
Dara memegang dadanya..
Ini bagai mimpi di siang bolong, bagaimana aku bisa mendengar hal ini.. Astaga pak Bagas, pasti dia snagat terpuruk... Batin Dara yang tengah berdiri di sudut terminal anak tangga.
"Tante...." Zaidar keluar kamar nya.
"Zai.. kamu, kamu sudah selesai?" kata Dara gugup dan panik.
"Sudah mbak, sudah selesai" sambar seorang guru Zaidar yang baru saja memberikan pengajaran pada Zaidar.
"Aku dapat seratus loh" kata Zaidar bersorak.
"hebat.. yasudah Zai tunggu di kamar yaa, di bawah ada omah dan paman Alex sedang berbincang dengan papa...Tante Antar Bu guru dulu" kata Dara meminta Zaidar tetap berada di kamarnya.
Dara menuruni anak tangga denga kaki gemetar.
"Mbak.. mbak gapapa? kok kaya lemes gitu" kata Guru Zaidar saat itu.
"Ah tidak apa, aku hanya belum makan dua hari" kata Dara mulai dengan kekonyolannya, guru muda itu hanya tertawa kecil.
Dara tidak berani menoleh ke arah dimana Bagas duduk, terlebih masih samar terdngar suara Isak ibu Nia, bahkan guru Zaidar sempat memfokuskan pendengarannya saat itu.
"Bu makasih yaa, hati-hati jangan lupa bernafas" kata Dara kembali dengan kekonyolannya.
Dara berusaha berjalan cepat menuju lantai dua meski kakinya terasa sangat lemas.
"Dara...." Suara itu membuat Dara semakin gugup menghentikan langkahnya, jantungnya kini berdebar cepat.
Aduh ada apa ya? kok aku di panggil.. pengen pingsan aja bisa ga sih..Batin Dara yang selalu ingin pingsan saat keadaanya mendesak dirinya.
"I-iyaa.. pak" kata Dara gugup.
Bagas terdiam sejenak.
Kok diam? pingsan kali ya? Batin dara melihat Bagas tertunduk diam.
"Dara.. kembali ke kamar ziadar, temani dia main dulu.." Sambar Alex yang memahami posisi Bagas kala itu.
"Baik pak.. permisi" kata Dara berjalan cepat menuju lantai dua.
Tak lama kemudian, Bagas berdiri dari duduknya.
"Temui Zaidar, dia cucu mama.. sayangi dia seperti mama menyayngi Rega.." ucapan itu begitu menusuk Nia.
Dengan langkah santainya Bagas minggalkan ruang keluarga itu lalu berjalan menuju kamarnya.
"Apa yang harus aku lakukan, Alex?" tanya Nia.
"Kamu mengingkari janjimu pada Surya, kamu tau kan Surya meminta kamu menyimpan rapat rahasia yang kalian bentuk berdua.. dan kamu juga tahu bahwa Surya menyerahkan penuh kepercayaan perusahaan nya pada Bagas karena Rega tidak trampil dalam bisnis ini.. kamu harusnya ingat itu, Nia" kata Alex.
Alex merupakan sahabat Surya, ayah dari Bagas.. ia bekerja bersama dengan Surya sejak lama, sikap profesional Alex memang patut di acungi jempol, bekerja dan bersahabat sesuai denga porsi dan tempatnya.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana sekarang, Alex.. bantu aku?" Nia mulai menyesali perbuatannya.
"Selesaikan saja dengan caramu, pesanku hargailah perasaan Bagas dan Zaidar.. secara tidak langsung mereka punya rasa kecewa nantinya saat mereka mengetahui siapa mereka sebenarnya.. " ucap Alex lalu ia memilih pergi meninggalkan apartemen Bagas.
*
Dara hendak membuatkan makan siang untuk Zaidar, ia turun dan melihat ibu Nia tengah duduk termenung seornag diri di sofa dengan tatapan kosongnya.
Dara mendekat dengan langkah perlahan ya.
"Bu... ibu kenapa?" tanya Dara pelan saat melihat wajah merah ibu Nia karena Isak tangisnya.
Ibu Nia menggelengkan kepalanya.
"Ibu.. ibu sakit?" Tambah dara.
"Tidak..." singkat ibu Nia menjawab.
"Ibu belum makan ya? mau saya buatkan makanan? ibu mau makan apa?" tambah dara bertanya lagi.
"Dimana Zaidar dan Bagas?" tanya ibu Nia.
Bagas? dimana pak Bagas? bukannya sejak tadi ada disini. Batin Dara.
"Maaf Bu ... saya gak tahu dimana pak Bagas, tapi kalo Zaidar ada di kamar sejak tadi bermain sama saya" kata Dara dengan penjelasannya.
