Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
Kekhawatiran Bagas


__ADS_3

Dara terbangun dari tidurnya saat matahari sudah cukup tinggi menyinari bumi, ia menoleh ke arah suaminya dan melepas senyumnya.


Ia tersipu malu saat mengingat kenadian semalam yang telah ia lakukan bersama Bagas suaminya. Meski seluruh badannya kini terasa sakit, namun ia percaya apa yang ia lakukan adalah bentuk dari sebuah ibadah yang akan ia lakukan kapanpun itu.


Dara beranjak dari posisinya, bergegas ia memesan sarapan lalu meninggalkan suaminya untuk mandi.


Selesai mandi Dara mengahdap ke arah cermin, terdapat bercak kemerahan dia area leher dan dada atasnya.


"Ini kenapa? Apa aku alergi??" Ucapnya penuh tanya.


Dara bergegas menyelesaikan kegitannya mengeringkan rambut dan lain sebagainya. Ia keluar dengan wajah panik, Bagas yang sudah terbangun meski masih berada di atas ranjang sambil bermain ponselpun terkejut dengan kemunculan isterinya yang sedikit tergesah penuh kepanikan.


"Loh sayang, kamu kenapa?" Tanya Bagas yang masib bertelanjang dada.


"Mas, sepertinya aku alergi" ucap Dara yang sangat takut jika ia sakit dan mengacaukan honeymoon mereka.


"Alergi??" Bagas ikut panik.


"Salah makan? Atau kenapa? Apa yang kamu rasa?" Tambah Bagas.


"Ihhh ini nih, liat deh.."Dara memperlihatkan pda suaminya.


"Ini ini dan ini di sekitar sini" ucap Dara dengan polosnya, Bagas seketika langsung tertawa terpingkal- pingkal menertawakan perkataan polos Dara.


plakkkk


Dara memukul bagian paha Bagas.


"Mas kamu malah ketawa!! Yang benar saja lah" ucapnya kesal karena tingkah suaminya.


"Maaf.. Maaf ya Maaf...sayang" Bagas berusaha mengontrol dirinya menahan tawanya.


"Sayang... itu bukan alergi tapi itu tanda cinta dariku" ucap Bagas, Dara terdiam sejenak.


Astaga.. apa ini yang di namakan kecupan .. Dara teringat dengan perkataan Susan kala itu, tanda kemerahan itu memang ada karena perlakuan seseorang, ialah Bagas pelakunya.


"Kok diam? Sudah mengerti?" Kata Bags sedikit meledeknya.


"Sudah, mandilah sana.." ucap Dara.m mengalihkan pembicaraanya.


Bagas memilih bergegas cepat menuju toet dan melepas tawa nya di sana.


Dara menyadari kebodohannya hanya bisa terdiam sejenak dan memaki dirinya sendiri dalam hati.

__ADS_1


*


Pagi itu Dara dan Bagas akan bertolak menuju tempat romantis selanjutnya.


Yaa lagi dan lagi Dara harus ekstra menujukkan kemesraanya dengan Bagas di hadapan Tifany.


Untunglah hari ini terakhir.. ucapnya membatin.


Perjalaanan mereka memang cukup singkat, namun menumbuhkan sebuah kesan manis dan kebersamaan antra keduanya sehingga mereka dapat mengenal satu sama lain.


Mereka akan bertolak menuju Cappadocia, perjalanan mereka akan tempuh selama 5-6 jam melalui perjalana Darat.


Selama perjalanan Dara dan Bagas asik berbincang, bercanda riang.


Sesekali Tifany memulai pembahasan berusaha juga melepas kepenantannya namun apalah daya, Bagas lebih memilih menjawabnya dengan singkat dan seperlunya saja.


Tiba di Cappadocia pukul 4 sore waktu setempat, mereka memilih untuk sejenak beristirahat di caffe sekitar untuk melepas lelah, mereka juga mengunjugi beberapa toko yang menjual beberapa pernak pernik serta beberapa oleh oleh lainnya.


Dara pun mulai lelah berkeliling, kakinya sangat terasa pegal. Bagas pun tak banyak bicara, ia bergegas menggendong belakang isterinya, romantis, lucu, itulah yang dapat kita deskripsikan saat membayangkan keduanya.


Tiba di hotel, Dara pun turun sambil melepas senyumnya melihat Bagas sedikit terengah-engah usai menggendongnya.


