
Gerry meraih benda pipih dari dalam saku jas nya, dia cepat-cepat menghubungi asisten pribadi nya Marco. Tetapi setelah beberapa kali panggilan pria itu tidak juga mengangkat panggilan telepon darinya.
Gerry sudah mulai terlihat gelisah disana, meski dia tetap berusaha untuk tampil senormal mungkin.
Dimana si Bangs*t itu... Bisa-bisanya dia menghilang disaat penting seperti ini...
" Selamat malam Ger.." Sapa Clarisa. Wanita itu melihat wanita disamping Gerry dengan sudut matanya.
" Malam Clar...Kau datang sendiri?" Gerry menarik sebelah bibir nya. Dia sudah sedikit menganggap rendah wanita yang pernah menjadi simpanan nya itu.
" Kau bisa saja Ger..." Clarisa terkekeh. Tak lama seorang pria menghampiri nya.
" Maafkan aku lama Clar..." Pria itu memberikan segelas Champagne kepada Clarisa.
" Kau pasti Gerry...Clarisa telah bercerita banyak tentang mu, aku Britton " Pria itu mengulurkan tangannya, Gerry menyambut uluran tangannya.
Flashback on
Setelah Gerry mengusir Marco dari hadapannya dan memerintahkan dia untuk segera mencarikan keberadaan Sultan dan Shakira, dia pergi ke apartemen nya untuk mengambil barang-barang penting miliknya.
Aku harus segera pergi dari sini sebelum Gerry menyadari semuanya...
Dia membuka berangkas nya dan mengambil dokumen-dokumen penting beserta sejumlah besar uang yang dia miliki dan memasukkan nya kedalam tas yang sudah dipenuhi beberapa pasang pakaian, pria itu memang sengaja tidak membawa semua pakaiannya. Dia bahkan membiarkan apartemen nya tetap dalam keadaan rapi agar tidak ada seorangpun yang curiga atas kepergian nya itu.
" Sepertinya sudah semua..." Marco berbicara kepada dirinya sendiri.
Klik...
" Belum semua tuan..." Ujar seorang pria. Dia menodongkan senjata api dikepala bagian belakang Marco. Pria itu otomatis mengangkat kedua tangannya.
" Hallo Marco..." Shakira berjalan dengan anggun memasuki ruangan itu. Wanita itu menghampiri Marco dan menyentuh pipinya yang bertato itu.
Deg....
Marco membelalakkan matanya...
" Ka....Kau!" Ucapnya terbata
" Ikat dia!" Pinta Shakira kepada Tig dan Nico. Merekapun mengikat kuat tangan dan kakinya, pria itu sedikit meringis.
" Jangan cengeng, ini tak seberapa" Tig mengencang talian nya.
" Apa mau kalian?!" Marco berteriak, dia mencoba untuk memberontak
__ADS_1
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Marco, darah segar menetes seketika akibat bibir nya yang robek.
" Kau tak punya hal lagi untuk membentak ku Marco..." Ujar Shakira, suara dan tatapan matanya begitu menakutkan. Wanita itu mengeluarkan pisau belati dari sarung nya yang dia sematkan di punggungnya.
" Aku tak akan pernah melupakan seseorang yang telah merenggut segalanya dariku....Snake " Shakira mulai memainkan pisau belati diwajah Marco, wanita itu memanggil nya dengan nama yang dirahasiakan oleh nya.
" Apa maumu jal*ng!....Aaaahhhhh!!!" Marco meringis saat ujung pisau belati menoreh pipinya.
" Apa yang ku mau kau sudah tak memiliki nya lagi Snake..." Shakira kembali menorehkan ujung pisau yang dipegangnya tepat di atas tatonya.
" Kau mengambil kedua orangtuaku, pamanku, dan kehidupan ku Snake...Bahkan nyawamu pun tak bisa menggantikan semua itu "
Teriakan demi teriakan terdengar dikamar yang hampir kedap suara itu, Tig sengaja memutar musik dengan volume kencang diruang tamu aga mereka bebas melancarkan aksinya di kamar mandi yang ukurannya cukup luas tersebut.
Nico mulai tersulut emosi saat sang adik mengatakan bahwa pria ini telah mengambil kehidupan nya, apakah sang adik mengalami kekerasan s**sual saat dulu mereka menyekapnya???
BUGH!