"Dara, boleh saya bertemu dengan Zaidar..." ucap pelan ibu Nia.
"Kamu pasti tidak membolehkannya, iya kan?" kata Ibu Nia.
Dara yang sempat terdiam untuk berfikir akhirnya melebarkan senyumnya.
"Boleh, ibu bisa ke kamar zaidar.. saya akan siapkan makan siang, kalian bisa makan berdua nanti" kata Dara tersenyum.
Ibu Nia tersenyum lebar..
"Dara, apa kamu tidak takut kalo saya akan memarahi Zaidar?" kata Ibu Nia.
"Jujur saya takut, tapi.. Ibu harus mengenal dekat Zaidar maka saya yakin Ibu bisa jatuh cinta terhadap Zaidar.." kata Dara.
Tanpa berfikir panjang, perlahan Ibu Nia menaiki anak tangga sementara Dara menyiapkan makan siang di dapur..
*Hemm.. aku harus buru-buru... tidak tenang juga aku saat ini memikirkan Zaidar dan Ibu Nia di atas..
Astaga... iya, dimana pak Bagas ya*??
Dara mengingat Bagas, Dara tidak mengetahui bahwa Bagas tengah mengurung diri di kamarnya.
Beberapa menu masakan simple sudah Dara sajikan di meja makan dalam waktu tiga puluh menit.
Dara menaiki anak tangga perlahan sambil memasang telinganya menangkap suara dari kamar zaidar.
__ADS_1
Astaga... suara Zaidar tertawa.. apa ibu Nia sudah benar-benar menerima Zaidar..? Dara membatin baru.
Dara mengintip melihat keduanya tengah asik bercanda riang di atas ranjang saat itu.
Lalu dara teringat pada sosok Bagas..
Apa pak Bagas berada di kamar nya ya? aku harus melihatnya..
Dara perlahan membuka pintu kamar Bagas..
Dara melihat Bagas berdiri di jendela kamarnya saat itu..
"Permisi pak" ucap Dara yang sudah terlanjur membuka pintu kamar Bagas.
"Pak .. makan siang dulu, sudah saya siapkan" kata Dara dengan nada yang pelan menenangkan.
"Saya tidak lapar" kata Bagas singkat.
"Masa si pak, kan bapak belum makan sejak tadi pagi" kata Dara meyakinkan Bagas.
"Sudah kenyang tubuh saya menerima kenyataan ini.. " kata Bagas membuat dara menghela nafasnya.
"Jangan cengeng pak! saya tau bapak kecewa menerima kenyataan ini, tapi di balik itu semua harusnya bapak bersyukur.. Zaidar dapat tertawa lepas saat berduaan dengan Ibu Nia.. itu kan harapan bapak" kata Dara, Bagas sedikit tak percaya atas apa yang di ucapkan Dara.
"Maksud kamu?" kata Bagas sambil memutar tubuhnya.
Dara menejlaskan apa yang baru saja ia lihat..Namun itu membuat Bagas semakin kacau.
"Harusnya itu sudah bukan menjadi harapanku lagi.. Sekarang aku takut akan kedekatan mereka, pasti mereka akan membawa pergi zai..." Bagas nampak frustasi ia duduk di sofa kamarnya tertunduk dengan penuh rasa sedih juga khawatir.
Salah Ngomong kayaknya gue... batin Dara yang kemudian memutuskan mendekati Bagas.
"Ternyata saya bukan anak Mama... haha kenyataan ini menyakitkan saya, Dara" ucapa Bagas dengan wajah sedihnya.
"Sssttt... kamu itu seperti anak kandung iBu Nia loh, kamu juga tau, banyak hal yang lebih mama Nia tonjolkan untuk bapak .. iya kan? di balik banyak hal, aku melihat Ibu Nia adalah orang yang memang menyayngi bapak..."
"Saya .. saya memikirkan juga hati Zaidar.. apa dia bisa menerima kenyataan ini, Regalah bapak dari Zaidar... " kata Bagas.
"Aku sudah setua ini pun masih merasakan sakit saat tau mama Nia adalah ibu sambungku, lalu bagaimana dengan Zaidar, dara? bagaimana???" Bagas menangis sendu.
Dara ikut menitihkan pelan air matanya..
Aku melihat sikap kuat dan tegas pada dirimu, pak.. namun kamu begiu lemah soal urusan hati.. hatimu lemah terkait itu sebuah cinta.. Batin Dara yang juga ikut menatap Bagas, sendu..
*
*
*
Haii semua.. maaf ya aku sedang sibuk RL, pekerjaan di kantor membuat aku susah curi waktu untuk menulis.. maafkan yaa.
__ADS_1
Namun tetap suport aku dengan like komen dan rate kalian yaa... ,❤️❤️❤️