"Hmm tif, besok kamu ga perlu menemani kita gapapa kok" ucap Bagas .


"Loh besok terakhir kan?" Bingung tifany.


"aku besok hanya akan naik balon udara saja sebagai kenangan di kota ini, lalu makan siang dan bertolak ke bandara.. begitu kan?" Ucap Bagas berseru.


"Memenuhi tugasmu, kita bertemu saja saat ingin bersama-sama bertolak ke Bandara.. Bagaimana?" Tanya Bagas.


Tifanny sedikit kecewa dengan permintaan Bagas, sejak dulu Tifany hanya bisa memandang dan mengagumi sosok bagas yang sebenarnya teman di masa sekolahny, saat itu Tifany terdiam mendengar penjelasan Bagas.


"Okey tak masalah" ucap Tifany,


"aku juga ingin beristirahat, kalian have fun ya" ucap Tifany beranjak menjauh dari Bagas dan Dara.


Malam itu Dara dan Bagas meningap di sebuah hotel mewah namun sangat arsitektik, hotel yang mempertahankan nilai tradisional yang berbentuk goa hasil pahatan dari batu putih khas Goreme.


Nuansa Romawi Kuno yang begitu kental membuatmu merasakan seperti berada di zaman Kekaisaran Romawi. Salah satu pemandangan paling favorit yang dapat kamu lihat melalui jendela Cave Hotel ialah indahnya beragam balon udara warna-warni yang menghiasi wilayah Cappadocia.


Dara kembali takjub dengan nuansa yang sangat indah itu, kamarnya punmenghadap ke jajaran bangunan yang tak kalah estetik membuat matanya tak mampu berkedip mengagumi ke indahan kota itu.


"Are you happy?" Bagas memeluk Dara dari belakang, sambil mengecup pipi isterinya.

__ADS_1


"Happy dong.. tapi aku rindu Zaidar, andai saja mama dan kamu mengizinkan dia untuk ikut" protes Dara.


"Hmm bisa kacau setiap malam kita disini" ucap Bagas .


"Hmm mereka masih di singapura? Kapan mereka kembali? Aku rindu loh, Mas" ucap Dara membayangi gelak tawa Zaidar.


"Coba aku hubungi, ya?"


Bagas meraih ponselnya, dalam keadaan memeluk Dara ia melakukan panggilan pada sang ibu, namun tak ada jawaban apapun.


Bagas menghela nafasnya.


"Sebenarnya sejak kemarin di acara pernikahan kita, ada hal yang mengganjal di hatiku" ucap Bagas mengungkap perasaanya.


"Apa?"


"Rega tidak dapat di hubungi saat malam pesta pernikahan kita, padahal paginya kita masih berbalas pesan" ucap Bagas.


"Apa mungkin dia sibuk?"


"Aku mengenalnya Sayang, sesibuk apapun dia, dia tidak akan menon aktivkan ponselnya" ucap Bagas hingga Dara terdiam merasakan kekhawatiran Bagas.


"Hemm kok aku jadi ikut berfikir hal yang aneh-aneh" ucap Dara.


"Kamu sudah menghubungi mbak Mawar?" Tanya Dara dengan sangat hati-hati.


"Aku tidak menyimpan nomernya, dan sudah tidak ada riwat pangilan atau pesan di ponselku.."


"Hemm kenapa kamu ga bilang aku, aku bisa menghubungi mbak Mawar..." kata Dara.


"Tidak perlu, aku sebusa mungkin menghindari dia kecuali membahas masalah zaidar"


"Lalu saat ini, kita bisa kan membahas kemana Rega? Kamu khawatir kan? Bisa kan kamu menghubungi nya, atau aku saja lah" ucap Dara.


"Hemm.. sudah tidak usah pikirkan itu dulu, besok kita akan hubungi sebelum kita kembali pulang" Ucap Bagas kembali bermanja dengan Dara.


"Sekarang kita buat saja malam indah di kota yang cukup indah" ucap Bagas dengan hembusan nafas nya yang terasa di telinga Dara.


Yaa pancingan itu akhirnya membawa keduany melakukan hal yang sudah selama tiga malam mereka lakukan..hmm.


*


*

__ADS_1


Kita lanjut nanti yaa..


Terimakasih sudah membaca..


__ADS_2