Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
HENDAK BERTEMU


__ADS_3

Dara tidak mengetahui kalau Bagas melihatnya berboncengan dengan Gustaf saat itu, tidak ada selintaspun di pikiran Dara kalaupun Bagas akan mengetahuinya...


Setibanya dirumah.. Dara cukup terkejut karena Ayahnya tengah sakit dan itu sudah tiga hari lamanya.


Yaa Tuhan, jadi mas Gustaf tadi di apotik besar untuk mencari obat Ayah...


Rupanya Keberadaan Gustaf di apotek Itu untuk membeli beberapa obat untuk Ayah Dara. Dengan sangat kecewa Dara saat menjadi orang yang terakhir yang mengetahui keadaan ayahnya yang tengah sakit itu... betapa kedua orang tuanya tidak ingin jika Dara yang tengah bekerja merasakan kekhawatiran.


"Kita kerumah sakit saja ya, Ayah?" Ucap Dara dengan sendu.


Dara hampir saja menangis namun masih dapat ia tahan.


"Tidak..ayah akan baik-baik saja, hanya masuk angin saja" ucap Ayah menolak ajakan Dara.


"Tapi ayah..Sudah tiga hari demam ayah ga turun, itu bisa jadi ada infeksi yang tidak kita ketahui" ucap Dara sangat khawatir.


"Insya Allah ayah akan baik-baik saja, Nak..." Ucap singkat Ayah.


"Kalo begitu, Ayah istirahatlah.. Dara kedepan dulu .."


Dara membiarkan ayahnya beristirahat sejenak, ia menuju ruang tamu dimana Gustaf tengah beristirahat sambil menikmati teh hangat yang ini Dara sajikan.


"Mas... kenapa mas Gustaf ga kasih tau Dara kalo ayah sakit?" ucap dara sedikit menampakkan kekecewaan nya.


"Maaf Dara.."


"Dara.. ibu dan ayah yang meminta nak Gus tidak bicara dengan kamu" kata Ibu membela Gustaf.


"Tapi Bu... kalo begini, Dara merasa sangat bersalah.." kata Dara sendu.


"Pokoknya kalo besok pagi Ayah masih saja demam tak ada perubahan kondisi, kita bawa kerumah sakit." kata Dara sedikit tegas.


Ibu dah Gustaf hanya terdiam melihat kekecewaan bercampur rasa khawatirnya Dara.


"Ibu sudah makan?" tanya Dara nampaknya meja makan terlihat sangat kosong.


"Sudah tadi siang, nak Gustaf yang belikan makanan...Maaf ibu gak sempat masak, hanya masak bubur untuk Ayah" kata Ibu yang memang tidak mengetahui kepulangan Dara.


"Tak apa Bu.. kita kan bisa beli" kata Dara tersenyum.


"Mas, bisa antar dara beli makan malam?" Sambung Dara kemudian pada Gustaf.


"Bisa, Dara.. apakah kamu tidak lelah?" Tanya Gustaf penuh semangat.

__ADS_1


"Biar aku saja yang beli...Sendiri" kata Gustaf berfikir Dara baru saja melakukan perjalanan jauh dari luar kota.


Dara tersenyum..


"Tidak lelah, beli dekat sini saja... sebentar aku ganti pakaian yang lebih santai" kata Dara bergegas ke kamarnya.


Apa aku mimpi ya? kenapa Dara mau pergi keluar bersama ku? apa benar kata pujangga di luar sana.. Perempuan tidak bisa di kejar, Tapi di perhatikan...


Gustaf membatin senang.


Tak lama Dara keluar , dengan kaos santai berwarna merah muda.


"Ayo mas, sebelum magrib di jalan" kata Dara membuat Gustaf begitu bersemangat.


Dara berhenti di sebuah kedai yang menjual beberapa menu makanan.. Dara dan Gustaf menunggu selagi menu yang ia pesan siap untuk mereka bawa pulang.


"Banyak sekali kamu pesan" kata Gustaf membuka obrolan baru..


"Ada yang untuk Ibu mu, mas..." kata Dara tersenyum..


Hemm ku pikir aku bisa makan malam bersama Dara dirumahnya... ternyata, ahhh terlalu percaya diri aku ini...


