Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
ISI HATI BAGAS


__ADS_3

Mawar meyakinkan bahwa dirinya dalam keadaan baik-baik saja. Bagas begitu kesal pada siuasi saat itu, jika tidak berfikir bahwa Rega adalah anak kesayangan Ibunya mungkin Bagas sudah menghabisi Rega saat itu juga.


Dara hanya bisa diam saat Bagas memukul Rega karena terlalu kesal.


"Mandikan Dia!!" Perintah Bagas pada dua orang bertubuh kekear itu.


Secara paksa Rega di seret menuju kamar mandi.


Tinggallah Bagas, Alex, Dara dan Mawar di ruang tamu yang nampak sedikit berantakan itu.


"Rega begitu kalut.." ucap Alex.


"entah sampai kapan dia akan terus seperti ini" kata Bagas merasakan pusing pada kepalanya.


"Maaf Mawar, apa kamu yang mengizinkan Rega masuk ke sini?" keteus Alex bertanya.


"Iya.. Maaf paman, aku tidak berfikir sepanjang ini.. dia terus memohon untuk masuk..." kata Mawar yang sudha menangis.


"Kamu tahu, Rega masih mencintaimu??" Tambah Alex sangat ketus.


"Mawar, kembalilah pada Rega, aku sudah ikhlas melepasmu..."Tambah Bagas sangat menusuk hati Mawar.


Dara ingin sekali pergi menjauh, terlalu privasi baginya..


"Mas.. apa kamu tidak sadar dengan ucapanmu?" kesal mawar menahan skait dan sesak pada dadanya.


"Sadar .. sangat sadar.." Ucap Bagas.


"Astagfirullah.. Zaidar" Dara teringat pada sosok Zaidar, bergegas Dara berlari di ikuti oleh Bagas.


"Aku menguncinya.." kata Dara membuat Alex menepuk keningnya.


"Bisa-bisa nya dia melupakan Zaidar" pelan Alex berucap.


Karena panik, Dara membuka pintu dengan kunci dengan sedikit kesulitan.


"Bagaimana bisa kamu melupakan Zai, Dara" kata Bagas dengan nafas nya yang terengah-engah.


"Namanya panik pak, justru saya mau membuat Zai aman" kata Dara.


"Zaiiii" teriak Bagas saat pintu terbuka.


"Pak.. dia di dalam sana" kata Dara menujuk kearah kamar mandi , Bagas mengerutkan keningnya heran.


"hah??" Bagas shock.


"Saya ingin Zai lebih aman..." Tambah Dara.


"Yang benar saja, Dara..." Bagas sedikit khawatir.


"Zaiii" ucap dara sambil membuka pintu.


"Hai..." Zai terlihat tengah memainkan sabun di sebuah wastafel yang ia tutup.


"Aku sedang bermain gelembung" kata Zaidar meniupka balon dari jemarinya yang ia satukan membentuk lingkaran.


Bagas mengehla nafasnya dengan senyum..

__ADS_1


"Kita sudah panik, dia malah asyik bermain" kata Bagas pelan.


"Papa.. apa om Rega masih marah-marah? mama bagaimana?" kata Zaidar teringat betapa kencang suara Rega .


"Om Rega hanya akting, sudah yuk cuci tanganmu.." kata Bagas.


"Zai laper deh" kata Zaidar polos.


"Kamu stay disini sama Tante, di bawah papa sednag banyak urusan, akan papa order makanan untukmu, ya?" Bagas tak ingin Zaidar melihat keadaan yang tak bersahabat saat itu.


"Iya kita dikamar aja yaa, Tante temenin" kata Dara melebarkan senyumnya.


Bagas pun meninggalkan Dara dan Zaidar di kamar tersebut. Ia menuruni anak tangga dengan malasnya menatap mawar yang tengah menunggunya.


"Zai kenapa, mas?" Tanya Mawar khawatir.


"Tidak kenapa-kenapa hanya sedang bermain.." Cuek Bagas sambil berjalan ke arah kamar mandi.


Bagas sangat emosi melihat adiknya itu, melihat wajah nya yang selalu menganggap Bagas adalah musuh dalam selimut nya.


Bagimu, aku adalah Kaka yang akan selalu menyerangmu.. nyatanya, kamu yang menusukku, menjadikan aku nusuhmu.. Batin Bagas.


"Gantikan pakaiannya, bawa dia ke sofa jika sudah selsai" Tambah Bagas bergegas meninggalkan kamar mandi itu.


*


Hingga saat dimana Rega tersadar, menyadari pakaian yang sudah berbeda dan keberadaannya saat itu...


"Kenapa ini" ucapnya yang baru saja terbangun, ia mengucek mata nya hingga mencubit pipinya.


"Sudah Sadar?" Tegur Alex hingga Bagas yang tengah melihat berkas pekerjaan nya di sebuah laptop akhirnya melirik ke arah Rega.


