Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
BT - 34


__ADS_3

"Papa... bisa kah papa menepati janji papa? kenapa papa masih stay di sini" protes Zaidar menghampiri Bagas di kamar Alex.


"Bagaimana ini paman?" kata Bagas pelan pada Alex.


"Ikuti saja, kamu mau anakmu itu marah" kata Alex santai.


"Hemm papa masih ada pekerjaan, sayang..." kata Bagas beralasan.


"Papa lebih mementingkan pekerjaan papa kah? kalo begitu aku akan menunggu disini" kata Zaidar duduk di kursi kamar hotel Alex.


Bagas menghela nafasnya, memang Zaidar bukanlah lawan nya untuk berdebat.


Sementara itu, Dara sangat gugup berada di kamar lain..


Bagaimana ini, satu kamar bersama pak Bagas, ah sungguh memalukan... bagaimana kalo dia mendengar dengkuran ku saat tidur? aduhhhh...


Dara panik , ia hanya mondar mandir di dalam kamar itu..


Untung saja piyama ku panjang seperti ini.. setidaknya terlihat lebih sopan..


Pintu kamar terbuka.. Dara semakin gugup saat itu, hingga ia sedikit salah tingkah saat Zaidar masuk menarik Bagas.


"Hmmm.. Hai Zai.. Tante kira kamu tertidur disana" kata Dara penuh rasa gugup.


"Aku menunggu papa menyelesaikan pekerjaannya.. Tante kenapa berdiri disini, kenapa tidak istirahat" tanya Zidar polos ya..


dia pasti canggung... aduh Zai kamu ini benar-benar berhasil ya membuat kita dalam situasi yang tak semestinya.


"Hemm itu , anu..Tante abis ke toilet.. iya ke toilet..." kata Dara beralasan.


"yaudah ayo kita tidur.. aku di tengah" kata Zaidar merangkak di atas kasur lalu ia merebahkan tubuhnya di tengah-tengah.


"Papa disini, Tante disini" kata Zaidar memberi arahan.


"Lakukan saja, saya akan pindah malam nanti" kata Bagas berbisik pelan sambil berjalan ke posisi yang sudah ditentukan oleh Zaidar..


Dara pun mengerti, setidaknya ia cukup lega saat mendengar ucapan Bagas.


Mereka berbaring bersama dalam satu ranjang di dalam satu selimut yang sama.


"Papa.. ini sepertinya hari keberuntungan bagi aku" ucap Zaidar.


"Papa juga merasa beruntung bisa bersama mu lagi..." kata Bagas.


"Tidak hanya itu, papa.." kata Zaidar.


"Selama di panti, seluruh anak panti memiliki ke inginkan yang sama loh pah.." kata Zaidar dan Dara hanya diam menjadi pendengar yang baik saja kala itu.

__ADS_1


"Ke inginkan apa?" tanya Bagas.


"Seperti ini, tidur bersama kedua orang tuanya.. bersama mama dan papa nya" kata Zaidar membuat Bagas terdiam kaget mendengar ucapan Zaidar.


Dara yang mendengar pun tak kalah kagetnya.


"Hemm.. Zai.. Tante Dara bukan mamah kamu" kata Bagas dengan lembut memberi pemahaman.


"Zai tau, tapi setiap pria dan wanita itu bisa menikah dan menjadi papa dan mama.. Zai mengetahui itu dari kawan Zai di panti.." kata Zaidar dengan polosnya.


"Tapi.. Tante dan papa tidak bisa menikah.. iya kan pak Bagas?" kata Dara mencela obrolan dua pria itu.


"Kenapa???" tanya Zaidar seperti tidak senang.


"Menikah itu harus banyak kecocokan, harus ada rasa sayang.. dan juga harus yakin, karena tanpa rasa yakin semua akan gagal... " kata Dara membuat Zai terdiam.


"Zai tenang saja, Tante akan menemani Zai kok..." kata Dara membuat Zaidar melepas senyumnya menghadap ke arah Dara dan memeluknya.


Mendengar ucapan Dara Baga cukup tersentil, dulu ia cukup memaksakan diri untuk segera menikah dengan mawar..hinga kini rumah tangga nya tak jelas kemana akan berakhir.


