Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
BT - 36


__ADS_3

"Tanteeee" Zai mendekap Dara, sore itu Zai memaksa Bagas untuk menjemput Dara, merasa tak bisa menolak permintaan bocah itu, Bagas menghubungi Dara dan mengatakan bahwa ia akan menjemput Dara.


Dara juga membalas mendekap Zai saat itu di luar mobil yang di bawa oleh Bagas.


"Maaf yaa Tante lama, Karena harus jalan kaki.." kata Dara sambil mengusap lembut pipi Zaidar.


"Tak apa .. ayo Tante, papa mau membelikan aku mainan dan Ice cream.." antusias Zaidar penuh semangat.


Dara mengangguk dengan senyum, lalu ia masuk kedalam mobil usai meletakan tas nya di bagasi.


"Dara????" Suara itu membuat Dara menahan pergerakan masuk kedalam mobil, Dara menoleh dengan jantung berdebar.


"Mas,.. mas Gustaf.." Dara salah tingkah, Bagas juga menahan pergerakannya untuk masuk kedalam mobil.


"Dara kamu mau kemana? sama siapa? Tanya Gustaff yang terlihat penasaran.


"Hemm.. hmm... ini, ini atasan aku dan anaknya.. aku mau pindah tugas lagi keluar kota.." kata Dara gugup.


Gustaf mengerutkan keningnya.


"Saya masuk duluan" kata Bagas nampak tak senang dengan keberadaan Gustaf.


"Zai sebentar ya" ucap dara pada Zai yang sudah berada di dalam mobil, lalu Dara menutup pintu mobil tersebut.


Dara mendekati Gustaf yang masih berada dia atas motornya.


"kenapa kamu menerima lagi pekerjaanmu di luar kota?" kata Gustaff menampakan ketidak sukaan nya.


"Ya karena saya butuh.." kata Dara penuh keyakinan dan kejujuran.


"Dara ... apa kamu tidak menyadari? Saya ini menunggu kamu, saya menanti kesiapan kamu untuk menikah" kata Gustaf membuat Dara semakin tak enak hati pada Gustaf.


Astaghfirullah kenapa jadi begini lagi? ini memang salahku sejak dahulu membuka harapan untuk mas Gustaf sehingga ia selalu menungguku...


"Mas, Aku minta maaf banget.. maaf, aku gak bisa.. Aku hanya menganggap kita adalah kakak beradik, hanya sebatas itu rasa sayangku..." kata Dara terpaksa harus berbicara lebih tegas pada Gustaff.


Raut wajah Gustaf mendadak berubah menjadi sendu.


Bagai tersambar petir di siang bolong... Batin Gustaf penuh kecewa.


"Maaf, mas.." ulang Dara meminta maaf.


"Kalo begitu, saya yang minta maaf.. saya yang sudah terlalu percaya diri selama ini.." kata Gustaf dengan lemasnya.


"Tante.. come on" Suara Zaidar memusatkan perhatian Dara dan Gustaf.


"Kalian dekat sekali, ya?" kata Gustaf.


"Dia anak bos aku, hemm aku lebih dekat dengan ibunya, karena aku bekerja dengan ibunya" kata Dara memutar alasan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang tidak semestinya terjadi.

__ADS_1


Gustaf hanya mengangguk dalam kekecewaan, ia seolah tak mampu lagi berbicara, menahan sakit pada rasa yang salah..


"Mas kalo begitu aku pamit yaa, tidak enak rasanya, di dalam atasanku menunggu" kata Dara berpamitan.


"Baiklah, hati-hati dan jaga dirimu baik-baik" kata Gustaf dengan hancurnya hati.


"Terimakasih, titip ayah dan ibu yaa.. Assalamualaikum" kata Dara pergi melangkah menuju mobil.


Kamu pergi meninggalkan rasa yang akan aku ratapi sendiri, Dara... Mengagumimu, Menyayangimu, namun tidak bisa memilikimu...


*


Tiba di pusat perbelanjaan yang cukup besar dan mewah di kota. Dara, Bagas dan Zaidar bagai keluarga kecil yang bahagia.


Dara menemani Zaidar bermain di area bermain, memilih banyak mainan, hingga menyuapi Zaidar dengan tulusnya.


Dia belum memiliki anak, tapi dia begitu cekatan merawat Zaidar..


"Kenapa lihat-lihat? ada yang aneh?" kata Dara pada Bagas.


