Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
BT - 39


__ADS_3

"Saya mau serius, bicara... apa kamu bisa menjadi pendengar yang baik, Dara?" kata Bagas melirik Dara dengan tatapan tajam.


melirik saja bagai ujung pisau yang runcing.. bagaimana aku bisa menolaknya? Batin Dara sambil mengangguk, tak ada pilihan lain.


"Kamu pernah jatuh cinta?" kata Bagas matanya nampak kosong memandang lurus.


"Hemm belum.. Hanya sekedar cinta jaman sekolah saja.. kenapa pak?" tanya Dara dengan polosnya.


"Cobain deh Dar, rasanya pasti kamu akan bahagia bila bersama orang yang tepat, tapi jika salah.. rasanya sangat perih dan menusuk" kata Bagas membuat Dara menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Kemana arah nya sih.. apa pak Bagas mabuk, ya? ucap dara dalam hatinya bingung.


"Seperti saya, saya salah menaruh hati.. saya terjebak oleh cinta yang salah" kata Bagas membuat Dara terdiam..


Dara menghela nafasnya ..


"Pak .. Bukankah cinta itu suci ya? jika memang ada kesalahan dalam mencintai mungkin itu adalah cara takdir merubah takdir agar lebih baik lagi... " kata Dara.


"Semua Dari Tuhan itu pasti adalah hal yang terbaik loh untuk kita, sebagai manusia yang memiliki rasa, rasanya wajar saja jika kita sekejap kecewa dengan takdir yang ada..." Kata Dara menambahkan ucapannya.


"Saya takut akan melepaskan Mawar, saya rasa ini adalah hal yang harus saya lakukan saat ini selain mempertahankan hidup .." kata Bagas memijat kepalanya.


"Jika melepaskan adalah pilihan hati, mungkin itu adalah cara Tuhan menghadirkan sebuah ke ikhlasan bapak yang bisa saja berbuah manis dalam percintaan kedepan nya... kita mana tahu?" kata Dara berbicara sambil mengangkat kedua bahunya.


"Apa yang kamu takutkan saat ini, Dara?" tanya Bagas.


"Saya hanya takut pada Tuhan, tapi jujur saja sebagai manusia tentu saya takut kehilangan orang yang saya cintai, saya takut orang tua saya tak bahagia di masa tua nya .." kata Dara dengan tawa kecilnya.


"Apa saya bisa melepaskan Mawar? "


"Bisa dong pak .. asal bapak yakin, dan bapak bisa membuka hati bapak untuk orang lain... hadirkan orang lain pak, pasti cepet move on" kata Dara menaik turunkan alisnya.


Bagas melepas senyum tipis nya.


"Oh iyaa.. maafkan sikap ibu saya, ya? sejak papa saya meninggal dunia, sikap mama berubah, takut sekali saya tidak bisa mempertahankan harta ini, menilai orang dari segi materi, mohon maaf .."


"Tidak apa, beliau terlihat baik meski ucapannya menyakitkan" kata Dara jujur lalu ia menutup mulutnya hingga Baga terkekeh.


"Maaf ya pak..." tambah Dara tertawa kecil.


"Tak apa, mama memang orang baik kok .. entah apa yang membuatnya seperti ini..." kata Bagas menjelaskan.


"Hemm sudah pak tak usah di pikirkan, lebih baik bapak istirahat... saya hendak pergi ke kamar saya untuk istirahat" kata Dara merasa tak ingin melanjutkan perbincangan nya dengan Bagas malam itu karena kantuk yang luar biasa.


Bagaspun mempersilahkan Dara beristirahat malam itu..


*


Dua bulan berlalu..

__ADS_1


Selama dua bulan berlalu, Bagas masih berusaha menjalin hubungan baik dengan adiknya, Rega.


Rega mendekam di jeruji besi selama dua bulan, hingga akhirnya Bagas mencabut tuntutannya setelah Rega mengakui kesalahannya.


Niat Rega menghancurkan perusahaan karena ia begitu kesal karena Bagas selaku memenangkan banyak hal dalam segi bisnis dan percintaan baginya..


Namun , Rega salah.. Bagas sama sekali belum mendapatkan cinta dari mawar hingga saat ini.


Bagas masih menyimpan rapat, siapa Zaidar.. jika Bagas menceritakan siapa Zaidar, maka Rega akan menyesal merancang penculikan Zaidar demi memenangkan segala hal, berusaha menghancurkan Bagas lewat konsentrasi nya yang akan terbagi pada Zaidar.


Selama dua bulan terakhir, Bagas menghabiskan waktu untuk bekerja, dan membahagiakan Zaidar, bahkan ia sama sekali tidak mengunjungi Mawar di rumah sakit.. hingga pihak rumah sakit pun meminta Bagas untuk segera memberi keputusan mengenai penanganan Mawar.


