Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
KENYATAAN PAHIT


__ADS_3

Astaga Nia... kamu benar-benar membuat masalah baru dengan ucapan mu itu.. Alex membatin.


"Mah... selama ini apa dia bukan cucu mama?? jika dia adalah benar anakku? Apa dia bukan cucu mama?" Bagas bertanya penuh dengan penekanan, ibu Nia mendadak diam dengan lidah yang kelu.


Alex dan Ibu Nia terdiam.. Bagas semakin bingung kala itu..


"Kenapa kalian kompak berdiam diri????? Jawab pertanyaanku, Mama....??" Bagas seolah menekan ibu Nia dengan rasa penasarannya.


Alex angkat bicara..


"Lebih baik kamu istirahat, nak.. paman lihat kamu begitu lelah.. " kata Alex membuat Bagas menyunggingkan bibirnya sambil terkekeh kecil.


"Tidak, aku harus mendengar penjelasan mama.." kata Bagas tertuju pada ibu Nia.


Penjelasan apa? mama rasa tidak ada yang perlu mama jelaskan, Bagas" kata Ibu Nia sedikit gugup, kedua tangannya saling meremas satu sama lain.


"Jangan bohong mah! Bagas bukan anak kecil yang mudah di bohongi" tegas Bagas berucap.


"Bahkan Raut wajah kalian berdua sungguh aneh.?!" kata Bagas melirik keduanya secara bergantian.


"Paman... apa paman mau bercerita?" kata Bagas dengan tatapan matanya yang memicing ke arah Alex.


"Paman? paman tidak mau bercerita, dan Tidak ada yang harus di ceritakan, Bagas" kata Alex berusaha sangat tenang meski Bagas bisa membaca raut wajah Alex yang tengah berbohong.


"Mah..." tegur Bagas membuat ibu Nia memandang Bagas lagi.


"Ada apa?" kata ibu Nia yang nampaknya juga cukup gugup kala itu.


"Hem... Jelaskan mah, kenapa baru mama katakan Zaidar adalah cucu mama saat mama tau dia adalah anak Rega?" kata Bagas dengan lantangnya.


"Bagas lupakan itu, mama hanya salah bicara" kata Ibu Nia.


Ada apa ini? apa aku bukan anak kandung mama? Bagas membatin dengan pikiran nya yang meluas jauh.


"Hemm..Apaa aku bukan anak mama??" Ucap Bagas.


Alex terdiam kaku ebgitupun ibu Nia.


"Apa benar begitu?" kata Bagas.


"JAWAB!!!!" Teriak Bagas yang sudah cukup sulit menahan amarahnya.


Suara melengking Bagas cukup terdengar dari lantai dua Dimana Dara tengah memebersikan beberapa sudut ruangan di lantai dua.


Tersntak ibu Nia dan Alex kala itu.


"Kalian terdiam... kekompakan ini bisa menjadi jawaban? Tolong jelaskan atau aku akan mencari tahunya sendiri!!" kata Bagas mengancam.

__ADS_1


"Tunggu... tenanglah dulu" sambar Alex cepat.


"Nia... Jelaskanlah apa yang sudah kamu ucapkan tadi, pertanggung jawabakanlah ucapanmu.." kata Alex.


"Apa kamu gila?" ucap Ibu Nia pada Alex pelan.


"Kamu yang sudah gila, berbicara tanpa berfikir panjang! keterlaluan" kata Alex menimpali.


"Jangan Berdebat!!! Jelaskan saja!!!" kata Bagas.


"Baik.. mama akan jelaskan" kata Ibu Nia.


Ibu Nia berjalan untuk berpindah duduk berada di samping Bagas, ia meraih tangan Bagas dan mengengamnya.


"Bagas... mama minta maaf.. maaf sayang" kata ibu Nia dengan suara gemetarnya.


Bagas menatap wajah ibu Nia, air mata menetes perlahan di pipinya.


"Jelaskan mah, jangan menangis" kata Bagas tak kalah lirih.


"Mama sayang sama kamu, meski..." ucapannya tertahan karena Isak tangis ya.


Mas Surya, Hari ini tiba.. Semoga kamu memaafkan kami... Batin Alex tertunduk .


"Meski.???" Bagas menimpali.


"Meski kamu bukan anak yang lahir dari rahim mama, nak" ucap Ibu Nia dengan Isaknya.


"Maafkan mama..." ibu Nia menangis sambil terus


mengenggam tangan Bagas.


"Bagas.. Paman minta maaf" kata Alex dari posisinya.


