
Bagas merasakan pusing pada kepalanya, pikirannya kini teringat pada kejadian lima tahun silam..
Sakit... sakit terasa bila aku mengingatnya..
Bagai duduk menunggu hasil pemeriksaan Dara, tak lama kemudian datang Alex dengan seorang wanita..
"Tuan..." sapa Alex.
"Paman.... " sapa Bagas dengan panggilan nya saat berada di luar kantor, Alex hanya tersenyum.
"Kamu tenang nak, paman yakin Dara akan baik-baik saja.." kata Alex berusha membuat Bagas dapat sedikit ketenangan.
"Paman, adakah petujuk?" tanya Bagas pada Alex.
"Masih sama, namun paman sedikiit aneh.. dalam bulan ini paman baru mengetahui kalau Rega melakukan perjalanan ke Singapura sebanyak tiga kali.." kata Alex membuat Bagas mengerti kan dahinya.
"untuk apa? perjalanan bisnis kah?" Tanya Bagas.
"Berikan" kata Alex memerintah perempuan yang berada di sampingnya.
Dalam keadaan sangat pening, Bagas menerima sebuah berkas yang tidak terlalu tebal.
"Paman.. apa mungkin???" ucap Bagas membuat Alex menghela nafasnya..
"Paman masih menyelidiki dengan sangat hati-hati.. kita harus terlihat bodoh bukan untuk di bodohi.." kata Alex.
"Lakukan dengan cepat, Paman.. aku butuh kabar soal Zai, aku merindukannya" kata Bagas lirih.
"Paman paham..Paman akan melakukan yang terbaik.." kata Alex sambil menepuk pelan bahu Bagas.
*
Malam hari.. Bagas masih berada dirumah sakit yang tak jauh dari rumahnya, sementara itu Dara terpaksa harus melakukan perawatan medis saat ini karena kondisinya yang drop saat itu.
Mbok Suti sudah berada juga dirumah sakit, mendampingi Bagas jika sewaktu-waktu dirinya dibutuhkan.
Mbok Suti mengetahui betul bagaimana Dara menyayngi Zai seperti anaknya sendiri. Begitu juga dengan Bagas, Mbok Suti melihat sosok Bagas yang sangat dewasa mendidik Zai seperti anak kandungnya sendiri..
"Den .. Tak mau pulang saja? Mbok yang jaga neng Dara disini.." kata Mbok Suti melihat wajah lelah Bagas.
"Yaa.. sebentar lagi, menunggu Ujang menjemput saja.." kata Bagas yang merasa juga tak mampu mengendarai mobilnya hingga tiba di apartemen nya.
"Yang sabar ya den, semua pasti ada hikmahnya.. Mbok juga sedih dengan keadaan ini.." kata Mbok Suti sendu.
Bagas menghela nafasnya lalu ia tersenyum tipis..
"Terimakasih ya Mbok.. maaf banyak merepotkan mbok.." kata Bagas yang sejak remaja sudah mengenal Mbok Suti.
"Kalau begitu, saya pulang.. saya titip Dara, ya? kasihan dia.." kata Bagas sambil berdiri dari duduknya, meski supirnya belum mengabari kedatangannya, namun Bagas hendak sejenak menenangkan dirinya sejenak.
"Baik den, Hati-hati.. " pesan Mbok Suti.
__ADS_1
Bagas mencoba menenangkan diri dengan membeli segelas kopi panas sambil menunggu supir menjemputnya.
*
Setiba di unit apartemennya.
Bagas terlihat sangat kesal dengan kehadairan sang ibu ..
"Apa-apaan kamu Bagas? lihat itu semua" Ibu Nia melempar beberapa berkas ke atas meja kaca.
"Kenapa kamu melepas proyek sebesar itu? apa kamu gila, hah?" bentaknya.
"Memang Bagas tengah gila, mah.." kata Bagas dengan malasnya.
"Hebat sekali kamu, Bagas..." kata Ibu Nia.
"Setelah perempuan berduri itu yang menusukmu, sekarang bocah kecil yang tidak jelas siapa ayahnya yang emmbuat kamu gila... mengenaskan sekali hidupmu Bagas?!!!"
"Dia Mawar, panggil dia Mawar!!" bentak Bagas yang semakin emosional..
"Mawar? nampak cantik namun berduri, ia mampu melukai siapa saja yang menggenggamnya dengan sembarang dan terlalu erat.... Begitu kan?" Sinis dan wajah yang terlihat meremehkan itu membuat Bagas semakin muak.
"Stop mah, Stooopppp!!!!" Kesal Bagas.
