
"Sudah siap?" Tanya Bagas pada Dara yang duduk di sofa menanti Bagas menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerjanya.
"Sudah dong" ucap Dara.
"Zaidar juga sudah pergi kah?" Ucap Bagas merasa apartemen nya sepi.
"Lima menit yang lalu dia berangkat, kasian pak Rega terus di rengek nya.." kata Dara.
"Haha biarlah.. hemm yasudah ayo berangkat.." kat Bagas yang akan mengantar Dara menuju rumahnya
"Iya ayok pak" berdiri Dara bersiap untuk kembali kerumahnya menikmati kebersamaan bersama keluarganya.
"Tunggu dulu" bagas menyetopkan langkah Dara..
"Kenapa?" Bingung Dara yang seketika menghentikan langkahnya.
"Hemm.. Mulai sekarang jangan panggil aku Pak lagi, aku mumet mendengarnya" kata Bagas mulai protes.
"Hah? Ya aku mau panggil apa lagi?"kata Dara bingung .
"Terserah, asal jangan bapak" ucap Bagas.
"Mas? Hemm ... itukan panggilan mbak Mawar ke bapak..!! Hemm apa Aku panggil akang? Hemm ga enak di lidahku, abang? Abang bagas? Hahahahaahah" Dara tertawa terbahak-bahak membuat Bagas yang merasa asing ikut tertawa kala itu.
"Aku bingung..hahaha" tambah Dara.
"Yasudah, kalau kamu bingung.. panggil aku sayang saja" kata Bagas hingga Dara seketika menghentikan tawa nya.
"Tidak mau" kata Dara malu-malu.
"Bebeb mau?" Goda Bagas
"Tidak juga" timpal Dara.
"Hemm yaudah terserah kamu deh.. Tapi ingat, jangan panggil saya Bapak.." tambah Bagas.
"Panggil apa yaa?" Dara berfikir sejenak.
"kalo Mas aja gimana? Sama tapi dengan panggilan mbak Mawar " kata Dara terkekeh kecil.
"Sama juga dengan panggilan kamu ke Mas Gustaf mu itu kan.." kata Bgas memicingkan matanya sinis.
"Hihi.. memang dia ku panggil Mas Gustaf sejak aku masih belia.. " kata Dara semakin membuat Bagas jengkel.
__ADS_1
"Hemm.. sudahlah! Apapun panggilanmu asal jangan Bapak, ayo berangkat" Bagas tak ingin terlalu terlihat cemburu saat itu, bergegas ia lebih dulu meninggalkan apartemen menuju area parkir mobilnya.
Dasar laki-laki.. cemburu saja gengsi, cemburu itu ngambek dong kaya perempuan - Kata Author sambil menulis hehehe Tapi bener kan ya? Perempuan mana komennya yaa hehehe 🙋♀️
*
Malam ini Dara tentu menghabiskan waktunya dirumah dimana ia di besar kan dengan kesederhanaan. Kondisi ayah Dara kini nampak sudah semakin membaik dan terlihat lebih berisi dan bugar.
"Mbak.. kenapa aku tidak pernah melihat Pak Bagas di kantor tempat aku bekerja?" Ucap Zhufar adik Dara.
"Dia bekerja di kantor pusat.." kata Dara singkat sambil berbalas pesan dengan susan, sahabatnya.
"Lalu, kapan kamu bisa kembali bekerja di Jakarta, Dara? Ibu kadang khawatir melepas anak gadis ibu bekerja di luar kota seorang diri" kata Ibunda Dara mencurahkan rasa khawatirnya.
Dara sedikit tekrjut dengan perkataan ibunya itu, Dara meletakkan ponselnya sesaat.
"Buu.. Ayah.. ada yang mau Dara katakan.."
"Dara mau Jujur sama ibu dan Ayah.."
Jantung Dara berdebar cukup kencang, jika mengikuti rasa takutnya tentu ia tidak akan sampai hati menyampaikan kejujurannya, yaa meski Dara merasa takut jika kedua orang tuanya akan marah, namun ia sudah memantapkan hatinya, ia harus jujur karena sudah tak sanggup lagi memendam kebohongan tersebut..
"Ada apa, Dara? ibu kok jadi dekdekan ya?" Ucap ibu sambil memegang dadanya.
"Hemm Dara sebelumnya minta maaf sama ayah dan ibu.. mungkin kejujuran ini akan membuat kalian kecewa" kata Dara menambah rasa penasaran kedua orang tuanya juga Zhufar adik dari Dara.
