
"Daraa.... Jadilah pendamping hidupku, jadilah ibu Dari anak-anakku.. dampingi aku saat ini sampai Tuhan benar-benar memisahkan kita dengan maut"
Dara semakin tak kuasa, air matanya berlinang penuh cinta dan bahagia.. Dibalik kebahagiaanbya terselip setitik kekhawatiran tentunya mengingat Ibu Nia dan Kedua orang tuanya.
"Dara... kenapa menangis? Kau melamun juga.." kata Bagas yang terasa hampir saja pupus harapannya.
Dara Tersadar, ia meleps satu tangannya yang bagas gengam. Ia menghapus pelan air mata di pipinya.
"Aku.. hemm.. aku bingung" ucap Dara dengan gugup.
"Bingung? Kenapa? Apa yang barusan aku katakan itu membuatmu bingung?" Bagas terlihat patah semangat seketika.
"Mas... ibu dan Ayahku pasti sangat shock, semua harus aku bicarakan.."
Dara tak kalah berkata dengan lirihnya.
"Kamu yakin denganku? Jika kamu yakin denganku, percayalah mereka akan merestui kita.. sebagaimana orang tua ingin melihat kebahagiaan anaknya" Ucap Bagas masih berusaha memeberi keyakinan pada Dara.
"Kecuali, dia menentang hubungan kita, karena... hemm.. karena aku duda" ucap Bagas seketika membuat Dara kembali teringat tentang status Bagas .
Kenapa aku sampai melupakan status Mas Bagas.. Tapi aku sangat bimbang saat ini.
"Aku akan menerima apapun keputusanmu, jangan kamu mengatakan IYA namun hatimu tak yakin, keterpaksaan yang bisa membawa kita dalam kegagalan" ucap Bagas mengibgat masa lalunya yang terlalu memaksakan Mawar untuk menjadi isterinya.
Dara tertunduk diam..
Aku harus punya sikap, masa depanku adalah keputusanku hari ini.. semoga ininyang terbaik untukku, untuk keluargaku..
"Mas..." Dara berusaha relax dengan meberi senyuman tipis pda Bagas.
"Mas Bantu aku ya? Bantu aku untuk meyakinkan ibu mu, ayah dan juga ibuku.. kalo kita layak bersama" kata Dara, Bagas merinding usai mencerna ucapan Dara.
"Jadi, jadi maksud kamu?? Kamu menerima lamaran aku?" Bagas menegaskan lagi ucapanny pada Dara.
"Iya, aku menerima lamaran Mas Bagas"
Bagas terkejut bahagi.. ia berdiri berjalan agak menjauh dari posisinya semula ia mengekspresikan rasa bahagiany dengan berteriak penuh kemenangan..
"yesss.. akhirnya.. yess" ucapnya mengundang tawa kecil Dara.
Dara kembali menitihkan air mata harunya.
Bagas berjalan kearah Dara, ia teringat akan sesuatu yang ia simpan di kantung jasnya.
Bagas membuka sebuah kotak bening dengan aksen gold menambah kesan kemewahan.
Dara terkejut bahagia, sebuah cincin yang nampak sangat indah berada di hadapannya, segera bagas memasangkan di jari manis Dara.
Bagas memeluk erat tubuh Dara..
"aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya.. aku merasa bahagia sata ini, Dara" ucap Bagas
"Huh" Dara melepaskan pelukan itu seketika. Adegan romantis itu pun pecah seketika.
__ADS_1
"Dasar buaya, tidak pernah seyakin ini katamu? Padahal kamu begitu mencintai mantan isterimu kan?" Dara nampaknya kesal saat itu, hingga Bagas mengehela nafasnya.
Astaga perempuan ini benar-benar membutku pusing dengan ucapanku sendiri..
"Iya sayang.. tapi aku melihat masa depan di matamu, aku melihat sebuah kehidupan penuh cinta pada dirimu.." Bagas mulai mengeluarkan sikap lemah lembut membujuk rayu calon isterinya itu.
"Sudah lah.. lanjut makan saja, perutku terasa lapar setelah berfikir keras lohh" Ucap Dara dengan konyolnya.
Bagas terkekeh..
"Benar-benar kamu adalah wanita yang lain dari pada yang lain ya? Bisa-bisanya adegan romantis tadi kamu pecahkan seketika dan kamu bilang laper saat ini??" Bagas kembali duduk di posisinya sambil berucap dan menggelengkan kepalanya.
Kamu tidak tahu saja trik ku, ini salah satu trik dariku agar aku tidak nervous dan hampir pingsan.
Dara terkekeh dalam hatinya, ya sebagai seorang perempuan yang baru mengenal cinta tentu sjaa sebuah sentuhan hangat menjadi hal yang membahagiakan bagi Seorang perempuan.
Malam itu trntu menjadi malam yang paling spesial bagi Bagas dan juga Dara.
