
Dara melewati lorong koridor dimana di sisi kanan dan kiri berjejer kamar - kamar yang terlihat di huni oleh banyaknya anak kecil disana..
Hemm pantas saja, pak Alex memberiku peringatan, ternyata memang banyak anak sebaya dengan Zai.. Batin Dara sambil menatap sekelilingnya.
Hingga mereka Masuk ke sebuah ruangan yang terlihat sedikit privacy..
Seorang petugas kemudian keluar dan membuka pintu ruangan lain, namun Dara masih bisa melihatnya dari jendela yang ia buka sedikit tirai penutupnya..
Bagas merasakan debar jantungnya kini berpacu dengan sangat kencang, Ia benar-benar sedikit nervous kala itu.
"Daniel.. Come here" ucap petugas yang memakai pakaian serba pink, suara itu masih sekilas dara dan yang lainnya dengar saat itu...
Namanya Daniel? hemm lebih bagus nama Zai.. Kata Dara sedikit cuek hingga ia memilih memalingkan diri, menatap ke arah sekitar, ia melihat beberapa pajangan hasil karya beberapa anak-anak disana.
Hingga Dara terdiam kaku, pikirannya mulai menggambarkan sosok Zaidar dengan jelas , Saat ia mendengar suara celotehan seseorang..
"Papaaaaa" Teriakan itu menggetarkan hati Bagas juga Dara.
Dara menoleh ke arah sumber suara, dengan jelas ia melihat sosok Bagas yang tengah berpelukan dengan Zaidar.
Tangis Bagas pecah mendekap Zaidar.
Dara pun terdiam seolah tak percaya..
"Zaii.. itukah kamu" pelan kata-kata Dara.
Dara benar-benar tak menyangka bahkan ia sampai terhuyung karena lemas pada lututnya seketika.
Alex mendekat ke arah Dara, memapahnya dengan memegang kedua bahunya.
"Dia Zaidar, mendekat lah" kata Alex membuat Dara menitihkan air matanya perlahan.
"Tante... Tantee Dara..." Zaidar mendekat melingkarkan pelukannya di pingang dara.
Tangisan Zai pecah..
Dara berlutut menyamakan posturnya dengan Zai ..
Tangis Dara pecah saat memeluk bocah itu..
"Yaa Tuhan , ini bagai mimpi.. ini sungguhan kan?" ucap Dara memeluk Zai.
Alex yang sudah berkaca-kaca pun akhirnya menitihkan air matanya yang juga dengan cepat ia menghapusnya.
"Sayang... kamu, hiks hiks..." Dara kaku melihat wajah Zai ..
Nampak sedikit berbeda, Zai terlihat lebih kurus saat itu..
"Tante... aku sangat merindukanmu" kata Zaidar membuat Dara semakin emosional dalam tangisnya.
Dara begitu erat memeluk Zaidar.
"Tante, hiks hikss" tangis Zaidar merasakan dekapan yang sudah lama ia rindukan.
Dara melepas pelukan itu..
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa disini, Tante benar-benar merasa bersalah atas hilangnya kamu" kata Dara mengusap air mata di pipi Zaidar.
"Sudah.. bahas di tempat lain saja.. " polong Alex.
"Paman....." Zai menghampiri Alex lalu memeluknya.
"Aku merindukan kalimat cepat sedikit kita bisa terlambat Setiap pagi.." kata Zaidar meniru gaya bicara Alex sambil memeluknya.
Menjaga gengsinya Alex tidak ingin menitihkan air mata nya lagi..
"Kamu masih menyimpan memori itu, anak pintar" ucap Alex sambil mengusap bangga pucuk rambut Zaidar.
Tubuh Zaidar terlihat lebih kurus, rambutnya juga sudah sangat panjang tak terlihat rapih..
Alex akhirnya memberi kode pada Baga agar segera pergi dari panti asuhan tersebut..
*
Dalam perjalanan menuju Hotel, Dara tak henti me dekap sosok Zaidar kala itu, Zaidar memilih duduk di tengah, di antara Bagas dan Dara.
"Papah.. selama ini apa papa tidak mencari ku?" kata Zaidar sendu..
"Tentu papa mencarimu bahkan hampir gila papa maencarimu kesana kesini.." kata Bagas.
"Apa yang terjadi Zai??" kata Dara penasaran..
