
"Daraaaaa" Ibu Nia memanggil Dara cukup kencang.
Dara yang baru saja menyelesaikan mandinya bergegas membuka pintu kamarnya. Dengan handung masih menyelimuti rambut basah Dara.
"Iya bu, ada apa?" Ucap Dara sedikit khawatir melihat wajah Ibu Nia yang terlihat sedikit memerah kesal.
"Benar-benar yaa Bagas itu, dia sampai memakai jasa MUA untuk merias kamu malam ini... apa kamu ya yang meminta?" Ucap Ibu Nia memberi tuduhan pada Dara.
"Astagfirullah bu..." Data terkejut dengan ucapan itu..
"Saya sama sekali gak tahu, bahkan mau di ajak makan malam pun saya baru tahu.." Dara mencoba membela dirinya.
"Hemm sudahlah, percuma memang berbicara dengan insan yang tengah mabuk cinta" kesal Ibu Nia sambil membalikan badan melangkah jauh meninggalkan Dara.
Dara masih terkejut , sejenak ia duduk di atas kasur nya sambil memegang dadanya.
"Huuhhhhh" Dara menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
"Kenapa sih Pak Bagas jadi berlebihan begini..Tapi apa benar dia akan melamarku malam ini?" Dara bermonolog pelan.
Dara hanya pasrah dalam relungnya yang tak tenang, gelisah penuh rasa cemas.
Dara memakai sebuah dress hitam dengan riasan wajah dan hair do yang terlihat terlihat sangat natural.
Dara menatap dirinya dari pantulan cermin di kamarnya.. Ia melepas senyumnya.
Yaampun ini si Dara? Cantik banget yaa aku? Kalo bisa berdandan setiap hari begini pasti banyak nih laki-laki yang mengejar aku.. Dara bercermin sambil sedikit bergaya di hadapa cermin.
Yaa Tuhan, aku beneran mau di lamar? Apa yang harus aku katakan nanti.. Dara meraih ponselnya ia menyambungkan pangilan pada Susan demi mendapatkan sebuah pendapat sahabatnya.
Tidak ada jawaban..
"kemana si lo, San! Pasti dia tidur.." kata Dara berdecak kesal.
Tokk.. Tokk.. Tokkk
"Mbak Dara..." suara ketukan pintu dan panggilan seseorang sungguh mengejutkan Dara.
"Iya Kak.." Dara berteriak menjawab panggilan seorang wanita yang merias wajah Dara.
"Mbak, sudah di tunggu bapak di mobil.." ucapnya.
Aduh.. gimana ini... Dara membatin panik.
"Oh iya satu menit lagi" Ucap Dara menjawab.
"Yuk Dara, Bismillah.. tarik nafas... buang.. tarik nafasss buangggg" Dara ememimpin dirinya sendiri demi meraih sebuah ketenangan dirinya.
Dara kemudian keluar kamarnya, terlihat sangat sepi keadaan aprtemen Bagas saat itu, Dimana zai? Dimana ibu nia? Kenapa sepi sekali yaa? Dara membatin hingga akhirnya ia memutuskan saja untuk bergegas menuju mobil.
__ADS_1
Dara terkejut saat ia membuka pintu akses khusus.
"Astagfirullah " Dara terkejut saat Bagas sudah berdiri melebarkan senyumnya.
"Mas.. kamu ini" Dara mengatur nafasnya.
"Cantiknyaaa malam ini" puji Bagas nampaknya benar-benar terbuai akan pras cantik kekasihnya.
"Jangan membuatku terbang melayang" kata Dara tersipu malu.
"Hemm.. kalo kamu terbang akan aku tangkap dong..." goda Bagas melepas senyum Dara.
"Kita berangkat sekarang" kata Bagas sambil mengengam satu tangan Dara.
Berjalan secara beriringan menuju mobil yang sudah menunggunya itu.
Perjalanan terasa sangat cepat bagi Dara, debar jantungnya berpacu semakin kencang.. Bagas menyambutnya turun penuh bahagia.
Dara ikut menyungingkan senyumnya, Dingin terasa bagas merasaka tangan Dara akibat rasa nervous yang mulai Dara alami sejak tadi.
Kembali berjalan sambil ber gandengan mereka menelusuri lobby hotel hingga tiba mereka di depan ruangan.
"Makan di dalam, mas?" Tanya Dara saat berhadapan dengan sepasang pintu yang tinggi huga besar.
Iya kita makan di dalam.." Jawab bagas tersnyum.
"Mas.. kok cuma satu table?" Tanya Dara celingukan bingung.
