Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
BT - 27


__ADS_3

"Pak .. meeting apa, ko dirumah sakit?" Tanya Dara bingung.. Ini adalah kali pertama Dara pergi bersama Rega.


Memakai pakaian kantor yang cukup formil terlihat Dara bagaikan wanita karir yang selalu ia idam-idamkan.


Sepanjang perjalanan Dara melepas senyumnya, bahkan sejak pertama kali ia bekerja Dara selalu melepas aura positif nya hingga banyak sekali ya g mengaguminya dalam kesederhanaan Dara.


Namun Dara yang memang selalu ingin tahu banyak hal serta memiliki sikap konyol yang sulit ia lepaskan, Dara sedikit membuat Rega sakit kepala di buatnya.


"Bisa kah kamu diam dan ikuti saja langkah saya?" kata Rega kesal sejak perjalanan Dara membuat kepala Rega ke bawelan nya.


Huh salah lagi, mungkin temen meeting nya sedang sakit ya disini.. yaa maklum aku harus maklum... Batin Dara sambil menghela nafasnya.


Dara mengikuti langkah kaki Rega dalam diam.. hingga tiba di sebuah area yang terlihat sangat steril dan privacy..


"Siang mas..." sapa seorang suster.


"Siang, saya mau masuk" ucap Rega tegas kemudian suster itu tersenyum dan memimpin jalan mempersilahkan Rega..


"Tunggu saja disini..." ucap Rega meminta Dara menunggunya di luar ruangan kaca. Dara awalnya menunggu tanpa melirik ke kanan dan kiri, ia asyik membaca beberapa komentar di akun media sosial nya terkait postingannya yang terlihat elegant dengan pakaian kantornya.


Namun terlalu lama menunggu dara melirik ke selah tirai yang terbuka..


Dara mendekat sambil mengerutkan keningnya.


"Siapa yang sakit? Apa nyonya besar?" kata Dara kembali memusatkan pandangannya pada wajah pasien.


"Ah bukan, itu masih sangat muda.. siapa dia?" kata Dara penasaran..


"Mbakkk" tegur suster membuat Dara terkejut.


"Astagaaaaaa... suster bikin kaget saja..." ucap Dara sambil mengusap dadanya.


"Maaf.. hemm saya hanya ingin menyampaikan pesan mas Rega, kalau mbak bisa tunggu di ruang tunggu" kata Suster itu dengan ramahnya..


"oh.. baik, Terimakasih" kata Dara sedikit malu karena dirinya terpergok tengah mengintip kegiatan Rega dengan seorang pasien.


Dara berjalan ke sebuah ruangan dengan dinding kaca transparan, Dara duduk di ujung sofa seorang diri.


Secara tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya melihat dengan mata membulat..


"Pak Alex? ada apa dia telfon aku ya" kata Dara sedikit bingung.


Dara memutuskan untuk menerima panggilan masuk itu.


Assalamualaikum... iya pak..


Waalaikumsalam.. Dara, bisa kamu bantu saya?


Bantu? bantu apa ya pak?


Saya tau, kamu sedang berada dirumah sakit, bisa kah kamu mencari informasi siapa yang tengah terbaring dirumah sakit yang di temui Rega???

__ADS_1


hmm maaf pak, saya ga berani.. ini privacy pak Rega ..


Ini peritnah, kamu bisa saya pecat dari pekerjaanmu yang sekarang kalo saya mau!


mendengar Ancaman itu, terpaksa Dara mengikuti perintah Alex.


Dara melihat Rega baru saja keluar ruangan tersebut usai melepas baju steril yang ia gunakan..


"Sedang apa kamu?" tanya Rega.


"Baru saja menerima telfon dari ibu saya" Dara berbohong.


"Kita lanjut meeting" kata Rega memimpin jalan.


Huh untung pak rega ga curiga ya..


Rega mengendarai mobilnya saat itu .. Dara duduk di sampingnya dengan cemas .


Aku harus mulai dari mana? - batinnya.


"Kenapa kamu?" kata Rega menyadari kegelisahan Dara.


"Hah? saya ya? hemm saya cuma penasaran aja pak" kata Dara melawan kegugupannya.


"Penasaran soal apa?" tanya Rega.


