
Rega memukul Bagas begitu kencang hinga membuat Bagas tersungkur dan mengalami lebam pada bagian pipinya.
"Kamu tega kak, Zaidar anakku dan kamu menyembunyikannya! kurang ajar" kesal Rega dengan nafas terengah-engah.
"Kamu lebih dari kurang ajar! kamu biadap! tidak bermoral!" Bagas berdiri menantang Rega.
"Jika kamu tulus mencintai Zaidar, kenapa kamu menjadikan dia alat untuk membuat aku hancur dan terpuruk?? hah??? adakah hati nuranimu? dimana jalan pikiranmu? kamu membuat Zaidar menajadi asing di negara lain?" Bagas berbicara tegas dan menekan.
Seketika Rega terdiam lemas, mengingat kejadian beberapa waktu lalu dimana Rega sangat ingin membuat Bagas hancur, dalam banyak hal.
Bisnis dan kehidupan pribadinya, Rega menjadikan Zaidar sebagai alat untuk membuat Bagas hancur.
"Diam? diam kamu meratapi perbuatan mu?" kata Bagas.
"Secara diam-diam kamu bermain cinta saat aku berpaccaran dengan mawar, dengan mudah kamu menidurinya berkali-kali hingga dia hamil..." kata Bagas menahan sakit pada dadanya mengingat hal tersebut.
"Sakitku bertambah saat mama menentang keras hubunganku dan kau hanya diam.. HAHAHA" Bagas benar-benar kalut saat itu.
"Rupanya, mama menentang aku karena mama tidak mau kamu terpuruk dan patah hati karena cintaku pada mawar, hahahaha iya kan??" goda Bagas dengan wajah kesal nya.
"Kak....Kamu salah" elak Rega.
"Jangan berfirkir buruk kak, kamu sudah salah paham" tambah Rega.
"Hahaha aku adalah Kaka tertua, aturan mama benar adanya, bahwa aku harus terus menjagamu, mengalah dan terus mengalah padamu kecuali urusan perusahaan, akulah mesinnya" Bagas benar-benar emosional saat itu.
"KAK!!! tidak seperti apa yang kamu ucapkan, bahkan mama pun menentang kedekatan aku dengan mawar, percayalah.." kata Rega meyakinkan.
Seketika keduanya di kegetkan dengan larian cepat beberapa suster yang mendekat ke arah mereka.
"Ada apa suster??" tanya Rega penuh dengan kepanikan..
"Pasien menghubungi nampaknya ada serangan jantung mendadak lagi.." kata dokter jaga saat itu.
Bagas dan Rega seketika panik, keduanya terdiam saling memandang.
Dua puluh menit berlalu.. Dokter datang menemui kedua pria itu yang sejak tadi menunggu penuh dengan kecemasan.
"Ibu Mawar tidak boleh stres pak, darahnya tinggi dan serangan jantung tadi bisa membuat kondisinya sangat buruk bahkan bersifat fatal" kata dokter tersebut.
"Selanjutnya akan saya berikan laporan pada Dokter spesialis terkait, pak.." Tambah dokter.
Adik kakak itu hanya terdiam saja saling memandang..
"Mawar mulai mencintaimu, kak" kata Rega pelan, Bagas mendengar namun memilih untuk acuh saja.
__ADS_1
"Bawalah kebahagiaan datang untuk kehidupan keduanya kak, aku mundur.. aku lebih baik menderita tapi melihat orang yang aku sayangi bahagia" kata Rega pelan, Bagas hanya terdiam saja memikirkan ucapan Rega.
Aku tidak bisa begini terus.. hatiku terenyuh perih- batin Rega seolah tegar meski hatinya sangat rapuh.
Bagas tidak menjawab apapun, memilih pergi meninggalakan Rega adalah cara terbaiknya saat itu..
Bagas terdiam di dalam mobilnya saat itu.. melamun hinga terlelap tidur.
*
Dara sibuk menghubungi Bagas saat pagi hari menjelang, entah mengapa Dara merasa khawatir memikirkan Bagas.
Apa pak Bagas sibuk berada di rumah sakit bersama mbak Dara? Membatin Dara.
Dara pun terkejut saat bel berbunyi.. Hatinya berkata dia adalah Bagas.
Yaa benar, Bagas kembali dengan wajah yang nampak sangat letih itu..
Bagas berjalan menuju sofa, ia menyenderkan kepalanya yang terasa sangat berat itu.
Dara berinisiatif membawakan secangkir teh hangat dengan roti bakar.
" Terimakasih" kata Bagas pada Dara.
