Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
Petuah Susan


__ADS_3

"Dua hari lagi" Dara berbicara seorang diri sambil melihat sebuah kalender di tangannya.


"Apa aku bisa ya menjadi seorang isteri?" Tanya Dara lagi pda dirinya sendiri.


"Mas Gustaf bagaimana keadaanya ya saat ini, dan mbak Mawar, hmm apa mbak Mawar sudah mengetahui kabar pernikahan aku dan Mas Bagas?" Dara bertanya lagi pada dirinya sendiri.


"Hemm aku harus bertany pada Mas Bagas.." ucapnya sambil meraih ponselnya.


"ahhh!!!" Dara kembali emelmpr ponselnya di ke atas kasur nya.


"Pasti Mas Bagas akan marah padaku kalo aku membahas soal Mbak Mawar lagi...hemm"


Dara nampak kebingungan, hatinya terasa gelisah terbesit bayang Mawar dalam lamunanya.


"Haruskah aku menghubungi Mas Rega?" Ucapnya sambil memandang ponselnya.


Di waktu bersamaan rupanya panggilan masuk merubah lamunan Dara, terkejut saat siapa yang terbenak dalam pikirannya kini menghubunginya.


"Panjang umur sekali Mas Rega ini" Ucap Dara sambil mengeser tombol hijau pada layar posnelnya.


Dara terdiam sejenak, Rega ternyt mendominasi percakapannya kala itu. Rega mengutarakan bahwa saat ini ia tengah dalam keadaan bimbang, bagaimana kah ia harus menyampaikan pada Mawar soal pernikahan Bagas dan Dara yang akan berlangsung beberapa hari lagi.


Dara seketika meras alemas pada lututnya, ia duduk sambil menghebuskan nafas kasarnya.


Apa aku saja ya yang berbicara ya pada Mba Mawar?Ucap Dara, meski tak yakin Mawar akan berbesar hati dengan kenytaan yang akan terjadi.


Jangan.. dia akan marah pasti.. konfisinya sudah jauh membaik, aku gak ingin dia bantinya Drop, Dara... Rega melarang Dara dengan beberapa pertimbangan.


Lalu? Siapa yang mah bicara?


Harusnya Kak Bagas.. itu lebih baik, dan Aku yakin kalo Mawar bisa menerima keputusan dari Bagas.


Hmm aku tidak yakin Bagas akan setuju.. Dara merasa tak yakin saat Bagas sudah sejak lama menghindari komunikasinya dengan Mawar.


Bagaimana kalo dengan Paman Alex? Beliau yang sampaikan pada Mbak Mawar..


Haha.. kalo aku saja tak mampu apalagi Paman Alex..


Lalu bagaimana? Aku juga takut untuk mengatakannya pada Bagas..


Hemm aku akan bicara dulu pelan-pelan dengan Kak Bagas, aku yang akan memintanya..


Nah.. itu lebih baik..


Dara menyetujui apa yang di katakan Rega saat itu, melakukan pembicaraan yang serius terhadap dirinya juga Bagas saat itu.

__ADS_1


Dara meletakkan ponselnya sembarang, ia merebahkan dirinya menatap langit-langit kamarnya saat ini.


Lucu sekali, aku akan menjadi seorang isteri..


Batinnya masih sangat tidak menyangka jika waktu membawanya begitu cepat dalam perubahan status dalam hidupnya.


*


Hari pun berganti, kediaman Dara nampak cukup ramai pagi hari itu, beberapa tetangga sudah berdatangan kerumahnya membantu Ibu untuk mempersiapkan acara pengajian pada siang hari nanti.


Pintu kamar Dara terketuk, dengan santai Ia mempersilahkan masuk..


Dara tak menyangka sosok yang ia sangat rindukan datang dengan wajah gembiranya.


"Susan..." Dara nampak begitu Antusias.


"Astagaaa, calon pengantin macam apa kau ini, Dara? Ini sudah pukul sembilan dan lo masih rebahan belum mandi dan belum sarapan" Dara tertawa kecil.


"Santai saja, akus sedang menikmati hari-hari terakhirku menjadi seorang lajang" kata Dara denan santainya.


"Hmm Bagaimana kalo Bagas tau? Bisa ilfeel dia" ucap santai Susan.


"Tidak akan, dia akan lebih memaklumi gue" ucapnya tertawa.


"Lo jadi menginap kan?" Tambah Dara bertany.