*
Pagi ini, Bagas dan Dara sudah sepakat ut uk bersama-sama datang berkunjung ke kediaman Dara. Bagas nampak santai, berbanding terbalik dengan Dara yang terlihat gelisah sepanjang jalan.
"Kenapa kamu?" Kata Bagas.
"Sakit perutku.." ucap Dara membuat bagas bergegas menepikan mobilnya sambil menginjak pedal rem mobilnya.
"Kenapa? Sakit banget? Kita ke rs aja ya?" Bagas nampak menujukan kekhawatiran berlebihnya.
"Hihh kamu ini" Dara berucap kesal pada kekasihnya itu.
"Astagaaaa" Bagas bernafas lega.
"Aku pikir kamu sakit, aku panik banget" ucapnya.
"Lebay deh" kesal Dara.
"Aku ga lebay, aku cuma mengutarakan apa yang aku rasakan aja... kamu aja yang aneh, di khawatirkan itu harusnya senang.. " Bagas mulai mengeluarkan wajah juteknya.
"Tapi kamu berlebihan! Ahh sudah ayo jalan lagi, rasanya aku ingin menyelesaikan hari ini.." ucap Dara yang masih mera tak nyaman dengan perasaanya sendiri..
Bagas kembali mengendarai mobilnya.
Keterbatasan luasnya jalan menuju rumah dara membuat Bagas memarkirkan mobilnya di sebuah minimarket di pinggir jalan, lalu Bagas dan Dara berjalan beriringan menuju kediaman Dara.
"Tangan kamu dingin banget"Bagas meledek Dara.
"Mas kamu jangan meledek ya, aku benar-benar takut.."
"Apa yang kamu takutkan?" Bagas begitu serius bertanya.
"Restu?" Tanya Bagas.
"Yaa begitulah kiranya..." kata Dara singkat padat.
__ADS_1
Dari beberapa jarak tersebut, Dara dan Bagas melihat jelas sebuah motor terparkir di depan gerbang kediaman Dara.
"Gustaf, ya?" Kata Bagas sedikit menampakan rasa tak sukanya.
astagaaaa kenapa harus ada mas Gustaf sih?! Semakin menambah kacau perasaan ku saja! Dara membatin kesal.
"Mungkin, mana aku tahu mas" Dara nampaknya semakin gugup.
Langkah keduanya semakin dekat hingga akhirnya Mereka menginjakkan kakinya di depan gerbang kediaman Dara.
Dara mengucapkan salam, lalu Ayah dan Gustaf yang tengah berbincang langsung berfokus pada kedatangan Dara dan juga Bagas .
"Dara, pulang gak bilang" ucap Ayah usai menjawab salam Dara.
"Maaf ayah, kejutan saja untuk ayah dan ibu" Dara mencium tangan Ayah nya.
"Ini??"
"Ini Mas Bagas Ayah..."Dara memberi penjelasan, Bagas pun mendekat memberi salam hormatnya.
Seketika Gustaf merasa terasingkan, wajahnya berubah menjadi tak ceria lagi.
"Mas Gustaf, dari tadi?" Dara berusaha menyapa, gustaf hanya melebarkan senyumnya lalu mengangguk.
"Ohh iya yaa, nak Bagas.. mari masuklah" Ayah mempersilahkan.
"Dara ajak masuk aja, ibu di dalam lagi masak" ucap Ayah pada Dara.
"Mas Gustaf, masuk dulu ya" ucap Dara sambil menggandeng tangan Bagas.
Pintarnya calon isteriku.. Batin Bagas meraih kemenangannya.
Apa aku ga salah lihat??Dara mengendong tangan Bagas? Apa hubungan mereka benar-benar lebih dari sekedar bos dan karyawannya??? Dan jika itu benar? Bagaimana dengan aku???
"Nak gustaf??" Ayah menyadarkan lamunan Gustaf, ayah nampaknya memahaminperasaan Gustaf saat itu.
"Itu Bagas, atasannya Dara" ayah mencoba memberi tahu Gustaf.
"Saya sudah tahu, wakru di rumah sakit sempt bertemu" kat Gustaf.
"Kalo begitu , lebih baik saya pamit dulu ya, om..." Gustaf benar-benar merasakan sudah tak ada lagi buih harapan.
"Loh kok buru-buru" ucap Ayah merasakan apa yang tengah Gustaf rasakan.
"Iya.. mau mkan siang dirumah, Pamit yaa Ayah... eh om" Gustaf nampak kacau hingga ia sampai salah menyebutkan panggilannya pada Ayah.
Kenapa harus laki-laki itu? Kenapa harus dia yang jelas sudah tidak bisa aku saingi? Hartanya, tahtany bahkan tampangnya pun sulit aku imbangi...
Aku hancur dan Terluka, Dara...
Gustaf membatin penuh kekecewaan sambil mengendarai motornya menuju kediamannya..
*
__ADS_1
Lalu apa yang terjadi antrbDara, Bagas juga kedua orang tua Dara???? Next part 🥰🥰🥰🥰