
"Awwwwww"
"Maaf... sedikit perih saja pak, kenapa heboh sekali" kesal Dara karena terkejut oleh ekspresi Bagas.
Bagas nampak memar dan sedikit luka di area pipinya.. perutnya juga terkena hantaman tangan kekar Rega.
"Kamu juga sakit kan?" kata Bagas yang menyaksikan tubuh dara terpelanting saat memisahkan perkelahian dua pria itu.
"Tidak seberapa.." kata Dara masih memfokuskan diri memberinya obat luar pada pipi Bagas.
"Lain kali jangan bertengkar , seperti anak kecil saja" kata Dara.
Bagas menatap mata Dara dalam.. Tatapan mereka kini saling beradu dalam sebuah ketidak kesengajaan.
"Ehemmm" Alex datang melepas lamunan keduanya, mereka sama-sama salah tingkah.
"Maaf-maaf, aku pipis dulu" kata Dara melepas gugupnya hingga ia berbicara sedikit frontal.
"hmm maksud aku mau ke toilet, permisi" kata Dara menahan malunya pada Alex ia pun beranjak pergi meninggalkan Alex yang tengah terkekeh kecil bersama Bagas yang juga nampak salah tingkah melihat sosok Alex yang pasti akan meledeknya.
"Dara..." Panggil Alex seketika Dara menghentikan langkahnya.
Aduh.. apalagi ini pak tua.. senang sekali membuat jantungku hampir copot ..
"mau ke toilet kan?" Tanya Alex dengan wajah meledek.
"Iya.. hemm sebentar ko" Gugup Dara.
"Toilet terdekat di samping dapur, kenapa kamu ke lantai dua?" Alex terkekeh , Bagas pun menyembunyikan tawanya , berpura-pura sibuk memainkan ponselnya .
Astaga... kenapa aku ke sini.. ah bodoh sekali kamu dara ..
"Hemm ... anu pak, saya mau ke... oh iya saya mau pakai toilet di kamar Zai, sekalian melihat dia takut ada nyamuk" kata Dara beralasan, dengan cepat dara melanjutkan langkahnya meninggalkan Alex dan juga Bagas.
Bodoh nya aku ini.. astaga bisa-bisa nya aku memandang pak Bagas seperti itu .. Batin Dara kesal dengan dirinya sendiri .
*
"Bagaimana, Paman?" tanya Bagas.
"Tidak perlu memikirkan Rega.. seharusnya sejak dulu kamu tidak perlu terus melindunginya.." kata Alex memberi nasehat.
"Mama pasti akan datang kesini dan marah-marah lagi, anak kesayangan nya masuk penjara karena laporan ku" kata Bagas sudah menerka .
"Sabar saja..." kata Alex terkekeh kecil.
"Oh iya, paman penasaran sekali.. kalo suatu saat apa yang kamu miliki saat ini hilang, bagaimana?" tanya Alex memberi sebuah pertanyaan.
"Yang aku miliki?keluargaku? hemm Zaidar? Mawar?"
__ADS_1
"Harta ini, harta kekayaan ini" kata Alex langsung saja memotong pembicaraan itu..
"Hilang karena apa? jika memang itu kesalahanku yaa akan kau terima dan mungkin aku akan berjuang lebih baik lagi.. " kata Bagas.
"Kenapa paman tiba-tiba bertanya begitu?" tambah Bagas.
"Tidak, paman hanya mengetes kamu saja..." kata Alex sambil terkekeh kecil.
*
*
Dua hari berselang..
Malam itu Dara masih bekerja seorang diri di apartemen Bagas, saat ini Zaidar hanya melakukan kegiatan di dalam apartemen nya, mulai dari home schooling, beberapa les privat pun di lakukan dirumah.
Dara baru saja selesai memasak tiga porsi spaghetti carbonara untuk makan malam bersama. Sementara Bagas yang baru saja tiba dirumah bergegas mandi untuk segera bergabung bersama Zaidar dan Dara.
Bel apartemen terdengar, Dara berjalan lalu mengintip tamu siapakah yang datang saat itu.
Dara terkejut dan bingung..
Nyonya Nia.. astaga.. kasihan Zai pasti dia mendapat perlakuan tak menyenangkan... Tapi , aku harus bagaimana ya? pak Bagas lama banget sih mandi nya...