"Wanita yang tadi , siapa pak?" ucap Dara dengan jantung berdebar cukup kencang , ia sungguh takut jika Rega akan marah padanya .


Rega terkekeh melebarkan tawanya .


"Masa kamu tidak mengetahui dia siapa?" kata Rega membuat Dara melirik Rega sinis.


"Kalo saya tau kenapa juga harus bertanya? hmm" kesal Dara.


"Dia hanyalah sebuah ruang untuk saya bercerita, berkeluh-kesah hingga tempat menaruh rasa..." kata Rega begitu ambigu.


"Aduh.. aduh .. pusing sekali ya mencerna ucapan bapak .." kata Daara menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Rega kembali tertawa kecil.


"Kamu ini bertanya, saya jawab, kenapa kamu bingung dengan jawaban saya?" kata Rega meledek.


"Bisa kah to the poin saja? siapa dia?" kesal Dara sedikit ketus saat itu merasa kesal atas guyonan Rega.


"Dia orang terbaik dalam hidup saya" kata Rega...


"Dia sakit apa?" tanya Dara..


"Tidak, dia tidak sakit.. dia hanya tengah tertidur saja sampai waktu benar-benar menghapus sebuah kenangan" kembali Rega menggunakan kata-kata ambigunya.


Dara menghela nafasnya merasa kesal dengan jawaban yang tak bisa ia pahami dengan pemikiran nya..

__ADS_1


*


Di tempat lain..


"benar-benar gila .. bisa-bisanya dia membawa Dara kesana .. apa maksudnya?" kesal Bagas usai menerima laporan atas kedatangan Rega dengan dara di rumah sakit.


"Cepat bawa hasil rekaman itu, Alex.. lama sekali" kesal Bagas bergitu penasaran, apa yang di lakukan oleh Rega di dalam sana? .


"sedang dalam perjalanan, Tuan.. kita tunggu saja dengan tenang" kata Alex membuat Bagas menghela nafasnya.


Ponsel Alex bergetar menandakan pesan masuk..


Sebuah rekaman suara Dara berikan, dara hanya ingin memberikan infomasi yang tidak di lebih dan di kurangi, untuk itu dara berinisiatif untuk merekam percakapan mereka.


Alex mendengar rekaman suara itu bersama dengan Bagas.


Bagas semakin memanas mendengar ucapan Rega saat itu.


"Alex perketat sekarang pengintaian tentang Rega, saya yakin banyak sekali hal yang sudah ia lakukan di belakang kita..." kata Bagas berdecak kesal .


"Laksanakan, Tuan" kata Alex dengan tegas .


Tak lama berselang, dua orang pria datang membawa hasil rekaman yang berhasil menangkap keberadaan Rega di dalam ruangan perawatan, serta rekaman suara disana.


Dua anak buah itu mempersiapkan dengan sangat hati-hati dan cepat demi kepuasan Bagas yang tengah menggebu-gebu saat itu..


Hingga terputar rekaman video tersebut.


Bagas dan Alex hanya mendengar berdua kala itu, mendengar dengan jantung berdebar hingga rasa kaget yang tak terlupakan seumur hidup Bagas.


Bagas menatap nanar wajah Alex , seperti kode bahwa hatinya kini tengah hancur..


KURANG AJAR!!! Bagas bergitu emosional, ia memukul meja kerjanya yang terbuat dari kaca tebal hingga retak terlihat..


Tangganya mengepal hingga memerah wajahnya penuh amarah.


"Paman!! bunuh sana Rega!!! bunuh"


Bagas begitu emosi ia tak mampu mengontrol ucapannya saat itu, bahkan Bagas juga melempar sembarang berkas yang ada di sudut meja kerjanya saat itu..


Alex mencoba menenangkan Bagas saat itu . Alex paham bagaimana Baga terlampau kecewa dengan sikap Rega.


*


*


*


Ada yang tahu ga? apa yang di lakukan oleh Rega? hehehe


Btw maaf ya up nya malam.. karena masih harus curi-curi perhatian dia, ehhh maksudnya curi-curi waktu untuk menulis hehehe..

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan rate yaa yang gratissss... kalo ada rejeki boleh ya satu tangkai bunga atau satu cangkir kopi tanpa gula,, Karen sudah manis melihat kamu membaca hihihi... ❤️❤️


SEHAT SELALU ALL 😘


__ADS_2