Seperti biasa, dara memberi sentuhan lembut pada Zaidar hingga bocah itu cepat terlelap dalam tidurnya..


Dara pun sedikit menengok ke arah Bagas.


Astaga, dia juga terlelap.. Bagaimana ini? bingung Dara , beranjak pergi pun tak mungkin, Zaidar memeluk erat satu lengan Dara hingga ia tak dapat bergerak.


Dara mencoba melakukan pergerakan kecil, namun Zaidar kembali menarik lengan dara dan kini menguncinya dengan dekapannya.


*


Dering ponsel Bagas berdering, namun Dara lebih dulu bangun mendengar suara ponsel tersebut..


"Pak... pak... itu ponsel berdering, pak Alex menghubungi.." kata Dara menggoyangkan kaki Alex.


Bagas terbangun menerima panggilan itu.. tak lama kemudian ia menutupnya..


"Bersiap Dara, kita akan segera kembali ke Jakarta..pesawat kita dua setengah jam lagi.." mendengar hal itu dara yang sudah terbangun bergegas untuk mandi sambil membawa pakaian gantinya yang sudah di siapkan oleh orang suruhan Bagas sejak semalam.


Tidak lama, Dara luar dengan pakaian gantinya dan handuk yang membungkus rambutnya yang basah.


"Pak, Zai mau di bangunkan atau gimana?" kata Dara melihat jam masih menujukan pukul empat kurang lima belas waktu Singapore.


"Hemm bagaimana ya? kasihan juga tidurnya terganggu.." kata Bagas bingung.


"Bagaimana kalo tidak usah di bangunkan? nanti saya gendong saja.." kata Dara melihat Zaidar begitu lelap tertidur.


"Yaudah, kamu kemas barang saja.. bawa baju ganti Zai" kata Bagas sampai ia bergegas mandi.

__ADS_1


*


Mereka menuju Bandara yang hanya berjarak 10 menit..


Zaidar masih terlelap dalam tidurnya, Bagas yang menggendong Zaidar sementara dara mengikuti langkah Bagas di sisi kanannya.


Mereka seperti keluarga kecil saja..


Batin Alex terkekeh kecil.


Hingga tiba waktu pemberangkatan, dara terlihat sangat gugup. Bagas melirik kearah Dara berulang kali.


"Kamu gugup? takut ya?" kata Bagas sambil berjalan menggendong Zaidar. d


Dara hanya mengangguk.


Bagas pun spontan meraih jemari Dara untuk menggengam erat sambil berjalan memasuki area pesawat.


Astaga kenapa tangan aku di genggam pak Bagas, kalau begini bisa-bisa aku merasa nyaman dan terbawa perasaan.. Batin Dara sedikit takut dengan sikap Bagas.


"Santai saja, masa kalah dengan Zai, dia sangat happy kalo sudah naik pesawat..." kata Bagas menenangkan ..


"Lagi pula, kamu mau di tertawa kan oleh Alex" goda Bagas langsung membuat Dara menggelengkan kepalanya.


"Makanya relax saja..." kata Bagas.


Tiba di dalam pesawat.


Bagas meletakkan zai di kursi pinggir, dirinya duduk ditengah dan dara di pojok jendela sesuai permintaan nya.


"Jangan gugup .. itu malah akan menambah rasa takutmu" kata Bagas dan dara hanya mengangguk..


Zaidar terbangun, ia mengetahui Dara takut menaiki pesawat terbang, dengan sikap lucunya ia meminta Bagas menggenggam tangan Dara saat pesawat hendak memulai penerbangannya.


Zaidar melempar senyum senangnya terlebih saat Dara menyembunyikan lagi wajahnya di lengan Bagas.


Ah memalukan sekali aku ini...kata Dara.


Tidak.. tidak.. ini murni karena aku takut dan murni pak Bagas hanya meredakan rasa takutku, bukan karena rasa nyaman..


Kenapa ini? kenapa aku merasa cukup nyaman ya menggenggam tangan Dara sejak tadi... astaga, jangan sampai aku melewati batas ku sebagai seorang atasan...


*


*


*

__ADS_1


Yeay bisa 2 bab nih.. hehe


jangan Lupa ya dukung terus karyaku agar aku semangat lagi up nya ❤️❤️


__ADS_2