Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
BT - 28


__ADS_3

"Sore, Pak.." kaku Dara saat melihat sosok pria yang pernah menjadi atasannya.


"Dimana Rega?" kata Bagas dengan mata memicing.. Dara spontan langsung merasakan debar jantungnya lebih cepat berdetak.


"Maaf pak Bagas, pak Rega sedang ada tamu" ucap Sekertaris pertama Rega.


"Selesaikan .. atau saya yang akan menyelesaikannya" kata Bagas seperti sudah tak sabar lagi.


Disaat bersamaan, Rega keluar mengantar tamunya hingga di depan pintu ruangannya.


Rega langsung menatap pada Dara juga Bagas disana.


Bagas melempar senyum sinisnya lalu berjalan maju mendekat ke arah Rega berdiri di hadapan pintu.


Bughhh ... Penuh dengan emosi Bagas langsung saja memberikan pukulan di wajah Rega. Melihat itu tentu mengundang kepanikan Dara .


"Astaghfirullah..." Dara shock namun dirinya tak berani mendekat untuk memisahkan..


Hingga ayu, sekertaris utama Rega meminta Dara melerai semua itu sesegera mungkin.


Dengan gemetar Dara berusaha mendekati, Bagas rupanya sudah memberikan pukulan kedua hingga ketiga.


"Astaghfirullah.. pak Bagas, cukup pak..." ucap Dara sambil menolong Rega yang sudah tersungkur itu.


Dengan penuh emosi Bagas menarik tangan Dara hingga dara merasakan sakit pada lengan nya.


"Tidak perlu kamu menolong orang jahat seperti dia...!" kata Bagas membuat Dara bingung.


"Ini di kantor, dia karyawan ku" kata Rega menarik Dara.


"Hahaha" tawa lepas Bagas, nampaknya Bagas benar-benar sudah berada di ambang kekesalan yang memuncak.


"Mulai sekarang, kamu dan kamu saya pecat!!!" kata Bagas menujuk Rega juga dara.


Mata Dara membulat, jantungnya seakan berhenti berpompa.


"Lo ga bisa se enaknya" kesal Rega.


"Mimpi apa aku semalam, baru tiga hari bekerja masa di pecat.. " sendu dara sambil bersandar di dinding.


"Gue se enaknya? Lo pikir gue gatau apa yang sudah Lo lakukan?!" kesal Bagas menujuk wajah Rega dengan jari telunjuknya.


Rega terdiam kaku..


Bagas langsung menarik tangan Dara.


"Mau kemana pak" Dara tak kuasa menahan diri, tarikan Bagas begitu kuat.


"Pak tunggu, tas saya" kata Dara membuat Bagas berhenti tepat di meja kerja Dara. Dara langsung meraih tas dan ponselnya.


"Ikut saya dan jangan banyak bicara!!" kesal Bagas.. dara hanya mengikuti langkah Bagas kala itu.


Hingga mereka berada di mobil dan berjalan entah kemana Bagas membawanya.


Aku harus bilang apa sama ibu dan ayah kalo aku di pecat? mereka pasti sedih..


Dara merenung sejak tadi.

__ADS_1


Bagas meliriknya, melihat dara hanya tertunduk kala itu Baga mencoba menegurnya..


"Saya tak apa pak, hanya sedih saja baru bekerja tiga hari kok bapak yang pecat, bisa seperti itu kah? sah ga pak?" kata Dara dengan konyolnya.


"Saya pemegang seluruh perusahaan peninggalan ayah saya, jadi saya berhak memecat siapapun termaksud REGA.." kata Bagas dengan tegas , dara tak bisa membantah apapun saat itu, ia hanya terdiam.


masa aku harus menerima mas Gustaf dan menikah muda...


Ahhh!! pemikiran macam apa itu.. aku harus tetap bekerja nanti, apapun itu .


Dara kemudian menyadari mereka menuju apartemen dimana itu adalah tempat dimana Dara mengenal dekat Bagas dan Zaidar.


"Pak kenapa kesini?" tanya Dara.


Bagas hanya terdiam..


"Pak... kenapa bawa saya kesini??" kesal Dara mengulangi pertanyaannya.


"Banyak yang harus kamu tahu!" kesal Bagas membentak Dara.


"Kenapa saya? apa hubungannya dengan saya?" Kesal Dara merasa tak takut dengan Bagas kala itu.


Dia bukan majikan ku lagi.. hemm


Bagas memarkirkan mobilnya , menekan tombol rem tangan lalu ia keluar sambil berkata.


