
Langkah kaki Bagas dan Dara serempak melangkah menelusuri panjangnya jalan menuju ke area parkir Bandara. Bagas nampak memasang wajah yang sangat serius dan terlihat memendam amarahnya, sehingga darapun enggan menatap bahkan mengucapkan satu kata pada Bagas. Satu tangan Dara masih saja di genggam dengan erat oleh Bagas demi mengimbangi langkahnya yang cepat itu.
nafas Dara nampaknya mulai terasa berat mengimbangi langkah demi langkah suaminya itu, Dara yang semula takut kini juga ikut kesal dengan sikap suaminya itu.
Dara menghela nafasnya kasar sambil melepaskan tangannya dari genggaman suaminya.
"Mas...." kesalnya pada Bagas.
Bagas terkejut sambil melihat ke wajah Dara..
"Aku tau kamu lagi kesal, marah dan kecewa.. tapi kenapa kamu lmelampiaskan hal itu padaku? nafas dan langkah kakiku rasanya lebih cepat langkah kakiku.." kesal Dara dengan celotehan manisnya itu.
Seketika Bagas melepas senyum tipisnya sambil menghela nafasnya..
"Astagfirullah.. Maafkan aku sayang aku benar-benar kalut dan kesal pada semuanya" ucap Bagas dengan cukup lembut.
"Pada semuanya? hmm.." Dara semakin kesal, ia memalingkan wajahnya dan memasang wajah sangat kesal pada suaminya.
ahh.. salah lagi.. kenapa perempuan itu rumit sekali sih! Bagas membatin kesal pada dirinya sendiri.
Bagas mendekati isterinya yang sudah menjauh darinya beberapa langkah.
"Mereka itu tentu saja bukan kamu, kamu dan aku kan bersama terus sepekan ini, mana ada kamu menyebalkan..? yang ada kamu menyenangkan, menggemaskan dan membuatku candu akan hadirmu. Ucapan Bagas yang di sertai dengan wajah nakalnya membuat Dara tersipu malu hingga ia sulit menahan senyum tipis malu-malunya itu.
"Tuhkan.. senyum itu yang membuat Aku ingin.............." ucapan BGas tertahan sejenak.
"ingin abang katakan tapi takut menambah hasrat itu sendiri" Ucapnya sedikit sendur.
"ah.. kamu ini" Dara memberi pukulan kecil di lengan kanan suaminya itu,
"Sudah cepat, dimana jemputan kita? aku sudah rindu pada Zaidar.."
"tunggu sebentar" ucap Bagas sambil meraih ponsel disakunya.
Tiga puluh menit mereka tiba di sebuah rumah sakit besar di Negri sebrang.
la;i ini langkah Bagas terlihat lebih santai dan tenang, ia benar-benar takut jika Dara akan benar-benar merajuk.
Rumah sakit? di Negeri sebrang?
__ADS_1
Flash Back On..
Bagas baru saja menyelesaikan mandinya bersama dengan Dara, mereka memang akan kembali ke tanah air hari ini setelah berada di Turki beberapa hari.
Dering ponsel Dara dengan nada dering khusus menandakan panggilan masuk dari ibu mertuanya, bergegas Dara yang masih menggunakan handuk kimononya untuk meraih ponselnya di atas meja.
Dara begitu antusias saat itu, karena ia yakin jika itu adalah poanggilan masuk dari Zaidar.
Dara terlihat sangat senang dan penuh semangat meladeni bocah itu dalam bercakap.
hungga akhirnya bgas yang suadah berpakaian lengkapduduk di samping dara untuk ikut berbincang dengan zaidar.
Bagas terkejut saat zaidar mengatakan hal yang tidak Bagas dan dara kira..
"Apa? diamana Oma? apa disana ada paman Alex?" Bagas begutu tegas bertanya pada zaidar hingga zaidar sedikit terkejut dibuatnya.
Dara yang peka dengan cepat mengalihkan situasi itu, sambil mentap tajam suaminya sebagai kode bahwa Bagas sudah membuat Zaidar takut atas intonasi yang sudah di luapkan oleh Bagas.
"Zai.. sayang.. hmm boleh bunda bertanya?" Ucap Dara dengan lembut, membahasakan dirinya dengan panggilan bunda atas permintaan Zaidar.
Zaidar yang menjawab singkat pertanyaan darapun kemudian terdiam sesaat.
"hemm Zai tidak tahu, bunda.."
"oh begitu, yasudah tidak apa-apa.. mungkin papa lupa membaca pesan dari paman Alex sampai papa tidak tahu kabar Om Rega.." ucap Dara begitu lembut dan menenangkan Zaidar.
