Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
BT - 11


__ADS_3

"Tente.. Please aku mau ice cream" rengek Zaidar saat perjalanan menuju apartemen.


"Hmm.. kira-kira papa memberi izin atau tidak, yaa? Tante takut Papa marah.." ucap Dara jujur.


"Hemm.. apakah papa pernah memarahi tante Dara?" Ucap polos Zaidar.


Papa kamu gak memarahi tante, Tapi memang wataknya saja yang ketus.. hemm. - Dara membatin sambil mengingat raut wajah menyebalkan majikannya itu.


"Tidak peranah,Sayang.. papa selalu baik kok" kata Dara dengan terpaksa berpura-pura.


"Kalo begitu, telfon papa aku mau katakan kalo aku ingin ice cream" kata zaidar


Dara terdiam sejenak..


Aku mana punya sih momer ponsel si jutek itu, hemm apa akh chat pak alex saja ya? Ah iya pada pak alex saja..


"Hm.. Zai, tante takut menganggu papa.. bagaimana kalo kita hubungi om alex dulu" ucap Dara berusaha bernegosiasi pada Zaidar.


"Boleh.. mereka mirip kok" celetuk zaidar membuat Dara spontan melempar tawa renyahnya di ikuti oleh supir yang mengendarai mobil itu, terdengar lucu memang celetukan zaidar siang itu.


Dara mengubungi Alex.. ia mengatakan apa yang tengah di inginkan oleh Zaidar.


Mendapat persetujuan dari Bagas, Alex mengatakannya pada Dara.


Dara dan Zaidar memutuskan untuk membeli ice cream di swalayan yang berada di lantai dasar apartemen mereka.


Sementara itu di tempat lain..


Bagas terdiam, Alex merasa sudah terbiasa dengan sikap Bagas yang mudah berubah.


"Pak, saya permisi kembali ke ruangan" pamit Alex yang tidak mungkin terus berada di ruangan Bagas sementara pekerjaannya menumpuk.


"Tetap saja disini, paman..." ucap sendu Bagas.


Yaa.. Bagas memang terbiasa memanggil Alex dengan sebutan paman, sebelum Alex mendampingi Bagas, ia terlebih dulu mengabdi pada ayah dari Bagas.


Namun sikap profesional Bagas harus ia tunjukan disaat mereka sedang bekerja, sehingga Bagas harus juga terbiasa memanggil Alex dengan sebutan nama atau dengan awalan Pak.


"Hemm.. Kau merindukan Mawar?" tanya Alex spontan.


"Sangat .. " singkat Bagas menjawab.


"Ayahmu pasti sedih melihat kamu hampir mati karena perempuan.. terlebih mAwar telah ----"


"Cukup Paman...!" Bagas memotong ucapan Alex.


"Hatiku sakit, sangat sakit... tapi aku juga sangat mencintai dirinya" kata Bagas begitu frustasi merasakan kegundahan hatinya.


"Lalu sampai kapan mau begini?" tanya Alex.

__ADS_1


"Entah.. selamanya mungkin.. dan ingat, jaga


Zaidar sampai kapanpun, paman.." kata Bagas memohon.


"Tentu, akan aku jaga sampai aku benar-benar tak berdaya lagi.. apa hari ini kau ingin berkunjung ke rumah sakit?" tanya Alex lagi..


"Tidak.. aku ingin menenangkan diri saja.." kata Bagas.


"Baiklah, kalau begitu paman akan melanjutkan pekerjaan paman.." kata Alex yang kemudian pergi meninggalkan ruangan dimana Bagas berada.


Andai kamu tahu, mawar.. aku teramat mencintaimu.. aku pernah berjanji menjadikan kamu yang terakhir dan menjadikanmu bunga dalam hidupku.. tapi nyatanya? - Nampaknya Bagas begitu meratapi kekecewaan dalam dirinya.


Sementara itu..


"Hmm Zai, enak ya ice cream nya?" Tanya Dara sambil menatap Zaidar yang lahap menyantap ice cream itu.


"Hemm.. iya Tante, papa jarang membelikan Zaidar coklat , permen dan Ice cream.. " kata Zaidar dengan polosnya.


"Hemm.. kalo mama Zaidar, kemana?" Dara dengan to the poin langsung melontarkan pertanyaan itu.


Ziadar nampak cuek dengan pertanyaan Dara , ia tetap asyik dengan ice cream yang tengah ia makan.


"Zai... apa kau tak mendengar pertanyaan Tante?" Tanya Dara menegur Zaidar.