"Tidak, kamu laper ya? semangat betul makan nya" kata Bagas sedikit salah tingkah.


"Iya.. lapar sekali, di tambah makanya enak.." Jujur Dara sambil mengunyah makanan.


"Mulai sekarang, ajarkan Zai untuk makan secara mandiri, ia sudah mampu seharusnya" kata Bagas .


"Iya saya paham.. Tapi tidak secara spontanitas, pelan-pelan ya" kata Dara sambil sesekali memperhatikan Zaidar yang duduk di meja sampingnya sambil memainkan beberapa mainannya.


"Boleh, Tanya apa? jangan susah-susah saya belum belajar" kata Dara dengan konyolnya membuat Bagas mendesus kesal.


"Hemm... saya mau tanya soal pria tadi, dia kekasihmu?" kata Bagas, Dara spontan tersedak.


"Omaygat Tante... minum.. minum.." Penuh perhatian Zai meninggalkan mainannya sejenak melangkah sedikit ke meja Bagas dan Dara.


"Terimakasih sayang" kata Dara pada Zaidar usai meneguk minumannya.


Zaidar tersenyum lalu melanjutkan bermain seorang diri..


"Apa saya salah bertanya?" kata Bagas melanjutkan.


"Engga pak, tidak salah.. hanya saja saya kaget kenapa bapak bisa berasumsi seperti itu..." kata Dara.


"Karena saya laki-laki, saya bisa melihat wajah pria tadi penuh rasa menatapmu.." kata Bagas membuat Dara terperangkap tak dapat menjawab.


"Hmm dia hanya tetangga saya, dia seperti kakak saya.. " kata Dara.


"Jangan di bahas pak, nanti dia keselek" kata Dara sambil terkekeh kecil.


Bagas hanya melepas senyum tipisnya sambil memalingkan pandangannya ke arah Zaidar dan Dara kembali melanjutkan makan nya.

__ADS_1


Ah.. aku jadi mengingat apa yang di ucapkan mas Gustaff tadi, apa dia baik-baik saja ya.. apa dia patah hati? Tapi aku harus jujur kan? mana bisa aku memenjarakan hatinya semntara aku tidak berada dalam penjara itu.


*


Tiba di apartemen..


Dara, Bagas dan Zaidar terkejut dengan keberadaan Rega.. Apartemen itu nampak sangat berantakan.


"Regaaa!!! apa-apaan kamu??!!" kesal Bagas.


"Zai kita ke kamar yuk..." kata Dara mengajak zaidar ke kamarnya.


"Iya . Tante" kata Zaidar yang nampak terkejut melihat kediamannya sangat berantakan itu.


Bagas meraih ponselnya, segera ia menghubungi Alex.


"Hahaha, Kaka selalu berlindung di ketiak pak tua itu, lucu sekali" Rega nampak mabuk, nada bicaranya sangat khas seperti orang yang tengah mabuk berat.


"Dasar kurang ajar! mau apa kamu? hah?" kesal Bagas.


"Aku? aku tentu mau semua hahah"


"Aku mau Mawar, aku mau Mama memperhatikan ku, aku mau kasih sayang.... aku mau uang.. wanita.. hahaha semua yang ada di dunia ini"


nampaknya Rega benar-benar mabuk ia tertawa lepas tanpa beban.


"Rega, sadar kamu! karena percuma aku meladeni mu dalam keadaan mabuk!!"


"Aku mabuk tapi aku tetap bisa membunuhmu ... hahaha"


Bagas benar-benar tak habis pikir atas apa yang di katakan oleh Rega. Terlontarkan kata-kata yang membuat Bagas membulatkan matanya menahan amarahnya.


Bagas hendak menghubungi lagi dimana Alex dan beberapa anak buahnya, namun secara spontanitas Rega mendekat dan memberi pukulan hebat di bagian perut juga wajah Bagas.


BUGGGHHHHHH ...


Bagas tidak dapat melawan terlebih ia tidak merasa siap akan serangan itu, sehingga tubuhnya tersungkur di lantai..


*


*


*


Nah kan... Cut dulu yaa, aku nak ke apartemen Baga dulu, mau bawa p3k 🏃


hahah


Kalian like komen dan rate dulu yaa biar bisa ikut aku hehe

__ADS_1


🏃🏃🏃


Kirim bunga, kopi atau hati juga boleh buat bekal semangatku 😘


__ADS_2