"Tante.. siapa? kok ga di buka pintunya" celetuk Zaidar dengan polosnya.
Aduh semakin intens Nyonya Nia memencet bel nya.. Batin Dara mendengar suara bel cukup risih.
"Sebentar Tante buka dulu" kata Dara membuka perlahan pintu itu..
"Lama sekali" ucap Ibu Nia sambil mendorong cepat pintu hingga Dara terhuyung mengikuti pintu yang terbuka cukup kencang akibat di dorong.
"Mana Bagas???" Ucapnya dengan sikap Arogan.
"Assalamualaikum, omah... " Zai bersikap sangat manis sampai terlihat ketulusan hatinya ia mengucapkan salam untuk ibu Zai.
"Waalaikumsalam.." ketus ibu Nia menjawab.
"Dimana Bagas?!" ulangnya karena tidak ada jawaban dari Dara maupun Zai.
"Pak Bagas di atas, Bu.. sedang mandi" kata Dara sopan sambil merangkul Zaidar dalam dekapannya.
"hemm..." Ibu Nia berjalan menuju sofa.
"Saya heran ya, kenapa Bagas bisa berkali-kali jatuh cinta sama wanita murah.. " kata Ibu Nia ketus.
Merasa tersentak, Dara berbisik pada Zai ..
Sayang.. tunggu papa di kamar kamu yaa.. biar Tante yang menemani omah ngobrol.. Bisik Dara,Zai pun menuruti perintah Dara dan bergegas naik ke lantai dua apartemen dimana kamarnya berada.
__ADS_1
"Maaf Bu... maksud ibu tadi, apa?" kata Dara cukup berani.
"Hemh.. Zaidara Sham... Puteri dari Bapak Sham... nama kamu mirip ya dengan anak kecil menyebalkan itu"
Astaghfirullah... kenapa sampai dia tahu nama asliku...Dara membatin.
"Maaf Bu..Zai anak yang baik" kata Dara memberi kesaksian.
"Baik bagimu..Bagiku? Hem, tidak ada sama sekali kata baik bagi anak yang terlahir dari seorang wanita tak memiliki kehormatan!" Tajamnya ibu Nia Berucap membuat Dara mengucap istighfar berkali-kali, pelan..
"Dan wanita itu hanya menghabiskan uang anakku saja, bodohnya Bagas" celetuk ibu Nia
Oh apa mungkin yang di maksud mbak bunga mawar mama nya Zai? dia kan sudah lama terbaring sakit ... pasti butuh biaya besar. - Dara membatin
" Eh sekarang kamu yaa mencoba masuk ke kehidupan Bagas lewat anak menyebalkan itu" terkekeh kecil nyonya besar itu.
Dara shock mendengar ucapan ibu Nia yang sangat menyakitkan.
Sontak hal itu membuat Dara tak mau tinggal diam..
"Maaf , sepertinya ibu salah paham!" Dara berbicara sedikit tegas.
"Pertama, saya hanya murni sebagai pengasuh Zaidar karena saya butuh uang untuk hidup .. " Dara berbicara memberi penekanan .
"Lalu... tidak ada kedekatan yang melebihi batas antara pegawai dan atasannya ...". Dengan Bernai dara berbicara tegas.
"berani sekali kamu berbicara panjang kali lebar, menggurui saya , kah?" Marah ibu Nia, tidak menyangka jika Dara cukup berani membela dirinya
"Tidak ada yang menggurui disini, Saya bicara murni dan jujur.. " tambah Dara
..."Lebih baik Ibu memahami keadaan kita saat ini.....
"Nampaknya Alex sudah mengajarimu menajadi seorang pekerja yang bisa semena-mena yaa terhadap kami atasan kalian"
"Maaf Bu .. saya tidak mengajari, apalgi menggurui... murni saya disini Karena memang ingin bekerja" Tegas dara berucap.
Ibu Nia begitu kesal, tak senang mendengar perkataan Dara yang ia anggap terlalu menusuk hatinya.
Ia pun melayangkan tangannya hendak menampar pipi dara..
"Mamaaaa!!!!"
*
*
*
Nahloh... kena ga ya guys kira-kira 🥺
__ADS_1