Dara kemudian berkata jujur, ia menjelaskan kronologi dimana dia di pecat hingga Dara di terima menjadi baby sister Zaidar. Tidak ingin membuat orang tuanya kecewa terpaksa Dara berbohong, Mendapt tugas di luar kota adalah alasan Dara kala itu.
Rasa kecewa kedua orang tua Dara tentu ada. Namun di balik itu semua tentu mereka menghargai Dara yang mau bekerja keras menafkahi keluarganya.. Permohonan maaf Dara di terima dengan lapang oleh kedua orang tuanya.
Ku rasa, biarkan aku ungkap dulu satu hal ini.. kalo aku bicarakan soal hubunganku pada Pak Bagas tentu ibu dan ayah akan semakin kaget mendengarnya..
"Kalo begitu, lebih baik kamu berhenti saja bekerja.. kan sudah ada zhufar, kamu bisa membahagikan Ayah dan Ibu dengan menikah bersama Gustaf.."
DENG!!! ucapan Ayah Dara membuat Dara terkejut seketika, bagaimana itu kembali terucap dari mulut Ayah Dara.
"Ayah.. bisakah Ayah tidak membahas hal itu lagi?? Jika memang aku harus menikah, bisakah pilihan itu datang dari hatiku?" Kata Dara berbicara membuat Keheningan sesaat.
"Apa kamu punya kekasih?" Tanya Ibu Dara.
"Jangan sembarangan memilih pasangan hidup nak, carilah pria yang baik budi pekerti juga akhlaknya.." ucap Ayah Dara.
"Gustaf sudah paket komplit menurut Ayah" tambahnya berbicara.
__ADS_1
"Mas Gustaf sudah Dara anggap sebagai Kakak yang selalu melindungi Dara, rasanya Dara tidak bisa mencintai dia secara lebih,Ayah.. Ibu."
"Apa kamu punya kekasih? "Tanya Ibu Dara lagi.
"Dara masih memantapkan hati bu.. Dara masih ragu untuk mengatakannya sama kalian, yang jelas Dara benar-benar tidak bisa menikah dengan Mas Gustaf, dia seperti kaka bagi Dara.." Dara berbicara berusaha meyakinkan kedua orang tuanya dan juga adiknya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Ayah sebenarnya berharap kamu bisa menikah dengan Gustaf.. tapi ayah juga mau kebahagiaan menyertai kehidupanmu nantinya.. "
"Terimakasih Ayah, Ibu.." Dara merasa lega, beruntung Dara memiliki kedua orang tua yang cukup bijak dalam mendidiknya.
**
Pagi yang Cerah bagi Dara, usai membantu ibunya di dapur dan sarapan pagi bersama, Dara merebahkan tubuhnya di kamar sambil berbalas pesan singkat dengan Bagas.
Selayaknya insan yang sedang jatuh cinta, Dara tersenyum, tertawa hingga tersipu malu setiap ia mendapatkan balasan pesan singkat dari Bagas..
Ah menapa ada rasa rindu ya sama Pak Bagas? Dia benar-benar membuatku seperti bukan diriku saat ini.. apa benar kata orang di luar sana? Jika orang yang tengah jatuh cinta, pare yang pahit akan terasa manis jika di makan berdua kekasih.. ahhh benar-benar membuatku hilang akal sehat jika begini..
Dering ponselnya mengejutkan Dara dalam lamunannya , panggilan masuk dari nomer ponsel yang tak ia kenal.
"Siapa ya?" Ucap Dara memperhatikan layar ponselnya.
Dara ragu namun terbesit rasa penasarannya.
"Aku angkat sajalah, siapa tahu penting.." ucapnya.
Mata Dara membulat terkejut, jantungnya berdebar cepat dan pikirannya melayang menerka hal yang ia takuti saat itu.
Setelah panggilan itu usai, Dara bergegas untuk bersiap.
Apa yang akan di bicarakan oleh ibu Nia? Kenapa aku tidak boleh berkata apapun dengan pak Bagas kalo Mamanya ini ingin bertemu berbicara berdua bersamaku.. hemm..
Dara sudah rapih dengan pakaian sederhananya, Dara berpamitan pada ayah juga ibunya untuk pergi.
*
*
*
Deg Deg-an deh.. Apa ya yang mau di bicarakan Ibu Nia?? Ada yang tau? Komen yaa , like ny sekalian hihi
Kalo komen nya keren keren aku up lagi sore heheh❤️❤️😘
__ADS_1