Sejak saat itu, Bagas benar-benar marah pada ibunya juga paman Alex, rega mengalami kecelakaan tunggal sesaat setelah perdebatannya dengan Mawar dimana saat itu juga bertepatan dengan hari pernikahan Bagas dan Dara. Rega mengalami luka yang cukup serius di bagian kepalanya sehingga membuatnya harus mendapatkan perawatan khusus dan intensif.
FLASH BACK OFF
"ingat yaa mas, jangan kamu luapkan amrahmu pada siapapun, kesal boleh tapi tidak perlu dengan marah-marah.. aku gak suka melihat itu." ancaman Dara membuat Bagas harus manhan marahnya terutama pada Paman Alex saat itu.
"niat mereka baik, ingin kita menikmati hari bahagaia kita, melewati hari-hari kita bersama dengan bahagia tanpa beban.. kamu harus memapu menanamkan pikiran positif itu jika ingin tenang dan tidak tersulut oleh setan yang menghantuimu.." Dara member nasihat yang begitu berarti pada suaminya karena ia tidak ingin ada keributan yang membuat suasana semakin keruh.
Mereka berdua keluar dari lift, beberapa suster menyambutnya dengan hormat mengingat ada sekian persen saham Bagas di rumah sakit tersebut.
Bagas akhirnya bertemu dengan Mawar dan Paman Alex semntara zaidar dan Ibu Nia berada di apaartemen.
"Gas, hmm apa kabarmu? maaf karena paman tidak...."
__ADS_1
"Aku dan Dara baik-baik saja paman, sudah tidak usah dibahas.. Bagaimana rega?" Bagas memotong ucapan paman alex, ia nampaknya sudah tidak ingin lagi mendengar apapun alasannya karena ia takut akan kembali menumbuhkan emosinya.
"dia sudah baik-baik saja, kondisinya juga sudah sangat stabil sejak kemarin" Ucapa Paman Alex.
"mbak.. mbak apa kabar?" Dara mencoba menyapa Mawar yang sejak tadi tidak sama sekali menyapa kehadiran Dara juga Bagas, ia begitu santai memalingkan pandangannya.
"Ba..Baik..." ucap Mawar yang cukup terkejut dengan sapaan Dara Saat itu.
Bagas dan Alex pun seketika memusatkan perhatiannya pada Mawar dan Dara.
Dara mendekat ke arah Mawar tanpa rasa ragu. Ia duduk di kursi tunggu berhadapan dengan Mawar yang duduk di kursi roda saat Itu.
Dara meraih satu tangan Mawar yang berada di pangkuan Mawar saat itu.
"Mbak.. maafkan aku yaa, jika aku ada salah dalam bersikap.. maaf jika kebersamaan aku dan mas Bagas membuat Mbak merasa tersakiti.. aku dan Mas bagas bersatu tanpa unsur kesengajaan, ini semua murni rencana Tuhan, dan kami sangat menyayangi Zaidar, sama seperti kamu meyayangi Zaidar, dan sama juga dengan cintanya Mas Rega "
Mawar tersentak begitu juga dengan Bagas dan Paman Alex yang tidak menyangka Dara akan mengatakan hal tersebut.
"Mbak.. kalo Mbak terus seprti ini, kaishan Zaidar dan mas Rega.. Zai akan tumbuh dewasa dan dia akan melihat situasi ini dengan penuh tanda tanya.. Lihatlah Mas Rega pada mata Zaidar, maka Mbak Mawar akan menemukan kembali cinta yang sejak dulu tumbuh karena Tuhan.."
Mawar tertunduk diam seribu bahasa, air matanya berlinang sektika.
Dara berdiri lalu memeluknya, "Menangislah mbak.. aku mau menjadi sandaranmu kapanpun kamu butuhkan, jangan merasa sendiri, jangan merasa aku sebagai musuhmu ya Mbak, jadokan aku sebagi shabatmu, adikmu yang bisa kamu ajak untuh berbagi cerita suka maupun duka..
Dara memeluk erat Mawar membuat Mawar semakin terisak dalam tangisnya. Sementara Bagas dan Alex yang sempat melempar pandangan mereka cukup merasa heran dan terkesima atas sikap dan prilaku Dara.
*
*
*
Hai semua..
Maaf atas keterlambatan waktu up, maaf semoat hiatus tanpa kabar selama 1 bulan.
Terhitung hari ini dan beberapa hri kedepan aku akan up stiap hari sampai bab selesai (beberapa bab lagi) aku mohon maaf jika banyak kekurangan. Semata- mata karena kesibukan aku di RL.
Terimakasih supportnya yaa🥰❤️
__ADS_1