Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
BT - 16


__ADS_3

"Mbok Suti.. Hemm apa mbok biasa membuat sarapan sebanyak ini?" Dara terbelatak melihat bebeapa menu sarapan yang sudah tersaji di atas meja.


"Tidak juga, Dara.. Tapi Tuan bilang, Nyonya besar mau datang jadi seperti biasa menu sarapan harus lengkap.." kata Mbok Suti menjelaskan.


"Aduh.. aku biasa sarapan nasi uduk pakai tempe orek aja sudah cukup" kata Dara melihat beberapa menu sarapan yang sedikit asing di matanya.


"Yasudah, aku mau ajak Zai mandi dulu ya mbok" kata Dara, pamit.


Dara menuju kamar Zaidar dengan santainya. Dara tidak menemukan keberadaan Zaidar, namun ia mendengar suara Zaidar yang tengah tertawa di dalam kamar mandi..


"ohh.. mandi sama pak Bagas" kata Dara lalu ia memilih menuju lemari pakaian Zaidar.. ia memilih pakaian santai untuk Zaidar karena hari Minggu adalah hari libur sekolah Zai.


"Tanteeeeee" Zaidar memakai handuk di depan pintu kamar mandi.


"Hai.. sudah selsai ya, sini pakai baju mu" kata Dara kemudian Zaidar mendekat untuk menggunakan pakaiannya.


Sementara itu..


"Sial.. kenapa gue lupa membawa handuk" ucap Bagas kebingungan.


Sementara Dara sibuk memakaikan pakaian Zaidar tentu hatinya juga berbisik tipis mengapa tak keluar? apa pak Bagas malu dengan keberadaan aku disini? atau di masih marah??? - Dara tetap fokus memakaikan pakaian Zaidar.


"Zai... Tolong papa..." Teriak Bagas.


Dara tersenyum pada Zai..


"Tolong apa, papah?" kata Zaidar.


"Papa lupa membawa handuk, tolong bawakan handuk..." ucap Bagas berteriak membuat Dara kembali menyimpulka. senyumnya.


Oh ternyata dia lupa abwa handuk..


"Sebentar, Tante sisir dulu rambut mu" kata Dara berkata pada Zaidar.


"Oke sebentar , Pah..." teriak Zaidar.


Usai siap, Zaidar berlari kecil menuju kamar mandi semntara Dara memilih keluar kamar terlebih dahulu.


Dara menunggu Zaidar , hingga akhirnya mereka berdua turun bersama.


Bagas celingukan memastikan Dara sudah tidak berada disana lagi.


"Bisa-bisa nya gue lupa bawa handuk" gerutu Bagas.


"Ini juga karena kamu Zai, kalo kamu tidak menyiram papa, tidak akan papa mandi di kamar mandi mu.." Ucapnya sambil berjalan mengendap-endap menuju kamarnya.


**


Bel pintu berbunyi, Dara yang sedang bermain dengan Zai berlari kecil membukakan pintu.


"Siapa kamu?" sentak seorang ibu paruh baya dengan ketusnya usai melirik Dara dari atas hingga bawah.

__ADS_1


Dara kaget dan sedikit gemetar ketakutan.


Apa dia ibunya Pak Bagas ya? dari penampilannya dia terlihat seperti ibu sosialita, pasti dia ibunya Pak Bagas .. Dara membatin meyakinkan diri.


"Tantee....." teriak Zai menghampiri Dara.


"Omaahhh??" Zai begitu terkejut senang melihat sang nenek datang.


"Jangan peluk-peluk.. omah lelah" ketus Ibu itu tanpa ada rasa riang bertemu dengan Zai.


Astaghfirullah kok ini ibu sensi sekali dengan Zai? ada apa yaa...


"Kamu siapa?" ketus Ibu itu mengulangi tanya nya pada Dara.


"Hemm.. saya, saya pengasuh Zai.. Buu" kata Dara gugup.


"Pengasuh? mana seragam pengasuh, kenapa pakai baju santai begini??? Tidak ada aturan sama sekali rupanya" kata Ibu itu sambil menerobos masuk Hinga dara sempat terhuyung terkena senggolan ibu tersebut.


yakin lah kalo dia ibunya Pak Bagas, juteknya mirip... Dara membatin kesal.


melihat wajah murung Zai, Dara segera memluknya sambil tersenyum di hadapan Zaidar..


