
"Lama sekali sih, apa yang kamu baca hemm?" Bagas mulai lelah menunggu.
"Baru tiga menit.. sudah bapak jangan bawel" kata Dara masih memfokuskan diri pda ponsel nya.
"Dasar wanita, membuat hal mudah menjadi susah.. " gerutu Bagas.
"Dasar laki-laki.. selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan" Timpal Dara hingga Bagas tertawa kecil mendengarnya.
Ahhh banyak sekali gombalan nyeleneh di sini, pantas saja laki-laki sering mengobral janji ternyata ada ribuan gombalan, rayuan dan kata-kata romantis di sini.. Batin Dara masih fokus mencari mana yang sekiranya cocok..
Satu menit dua menit berlalu, Bagas nampaknya sudah tak dapat memberi waktu lagi untuk Dara.
"Dasar ga sabaran ..." keluh Dara.
"Hahah.. jadi mau pindah pilihan atau mau mencoba memberi kata-kata romantis puitis untukku??" Kata Bagas dengan konyolnya.
"Tentu saja memberikan kata-Kata romantis lebih baik dari pada mencium bapak" kesal Dara.
"Yasudah .. ayo aku mau dengar.." Bagas memasang wajah konyolnya.
"Coba gengam tangan aku" kata Dara yang terlebih dulu menjulurkan tangannya.
"Mau nyebrang?" Bagas benar-benar bersikap konyol hingga Dara yang sudah mulai nervous itu kesal.
"Ihhhh ikuti saja perintahku, kenapa bapak jadi ngeselin seperti pak Alex" timpal Kesal Dara.
"Oh iya iya.. oke.." Bagas mengalah, ia kemudian mengenggam tangan Dara.
"Tangan kamu dingin banget.." kata Bagas merasakan jemari Dara mulai dingin.
"Gengam yang erat supaya hangat" ucap dara mengundang gelak tawa keduanya.
"Sudah.. ayo cepet aku ga sabar mau mendengarnya.. " kata Bagas menyudahi tawanya.
"Iya iya.. " Dara menarik nafasnya cukup dalam.
Bismillah.. ku gadaikan rasa maluku saat ini..
"Hemm .. tanganku sudah di gengam, di dalam gengaman ini tidak kosong, ada banyak hal di dalamnya.. Kepercayaan, saling melindungi, rasa cinta, kasih sayang, dan perhatian...dari kamu untuk aku, juga dariku untuk kamu, berkumpul semua di dalam genggaman ini.. hemm tapi ingat jangan erat-erat mengenggamnya, yaa.. " Dara berucap sangat manis, Bagas menjawabnya dengan anggukan saja sambil melebarkan senyumnya..
"hemm dengan gengaman ini maka aku pastikan, bahwa tak akan ada yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan.. disaat dua tangan yang menyatu... aku dan kamu, Bagas dan Dara menjadi Kita yang saling menjaga dalam ikatam suci cinta"
Dara menutup wajahnya dengan satu tangannya, sementara Bagas tersenyum lebar merasa senang juga menahan tawa Bahagianya.
"Abang mau pingsan rasanya denger kata-kata manis adek" goda Bagas semakin membuat Dara malu di buatnya.
"Astagaaa aku malu" kata Dara mengundang gelak tawa Bagas penuh bahagia.
Dara berusaha menarik dan melepas gengaman itu namun Bagas menahannya.
__ADS_1
"Ga boleh lepas, sampai kita tiba di apartment.. kata Bagas menggoda Dara.
Bagas mulai mengendarai pelan mobilnya ..
"Pak.. yang bener aja? Jangan di genggam gini terus" kata Dara sedikit memberontak..
"Biar aja, gak ada yang lihat ini.. " ucap Bagas.
"Aneh ih.. " Pasrah Dara.
"oh iya Pak.. " Dara teringat sesuatu..
"Apa Zai bisa menerima perasaan bapak ke saya? " tanya Dara.
"Saya takut dia akan kecewa, karena saat inj ada mbak Mawar dan dia sudah paham siapa mbak Mawar.." Dara berbicara penuh rasa khwatir.
"Tenang saja.. Zaidar pernah mengatakan pada saya, ingin menjadikan kamu mamahnya" kata Bagas jujur sedikit membuat Dara terkejut .
"Lalu bapak jawab apa?" Tanya Dara
"Saya waktu itu belum menyadari hati saya sudah di curi oleh kamu, jadi saya mengabaikan ucapan Zai, kalo saya sudah menyadari mungkin saya akan kabulkan permintaan Zaidar saat itu juga.." ucap Bagas terkekeh, membuat Dara tersipu malu akan ucapan bagas.
"Hemm tapi pak.. sebenarnya saya belum mau menikah.." ucap Dara membuat bagas terkejut.
"Kenapa? Apa kamu tidak yakin dengan saya? Saya benar-benar tulus padamu" ucap Bagas kembali meyakinkan Dara.
"Bukan begitu, saya rasa PR saya masih banyak.. saya belum bisa membahagiakan ayah juga ibu.. saya ingin mereka bahagia dulu baru saya menikah.." kata Dara dengan harapan nya yang ia ungkapkan pada Bagas.