"Cepat keluar atau kamu akan mati di dalam mobil kehabisan nafas.." kata Bagas tegas.


Dara menyunggingkan bibirnya..


*


Bagas melempar sembarang dasinya, ia membuka dua kancing atas kemejanya, ia juga membuka kancing baju di pergelangan tangan nya .


Bagas menuju kulkas mengambil sebuah minuman beralkohol dengan gelas mini yang sudah tersedia.


Dara hanya diam, ia tidak begitu paham dengan botol hitam yang Bagas pegang adalah minuman yang dapat memabukkan.


Teguk demi teguk Bagas meminumnya tanpa Dara melarangnya, hingga Dara merasa jenuh ..


"Pak ini sudah hampir jam enam, saya harus pulang .." kata Dara sambil mendekat ke Bagas.


"Hahaha, pulang? kemana kamu pulang?" Bagas mulai sedikit berputar dalam berbicara.


"Ya kerumah saya, pak" kata Dara yang masih belum menyadari.


"Hahaha kamu kemarin kerumah sakit? bertemu mawar? bagaimana mawarku? hahahahahahah"


Astaga... apa pak Bagas mabuk?? Dara mulai menyadari saat melihat mata yang tak lagi tegas memandang.


"Bapak.. bapak mabuk ya?" kata Dara mendekati Bagas. Bagas hanya lemper tawanya .


"Aku bodoh Dara, aku bodohhhh"


Dara semakin yakin Bagas mabuk, karena minuman di dalam botol berwarna hitam itu.


Dara langsung meraih botol itu membawanya ke dapur..

__ADS_1


"Hahaha kau ingin meminumnya juga, ya?" kata Bagas tertawa.


Aku harus hubungi Alex .. gak bisa aku meninggalkan pak Bagas dalam keadaan mabuk begini..


Satu hingga lima kali dara berushaa menghubungi Alex, namun hasilnya nihil.. Alex tidak dapat di hubungi.


aduh bagaimana ini?" Dara membatin bingung.


Bagas mulai kacau saat itu, hingga beberapa jam berselang Bagas memuntahkan isi perutnya, seketika juga tubuhnya terasa panas..


hampir satu jam Dara mendengar celotehan Bagas, nampak bingung Dara mencerna semua ucapan Bagas, namun Dara dapat menarik tipis pemahaman yang ia kaitkan satu sama lain..


"Astaga bapak... " Dara mulai panik..


Tubuh Bagas panas, Baga juga memuntahkan isi perutnya.


"Bagaimana ini.. mbok Suti pun tidak berada disini.." kata Dara bingung.


Dara membiarkan Bagas berbaring lemas di atas sofa dengan mata tertutup..


Dara membersihkan lantai yang kotor, mengompres kening Bagas,blalu ia naik ke lantai dua dimana kamar Bagas berada..


Dara meraih baju salin untuk Bagas.


Ia terdiam di hadapan Bagas saat itu dan merasa sedikit canggung..


"Aduh.. bagaimana ini? dosa ga ya?" kata Dara takut membuka kemeja yang Bagas kenakan.


"Dosa deh kayaknya, tapi semoga langsung terhapus dengan perbuatan baikku merawat pak Bagas malam ini" kata Dara dengan konyolnya.


Dara membuka satu persatu kancing kemeja Bagas, membuka pula kaos dalam yang Bagas kenakan.


Layaknya seorang suster, Dara memakaikan kaos santai Bagas.


"Berat sekali , dosanya pasti sedang meningkat karena mabuk" konyol dara berucap sambil merubah sedikit posisi Bagas agar ia lebih nyaman.


Dara terpaksa memilih menginap disana, alsan pergi mendadak ke luar kota pun harus ia berikan pada kedua orang tuanya saat itu.


Tuhan .. kalo dosa ku di limpahkan ke pak Bagas boleh ya? aku banyak berbuat dosa hari ini..


Kata Dara sambil duduk di lantai persis di hadapan Bagas..


Dara menatap wajah Bagas..


Tampan, berwibawa meski Arwan macan suka merasukinya... beruntung sekali mawar adalah wanita yang sangat ia cintai...


Dara membatin, ia puas sekali memandang wajah Bagas dalam jarak dekat hingga dirinya tertidur lelap malam itu...


*


*


*


Like .. Komen... Rate dan vote..(gratis)


Jika ada rejeki lebih, boleh kirim bunga atau kopi yaa.. TERIMAKASIH ❤️

__ADS_1


__ADS_2