
Dara meraih helai demi helai tissue untuk menghapus air matanya juga cairan dari hidungnya itu. Yaa.. Dara tengah menangis sesegukkan seorang diri dikamarnya, hingga matanya mulai memerah dan sedikit bengkak.
Zaidar yang baru saja pulang dari sekolahnya pun langsung menuju kamar Dara, betapa terkejutnya Zaidar mendapati Bundanya tengah duduk di tengan kasur sambil menangis penuh haru.
"Bunda.. Bunda kenapa?" Panik dan penuh kekhawatiran terlihat dari wajah bocah kecil itu.
"Ah, tak apa.. sudah pulang ya kamu?" Dara berusaha mengalihkan perhatiannya, menghapus seluruh airmatanya.
"Sudah, aku baru saja pulang, Bunda.. kenpa Bunda menangis? siapa yang membuat Bunda menangis?" Begitu detail pertanyaan pria kecil itu dengan segenap kekhawatirannya.
"Bunda hanya merindukan Papamu saja, sudah satu jam Bunda menghubungi Ayahmu namun tidak ada jawaban apapun.." Dara seperti gadis kecil saja yang tengah bercerita pada sahabatnya.
"hem.. mungkin Papa sedang sibuk, papa tadi berangkat dengan sangat terburu-buru.." Pria kecil itu berucap seolah menjelma seperti seorang pria dewasa.
"Tapi tidak seperti biasanya, pesan dan telfon Bunda di abaikan sampai satujam loh.." tangis Dara semakin menjadi.
Tak lama kemudian, dering ponsel Dara membuat kedua orang itu memusatkan pandangannya ke arah ponsel itu.
"Itu papah telfon, Bun.." ucap Zaidar antusias.
"Biar saja, Bunda sudah malas.. Bunda sudah cukup lama menunggu respon dari papamu..." kesal Dara membuat zaidar binggung.
bunda ini kenapa? tadi menangis karena Papa tidak menjawab telfonnya, sekarang malah mengabaikan telfon papa.. aneh sekali.
Demngan inisiatifnya, Zaidar meraih ponsel itu dan menerima panggilan dari Bagas.
Dara sanghat acuh, tidak memperdulikan sikap yang di lakukan Zaidar.. Sementara itu, Zaidar dengan luwes dan penuh semnagat menceritakan keadaan Dara, sedikit memarahi Bagas yang sempat mengabaikan Dara saat itu, namun keanehan Zaidar juga mengundang rasa heran pada diri Bagas."Sayang.. tadi aku masihbaru saja turun dari pesawat, aku bukan mengabaikan pesanmu apalagi telfonmu karena aku pun langsung di sambut oleh client, bukankah Paman Alex sudah memebri kabar padamu?" Bagas berucap sejujurnya dalam pangilan telfon yang sudah Zaidar nyalahkan mode Loudspeakernya.
"Memang paman Alex itu suamiku, ya? memang aku mengirimkan pesan pada paman Alex? kenapa harus dia?" Dara bersikeras dengan perasaannya saat itu. mempertahankan gengsinya saat itu.
Bgas nampak menghela nafasnya.
"Baiklah sayang, aku salah.. aku minta maaf ya? kamu jangan menangis lagi, aku jadi ingin cepat pulang dan memelukmu.."
Ucapan Bagas membuat Dara sedikit panik saat itu karena keberadaan Zaidar.
"Ada Zaidar di sampingku, jangan kamu keluarkan gombalanmu itu.. malu" ucap dara berbicara pelan di arah lubang speaker pada ponselnya.
Merekapun akhirnya menyelesaikan panggilan itu dengan tenang tanpa ada sebuah poerdebatan lagi..
__ADS_1
*****
Bagas tengah duduk santai usai menyelsaikan meetingnya, kini dirinya hanya duduk berdua dengan Paman Alex..
"Gas.. Bulan depan Mawar dan Rega akan kembali ke Indonesia, mereka sepakat akan menikah dan memulai semuanya dengan lembaran baru.." Paman Alex membuka pembahasan baru yang cukup serius penuh kejutan.
"Baguslah itu yang ku nanti.." Ucap Bagas yang tidak terlihat antusias.
Alex mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa? baru pisah delapan jam dengan Dara saja sudah murung begitu.." Ucap paman Alex terkekeh meledek Bagas.
"justru itu paman, aku merasa kini Dara berubah.." Ucap Bagas dengan sendu tak bersemangat.
"Berubah? apa dia memiliki kekuatan super sehingga ia mampu berubah?" Paman Alex memeberi guyonan ringan untuk merelaxsasikan keadaan.
