
Dara terdiam, tatapannya kosong.. Tubuhnya melemas seolah runtuh sudah energi yang ia miliki..
"Aku harus senang, atau sedih?" Ucapnya pelan.
"Salah.... ini salah, ini ga bener" emosi Dara memuncak pada dirinya sendiri.
Dara mematikan televisi yang sejak tadi menjadi saksi disaat ia terdiam merenung..
"Aku harusnya senang.. ya aku harusnya memang senang" ucap dara sambil tersenyum.
Suara ketukan pintu terdengar, lirikan mata Dara ke arah jam langsung tertuju.
"Pukul sebelas malam? siapa bertamu semalam ini?" kata Dara berjalan menuju pintu Dara mengintip.
"Ibu Nia? Astagaaa pasti dia akan berdakwah" kata Dara bingung. Tak hanya suara ketukan pintu, suara bel pun terus berbunyi.
" Buka - Enggak - buka - Enggak - Buka" dara menghitung dengan Lima jari kanan nya.
"Ah buka saja, setidaknya aku tidak ada salah apapun"
Dara membuka pintu apartemen itu dengan rasa khawatir kala itu.
"Dimana Bagas?" ucapnya sambil melangkah masuk.
"Maaf Bu, pak Bagas pergi satu jam lalu" kata Dara jujur.
"Kemana? kerumah sakit? menemui ****** nya itu" kata Ibu Nia dengan suara tingginya.
Astaghfirullah ibu Nia kejam sekali sih..
"Maaf Bu, sepertinya memang bapak ke rumah sakit bersama pak Alex" kata Dara jujur.
"Keterlaluan sekali Bagas itu, tidak menghargai saya sebagai ibunya.. benar-benar memalukan!!" kesalnya ibu Nia.
Dara hanya terdiam, satu patah katapun tidak terucap dari mulut dara, meski hatinya sangat ingin sekali menimpali segala perkataan ibu Dara.
Ibu Nia pun seketika pergi penuh kekecewaan dan wajah yang terlihat sangat marah.
Dara menghela nafasnya kasar..
Melihat sikap ibu Nia yang menilai seseorang dari segi perekonomian aku semakin sadar siapa aku dan apa salah diriku... hahhhhh baiklah akan aku benahi...
*
Sementara itu di rumah sakit.. Jantung Bagas berdetak lebih cepat saat melihat beberapa alat pada tubuh Mawar di lepas.
"Ini keajaiban" ucap Salah satu dokter senior disana.
"Disaat tekanan darahnya meningkat saya langsung merinding dan yakin, ini awal yang baik" tambah dokter itu berucap.
Bagas hanya diam..
Apa kamu akan sadar, Mawar? apa kamu akan kembali hidup? Bagas membatin dalam hatinya.
"Apa yang ia katakan tadi?" kata Alex yang juga berada disana saat itu.
"Hanya maaf , yaa hanya kata maaf yang ia ucapkan .. " kata dokter tersebut menjelaskan.
"Kami akan pantau terus dan alat biar standby disini... kami berjaga di depan" kata Dokter seolah pamit memberikan ruang untuk Alex dan Bagas.
Bagas masih terdiam memandang tubuh mawar yang masih terbaring.
Dara... yaa kenapa aku teringat dara, apa dia sudah tidur? Bagas membatin sambil mengalihkan pandanganya pada ponselnya.
Menghubungi siapa anak ini? - Alex membatin.
__ADS_1
Sejak tadi nampak kebingungan wajah kamu, Bagas...
Tambahnya melihat ekspresi wajah Bagas yang tidak terlalu senang mendapatkan sebuah keajaiban yang terjadi pada mawar malam itu.
Bagas mencoba menghubungi Dara namun tak ada jawaban apapun.
Mungkin dia sudah tidur... Pikir Bagas.
"Menghubungi siapa?" tanya Alex.
"Dara paman"
"Apa Dara tahu kalau Mawar sempat siuman?" Tanya Alex .
"Tau paman .. Dara terlihat senang" kata Bagas dengan ekspresi datar.
"Lalu... apa kamu mau menginap disini?" tanya Alex.
"Baiknya bagaimana ya, paman?" tanya Bagas .
"Tunggulah disini, paman akan menemanimu... " kata Alex yang berfikir mawar akan sadar dan mencari dimana Bagas.
Dengan pasrah Bagas menuruti apa yang di katakan oleh Alex.
Bagas tidak dapat lelap dalam tidurnya, ia memikirkan hatinya.. Disaat ia mulai melupakan Mawar dan melepasnya, mengapa mawar bisa kembali dengan keajaiban Tuhan.