"Di rubah bagaimana?" Jawab bingung Dara.
"Kita bisa sama-sama membahagiakan mereka, toh saya juga ingin membahagiakan orang yang kamu sayangi.."
Astagaaa ucapan pak Bagas benar-benar menghanyutkan aku, membawaku merasa sangat beruntung saat ini..
"Jangan pak.. nanti takut menjadi beban untuk bapak.. " kata Dara jauh di lubuk hatinya merasa tak pantas bila Bagas ikut andil membahagiakan kedua orang tuanya juga adik semata wayangnya.
"Kenapa harus jadi beban? Saya senang membahagiakan orang lain, terlebih orang itu adalah orang tua kamu..kamu yang ada di hatikuu" kata Bagas semakin membuat Dara melayang, tersipu malu berkali-kali di buatnya.
Astaga aku benar-benar harus tahan, ingin sekali guling guling sambil bersorak kegirangan saat ini..
Perjalanan mereka menuju aprtemen di penuhi dengan canda tawa dan obrolan keduanya dari pembahasan serius hingga pembahasan yang mengundang gelak tawa keduanya.
Setibanya di apartemen, Hanya mereka berdua yang ada disana. Dara masuk kedalam kamarnya mengunci pintu kamarnya, begitu dengan Bagas yang langsung masuk ke dalam kamarnya mengunci pintu untuk beristirahat.
Nampaknya mereka berdua akan tidur di hujani mimpi indah bertabur bunga dan kilau pelangi menceriakan, tatkala kedua nya mampu bersatu dalam sebuah rasa yang sama.
*
"Pagi.. bagaimana semalam tidurmu?" Rega menyapa Mawar yang tengah melamun seorang diri di halaman kecil kediaman Mawar.
__ADS_1
"Lumayan.." jawab Mawar singkat dengan senyum tipisnya.
"Hemm.. sepagi ini sudah datang.. ada apa?" Tanya Mawar.
"Aku membawakan sarapan untukmu juga untuk zai.. dimana Zai?" Tanya Rega.
"Zai masih tidur, biarkan saja.. semalam dia tidur larut" kata Mawar membuat niat Rega membangunkan Zaidar terhalang.
"Kamu mau sarapan sekarang? Aku siapkan ya?" Kata Rega.
"Tidak usah.. temani aku aja disini" kata Mawar, Rega menarik kursi taman, ia duduk persis dihadapan Mawar .
"Rega.. jika aku harus pergi lebih dulu dari dunia ini, pastikan kamu merawat Zaidar dengan baik ya?" Kata Mawar dengan lirihnya.
"Mawar!! Jaga ucapanmu.. " Rega memperingatkan Mawar.
"Hidupku seperti tanpa arah saat ini" lirih Mawar.
"Ikhlaskan.. lepaskan dan nikmati semua nya" kata Rega yang hanya membuat Mawar terdiam..
"Jika aku saja bisa berlapang sada atas keputusanmu, kenapa kamu tidak bisa menerima keputusan Kak Bagas yang jelas kini sudah menceraikan kamu dan mencintai Dara..?" Ucap Rega dengan ketusnya, Mawar tertunduk menitihkAn air matanya.
"Aku hanya ingin hidup sekali lagi untuk menebus kesalahanku, dosaku pada suamiku.. namun takdir berkata liain, secepat itu cintaku tertinggal dan aku belum menebus kesalahanku" tangis Mawar dalam berucap.
"Aku sangat mengenal kak Bagas, dia bukan manusia pendendam.. kamu lihatlah sikap dia pada ku.. dia sama sekali tidak mendendam meski kejahatan bertubi-tubi aku lakukan padanya... dia sanagat berlapang dada memaafkan aku" kata Rega memuji sikap baik dan tulus Bagas.
"Yaa .. memang, disini aku yang salah dan tidak tau malu " Mawar tertawa seraya ia menertawakan dirinya sendiri.
"Aku juga salah.. "Rega berucap.
"Sudahlah.. pikirkan kehidupanmu kedepan, kesembuhanmu lebih utama, ksih sayang untuk zaidar jangan sampai berkurang.. " kata Rega dengan tatapan penuh cinta pada Mawar.
Sakit sebenarnya diriku saat ini, Mawar.. belajar ikhlas atas keputusanmu yang tidak ingin menjalin hubungan lagi denganku.. aku pendam demi kebahagiaanmu..
Dengan sikap dewasanya Rega menerima keputusan Mawar, berkawan adalah komitmen Mawar saat itu. Mendidik Zaidar secara bersama dengan penuh kasih sayang adalah kesepakatan mereka bersama.
Entah sampai kapan aku bisa melupakan mu, Mas.. Aku yang salah pernah mengabaikan rasamu yang ternyata kini berbalik padaku..
*
*
*
Haii semuaaaa.. apa kabar? Sehat selalu yaa,,
Btw jangan lupa lohh tinggalkan jejak bacamu disini, like dan komen nya aku tunggu yah🥰
Mawar dan Kopinya juga boleh hehe
__ADS_1
Seeyou next captr guys ❤️❤️❤️