"Haahh, Paman ini.. aku serius Paman, Dara saat ini jadi banyak berubah.."
"Berubah yang bagaimana? apa dia menyakitimu?" Ucap Paman Alex cukup serius.
"Heemm.. hampir satu pekan ini dia jadi lebih centil, senang sekali menggoda diriku.." ucap Bagas dengan polosnya ia bercerita.
"HAHAHA" gelak tawa paman Alex pun pecah.
"haishhh.. kalo itu sudah pasti, tapi centil yang aku maksud bukan itu juga paman.." ucap Bagas berusaha memaparkan isi hatinya.
"Lalu apa?" ucapnya bertanya.
"Yaa dia lebih centil, memakai pakaian kini serba senada dari atas hingga bawah, memakai makeup meski sederhana tapi untuk keberadaanya yang stay dirumah adalah hal yang aneh bagiku, belum lagi, semua sabunku, parfum ruangan hingga lilin aroma therapy pun semuanya beraroma girly..." Bagas mencoba memamaprkan apa yang ia alami.
"lalu? anehnya dimana? mungkin saja ia ingin jadi lebih baik saat ini dengan merupah penampilannya jadi lebih kece" ucap Paman Alex mencoba berfikir positif..
"Aku tau bagaimana isteriku, paman.. dia hanya memakai makeup saat keluar rumah, dan berpakaian dengan warna senada itu bukanlah Dara, ia lebih menyukai pakaian simple nyaman dan santai, tidak harus semua senada.." Ucap Bagas dengan segala kebingungannya.
"hmmm aku curiga sesuatu.." Ucap paman Alex.
"Apa? apakah Dara memiliki pria lain di belakangku?" UCapa Bagas dengan sponta. Paman Alex juga dengan spontan melempor sendok kecil yang baru saja ia gunakan untuk mengaduk kopi.
"Jangan sembarangan kalau bicara, itu bukan Dara...!" kesal apaman ALex,
__ADS_1
"Maaf paman, lalu apa yang paman maksud itu? curiga" Tanya Bagas.
"Baiklah aku akan tanya dulu beberapa hal, semoga kamu peka..." ucap paman Alex cukup serius sampai merubah psosisi duduknya menjadi lebih tegak menandakan keseriusannya.
"Berapa lama usia pernikahanmu?" Tanya PAman Alex serius.
"Dua bulan, paman.."
"Selama dua bulan, apakah isterimu sudah datang bulan?" tanya paman ales membuat Bagas mengerutkan keningnya.
"Paman ini tidak sopan sekali bertanyanya.."
"Jawab saja!" kesal Paman Alex
" hemm.. sebentar aku ingat-ingat.. hemm aku rasa belum, aku hampir setiap hari melakukan aksiku itu.."
"Sungguh penuh nafsu sekali ya dirimu.."
"Maklum saja paman, selagi halal dan ikmat siapa yang akan bosan?" ucapnya santai
"tapi pertanyaan paman itu, apa maksudnya?" bingung bagas.
"Dasar polos atau bodoh?! perubahan isterimu bisa jadi karena ia hami..!" ucap Paman Alex membuat Bagas terdiam sejenak sambil berfikir..
"Astaga, Paman.. apa iya Dara tengah hamil anakku?" ucapnya setelah merasa yakin akan ucapan paman alex.
"Bodoh sekali dirimu Bagas?! kamu ingin Dara hamil anak siapa? sungguh ucapanmu itu membuat aku naik darah saja!" kesal Paman Alex.
"Maaf paman, jantungku berdebar kencang, ada rasa senang dan bahagia mendengar ucapanmu tadi, jika benar Dara hamil, aku sangat bahagia.."
"Besok sebelum sampai dirumah, beli lah alaat test kehamilan dan mintalah Dara untuk mengeceknya, saat ini kamu hanya perlu menjaga mood dan menuruti keinginanya saja, bisa jadi Dara juga tidak paham soal kehamilan, karena ini adalah hal pertama dalam hidupnya.
Wajah Bagas nampak bersinar di hiasi senyuman lebar, meski itu hanyalah pendapat dari Paman Alex namun ia menaruh harapan besar pada ucapan tersebut bisa menjadi kenyataan. Bagas semakin tak sabar ingin segera kembali kerumah, meski masih dua hari lama nya ia harus berada di luar kota.
*
__ADS_1
Guys.. beneran hamil gak ya? kalau hamil, kita kerjain bagas ya sebagai pelaku utama.. hihi.
thanks suportnya guys :)