Bagas menarik tangannya lalu berdiri.


"Kalian menyembunyikan semua dariku??? lalu siapa aku? kenapa aku ada disini?? kenapa??" Bagas berbicara sangat lantang.


"Bagas.. kamu tetap anak Surya, kamu adalah anak Surya" kata Alex memberi sebuah kenyataan.


"Siapa ibuku?" kata Bagas bingung.


"Kamu adalah anak dari kekasih hati papa, mama datang sebagai calo isteri papa kamu yang sudah di jodohkan oleh orang tua kita... "


"Papa sangat mencintai perempuan itu.. Hingga papa mau menikahi mama dengan catatan papa harus memiliki anak dari kekasihnya" kata Ibu Nia.


"Apah???" Bagas terkejut mendengar penjelasan itu.

__ADS_1


"Mama hanya memikirkan sebuah kejayaan keluarga mama, sehingga mama menerima persyaratan itu.." kata Ibu Nia dengan Isak tangisnya.


"Bagas.. jangan berfikir macam-macam, paman adalah saksi.. papa kamu menikah dengan mamau secara sirih.. setelah mamamu hamil ia menikah dengan mama Nia.." kata Alex memberi pe jelasan agar Bagas tak berfikir jauh mengenai ayahnya..


"Siapa ibuku? diamana dia?" Bagas lemas, darahnya seakan tak mengalir meski jantungnya berdebar cukup kencang saat itu.


"Bagas.. ibu mu sudah tenang di surga-Nya.. percayalah dia adalah orang baik" kata Alex.


"Baik? kenapa mau menikah dengan papa secara sirih, ada apa?" kata Bagas yang tak habis fikir.


"Ibumu tengah sakit keras saat itu, menikah selama dua tahun adalah hal yang paling bahagia semasa hidupnya.." kata Alex menambahkan.


"Alex.. Bagas... maafkan aku, ada dosa yang ku sembunyikan lagi" tambah Nia..


"Tentang kejadian di kediaman Arum?, kamu mendorong Arum saat itu? hingga Arum terjatuh dan akhirnya memperburuk kondisinya hingga ia meninggal dunia? aku sudah tau, Nia.. bahkan Surya pun sudah tau.. tapi kami menghargaimu yang menyayangi Bagas,"


Kata Alax mengejutkan..


Nia hanya menangis, Bagas pun meregang kesal.


"Kamu membunuh ibuku???" kesal Bagas.


"Mendorong ibumu saat itu, memang membuat ibumu semakin drop dalam keadaanya yang sakit, Bagas.. itu kehendak Tuhan" kata Alex berusaha bijak.


"Maafkan mama, Bagas.. saat itu mama mulai jatuh cinta pada papamu, mama mulai cemburu saat papamu lebih banyak menghabiskan waktu untuk Ibumu, mama merasa lelah dengan sandiwara itu.. mama menutupi semua dari keluarga besar kita, semata-mata demi membantu keluarga mama yang tengah ancaman bangkrut dalam sebuah bisnis... karena mama tidak ingin orang tua mama hidup dalam kesusahan.. maafkan mama, Bagas.." kata Ibu Nia..


"Bagas... berbesar hatilah, Papamu sangat menyayangimu, bagasinya kamu adalah kehidupan kedua setelah di tinggal pergi oleh Arum, ibumu..." kata Alex.


Bagas menangis penuh kepedihan.. Tangannya gemetar menerima kenyataan yang sangat pedih bagi dirinya..


"Hahah" Bagas tiba-tiba tertawa..


"Dan sekarang kenyataan pahit ini harus juga Zaidar alami... hahahaha" Bagas nampaknya sangat depresi menerima kenyataan ini.


"Dan aku mencintai dia yang juga di cintai oleh Rega"


Bagas semakin terlihat sangat terpuruk saat itu, ibu Nia hanya menangis dan Alex berusaha mendekap erat tubuh Bagas saat itu, memberi ketenangan ..


Pantas saja.. aku merasakan mama sayang denganku, tapi kenapa Rega selalu menjadi nomer satu.. Pantas saja aku harus banyak mengalah pada Rega, ternyata bukan hanya sekedar aku seorang Kaka, namun aku bukan anak kandungnya.. Ini pahit..


Bagas membatin pilu dalam lamunannya..


*


*


*

__ADS_1


Tarik nafas dulu... buang pelan-pelan.. yuk like yuk hehehe komen jangan lupa yaa..


kasih cemilan kopi juga boleh eheheh❤️


__ADS_2