"So.. bagaimana perasaan lo?" Tanya Susan.


"Ga karuan.. haha" Dara bingung dengan perasaannya yang begitu sulit untuk ia ungkapkan.


"Menjijikan" Susan melempar satu bantal ke arah wajah Dara yang tengah tersenyum malu seorang diri.


"Awww.. kenapa sewot sih" Kesal Dara sambil terkekeh.


"Gak semangat gue liat wajah lo yang aneh itu, biasa aja.. jangan sok imut" ucap Susan mengundang tawa Dara.


"Sirik saja, nanti lo juga pasti tau rasanya jadi gue saat ini, senang, haru, bahagia, tidak menyangka dan malu juga sih"


"Malu? Haha" Susan tertawa lepas, hingga Dara menatapnya sinis .


"Haha lo malu kenapa? Jangan berfikir soal malam pertama dulu" ledek susan yang langsung membuat Dara spontan memberi pukulan di lengan Susan dengan gulingnya.


"Aw .. ampun ampun hahahaha" tawa Susan semakin menjadi.


"Gue ga malu soal itu, gue malu dalam hal lainnya" kata Dara sambil memberi pukulan terakhir yang cukup kencang.

__ADS_1


"Astagfirullah " susan terhuyung karena pukulan itu sambil tertawa.


"Apa yang membuat lo malu? Hahaa" Susan bertanya meski masih ada sisi meledeknya pada Dara.


"Yaa malu lah" Dara berucap sambil beranjak dari kasurnya menuju meja rias yang berada di sisi kasurnya.


"Lo lihat betapa sederhananya keluarga gue kan? Lalu Mas Bagas? Dengan harta dan tahta yang ia miliki, kenapa harus menjatuhkan hati dengan gue?" Dara berbicara sambil bercermin, melihat sosok susan dari pantulan cermin tersebut.


"Hemm.. menurut gue itu sudah lumrah, banyak terjadi saat ini.. cinta kan bukan karena harta tahta dan siapa? Tapi cinta itu soal rasa, hati, kenyamanan.." susan mengeluarkan argumennya.


"Jangan berkecil hati untuk itu, Pak Bagas kan tidak pernah menilai lo dari segi itu, dia menilai lo murni dari hatinya, dari sebuah rasa yang tumbuh tanpa sengaja" ucap Susan dengan bijaknya.


Meresapi ucaapn Susan yang di anggap benar, Dara hanya diam.. Namun tentu tidak sekedar diam saat Ia tidak mungkin membiarkan Susan merasa berbanga diri atas ucapannya.


"Halah sok tau, kaya pernah jatuh cinta saja" Dara melempar satu boneka kecil ke arah Susan seraya meledek Susan.


"Eh gue pernah jatuh cinta, sampai jatuh bangun" ucap Susan dengan konyolnya.


"Eh ngomong-ngomong Mas Gustaf lo gimana keadaanya?" Tanya Susan yang seketika teringat oleh Gustaf.


"Hemm.. gue gak tahu, San.." ucap Dara.


"Kata Ayah, dia suah pulang kerumahnya.. lo jenguk gih" ledek Dara pada Susan.


"Idihhhh yang benar saja.. gue cuma heran saja kenapa dia bisa sampai jatuh sakit?"


"Karena dia berlebihan menanggapi sikap gue, berharap besar juga karena restu Ayah padanya... hah sudahlah gue gak memikirkan itu lagi..." kata Dara menghela nafasnya sambil berdiri, ia meraih handuknya untuk bergegas mandi.


"Ehhh mau mandi ya?" Tanya susan


"Iya, mau ikut lo?" Ledek Dara.


"Ehh calon pengantin itu gak boleh mandi, nanti hujan saat acara lo berlangsung, repot loh" Susan berkosah seperti para nenek moyang yang meninggalkan sebuah cerita.


"Hemm itu hanya mitos, gue ga percaya.. kalo hujan anggap aja berkah.. gitu aja ko repot" kata Dara dengan gaya nyelenehnya menggoda Susan sambil beranjak pergi.


"Yeee dibilangin gapercaya" teriak Susan


"Emang engga hahaha" timpal Dara tertawa sambil kelur kamarnya .


*


*


*

__ADS_1


TBC, Thanks yaa buat suppornya🥰


Like komen dan boleh giftnya kalo ada rejekinya yaa 😊


__ADS_2