Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
RASA TAKUT


__ADS_3

"Mas..."


Bagas merasa rindunya kini telah terobati, mendengar panggilan dari mulut Mawar untuk dirinya. Rega mundur beberapa langkah dengan tatapan yang menujukan bahwa ia sungguh tidak menyukainya.


"Hai... bagaimana keadaan kamu?" tanya Bagas kaku Bahakan ia memalingkan wajahnya, ia tidak ingin menatap wajah Mawar saat itu.


"Seperti yang kamu lihat, dan...." ucapannya tertahan, ia melihat ke arah kakinya seraya menujukan keluhannya.


"Aku merasa tidak ada kekuatan pada kakiku..." kata Mawar dengan lirih.


"Tidak usah khawatir, semoga hanya bersifat sementara, dan kamu bisa kembali berjalan..." kata Bagas.


"Mas ..." panggil mawar.


"Maafkan aku, aku terlalu banyak menyakiti dan merepotkan kamu" kata Mawar membuat jantung Bagas berdebar cukup kencang. Melihat hal itu, Rega dengan tatapan sinisnya terus memperhatikan apa yang tengah terjadi di hadapannya.


"Lupakanlah, Mawar... cepatlah pulih" kata Bagas dengan ucapan singkatnya.


"Rega... mama mencari kamu semalaman" kata Bagas menegur Rega yang nampak sangat kesal itu.


"Hem...haha" Rega terkekeh kecil.


"Biarlah kak, aku baru saja menghirup udara segar dan bebas dua hari setelah kakaku sendiri membawaku kedalam jeruji besi.." ucapan Rega membuat mawar terkejut.


"Astaga.. kalian kenapa?" kata Mawar penuh rasa penasarannya.


"Hemm tak apa, itu wajar aku lakukan karena kesalahannya.." kata Bagas dengan tenang..


"Sudah cukup" tahan Alex.


"Mawar baru saja sadar dari tidur panjangnya.. bisa kah kalian bersikap dewasa menghargai mawar?" ucap Alex membuat muak Rega.


"Aturlah semua sesuai dengan keinginan kalian" kata Rega lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Bagas, Mawar dan Alex.


"Mas .. kenapa dengan Rega?" tanya Mawar


"Sudahlah Mawar, istirahat saja tidak perlu kamu memikirkan hal yang tidak seharusnya kamu pikirkan.. ya?" kata Bagas mengusap lengan Mawar lalu ia berjalan ke arah sofa, duduk dan memainkan ponselnya.


Kamu tidak memanggilku dengan sebutan Bunga... Kamu juga cuek, mas...


Sementara itu, Bagas melakukan panggilan dengan Dara.


hallo... Dara, apa Zaidar marah padaku..


Tentu, tapi sudah saya atasi pak.. kami akan pergi ke mall tiga puluh menit lagi..


baiklah.. kalo saya sempat saya akan menyusul, hati-hati yaa...


Apa yang Bagas ucapkan tentu dapat di dengar baik oleh Alex maupun Mawar.


Mawar mengerutkan keningnya.


"Dara siapa, mas?" tanya Pelan mawar.

__ADS_1


"Mawar ... Istirahatlah agar kondisimu cepat pulih kembali" kata Bagas.


"Kamu menyebutkan nama Zaidar, juga nama Dara.. wajar aku bertanya mas" kata Mawar menahan sakit pada dadanya.


"Kamu kenapa?" respon cepat Alex melihat mawar memegang dadanya.


Bagas berdiri panik ..


"Mawar.. " mendekat Bagas ke arah mawar.


"Kamu kenapa?" tanya Bagas.


"Sakit" keluh mawar lalu Alex dengan cepat menekan tombol ajaib yang dapat menghadirkan suster dan dokter jaga, hehe..(agar tidak tegang ya).


"Sudah ku katakan, istirahatlah.. Zaidar bersama pengasuhnya, Dara" kata Bagas menjelaskan dengan pelan.


Sedekat itukah kamu dengan pekerja mu mas? sakit aku saat pikiran aku kini melayang jauh...


Dokter datang bersama beberapa suster untuk melakukan beberapa pemeriksaan dan memasang alat.


"Bu.. ibu harus pintar ya mengontrol emosi, saya akan rujuk pemeriksaan selajutnya ke dokter spesialis jantung agar lebih akurat hasilnya..." kata dokter jaga yang notabene nya sebagai seorang Dokter umum..


Dokter secara berbisik dengan Bagas, akan memberikan obat penenang agar mawar bisa beristirahat dan merelaksasi pikirannya.


"Seseorang yang baru saja bangun dari koma nya, mengalami kecenderungan rasa khawatir berlebih, ibu Mawar berada dalam fase itu, tekanan darahnya naik dan saya curiga dengan jantungnya... nampaknya ada sesuatu yang tak beres" dokter menjelaskan pada Bagas.