Setibanya dirumah Dara, Gustaf yang meras agak enak hati pun berpamitan pulang, meski tidak bisa makan bersama Dara setidaknya ia sudah melepas rindunya bersama dara meski kebersamaannya hanya sekejap saja.


"Biasanya kalo sudah di apartemen pasti laporan, ini ko enggak yaa" kata Dara dengan cemasnya.


Dara yang tak tenang pun mengirimkan pesan singkat untuk Bagas.


Malam pak... sebentar lagi jam makan malam.. Zai makan dengan apa malam ini?


Dara mengirimkan pesan singkat itu.. satu dua menit hingga sepuluh menit berlalu tidak ada jawaban yang berarti dari Bagas. Merasa kesal, Dara memilih mandi dan bersiap untuk makan malam bersama ibu dan Ayahnya.


Makan malam Dara kali ini sedikit berbeda, mereka berkumpul membawa piring masing-masing dan makan di kamar kedua orang tuanya demi menyenangkan Ayah nya yang sedang sakit.


"Bagaimana pekerjaan kamu? apa tidak melelahkan?" tanya Ayah Dara.


"Tidak Ayah, aku senang bekerja disnaa.." ucap Dara sambil makan.


"Syukurlah... kapan adikmu ingin pulang?" tanya Ayah lagi..


"Bulan depan ayah, bulan depan kontraknya habis, aku memintanya untuk bekerja di sini saja supaya rumah terasa lebih ramai" kata Dara.


"Bekerja disini susah,Dara... terlalu banyak saingan dari segi pendidikan juga orang terdekat" kata Ayah Dara.

__ADS_1


"Insya Allah ada saja rejekinya, Ayah... apalagi Zhufar pandai komputer, pasti terpakai keahliannya itu" kata Dara penuh keyakinan.


Tenang saja ayah, pak Bagas sudah setuju kalo Zhufar akan bekerja di kantor cabangnya.. setidaknya ada yang menjaga ayah dan ibu saat malam hari... Batin Dara yang memang sudah berbicara secara to the poin pada Bagas atas kekhawatiran nya terhadap kedua orang tua nya saat malam hari.


*


Di tempat lain...


"Papa... tumben sekali papa memperbolehkan aku memakan junk food begini..." polos Zaidar melihat beberapa Ayam goreng tepung yang begitu wangi di hadapannya.


"Iya papa pikir tak apa sesekali saja" kata Bagas.


Dengan sengaja Baga mengirimkan foto itu pada Dara... Dara sangat menjaga Zaidar , Dara juga sangat melarang Zaidar memakan makanan junk food.


Dara pasti kesal... Batin Bagas seolah mencari Maslah..


Belum sempat Bagas mengirimkan foto tersebut, ponselnya menerima panggilan masuk..


Alex, yaa Alex yang menghubunginya.


Malam itu dengan rasa bimbang terpaksa Bagas bergegas menuju rumah sakit bersama Zaidar.


Yaa... Bagas tidak ada pilihan lain selain membawa Ziadar ke rumah sakit.


Hatinya tak sepenuhnya ikhlas mempertemukan Zaidar dengan Mawar untuk pertama kalinya saat mawar sadar dari koma nya.


Bagas tidak memiliki pilihan lain karena mawar menangis merengek ingin keluar dari rumah sakit mencari Zaidar..


Lain dengan kekhawatiran Bagas.. Zaidar begitu riang gembira, ia menghabiskan makan malamnya dengan cepat bersih tak tersisa, lalu penuh dengan keceriaan Ziadar selama perjalanan menuju rumah sakit.


Hancur hati bagas melihatnya, Tidak bisa dibayangkan jika Zaidar benar-benar tahu kalo ia bukanlah anak dari dirinya.. Apakah akan tetap bersinar wajah bahagia Zaidar? akankah Zaidar tetap menyayangi Bagas?


*


*


*


Apa yang akan terjadi kemudian??? Hehehe


mari beri dukungannya dulu yukk ❤️


Like Komen dan Rate..

__ADS_1


Jika berkenan memberikan Mawar atau kopi juga boleh banget donk 🥰


__ADS_2