"Kita lanjut main yuk? Tante belum berhasil mengalahkan mu" kata Dara melepas kesedihan Zaidar yang mendapat perlakuan kurang baik dari sang nenek.


Dara dan Zaidar melangkah masuk, Dara tidak menyangka Nyonya besar yang nampak elegan dalam berpenampilan bisa meluapkan emosinya di hadapan Zaidar pagi itu..


"Kamu pakai pengasuh kenapa ga bilang mama, Bagas?" Ucapnya membuat Dara tersentak.


"Mama cukup!!" teriak Bagas.


"Dara, bawa zaidar masuk ke kamarnya.." peritnah Bagas pada Dara, merekapun bergegas menuju lantai dua dimana kamar Zaidar berada.


*


"Mama bisa ga sih stop menyebut Mawar itu perempuan tidak benar?? Mama bisa ga gak usah marah-marah saat mama datang kesini?" kata Bagas meluapkan kekesalannya.


"Stop menyebut namanya, kamu tau kan betapa mama membencinya, bahkan mengingat namanya pun mama muak" kesal Ibu Nia, ibunda Bagas.


"Mah... apapun kesalahan kita tolong mama lihat keadaan saat ini mah, ada Zai sekarang dalam hidup Bagas" ucap Bagas namun nampaknya tak membuat hati ibu Nia luluh.


"Terserah apa katamu, Bagas... Sekali mama membenci akan tetap mama membencinya" kata Ibu Nia membuat Bagas menyerah, setiap pertemuannya dengan Ibu Nia, pasti akan terjadi sebuah pertengkaran tanpa ada ujung penyelesaiannya.


*


Dara masih mendekap Zaidar, telihat Zaidar cukup ketakutan saat itu..


Apa maksud dari ibunya Pak Bagas ya? kenapa harus ada ucapan seperti itu yang terlontarkan.


Dara kemudian melihat Zai nampak murung sedih serta ketakutan ..


"Zai.. kita main mobil-mobilan yuk" ajak Dara melepas suasana menegangkan itu .

__ADS_1


Zaidar tak menjawab dengan perkataan, hanya gelengan kepalanya saat itu.


"Hemm.. kenapa?" kata Dara..


"Zai ingin di peluk omah, tapi omah tidak mau memeluk Zai.. omah selalu memarahi papa.." kata Zaidar polos.


Astagaaaaaa... Zaidar sampai bicara seperti ini tandanya bukan hanya satu kali ibu itu bersikap seperti tadi ya.. Dara membatin.


Ketukan pintu kamar Zaidar terdengar ,beriringan dengan terbukanya pintu..


"Zaiii..." Bagas masuk penuh senyum.


Bagas langsung menatap ke arah Dara yang nampak begitu salah tingkah.


"Dara, saya minta maaf.. ibu saya tadi mungkin berbicara membuatmu tersinggung.." kata Bagas.


Wah kenapa ini pak Bagas minta maaf?? ada angin topan kah hingga dia mau bicara selugas itu .. kata Dara dalam hati..


"Tak apa pak, saya biasa saja" kata Dara membuat Bagas kembali memfokuskan diri pada Zai.


"Zai.. kita turun dan sarapan, yuk" ajak bagas dengan lembut.


Zaidar menggelengkan kepalanya.


"Hemm... kenapa gak mau, masa papa harus makan berdua Oma saja, tidak seru dong" kata Bagas begitu lembut, Dara tak berkedip memandang Bagas yang berada di hadapannya.


Takut ngeces deh lama lama melihat pak Bagas yang manis bagai gulali ini..


Dara membatin..


"Dara..! " tegur tegas Bagas.


"A..iya iya pak" Dara tersentak segera ia mengusap ujung bibirnya.


"Kenapa kamu ngeliatin saya? kamu pikir saya tulang" kata Bagas.


"Tulang rusuk aja pak" ucap Dara spontan membuat mata Bagas membulat.


"Ampun pak.. bercanda..." dara cengengesan, hingga Zaidar melempar senyum ya meski ia tak tahu makna yang di ucapkan oleh Dara..


"Bujuk Zaidar makan dibawah, saya tunggu" ucapnya pada Dara .


"Zai dengar papa.. turun segera" tambah Bagas pada Zaidar.


Selepas Bagas pergi, Zaidar langsung menerima bujuk rayu dari seorang Dara, hingga Zaidar mau makan pagi bersama di meja makan..


*


*


*

__ADS_1


Like Komen yaa kawan ,❤️❤️❤️❤️


__ADS_2