Tak lama berselang, pintu apartemen terbuka.. Alex datang bersama ibu Nia yang memasang wajah seriusnya.
Merusak mood saja.. Batinnya.
"Bagas... apa yang kamu ceritakan pada Rega" kata Ibu Nia membuat Bagas menghela nafasnya kasar.
"Rega lagi, yaa Rega lagi" kata Bagas.
"Apa yang dikatakan Rega, mah?" Tambahnya.
Astaga.. sepertinya semua sudah berada di ujung tanduk, apakah semua akan terkuak saat ini? Tuhan.. Jika itu benar, kuatkan aku.. kuatkan Bagas... Batin Alex merasa sudah tak tenang.
"Nyonya, sebaiknya bicara dengan kepala dingin dulu.. jangan sampai membuat resiko buruk pada kesehatan nyonya.." selak Alex memberi nasihat.
"Diam kamu Alex, kamu harusnya bisa menejelaskan padaku tadi, jadi aku tidak perlu membuang waktuku kesini" kata Ibu Nia kesal.
Menemui Alex untuk mendapatkan sebuah penjelasan nampaknya hanya harapan semata, Alex bungkam dan memilih Bagas yang akan menjelaskan nya secara langsung.
"Cukup mah, Paman... kepala ku sangat sakit! Bisakah kalian tidak berdebat disini?!" kata Bagas kesal.
"Kalo begitu lebih baik kamu istirahat..." ucapnya pada Bagas..
__ADS_1
"Nyonya.. biarkan Bagas beristirahat" kata Alex pada Ibu Nia.
"Tidak bisa! aku hanya akan menanyakan satu hal, tidak lebih" kata Ibu Nia.
"Kamu tenang saja Alex, bangkai apapun akan tercium meski sedalam lautan kita kubur" kata Ibu Nia berbicara dengan tegas membuat Bagas bingung.
"Sebenarnya ada apa?" bingung Bagas membuat keduanya memfokuskan diri pada Bagas.
"Bagas.. Jawab pertanyaan mama..!!" Tegas ibu Nia berbicara.
astaga.. benar-benar membuatku pening.. apa yang akan terjadi jika itu benar-benar di ungkapkan oleh Nia??? Sungguh keterlaluan kamu Nia, janjimu pada Surya tidak kamu tepati kalo sampai kamu mengucapkan hal tersebut. - Alex membatin dalam hatinya.
"Baik... Bagas akan jawab pertanyaan mama, selagi itu menyakitkan akan Bagas jawab.." kata Bagas berusaha dengan tegar berkata.
kenapa paman Alex begitu serius? kenapa paman juga begitu tegang? ada apa? feelingku mama hanya akan menanyakan siapa Zaidar? - Bagas membatin sambil emnatap wajah cemas Alex.
"Bagas...apa benar, anak kecil itu adalah Anak dari Rega? jelaskan pada mama" tambah ibu Nia dengan nada biacara yang cukup tinggi.
"Namanya Zaidar, aku memberi namanya Zaidar.. mama tau itu.." Kesal Bagas.
"Oke Zaidar.. silahkan kamu jawab.. apa benar Zaidar adalah anak Rega???" kata Ibu Nia.
"Hmmm, yaa.. benar! Zaidar adalah anak Rega.. Anak yang di kandung oleh Mawar sebelum kami resmi menikah" Kata Bagas begitu sakit mengucapkan pernyataan itu.
"Astaga" ibu Nia terkejut sedikit shock.
"Jadi, Zaidar Cucuku?" Tambahnya memegang dadanya.
Bagas menoleh penuh tanya.. Tatapannya menajam ke arah ibu Nia, dan Alex nampak terlihat sangat panik.
"Cucu mama? apa maksud mama?" Tanya Bagas membuat Alex terlihat pucat.
Astaga Nia... kamu benar-benar membuat masalah baru dengan ucapan mu itu.. Alex membatin.
"Mah... selama ini apa dia bukan cucu mama?? jika dia adalah benar anakku? Apa dia bukan cucu mama?" Bagas bertanya penuh dengan penekanan, ibu Nia mendadak diam dengan lidah yang kelu.
Alex dan Ibu Nia terdiam.. Bagas semakin bingung kala itu..
"Kenapa kalian kompak berdiam diri????? Jawab pertanyaanku, Mama....??" Bagas seolah menekan ibu Nia dengan rasa penasarannya.
*
*
*
__ADS_1
haii semua.. jangan lupa yaa, like komen dan vote kalian aku tunggu.. next up pasti lebih seru ehehehe..
❤️❤️❤️