"Zai ingat, Seorang wanita menjemput aku dia berbisik dia kawan baik Tante dara.. Zai percaya saja karena Bu guru juga tidak berbicara apapun..." kata Zaidar bercerita dengan lugasnya.
"Lalu... saat itu Zai dibawa naik mobil, lama sekali perjalanan itu, katanya ingin bertemu papa dan Tante... Zai juga sempat menaiki kapal menyebrangi laut.." Tambahnya dengan gaya bicara yang tak berubah, menggemaskan..
"Lalu mereka aneh, mereka memanggilku Daniel dan aku tidak boleh protes dengan panggilan itu.. Tiba di Singapura, aku senang aku pikir papa ada disini untuk mengajakku liburan, tapi mereka meninggalkan aku di pusat kota..."
"Astaghfirullah..." Dara terkejut sedih.
"Zai.. harusnya kamu bilang kamu dari Indonesia, papa kamu Bagas" Tambah Dara membuat Bagas melirik ke arah Dara .
Dara menutup mulutnya..
"Salah bicara ya?" pelan dar berucap.
"Sudah .. aku berkali-kali menjelaskan ke beberapa orang sekitar tapi mereka malah mempercayai isi surat yang ada di tas aku ..."
"Apa isi surat itu..." kata Dara penasaran..
"Baca sendiri" kata Bagas memberi satu lembar kertas pada Dara.
Dara meraihnya lalu membacanya..
Disana Tertulis, Zaidar mengalami gangguan daya ingat, ia adalah Daniel anak dari seorang wanita pekerja rumah tangga disana, namun sudah meninggal, Daniel harus mendapat perawatan khusus di panti sosial atau rumah sakit..
Mata dara membulat.
"Kurang ajar...!" kesal Dara
"Pak.. bapak harus tegas donk, siapa pelakunya?? apa motif nya? ini sampai tiga bulan lamanya kita kehilangan Zai, badannya sampai kurus, pipinya tidak chuby lagi, rambutnya panjang tanpa ada model seperti ini... Tega sekali"
__ADS_1
Dara melontarkan kalimat itu dengan penuh kekesalan..
Alex yang duduk di kursi depan menhan tawanya kala itu.. Sementara Bagas hanya menghela nafasnya sambil memijat keningnya.
"Kamu diam saja, saya sudah melakukan banyak hal..." kata Bagas membuat Dara sinis melirik Bagas.
"Mana pelakunya? saya pengen memaki dia dari a sampai z..." kesal Dara, kali ini Zai terkekeh membuat Dara mendadak salah tingkah dan malu.
"Tante lucu sekali kalo marah, lain dengan Paman Alex yang kalo marah sangat menyeramkan" kata Zaidar membuat Dara melepas tawanya.
"Memang dia menyeramkan" bisik Dara pada Zaidar menambah tawa keduanya.
Bagas memalingkan wajahnya ke jendela melepas senyum bahagianya.
"Aku mendengar ucapan mu, Dara..." celetukan Alex membuat Dara menutup mulutnya menahan tawanya.
Melakukan perjalanan menuju hotel yang mereka pilih dekat dengan bandara, Bagas memilih untuk makan malam bersama terlebih dahulu sebelum mereka masuk kedalam kamar untuk beristirahat..
Dara mengutamakan Zaidar, ia bahkan dirinya untuk makan saat itu demi Zaidar, hinga Bagas menegurnya untuk makan usai menyuapi Zaidar..
"Papa... boleh Zai minta sesuatu .." kata Zaidar usai makan, kini giliran Dara yang tengah menyantap makan malamnya..
"Apa? mainan?" goda Bagas yang tengah memangku Zaidar melepas rindunya.
"Hemm bukan itu, tapi papa janji harus menurutnya..." kata Zaidar sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Oke.. apapun itu..." kata Bagas menyatukan kelingkingnya.
"Hemm Zai mau, malam ini tidur bersama papa dan Tante Dara..." Ucap Zaidar dengan polosnya.
"uhukk... uhukk.. uhukkk"
Dara shock mendengarnya, hingga ia tersedak seketika.
*
*
*
Uhukk banget ga si? hehehe
kira-kira bisa bobok bareng bertiga ga?? heheh ayook tebak buah manggis hihi
Beri dukungan gratis kalian berupa,
Like
komen
Rate, dan
Vote..
jika ada rejeki boleh kirim bunga, kopi ataupun hati..
__ADS_1
Terimakasih ❤️