"Hemm.. dengar kok.. tapi Zaidar juga bingung mau jawab apa?" kata Zaidar dengan polosnya.


"loh kenapa bingung?" tanya Dara membulatkan matanya.


"Apa mama Zaidar itu yang ada di frame meja kerja papa...?" tanya dara penasaran.


"Iya... kata papa dia mama zaidar... tapi Zaidar sedih, sama sekali belum pernah bertemu dengan beliau.." kata Zaidar dengan polosnya.


Dara mendekati Zaidar.


"hemm .. sudah tidak usah sedih.. masa anak tampan seperti kamu bersedih.." kata Dara berusaha membujuk Zaidar.


"Zaidar lebih senang disini sendiri, dari pada Zaidar harus tinggal dirumah omah .. tapi Zaidar rindu dengan om Rega.." kata Ziadar selayaknya anak kecil yang membicarakan banyak hal.


"Loh kenapa memang di rumah omah?" Rasa ingin tahu dara menggebu saat itu.


"Sepertinya Zaidar merasakan kalo omah tidak menyukai Zaidar, omah sering memarahi Zai, bahkan Oma mengatakan Zai adalah kesalahan yang tidak seharusnya ada" kata Zaidar membuat Dara memegang dadanya, merasakan sakit yang cukup terasa..


Astaga.. kenapa Omanya Zaidar berkata seperti itu? apa tidak memikirkan batin Zaidar?


padahal Zaidar sangat cerdas, baik dan terlihat sangat menyayangi banyak orang.. -. Dara membatin sambil memeluk Zaidar.


"Kalau om Rega siapa, Zai?" Tanya dara kembali.


"Oh.. dia adiknya papah, dia tampan dan lucu.. dia sayang sekali dengan aku.. " bangga Zaidar menjelaskan.

__ADS_1


"Wah... menyenangkan sekali dong" kata Dara menimpali.


"betul sekali.." kata Zaidar penuh keceriaan.


"Sudah, Habiskan ice cream nya, lalu kita bebersih diri untuk tidur siang" kata Dara sambil mengusap lembut pucuk kepala Zaidar, bocah tampan yang menggemaskan..


*


Malam hari menjelang.. Hujan deras mengguyur kota itu di iringi dengan petir menyambar silih berganti..


"Pak Bagas kok belum pulang, ya? sudah hampir pukul sepuluh malam" kata Dara yang masih terjaga menemani Zaidar terlelap dalam tidurnya.


"kalo aku tidur di kamarku, kasian Zaidar kalo ada petir" ucapnya bermonolog..


"Ah lebih baik, aku tidur disini.. aku ganti baju dulu" ucapnya berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai satu berdampingan dengan dapur.


Dara mencuci mukanya, menyikat giginya lalu ia mengganti pakaiannya menggunakan piyama tidur.


Dara melihat jam di dinding, hampir pukul sebelas malam tapi Bagas juga belum kembali.


"Biasanya pak Alex memberi kabar kalo pak Bagas akan pulang malam, kenapa ini tidak ya" ucap dara lagi.


Dara kemudian melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, baru saja ia menaiki 2 anak tangga bell pintu berbunyi. Dara mengerutkan keningnya, berfikir itu adalah Bagas ia bergegas membuka kan pintu.


Dara membuka pintu apartemen itu hingga Bughhhh tubuh kekar berada dalam dekapannya, seketika Dara mematung kaku..


"Bungaaaaa... Bunggaaaaa" ucap Bagas dengan suara mengambang pelan.


"Pak.. bapak???" Dara menahan tubuhnya, memberi tenaga untuk tubuhnya.


"Bunga ini aku sayaang.. Bunga aku merindukan pelukan ini bunga?"


"Astaghfirullah, bapak mabuk yaa.. ihh bapak mabuk" kata Dara, dengan kekuatan yang ia miliki dara membawa Bagas pelan berjalan menuju sofa.


Saat Dara hendak meletakan tubuh Bagas di atas sofa, tubuh dara ikut tertarik hingga Dara kini berada di pelukan Bagas, mata mereka saling bertatap pandang...


yaa Tuhan.. tampan sekali... Batin Dara menatap Bagas lebih dekat.


Bunga... kau kah bungaaaaa? Batin Bagas menatap mata cokelat Dara..


Dara masih terdiam kaku, seolah tubuhnya kaku akan pesona indah di hadapannya Begitu juga dengan Bagas yang seolah tengah menikmati wajah cantik Dara..


*


*


*


Siapakah Bunga? heheheh

__ADS_1


like komen dan vote yaa🥰


__ADS_2