"Bagas sudah cukup dewasa, kalau mama tidak bisa menerima kinerja Bagas di perusahaan almarhum papa, silahkan mama ambil alih, Bagas tidak butuh!!" kesal Bagas berucap, ia lalu meninggalkan begitu saja ibu yang melahirkannya.
Ibu Nia begitu kesal dan kecewa dengan sikap Bagas saat itu..
"Bagas... beraninya kamu menentang dan berbicara sangat tajam.. Benar-benar sudah di butakan oleh cinta yang semu!" kata ibu Nia begitu kencang, Bagas pun mendengar ucapan ibunya, namun ia lebih memilih mengabaikannya.
"Kamu akan paham, bagaimana mama bisa seperti ini...." kesal ibu Nia.
Ia pun menarik nafasnya disaat kepalanya mulai terasa pusing.
*
Di dalam kamar Bagas begitu emosional ia mengepal tangannya menghadap ke luar jelndela..
"Apa salahku mencintai Mawar dengan segala kesalahannya??" Kesal Bagas bermonolog.
Bagas termenung sendiri..
Ia kemudian melamun dengan hati kacaunya, pikirannya membawanya kedalam banyak presepsi yang muncul secara spontan.
Apa jangan-jangan mama adalah dalang dari semua ini? apa mama yang sengaja mencelakai Mawar? apa mama juga yang membawa pergi Zaidar dari hidupku??? apa mama Setega itu?? kenapa begitu..
Bagas kemudian membuka kulkas kecil yang berada di kamarnya, sudah sejak lama Bagas tidak menyentuk minuman memabukkan itu, namun kali ini jiwanya seperti hilang termakan janjinya.
Bagas meneguk gelas demi gelas hingga ia mabuk dan terlelap dengan segala kepenatan yang ada..
*
__ADS_1
Papa... Zai kangen papa.. kenapa papa tidak juga menjemput Zai.. kenapa Tante juga tidak datang kesini menjemput Zai?
apa kalian sudah tidak menyayangiku lagi.. Apa kalian kini sudah berubah seperti oma yang selalu membenci Zai...
Papa... Zai rindu pelukan papa, Zai rindu candaan papa... kenapa papa memilih bekerja dan meninggalkan Zai ?? papa bilang, Zai adalah segalanya untuk papa..
Keringat dingin membasahi tubuh Bagas..
Tidurnya yang panjang dalam keadaan mabuk ternyata menghadirkan bisikan-bisikan suara Zaidar yang membuat tubuhnya gemetar..
Alex yang sejak pagi sudah berada disana berusaha keras membangunkan Bagas yang terus berteriak menyebut nama Zaidar..
"Bagas... bangun... Bagas Sadarlah... Bagun dari mimpimu..." Alex berusaha keras membangunkan Bagas namun Bagas Solah tak ingin bangun dan ingin terus mendengar suara zaidar yang ia rindukan..
"Harus kupakai cara nenek moyangku dulu sepertinya" kata Alex meraih satu gelas berisi air mineral, dengan cepat Alex menyiramkan air tersebut tepat di wajah Bagas..
Bagaspun sontak terbangun dari tidurnya..
"Zaaaiiiiii" teriaknya dengan nafas tak beraturanya.
Memang cara nenek moyang tak pernah failed... Batin Alex.
"Nak....kamu mimpi buruk?" tanya Alex tanpa rasa bersalah.
"Entah buruk atau tidak, yang jelas Aku mendengar suara Zaidar, ia ingin aku datang menjemputnya.." kata Bagas lirih.
"mandilah dulu, kamu mabuk semalam" kata Alex tidak ingin meneruskan pembahasan itu..
"Paman menyiramku???" kata bagas tersadar..
"Tidak, kamu mengigau hingga menyiramkan air itu sendiri ke wajahmu" Alex menahan tawanya.
"Aku memang sudah gila, Paman... saat tertidurpun aku melakukan hal konyol..." Bagas semakin merasakan frustasi pada dirinya, sementara Alex menahan tawanya.
Gila dan bodoh tak jauh berbeda, ya?? Apa karena dia mabuk jadi terjadi kosleting pada otaknya?? Batin Alex terkekeh...
*
*
*
*
Aduh... itu si Alex... lagi sedih-sedih nya langsung bikin lelecon receh hehehe.. maafin Alex yaa, maklum sudah usia hehe..
Yuk komen , Like dan Rate nya yaa..
Jika ada rejeki boleh ya kirim Mawar atau kopinya, atau yang gratis seperti jatah Vote mingguan juga boleh di kirim hehe
Yang penting ikhlas .. hehe
__ADS_1
❤️
*