"Kakak.. Paman" Sapa Rega pada Bagas juga Alex.


"kenapa tidak mati suri saja!" Celetuk Bagas sambil mengalihkan pandangannya.


"Kak..." Rega mendenga ucapan Bagas.


"Kenapa? mau marah? silahkan marah! Aku sudah capek dengan sikap mu, Rega!" kesal Bagas.


"Kamu mau apa? perusahaan? bawalah, seperti kamu pernah membawa Pergi Mawar dan Zaidar dari hidupku!!!" Celetuk Bagas membuat Rega tertunduk.


"Maaf"


"Yaa!! memang hanya maaf yang bisa kita ucapkan, Apa itu menyembuhkan luka di hatiku??? bisa???!!" Bagas nampaknya cepat sekali menaikkan emosinya saat mengingat betapa sakitnya mengetahui isterinya berkhianat dengan adiknya sendiri.


"Kak.. Ta-"


"Stop!! Hati manusia tidak ada yang tahu, Rega!"


"Aku akan melepas,Mawar.. Jaga dia seperti janjimu padanya.! Aku menyerah!" kata Bagas berdiri menahan emosi bercampur kesedihannya.


"Tidak!!! aku bukan barang, mas!" Muncul Mawar yang begitu sedih mendengar ucapan Bagas.


"Kak, maafkan aku.. tapi murni aku lebih dulu mencintai mawar, sejak kami berada di bangku sekolah!" kata Rega.


"Hahahaha!! Maksudmu??? aku yang menikung? hahaha" Bagas tertawa cukup kencang, tanpa sepengetahuan Dara yang baru saja menidurkan Zaidar pun turun dari lantai dua hendak menuju kamarnya untuk beristirahat karena hari sudah cukup malam.

__ADS_1


Aduh... ga sengaja denger tapi seru kayaknya.. Dara mengurungkan niat utamanya, ia memilih untuk duduk di area tangga yang tertutup tembok namun suara percakapan mereka dapat terdengar sempurna oleh Dara.


"Laki-laki pengecut!!" kata Bagas penuh tawa.


"Kamu tak tahu, ya? Kalo kamu cinta kejar, perjuangkan! kenapa kamu merelakan dia bersamaku? hah????" kesal Bagas menunjuk Bagas dan Mawar dengan telunjuknya.


"Dan Kamu!!!" terarah pada Mawar.


"Aku seorang laki-laki, Mawar.. secara akal sehat seharusnya aku jijik dengan kamu, Jijik....!!!" Ucapan yang begitu tegas dan beberapa tekanan.


"Tenyata sebelum sah menjadi istriku kamu bermadu cinta dengan pria lain, yang tak lain adalah adikku sendiri...hahahaha lelucon sekali kisah percintaan ini..." Bagas nampaknya benar-benar akan mengungkapkan meresahkan hatinya.


"Bahkan hal yang paling menyakitkan adalah aku tahu kamu hamil meski kita belum melakukan hubungan tu" Teriak Bagas penuh emosi, ucapannya benar-benar di luar kendali.


"Apah???" Respon Rega yang belum memahami ucapan Bagas.


"Bagas!!" Tegur Alex spontan berdiri.


"Cukup!! hentikan omong kosongmu itu" Tamabah Alex dengan kesalnya.


"Omong kosong??? tentu omonganku penuh dengan isi dan makna, agar mereka tahu bagaimana keadaan hatiku" kata Bagas menentang Alex.


"Apa maksud Kaka?!" Tanya Rega penasaran atas ucapan Bagas.


"Astaga.... Mas...." Nampak terpukul mawar saat itu.


Mawar meremas bajunya menahan sakit dadanya.


"Aaakkhhh" keluh mawar semakin sesak..


"Mawar!! Rega berlari ke arah mawar, wajahnya sangat panik.


"Mawar kamu kenapa??" Alex ikut mendekat.


"Bawa kerumah sakit, segera!" Pinta Alex.


"Bagas kamu keterlaluan, kali ini paman kecewa dengan kamu, Bagas! kamu melupakan janjinmu sendiri.!!" Alex membentak Bagas yang nampak terdiam kaku melihat Mawar merintih kesakitan.


Dengan cepat Rega juga Alex membawa Pergi Mawar...


"Astaga.. ada apa? mbak mawar kenapa?" Dara mendengar ucapan Bagas di sambung dengan teriakan histeris Rega dan Alex pun bergegas turun.


Jantung dara berdebar kencang melihat Mawar seperti orang sesak nafas dengan wajah pucatnya.


Dengan jelas pun Dara mendengar ucapan Bagas, memaki Mawar begitu dalam.


**


*


*


*


Haii semua, beberapa part kedepan akan mengandung perbawangan dan perkesalan yaa hehe


jangan lupa dukungannya ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2