
" Tuan..." Rin melepaskan tautan bibir tuan mudanya, andaikan bukan Aiden yang masuk kedalam kamar mandinya sudah pasti orang itu akan habis ditangannya.
Rin mengulurkan tangannya kepada Aiden untuk membantunya berdiri.
" Sebaiknya anda memeriksakan tubuh anda tuan, benturan tadi begitu keras " Ucapnya.
Rin berusaha untuk tetap bersikap normal, seakan tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. Tetapi tidak dengan Aiden, pria itu terlihat kesal dengan tingkah Rin yang selalu saja mengingkari perasaannya sendiri. Meski Aiden minim dalam urusan percintaan, tetapi insting laki-lakinya mengatakan bahwa Rin menikmati ciumannya tadi.
" Aku perintahkan kamu untuk memeriksa kondisi tubuhku " Titah Aiden dengan nada dingin dan datarnya.
" Tapi tuan..."
" Lakukan saja perintah ku!"
Dua bulan ini Aiden selalu bersikap manis kepada gadis ini, dengan harapan kekakuan sikapnya akan lebih melunak. Tetapi apapun usaha Aiden terhadapnya tetap saja hasilnya nihil, gadis itu tetap bersikap dingin kepadanya.
Aiden mulai membuka piyama tidur nya agar Rin bisa memeriksa keadaan punggungnya, ternyata memang ada sedikit memar dipunggung Aiden. Rin pun mengoleskan gel kepermukaan kulit Aiden agar memar yang terdapat disana bisa hilang tak berbekas.
" Sudah tuan, anda bisa memakai kembali piyama tidur anda "
" Hentikan Rin! Hentikan sikap formal mu itu! Kau pikir aku tidak tahu??!" Aiden menepis tangan Rin saat gadis itu akan memakaikan piyama tidur kepada nya.
" Maksud anda?"
" Kau menikmatinya kan?! Katakan padaku!" Aiden beranjak dari duduknya.
" Aku...Maafkan saya tuan, tapi seharusnya semua itu tidak pernah terjadi"
" Rin!!!" Pekik Aiden, pria itu semakin geram.
" Tuan saya mohon, tolong lupakan niat anda untuk mendekati saya..."
" Kau tidak berhak meminta kepada ku apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan Rin...Aku tahu perasaan ku sendiri dan aku tidak pernah menyangkalnya!"
" Ada hal yang tidak anda ketahui tentang saya tuan Aiden, dan saya rasa jika hal itu diketahui orang lain bisa menghancurkan reputasi Anda " Rin tertunduk, dia sangat bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
" Apa karena kamu pernah menjadi pembunuh bayaran Rin?!"
Deg!!
__ADS_1
Pertanyaan Aiden ini langsung membuat Rin membeku, bagaimana mungkin Aiden mengetahui hal itu? Pikirnya, tidak pernah ada satupun orang yang tahu rahasia besarnya itu.
" Katakan padaku! Apa karena itu Rin?!" Aiden melangkahkan kakinya mendekati Rin hingga gadis itu menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
" Darimana anda tahu tu...."
" Panggil namaku Rin! Aku tidak akan mengatakannya jika kamu tidak mau menyebut namaku!"
" Ya Tuhan, kenapa pria ini begitu menakutkan?" Batin Rin.
" Iya Aiden! Apa kamu puas??!" Rin membalas tatapan tajam Aiden. Rin mulai geram karena Aiden tidak juga mengerti kenapa gadis itu memutuskan untuk menutup rapat rahasia kelamnya, dia tidak bisa membayangkan jika nanti akan ada banyak musuh yang mengincarnya.
Cup!
Aiden kembali menautkan bibirnya dengan bibir tipis milik Rin, ciuman pertama dengannya tadi telah membuatnya ketagihan! Gadis itu mencoba untuk mendorong tubuh Aiden, tetapi rasanya percuma. Entah mengapa Rin tidak kuasa untuk melakukan hal itu, padahal selama ini dia bisa menghajar pria yang lebih besar dari ukuran tubuh pria yang saat ini sudah mengungkung nya.
Rin menggelengkan kepalanya, Aiden memahami hal itu. Pemuda tampan itu mengurai tautan bibirnya agar mereka bisa memenuhi kembali paru-parunya dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
" Hentikan sebelum kau menyesali nya tuan!" Pinta Rin.
" Say my name Rin!" Aiden menatap dalam manik indah milik gadis itu.
" Aiden...Hentikan sebelum mmpppphh"
" Jangan ditahan sayang " Bisik Aiden ditelinga gadis itu, yang sontak membuat sensasi aneh itu semakin menjalar dari perut hingga ke bagian bawah tubuhnya.
" Aiden... Aku mohon...."
Aiden semakin gencar melakukan aksinya, dia merobek pakaian basah yang melekat ditubuh gadis itu lalu menciumi setiap jengkal tubuh mulusnya.
" Jangan ingkari perasaan mu Rin, aku tahu kau pun menginginkan nya "
" Ya....Iya Aiden..." Rin memejamkan matanya, gadis itu semakin terbuai dengan sentuhan lembut yang diberikan oleh Aiden. Apalagi ketika Aiden menyesap ujung dua gundukan kenyal miliknya, sementara jari tangan pria itu bermain nakal dibawah sana.
" Call me baby hunny...."
" Aiden aku....Aaahhh!"
" Call me baby Rin, Call me baby..."
__ADS_1
Rin menggelengkan kepalanya saat dirinya merasakan sesuatu akan menyembur dibawah sana dan dia tidak kuasa menahan nya.
" Baby...."
" Jangan ditahan sayang..."
Tahu Rin telah mencapai puncak pelepasan nya, Aiden pun menaruh tongkat sakti milik nya diatas benda berharga milik Rin dan mulai menggerakkan tubuh perlahan.
" Aiden kenapa...?"
" Not now baby...." Aiden mengembangkan senyumnya sambil menikmati sensasi dari gesekan dua benda berharga milik mereka, hingga dia merasakan benda pusaka milik Rin dan dirinya semakin mengeras dan memuntahkan cairan putihnya.
" You are mine Rin " Bisik Aiden ditelinga gadis itu, lalu menjatuhkan tubuhnya disamping Rin.
.
.
" Yes!!! Benarkah kak Aiden itu laki-laki sejati " Bisik Kaylee. Dua gadis kesayangan Aiden itu diam-diam mencuri dengar apa yang sedang terjadi didalam kamar Rin.
" Yang bilang kak Aiden laki-laki gemulai siapa?? Yeee..." Jenna menjentikkan jarinya dikening Kaylee
" Ekhemm.." Suara berat Andre membuat kedua gadis cantik itu terhenyak.
" Iiissshhh kak Andre! Kaget tau !" Kaylee mengerucutkan bibir tebalnya.
" Sebaiknya kalian berdua masuk kamar " pintanya, kemudian mengarahkan mata elangnya kearah Kaylee dan Jenna secara bergantian.
" Kak! Iissshhh..." Meski kesal Kaylee dan Jenna terpaksa mengikuti permintaan Andre, merekapun masuk kedalam kamarnya masing-masing.
" Sepertinya akan ada nona baru di mansion ini " Batin Andre.
.
.
.
To be continued 😉
__ADS_1
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘
See you tomorrow 😘😘