*
Pagi hari, Bagas belum terbangun dari tidurnya sementara Alex baru saja menyelesaikan mandi nya di kamar mandi di kamar perawatan tersebut.
Alex terkejut saat pintu kamar itu terbuka.
"Rega.. ??" Alex spontan menyebut nama itu cukup lantang saat melihat sosok Rega.. Hingga Bagas ikut terusik tidurnya.
",Bagas berdiri melihat apa yang adiknya lakukan..."
"Rega... jangan ganggu istirahat nya" ucap Alex.
"Dia benar-benar bangun? " kata Rega seolah tak percaya melihat hanya beberapa alat terpasang di tubuh mawar.
Rega... apa kamu benar-benar mencintai Mawar? kenapa masih ada rasa sakit di hatiku...
Bagas berpaling.. "Aku pulang, paman... ada meeting kan siang ini" kata Bagas begitu cuek, sikap cueknya menutupi rasa sakitnya.
Bagas pulang mengendarai mobilnya seorang diri .. Pagi itu masih menunjukkan pukul enam, jalan masih cenderung sepi sehingga hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk tiba di apartemen nya.
Bagas masuk kedalam apartemen nya yang masih sangat sunyi dan gelap.
"Apa Dara masih tidur?" kata Bagas.
Bagas berniat membuka gorden ruang tamunya, namun Bagas terkejut melihat Dara masih terlelap dalam tidurnya di
sofa ruang tamu.
Dara... kenapa dia terlelap disini? apa dia menunggu kepulangan aku? apa Dara benar - benar senang dan bahagia atas kabar baik dari mawar...
"Astaga... Dara, kamu tidur disini?" Bagas mendekati Dara membangunkannya.
"Bapak...." melihat sosok Bagas Dara cukup terkejut, ia merapihkan rambut serta bajunya.
"Duh maaf pak, saya ketiduran..." kata Dara jujur.
Dara aku semakin yakin, kamu menungguku pulang... kata Bagas membatin dengan penuh percaya diri.
Dara merasa salah tingkah, dan bingung hendak melakukan apa kala itu..
__ADS_1
Dara memutar otaknya berharap ide brilian muncul dan dapat meloloskan dirinya dari situasi tersebut.
"Aduh saya juga lupa membangunkan Zaidar..." kata Dara hendak beranjak namun Bagas menahannya hingga Dara terdiam kaku mendapat sentuhan dan tatapan Bagas.
"Kamu menunggu saya?" tanya Bagas dengan sangat lembut.
Astaga.. pagi-pagi aku sudah mendapat serangan mematikan dari tatapan nya..
Dara membatin, berusaha ia menelan Saliva nya kala itu.
"Daraaa...Kamu menunggu saya? hemm?" Bagas mengulangi pertanyaannya..
yaa Allah, pasrah saja aku... pasrah.. tak kuat hatiku melawan tatapannya..
Dara menggelengkan kepalanya lalu mengangguk angguk...
"Iya atau tidak?" Bagas kembali bertanya sambil tersenyum tipis.
Dia cantik meski baru bangun tidur...
"Enggak kok pak, ketiduran sambil main ponsel semalam" kata Dara gugup dan pelan.
"Yang benar? kenapa kamu tidak menunggu saya?" goda Bagas membuat Dara semakin salah tingkah.
"Saya nunggu hemmm nunggu ojeg online, saya laper jadi order makanan" kata Dara beralasan konyol.
"Yakin? makanan apa? ada susahnya ga?" goda Bagas lagi.
Kamu ga bakat berbohong, Daraa... Batinnya menyesali.
"Hemm... Terimakasih sudah menunggu saya" kata Bagas dengan pedenya..
"Ihh kebiasaan, bapak selalu penuh percaya diri, sok oke" celetuk Dara penuh kekonyolan.
Bagas terkekeh tipis ..
"Jadi saya tidak oke???" kata Bagas kembali memfokuskan pandangannya.
Dara hanya tertunduk , wajah Bagas semakin mendekat ke arah wajah Dara.
Astaga, apa ini... kenapa ini dia deket-deket bisa-bisanya dia begini.. aku takut pingsan yaa Allah ... Dara membatin sambil memejamkan matanya.
posisinya masih duduk berhadapan dengan Bagas yang duduk menyerong menatap Dara.
"Papaa, Tante" Suara itu spontan membuat Bagas dan Dara seketika merubah posisinya.
Ya Tuhan, Zaidar...!!
*
*
*.
HAHAHA TAHAN DULU TAHAN YAA..
LIKE
KOMEN
VOTE
RATE..
JIKA ADA REJEKI BOLEH LAH BUNGA ATAU KOPI NYA HEHEHE
__ADS_1