
Dara masih saja menujukan rasa kesal nya pada Bagas mesji hatinya juga merasa riang gembira dapat bertemu dengan Bagas.
"Cepatlah Ayo.." Ajak Bagas.
"Kemana? Jangan ngaco kamu mas" kata Dara masih bersikap jutek karena ia kesal pada Bagas.
"Hemm.. kamu bilang mau menemui Gustaf yang sakit, ayo... aku akan menemanimu" Bagas berbicara dengan santai.
Niat hati bagas memang datang untuk menjemput Dara dan datang menjenguk Gustaf bersama..
"Mas, ini gak salah?" Tanya Dara heran.
"Tidak... ayo nanti kemalaman" kata Bagas,
"Aku ambil tas dulu" Dara berlari masuk ke dalam rumahnya mencari beberapa benda yang harus ia bawa.
Hingga beberapa saat Dara menghampiri Bagas dan bergegas bersama menuju rumah sakit.
Dalam perjalanan Bagas mengahabiskan waktunya untuk mencuri pandang pada Dara sambil mengendarai mobilnya, Dara yang semula tak menyadari pun akhirnya mulai memergoki Bagas yang diam-diam memandang Dara, hingga ia merasa kesal karena calon suaminya itu tidak fokus dalam berkendara.
"Kenapa lihat-lihat?" Tanya Dara sinis.
"Hahaha" Bagas tertawa meledek.
"Pede banget kamu, saya melihat ke arah spion kok" Bagas mengelak sambil tertawa.
Dara merasa malu sekali saat itu seolah dirinya memang terlalu percaya diri. Menikmati perjalanan di ibu kota Jakarta pada sore hari memang cukup padat sehingga keduanya harus terjebak kemacetan yang membawa Dara terlelap.
Bagas merubah posisinya, bagas melakukan pergerakan untuk membatu mengubah posisi kursi menjadi setengah berbaring.
"You're so Beautyfull" ucap Bagas.
Ditatap wajah wanita luguh di hadapannya, kecupan pun mendarat di kening Dara.
Bagas tersenyum tipis merasa sangat puas memandang lekat wajah cantik Dara.
--
"Aku masih ngantuk deh" keluh Dara sambil berjalan di koridor rumah sakit bergandeng tangan dengan Bagas.
"Makanya jangan lama-lama aku laper juga" kata Bagas memegang perut ratanya.
"Hemm.. ayah ibu sudah pulang belum ya?" Ucap Dara mengingat ayah dan ibunya.
"Sudah" Jawab Bagas yakin.
"Kok kamu tau, Mas.." tanya heran Dara sambil merlirik ke arah Bagas.
"Hemm.. tadi aku meminta supir untuk menjemput mereka, sudahlah jangan banyak tanya, nanti energi aku habis" kata Bagas meledek Dara yang cenderung bawel itu.
__ADS_1
"Hemm nanti makanlah lima piring, agar kembali semangat kamu dan semoga buncit perutmu" Kesal Dara berucap sambil memicingkan matanya cukup tajam ke arah bagas.
Bagas merasa bahagia saat Dara mulai kesal, cemberut hingga merajuk, sisi menggemaskan itu muncul menghiasi wajah natural Dara.
Mereka kini berada di depan pintu sebuah ruangan, keduanya sudah tau tidak hanya ada Gustaf di dalam sebagai seorang pasien.
Dara seolah belum yakin, ia tatap wajah Bagas saat itu.
Bagas tersenyum sambil mengusap lembut pipi Dara.
"Ayo masuk, aku dampingi.. katakan apa yang harus kamu katakan, mungkin terdengar sakit tapi bisa menyadarkannya bahwa cinta tak bisa di pilih dengan siapa akan berlabuh"
Dara tersenyum usai mendenger ucapan kekasihnya itu, dua kali ketukan Pintu Dara sambung dengan menekan tuas handle pintu dan mendorongnya.
Dara mengucapkan salam, dara melihat seseorang yang ia kenal, sangat ia kenal tengah duduk di atas ranjang perawatan.
"Assalammualaikum Mas.." Sapa Dara pada Gustaf. Ada kedua orang tua Gustaf juga disana mendampinginya.
Dengan santun Dara menyalami semuanya.
Kenapa kamu datang dengan dia, Dara? Kamu membawa Bagas kesini tanpa tau rasa sakit yang sedang aku rasakan...
"Ayah dan Ibu kamu baru saja pulang tiga puluh menit yang lalu, Nak.." kata Ibu Rita.
"Iya bu, Dara tau kok.. maaf Dara menyusul belakangan karena Mas Gustaf harus menyelesaikan dulu pekerjaanya.
"Mas Gustaf, bagaimana? Sudah mendingan?" Tanya Dara dengan ramah. Gustaf melihat tangan kiri Dara yang terlihat di gengam erat oleh Bagas.
Gustaf menghela kasar nafasnya sambil membuang pandangannya.
"Sudah.." singkatnya menjawab.
"Mas.. Maaf jika aku ada salah ya?" Dara melangkah mendekati Gustaf.
