
Dara membuka matanya perlahan saat dirinya merasa tidak ads ruang untuk menggerakkan badannya.
Haahh pantas saja, aku sampai lupa kalau aku semalam tidur bersama dua pria yang posesif ini.. Ucap Dara membatin saat melihat tangan Bagas yang melingkar di pingangnya juga dekapan Zaidar yang tak kalah mengunci dirinya.
Dara tersenyum tipis sambil mengucapkan rasa syukurnya yang teramat mendalam kepada Tuhan.
Satu pekan berlalu saat dirinya mencoba mendekatkan diri pada Mawar yang ternyata memang menumbuhkan hal-hal positif. Dara masih membentangkan senyum manisnya, ia melihat Zaidar yang semakin tumbuh menjadi anak yang cerdas, tak ubahnya dengan suaminya yang kini lebih menghargai mawar sebagaimana mestinya.
Dara mencoba menggerakkan sedikit tubuhnya memancing pergerakan kedua pria yang membuatnya tak mampu bergerak layaknya patung.
"Bundaaa.." Zai menggeliat sambil menarik baju Dara agar Dara merubah posisinya menghadap ke arahnya.
Dara tersenyum mengikuti kemauan Zaidar.
"Bangun yuk, kita mandi.. kamu harus bersiap ke sekolah.."
Ucap Dara pada Zaidar..
"Sepuluh Menit lagi Bunda" Zaidar berusaha bernegosiasi dengan mata tertutupnya.
"Mas.. ayolah bangun.."Dara mengerakkan tubuhnya berusaha membuat Bagas yang masih memeluknya itu terbangun dari tidurnya.
"Jangan membangunkan aku seperti itu, Sayang.. itu akan membuat satu anggotaku bangun dari posisi tiarapnya.." Ucap Bagas dengan mata yang juga terpejam.
Dara berfikir sejenak, namun tidak ada pencerahan dalam benaknya.
"Apa maksudmu mas?" ucap Dara bingung.
"Papa, ini masih sangat pagi, jangan ajak kami main perang-perangan, tentu aku akan kalah karena masih sangat ngantuk.." Polos Zaidar menyahut.
Bagas terkekeh lalu berbisik pelan ke arah teloinga isterinya yang ada dihadapannya.
"Jangan pancing aku, sayang.. atau akan aku berikan serangan fajar" ucap BGas membuat Dara baru menyadari apa yang di maksud suaminya itu.
__ADS_1
Dengan sengaja dara memberi cubitan kecil yang cukup pedas terlihat pada tangan Bagas yang melingkar di pingangnya.
"Auuuuuuu" Bagas terkejut dan terpaksa ia membuka pelukan itu hingga akhirnya Dara mampu duduk di antara kedua laki-laki yang masih berbaring di hadapannya.
"Kenapa papah??" ucap Zaidar terkejut..
"Papa habis perang dengan semut sayang, sudah ayo kamu mandi sholat subuh, Bibi sudah menunggumu pasti.." ucap dara sedikit tegas pada perintahnya.
"Mas, bangun segera sholat.." tambah Dara tak kalah tegas.
Bagas mulai melepas selimutnya sambil mengusap tangannya yang masih terasa perih karena cubitan isterinya itu.
"Zai, ayo bergegas, sebelum Bundamu benar-benar memulai perang di pagi hari bersama kita.." ucap Bagas begitu membuat Zaidar terkekeh sambil beranjak.
Dara hanya mampu melempar senyum bahagianya saat itu melihat keduanya..
Dara meraih ponselnya lalu membuka aplikasi chat kala itu, ia mengirimkan pesan singkat pada Mawar, mengingatkan Mawar untuk beribadah pada pagi hari, memberi perhatian kecil untuk Mawar.
"Apa kamu akan lembur hari ini?" tanya Dara pada Bagas sambil menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya.
"Sepertinya iya, kenapa sayang?" tanya Bagas
"Hari ini aku ingin berkunjung kerumah ibu, aku kangen ibu dan ayah.. hmm aku juga berniat untuk mengajak Zai" ucapDara secara tidak langsung ia meminta izin pada Bagas.
"Asik.. aku juga rindu dengan Nenek dan Kakek..." Zaidar begitu antusias kala itu.
"Iya.. pergilah, nanti aku jemput selesai aku meeting, tapi jika pukul delapan aku belum selesai aku akan minta supir untuk mengantarkan kalian pulang, ya?" kata Bagas sambil melepas senyumnya.
"Asikk.. oh iya pah, kapan aku bisa bertemu lagi dengan Ayah Rega..?"
Bagas dan Dara mematung seketika usai mereka saling memandang..
Apa aku tidak salah dengar?
__ADS_1
Apa yang di katakan zai tadi? Ayah Rega?
"Zai.. maaf Bunda tidak jelas dengan ucapanmu tadi, boleh kamu mengulangnya?" Tanya Dara dengan lemah lembut sambil berdebar hatinya.
"Kapan aku bisa bertemu Ayah Rega dan Mama Mawar, Bunda?" Zaidar mengulang ucapannya dengan pelan dan jelas.
Yaa Tuhan apa ini sebuah keajaiban-Mu? apa ini kejutan baru bagi kami? Dara membatin sementara Bagas masih saja terdiam..
"Mas.. dia akan tetap menjadi jagoanmu, sampai kapanpun" Dara berbisik pelan pada suaminya, tebakan dara benar.. terbesit secara spontanitas rasa cemburu yang Bagas pendam saat itu, namun ucapan Dara nampaknya mampu membuat Bagas tersadar akan keadaan yang seharusnya terjadi.
Bagas mampu membesarkan hatinya saat ini karena Dara, ia menyadari keberadaan Dara mampu merubah banyak situasi menjadi lebih baik..
AKU BERUNTUNG MEMILIKIMU, DARA...
"Kita tunggu ayah sehat ya, sayang? nanti ayah Rega akan segera kembali ke sini bersama mama.. disana Ayah dan Mama masih harus berobat agar cepat sehat, lagi pula Zai harus tetap sekolah, supaya Ayah dan Mama semakin bangga dengan kamu, iya kan??" Dra memberi pengertian pada bocah tampan itu.
"Iya bunda.. tapi, katakan pada Omah, aku ingin lebih sering algi melakukan video call dengan Ayah..." pintanya.
"Papa yang akan meminta Ayahmu yang tanpan itu unttuk langsung melakukan video call, oke?" ucap Bagas memberi sebuah harapan untuk puteranya.
"Asik.. aku sangat senang , Ayah rindu waktu ayah rega masih menjadi om Rega, dia selalu mengajakku bermain.."
Bagas dan Dara melepas tawanya, bagaimana tidak? ucapan bocah polos itu cukup mengelitik.
Hmmm.. Bahagianya aku saat ini, Terimakasih Tuhan atas kehadiran Peri cantik ini dalam hidupku.
*
Hai Guys, Bertemu lagi di Jam 19.19 WIB. untuk lima hari kedepan stay di jam 19.19 yaa.. Bunga Terakhir akan Update di jam yang sama.. Kira-kira akan ending di chapter berapa yaa? ada yang bisa tebak? hehe
__ADS_1