Langkah pertama keduanya mengundang alunan musik klasik romantis menambah suasana yang begitu membuat Dara semakin merasa terhipnotis dengan keadaan saat itu.
"Silahkan duduk" ucap Bagas saat usai ia memberi kursi pada Dara.
Seorang pelayan darang menbawakan menu maknan untuk keduanya setelah Bagas duduk dan mentap lekat wajah Dara.
"Terimakasih" ucap Dara pada pelayan tersebut.
"Silahkan makan" kata Bagas yang tak henti melebarkan senyumnya.
"Senyum terus, kering gigi mu loh" kata Dara terkekeh. Bagas pun tidak menjawab dengn perkataan hanya senyum yang ia perlihatkan.
Di tengah Dara makan, ia menemukan sebuah gulungan kecil di dalam mashed potato milik Dara.
"Apa ini" kata Dara, Bagas hanya menaik turunlan bahunya bertanda bahwa dirinya tidak mengetahui.
"Kok ada kay ginianya, seperti hadiah Jajanan anak kecil saja" Dara terkekeh begitu juga dengan Bagas.
"Buka ah, barangkali hadiahnya seribu rupiah" tambah Dara hingga membuat Bagas melepas tawanyasambil menggelengkan kepalanya.
Benar-benar sulit anak ini ku ajak romantisnya.. kata bagas membatin.
__ADS_1
Dara.. silahka tepuk tanganmu dua kali, maka suasana akan berubah ..
"Mas ini apa??" Bingung Dara usai membaca.
"Mas ini kerjaan kamu ya?" Kata Dara.
"Enggakkk..bukan aku, suer deh" Bagas mengacungkan Jari manis juga jari tengahnya.
"Terus ini di coba ga?" Kata Dara
"Coba dong, sayang.." Kata Bagas membuat Dara tersipu malu.
Dara menepuk kedua tangannya, Dua kali.
Seketika lampu padam.. hanya ada lampu sudug yang tak seberapa menerangi ruangan megah itu.
Sebuah cahya yang langsung mengundang perhatian Dara kala itu, sebuah layar besar mulai menanpakkan sinarnya, saat itu pula Bagas beranjak dari kursinya.
Ia bersimpuh di hadapan Dara..
astagfirullah apa ini.. aku kenapa jadi sangat dekdekan..
"Mas kamu ngapain sih, bangunnn" Dara masih snagat bingung.. pria yang menjadi seorang atasannya kini berlutut di hadapannya mengenggam kedua tangannya.
Bagas memberi kecupan pembuka di kedua tangan Dara penuh kemesraan. Cahaya lampu sorot kini fokus pada keduanya, dengan lantunan mesra musik romantis yang menambah suasana semakin terasa indah dan hangat.
"Kamu tau, Dara... butuh waktu lama aku menemukan penawar sakit di dalam hatiku... tapi saat aku menemukan penawar itu, rasa skaitku hilang dengan begitu cepat.."
"Mungkin bagimu, ini terlalu cepat.. tapi entah kenapa dan memgapa hatiku selalu berbisik meyakinkan diri ini untuk segera mungkin mengutarakan dan meyakinkan kamu, aku serius...."
Dara terlihat sangat pucat, lidahnya kaku dan kelu saat itu.. Tangannya menggengam erat jemari Bagas sebagai tanda dirinya benar-benar gugup tak percaya.
"Aku juga ingin membahagiakan Ayahmu, Ibumu terlebih adikmu.. aku sangat mendukung ke inginan kamu memberikan kebahagiaan yang layak untuk mereka.. maka aku ingin mendampingimu, berjalan melangkah bersama membahagiakan orang-orang yang kita cintai dengan satu niat yang sama..."
"Daraa.... Jadilah pendamping hidupku, jadilah ibu Dari anak-anakku.. dampingi aku saat ini sampai Tuhan benar-benar memisahkan kita dengan maut"
Dara semakin tak kuasa, air matanya berlinang penuh cinta dan bahagia.. Dibalik kebahagiaanbya terselip setitik kekhawatiran tentunya mengingat Ibu Nia dan Kedua orang tuanya..
Lalu, Apakah kekhawatiran itu membuat Dara mundur??? hemm kira-kira apa yang akan Dara katakan yaa??? Gooo Next Chapter 😁
*
*
*
Hai semuaaa, selamat sore .. maaf baru bisa up, karena kesibukan dunia nyataku sedang menuntut heheh..
TETAP DUKUNG BADAR YAA🌹🥳
__ADS_1