karena berusaha untuk membunuh mu "
" Katakan padaku Lucinda, apa maksud kedatangan mu kemari..."
" Sudah lama aku tidak kemari Sean, apa tidak boleh aku menjenguk mu?"
Tentu saja Sean tidak percaya begitu saja dengan pernyataan wanita ini, kedatangan wanita ini selalu saja membuat ayah dari Lewis ini merasa risih. Dulu dia mengejar cinta adik ipar Sean karena pria itu memilih untuk menikahi Lily ketimbang dirinya.
Kembali ke markas The Black Team
" Lewis..."
Sarah memanggil nama laki-laki yang sekarang sedang berbicara dengan tim medis, salah satu perawat yang mendengarnya langsung memanggil Lewis.
" Aku disini Sarah " Lewis mendekati gadis itu
" Maafkan aku " Ucap Sarah lirih
" Kau tidak perlu minta maaf Sarah, kau tidak salah..." Lewis memeluk gadis itu.
Sementara dilantai bawah gedung itu, Javier terlihat sedang berbincang dengan seseorang melalui gawai nya.
" Kapan nona akan kemari? Saya akan menjemput nona nanti "
" Lusa Jav, aku ingin segera menemui kakakku " Maharani selalu bertingkah manja jika dia berbicara dengan Javier. Dulu wanita ini sempat jengah dengan keberadaan pria kaku yang selalu membayangi dirinya dan kakaknya Bima.
__ADS_1
" Baiklah nona, sampai bertemu lusa "
Javier mengakhiri sambungan telponnya.
" Pacarmu Jav?" Nico menepuk pundak pria itu
" Nona Maharani, beliau adalah adik kandung satu-satunya tuan besar " Jav menganggukkan kepalanya
" Lusa nona akan datang kemari, aku memerlukan kalian untuk mengamankan lokasi " Lanjutnya.
" Oke pak tua..." Nico mengangkat dua jarinya di depan dahinya.
Bukan tanpa sebab Javier menghubungi Maharani, wanita itu mempunyai hubungan erat dengan peristiwa antara dirinya, Sean dan Lucinda juga Lily.
Terkadang pria itu begitu menyesal kenapa dulu dia tidak membereskan masalah rumit percintaan yang satu ini.
Jika saja dulu dia membereskan nya maka sudah pasti masalah ini tidak akan pernah terjadi, tapi jika Javier pikir kembali jika saja dulu dia benar-benar menyelesaikan masalah ini mungkin saat ini dia tidak akan pernah berjumpa dengan Lewis.
Semoga kali ini benar-benar akan berakhir...
.
.
" Ya Tuhan... Benarkah apa yang kamu katakan ini Sarah?" Lewis mundur beberapa langkah dari posisinya sekarang, pria itu mencoba untuk mencari sesuatu untuk dia buat sebagai pegangan.
" Bunuh aku saja Lew...Aku mohon bunuh aku saja..." Sarah menangis sejadi-jadinya.
" Aku sudah tidak sanggup lagi dihantui rasa bersalah seumur hidup ku..." Lanjutnya terbata.
Lewis memegang dadanya yang terasa begitu sesak, rasanya sudah ingin meledak! Pria itu terus menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menerima perkataan yang dilontarkan wanita yang ada dihadapannya ini.
" Tapi kenapa..."
" Kenapa harus ibuku..." Air mata pria itu sudah tak bisa lagi dibendungnya.
" Apa salah ibu ku Sarah..."
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak mohon maaf othor baru up lagi malam ini...
Kita lanjutkan yah...🤗😘
__ADS_1