Bagas menerima apa yang dokter sarankan selagi itu baik untuk Mawar.


dokter meminta Bagas untuk memberikan asupan secara perlahan, sedikit demi sedikit untuk Mawar sebelum ia beristirahat...


"Paman.... aku akan menyusul Dara juga Zai di mall, bagaimana?" tanya Bagas saat Mawar sudah terlelap.


"Hemm... nampaknya kamu mulai nyaman dengan Dara, ya?" kata Alex meledek.


"Tentu, dia adalah pengasuh Zai .. wajar aku juga nyaman karena dia bekerja dengan baik" kata Bagas dengan jawaban netralnya.


"Jangan membodohi pamanmu... raut wajahmu menandakan wajah seorang pria tengah jatuh cinta" goda Alex.


Seketika saja wajah Bagas memerah, malu dan ia bertanya pada dirinya sendiri..


Apa yang di katakan paman itu benar-benar membuatku malu... hemm, rasa nya tak mungkin aku jatuh cinta pada Dara... dia terlalu baik untukku..


"Sudahlah paman aku pergi, paman makan lah suruh saja orang menjaga Mawar disini.." kata Bagas membuat Alex terkekeh kecil.


"Paman akan makan di jalan sambil menuju kantor... jika pemimpinnya sedang sibuk menyakinkan cinta maka tangan kanan nya bersikap untuk cermat menghandle pekerjaan"


Kata-kata Alex cukup menyentuh hati Bagas, hingga ia hanya mampu melempar senyum malunya saat itu.


*


"Pak Rega...." Dara terkejut saat Rega duduk di hadapan dirinya juga Zaidar yang tengah memakan ice cream di sebuah resto di mall.


Spontan Dara mendekatkan tubuhnya ke arah Zaidar..

__ADS_1


"Kenapa kamu terkejut begitu?" kata Rega.


"Karena saya mantan narapidana?" kata Rega.


"Om Rega, om memang mengejutkan kita" polos Zaidar.


"Zai... apa kabar kamu?" timpal Rega.


Rega nampaknya masih berdiam diri, tak ingin ia menampakkan bahwa dirinya adalah dalang dari penculikan Zaidar.


Dara pun demikian, Ia berusaha menyembunyikan hal tersebut seolah-olah ia tidak mengetahui apapun.


"Hemm... om baik, om habis di kurung karena on nakal" kata Rega.


"Pak Rega, lebih baik jangan bicara hal tersebut pada Zaidar..." kata Dara menegur Rega dengan cukup berani.


"Apa kalo zai nakal akan di hukum, Tante?" tanya Zaidar.


"Di hukum, membaca buku sebanyak dua halaman, bagaimana?" Dara begitu pandai mengalihkan pembicaraan memposisikan dirinya dengan lawan bicaranya.


Bagaimana ini... pak Bagas lama sekali, aku takut pak Rega kembali memiliki niat jahat pada Zaidar...


Dara memang tidak terlihat tenang kala itu, Bagas yang belum juga datang semakin membuat kekhawatiran dara semakin berlebihan.


"Kamu kenapa, Dara?" tanya Rega melihat Dara yang nampak gelisah dan tak menatap Rega sedikitpun.


"Om... kita sedang menunggu papa" kata Zaidar penuh semangat.


"Papa? papa kamu kan ada dirumah sakit, bersama mama" kata Rega membuat Dara terkejut membulatkan matanya.


"Benarkah? kenapa papa tidak mengajakku? bukankah papa sudah berjanji akan mengajakku?" Zaidar meletakkan cup ice cream di meja, seketika wajahnya menjadi kesal dan sedih.


"Mau om antar?" tanya Rega menawarkan.


"Tidak bisa ...!" cegah Dara cepat


"Tante... kenapa begitu?" protes Zaidar.


"Tunggu papa yaa, papa sebentar lagi sampai" kata Dara memberi penjelasan pada Zaidar dengan lembutnya.


"Bukankah pergi dengan om, sama saja?" kata Rega nyeletuk meyakinkan Zaidar.


"Pak Rega..! maaf sekali yaa... bapak bisa kan menghargai saya sebagai penanggung jawab keselamatan Zaidar disini? jadi tolong jangan semena-mena karena bapak adalah om nya... karena sejatinya tidak ada om yang ingin keponakannya sedih "


Rega merasa tersentil dengan ucapan Dara pun hanya terdiam kaku saat.


Apa maksudnya? kenapa dia bisa berkata itu padaku.... - Batin Rega kala itu.


*


*


Terimakasih Atas Dukungan Kalian..

__ADS_1


Like , komen dan Rate gratis kalian sangat berharga untuk membangkitkan semangat ku...


Jika ada rejeki lebih boleh berbagi mawar atau kopinya yaa ... Terimakasih 💋


__ADS_2