"Sudah aku maafkan... Aku hanya kecewa saja pada keadaan" gustaf tertunduk usai berbicara.
"Aku datang kesini untuk menjelaskan bahwa aku dan Mas Bagas menaruh hati sejak lama, Dan kita memutuskan untuk bersama.. maafkan aku Mas Gustaf" Lirih Dara berucap, sedikit kesal Bagas melihat Kekasihnya itu berbicar gemetar.
"Haha ya aku sudah paham" ucap Gustaf singkat.
"Insya Allah Hari Jumat mendatang Aku dan Mas Bagas akan melangsungkan pernikahan.. Mas Gustaf cepet sehat ya supaya bisa hadir.." kata Dara penuh harapan
Kamu mengatakan apa yang semakin membuatku terluka, Dara..
Gustaf melirik ke arah Dara juga pada Bagas yang terlihat hanya diam tanpa kata berdiri di sisi Dara.
"Hemm aku usahakan untuk datang, doakan saja aku sudah pulih" Ucap Gustaf.
Dara terdiam, sebenarnya ia bingung harus berkata apalagi..
__ADS_1
"Tadi ibu dan ayahmu sudah datang dan menjelaskan padaku, jika aku sehat pasti aku akan datang" kembali Gustaf berbicara tanpa memandang ke arah Dara.
"Cepat sembuh, Bro" ucapan itu keluar secara spontan dari mulut Bagas, Dara sampai terkejut dan sedikit membuat mulutnya terbuka kecil.
"Thanks.." singkat Gustaf memberi jawabannya.
"Kamu tenang saja, Gustaf.. Dara akan saya jaga seperti saya menjaga diri saya sendiri.." ucap Bagas cukum membuat Dara takut jika kekasihnya akan menumpahkan emosinya.
"Bagus , itulah laki-laki" tambah Gustaf sambil menyungingkan bibirnya seolah tak menghargai apapun yang di katakan oleh Bagas.
"Dara.. dimana nanti akan menetap kalo sudah menikah?" Ibu Rita berusaha mengalihkan pembicaraan yang di rasa sudah sangat tegang.
"Aku ikut kemana Mas Bagas aja, bu.. Dara gak akan mempermasalahkan dimana akan tinggal" ucap Dara sedikit malu dan rasa cangung.
Bagaimana ibunya Mas Gustaf , kenapa harusb bertanya hal seperti itu.. apa dia tidak menghargai anaknya! Dr menyadari pertanyaan itu dapat menyingung perasaan Gustaf, dengan segera Dara memangks waktu sedemikian rupa.
"Mas, maaf jka aku ada salah, ya? Cepat sembuh ya? segera kembali ke aktivitas semula,ya? Doakan aku yang sudah seperti adik Mas Gustaf sendiri, untuk pernikahan aku dengan Mas Bagas..."
"Aku akan segera pulih, tenang saja..kamu hanya bayangan yang akan tetap menajdi bayangkan dalam harapanku, Dara" kata Gustaf.
Mendengar hal itu Dara memberikan penekanan pada tangannya yang sejak tadi mengengam tangan Bagas.
"Terimakasih Mas Gustaf, maaf aku bukan ingin merepotkan Mas Gustaf kemarin-kenarin.. Terimakasih sudah mau menjaga aku, ya?" Ucap Dara lagi.
Sakit sekali Dara.. aku harus menghadapi kalian yang tengah membangun tiang kokoh dalam hubungan kalian..
"Ibu.. Bapak... Mas.. aku ingin pamit pulang, Ayah dan Ibu sudah pesan jangan terlalu lama keluar rumahnya" Dara menjelaskan apa adanya.
Usai berpamitan tinggalah Gustaf dan kedua orang tuanya di dalam ruangan tersebut.
"Sakit... Terluka namun tak berdarah" gustaf nampaknya sangat terpuruk, tak terlihat jiwa tegar sebagai seorang laki-laki saat itu.
"Aku terlalu berharap banyak pada dia, wanita yang sudah aku sebut namanya disetiap sujudku dan tunduk aku memohon agar takdir bisa membawa kita bersama.." Ucap Gustaf dengan tatapan kosongnya.
"Nak.. sabar, berbesar hatilah nak...itu pilihan Dara.. harus kamu hargai, ya?" Ibu terlihat lebih tenang saat itu.
"Cinta itu abstrak, keberadaanya tak dapat kita sentuh dengan tangan kita.. Namun ada dua hati yang ikut bermain bersma.. kalo saja salah satu berhenti tidak dapat bermain lagi bersama, maka kamu harus berbesar hati menerimanya.." kata Ayah saat itu.
"Ibu akan menemani kamu sampai kamu menemukan pendamping yang bisa menerima kekurangan kamu" ucap ibu rita pada Gustaf.
Semangat Keduanya, di tambah ia melihat Dara dan Bagas yang nampak begitu kompak dan saling menjaga, setidaknya melunturkan ego pada diri Gustaf, sakit memang tapi akan lebih sakit jika Gustaf terus memaksakan kehebdak, Gustaf menyadari itu..
*
*
*
Terimakasih Sudah Menbaca, Terimakasih supportnya..
__ADS_1