Ujung sepatu boots pria itu mendarat di perut Marco dan membuat laki-laki itu tersungkur seketika. Marco membelalakkan matanya, nafasnya terasa sangat sesak. Tig baru saja akan menghajar kepala nya menggunakan popor senapan yang dipegangnya tetapi dilarang oleh Shakira.
" Jangan Tig...Dia tak berhak mati dengan mudah..." Tig tersenyum mendengar permintaan Shakira.
"Aaaahhhhhhh....!!!" Teriakan Marco semakin kencang dikala Shakira menginjak bagian torpedo pria itu dengan ujung stiletto nya secara perlahan hingga tembus.
" Aku bahkan tak berteriak saat itu Snake " Suara Shakira semakin dingin, tatapan matanya menjadi bengis.
Marco mulai terisak, dia menahan sakit diwajah dan bagian bawah tubuhnya.
" Maafkan aku... Maafkan aku " Ucapnya lirih, pria yang terkenal sadis ini tengah menangisi hidupnya saat ini.
" Apa katamu???? Telingaku tak mendengar suaramu!" Tig mendekat kan telinga di mulut Marco.
" Maafkan aku brengsek!!" Pekik Marco dengan sisa tenaga nya. Tig tertawa terbahak-bahak.
" Kau bahkan tak pantas untuk dimaafkan Marco...Kemana kesadisan mu itu hah!! Apa kau hanya berani kepada perempuan dan orang tua??" Nico menghajarnya habis-habisan.
" Ethens...Gerry Ethens...Dia yang menyuruhku " Ucapan Marco sesaat sebelum dia kehilangan kesadaran nya.
Shakira, Nico dan Tig meninggalkan Marco dalam keadaan kaki dan tangan terikat dikamar mandi, Tig dan Nico bahkan memindahkan tubuh nya kedalam bathtub dan membiarkan nya disana lalu menguncinya.
Flashback off
__ADS_1
" Lew...Apa kau melihat Marco ?" Gerry mengedarkan pandangannya, dia memeriksa keberadaan asisten pribadi nya itu diantara deretan para asisten pribadi yang berdiri mengelilingi ruangan.
" Sejak kapan aku harus memperdulikan nya?" Lewis mendecih, sebenarnya dia sangat menikmati adegan yang ada dihadapannya ini.
Sementara disudut ruangan yang berbeda
" Se... Selamat malam Bima..." Ucap Sean terbata. Pria itu mengulurkan tangannya dan Bima menyambut nya hangat.
" Selamat malam Sean, sudah lama tak berjumpa dengan mu " Bima menatap wajah pria yang sudah terlihat tua itu dan tersenyum kepada nya.
" Apa kau datang sendiri Sean?? Dimana anak-anakmu?" lanjutnya
" Anakku...."
" Selamat malam tuan Bima, saya Lewis....Ini ayah saya..." Ucap Lewis memperkenalkan diri nya. Rupanya saat sedang bersama dengan Gerry tadi, netra Lewis tak terlepas menatap sang ayah.
" Hallo nak, senang akhirnya bisa bertemu dengan mu..." Ucapnya ramah, Bima menjabat tangan Lewis dan mulai mengenalkan anggota keluarga yang lainnya.
Kecanggungan terjadi ketika Maharani mendekati mereka, dia meminta maaf kepada sang kakak dan kakak iparnya karena telah datang terlambat malam itu.
Lewis menyadari ketidak nyamanan sang ayah saat berada disana.
" Tuan Bima... Nyonya...dan anda Sultan juga anda nyonya, kami mohon ijin...Mohon maaf kami telah menganggu..." Lewis mengangguk kan kepalanya perlahan dan mengajak sang ayah untuk meningkatkan mereka disana.
Kinanti mencoba menahan kepergian mereka, tetapi karena alasan Lewis yang akan menemui beberapa rekan bisnisnya maka Kinanti pun melepaskan kepergian mereka dari sana.
" Siapa dia ayah? Kenapa ayah menatapnya seperti itu?" Lewis mengajak ayahnya untuk duduk disalah satu kursi makan
" Panjang ceritanya nak...satu hari nanti ayah akan menceritakan nya kepada mu " Sean menepuk bahu anak kesayangannya itu.
" Dimana adikmu Gerry?"
" Entahlah ayah, tadi dia sedang berusaha untuk mencari keberadaan asisten pribadi nya saat aku menghampiri ayah disana " Lewis mengedarkan pandangannya, dia tidak menemukan Gerry di manapun.
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘
__ADS_1
Happy reading 🤗