Hari ini... Dengan sengaja Bagas meminta Dara dan Zaidar mendatangi rumah sakit untuk bertemu dengan Mawar.


Ini kali pertama Zaidar datang menemui Mawar.


Penuh tanya, yaa pasti itu akan menjadi hal yang wajar.


"Terimakasih sudah mau mendampingi Zaidar hari ini" ucap Bagas lirih.


Dara hanya tersenyum dan menatapnya.


Dara memegang bahu Zaidar yang nampak bingung melihat Bagas masuk seorang diri kedalam ruang perawatan.


Zaidar dan Dara hanya melihat dari kaca saja saat itu, sampai Bagas akan memintanya untuk masuk .


Bahas menyentuk tangan mawar yang nampak dingin, kurus dan kering...


"Apa kamu merindukanku?"


"Mawar... kamu adalah bungaku, bunga hatiku.. yang segar, merekah, harum dan indah di pandang... Tapi Itu dulu...!" Bagas menekan perkataan akhirnya.


"Kamu tahu kah? aku sudah ikhlas melepas cintamu, Mawar.. akan aku jadikan ini sebagai kenangan cinta.. ternyata benar, disaat aku belajar ikhlas melepas, dan menghadirkan sosok baru, aku merasa lebih menikmati hidupku..."


"Maaf aku terlalu egois, Mawar.. "


"Aku akan menjaga Zaidar, seperti anak kandungku.. dan menjadikan dia buah dari cintaku padamu.. "


"Mawar... maafkan aku, aku harus melepas mu... itu adalah cara terbaik untuk membuatmu bahagia disana" kata bagas cukup gemetar.


"Mawar... Aku sudah mempunyai keputusan untuk memperkenalkan Zaidar sekali lagi dengan sosok indah dirimu ..."


Bagas tertunduk, air matanya jatuh di atas punggung jemari Mawar.


Bagas menghapus air matanya, ia menoleh ke arah jendela dimana Dara dan Zaidar tengah menatapnya .


Bagas mengangguk sebagai tanda bahwa ia meminta Dara dan Ziadar untuk masuk.


Berdebar jantung Dara kala itu.. ia membawa Zai masuk.

__ADS_1


"Dia siapa , Tante..." pelan zaidar bertanya dengan suara gemetar dan memegang jemari dara erat.


"Zai.. kemarilah sayang" Bagas memanggil Zaidar agar berada di dalam peluknya.


Zaidar berlari mendekati Bagas.


"Zai... selama ini kamu terus bertanya, mana mama, mana mama... iya kan?"


Tanya Bagas suaranya pelan dan lirih.


Zaidar hanya mengangguk.


"Zai ..ini adalah mama kamu... mama mawar ... dia wanita yang melahirkan kamu" kata Bagas..


Dari posisi berjarak ya, Dara sudah menitihkan air matanya.


"cium tangan mama, nak" kata Bagas..


Zai melirik ke arah Dara yang tengah menangis.. Dara bergegas mengangguk sambil mengusap air matanya.


Zaidar meraih pelan tangan lemas Mawar... lalu menciumnya dengan sedikit keraguan.


"Mama..." ucapnya dengan kaku.


Bagas tak kuasa menahan air matanya, begitupun dara yang sudah terasa sesak menangis haru tanpa suara.


"Zaiii... mama sedang sakit.. andai nanti mama hanya bisa sembuh saat di rumah Tuhan, di atas sana... Zai harus ikhlas ya?" kata Bagas suaranya sangat lirih gemetar penuh haru.


Zaidar hanya terdiam...


"nak... peluk mama, nak.." pinta Bagas lalu Zidar memeluk tubuh mawar yang nampak kurus itu.


"Katakan sesuatu nak... ungkapkan saja" kata Bagas berbisik pada Zaidar.


"Mama ... aku menyayangi mama, aku punya mama.. aku harap mama bisa segera sembuh, berkumpul bersamaku dan papa .." kata Zai selayaknya harapan seorang anak kecil..


Astaga ... aku ini kenapa.. kenapa sangat sakit me dengar ucapan kamu Zai .. astaghfirullah.. Dara membatin dari kejauhan.


Bagas pun menyadari hal itu hingga ia meras cukup, dan bergegas mengajaknya untuk meninggalkan tempat tersebut.


"Mah... see you again, i hope mama cepat bangun agar bisa tidur bersama Zai. i love you" ucapan itu sangat haru, air mata Zai tumpah dan membasahi tangan mawar.


*


*


*


Haiii.. apa kabar? HAPPY NEW YEAR ALL 😘😘

__ADS_1


jangan lupa like komen vote dan gift nya ya..


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2