Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
CEMBURU?


__ADS_3

Satu Pekan Berlalu..


Dara sedikit menjaga sikapnya, ia lebih memilih banyak berdiam diri, lebih memilih menjaga jarak aman dengan Bagas akhir-akhir ini..


Sore ini , adalah jadwal Dara untuk kembali kerumahnya menjenguk kedua orang tuanya..


Zaidar kini cukup memahami posisi Dara bila harus pulang terlebih dahulu..


Dara cukup rindu dengan kedua orang tuanya karena sudah tiga pekan Dara tidak menjenguk kedua orang tuanya..


Dara sudah siap untuk bergegas pulang, seperti biasa .. Zaidar dan Bagas akan mengantarnya sampai depan gang kediaman Dara, namun nampaknya Dara akan meminta Bagas untuk tidak mengantarnya kali ini.


"Pak.." sapa Dara pada Bagas yang tengah asyik memandangi laptopnya.


"Sudah siap kamu?" tanya Bagas.


"Sudah .. Zai mana?" tanya Dara.


"Teridur, lihatlah..." kata Bagas menoleh ke arah kirinya, Zaidar tertidur.


Dara menggeser posisinya hingga ia bisa melihat Zaidar yang terlelap di samping Bagas.


Alhamdulillah.. sepertinya ini kesempatan bagus bagiku..


"Astaga.... hemm kalo begitu saya pulang sendiri ya?" ucap Dara.


"Tidak... tunggu Zaidar bangun saja" kata Bagas sambil mengerjakan tugas kantornya.


"Tak apa pak, kasian Zai pasti kantuk lelah tadi berenang.." ucap Dara.


"Saya bisa kok sendiri naik angkutan umum atau taxi..." tambah Dara membuat Bagas menatapnya sinis.


"Kamu kenapa? kamu dari kemarin terlihat sangat cuek..!" to the poin Bagas berbicara pada Dara.


"Maaf pak cuek bagaimana maksud bapak, saya biasa saja" kata dara mengelak meski hatinya merasa takut akan amarah Bagas. Seperti takut jika Bagas akan kecewa padanya.


"Saya cukup peka saat kamu menghindar, kamu menemani Zaidar makan tanpa melihat ke arah saya sedikitpun... apa itu bukan suatu keanehan bagi saya?" kata Bagas membuat Dara tercengang..


Dia merasa... kenapa bisa pak Bagas sepeka itu..


"Saya hanya rindu pada ayah dan ibu.. mungkin itu yang membuat saya terlihat berbeda..." kata Dara sambil memalingkan wajahnya..


Tak sanggup aku memandang wajahnya..


"Oh begitu... yasudah, pergilah jika kamu ingin melihat Zai menangis histeris saat dia tau kamu pergi tanpa di antar olehnya..." kata Bagas merasa menang dalam hatinya.


Singa ini benar-benar menyebalkan.. bisa-bisanya dia menjadikan anaknya sebagai senjata ampuh untuk mengancam ku...


"Kenapa kamu diem?" kata Bagas.

__ADS_1


"Laper" kesal Dara sambil meninggalkan Bagas di ruang tamu itu.


Bagas hanya tertawa merasa menang terlebih ia melihat tingkah Dara yang cukup menggemaskan saat itu.


Kenapa yaa dia jadi banyak menghindar ya.. apa aku ada salah? apa? hmm - Bagas masih membatin tak memahami apa yang tengah di rasakan oleh Dara.


Satu jam berlalu, Mereka pergi dalam satu mobil bersama usai Zaidar terbangun dari tidurnya.


Dara duduk di depan mendampingi Bagas sambil memangku Zaidar yang akan lebih manja saat Dara akan mengambil jatah liburnya.


"Papaaa... boleh makan ice cream dulu? aku masih ingin bersama Tante" kata Zaidar.


"Tanya Tante, kalo papa si siap saja" kata Bagas melempar pertanyaan itu pada Dara.


Menyebalkan sekali pak Bagas ini... mana mungkin aku bisa menolak ajakan Zaidar..


"Tante... Bagaimana? mau tidak" katanya Zaidar yang senang sekali memainkan pipi Dara bagai squishy.


"Hem oke" Dara mengacungkan jempolnya meski kesal dengan Bagas namun hatinya tak dapat menolak apapun permintaan Zaidar.


Mereka Tiba di sebuah kedai ice cream yang terlihat cukup ramai.


"Ramai.. papa belikan saja ya? kita makan di mobil.." kata Bagas yang memang tak menyukai tempat terlalu ramai.


"Iya makan di mobil saja..." Jawab Dara karena itu tidak akan menghabiskan waktu terlalu lama.


"Okelah.." kata Zaidar.


"Right.. dan papa, ice cream mochachino" kata Zaidar membuat Bagas tersenyum lebar.


"Anak pintar" Bagas mengusap rambut puteranya lalu ia beranjak keluar mobil untuk memesan pesanan ketiganya.


Dara melihat ke arah luar, dengan spontan Dara berkata "Mas Gustaf" Ucap Dara melihat Gustaf berada di samping kedai ice cream tersebut.


Apa aku bareng mas gustaf aja ya? ah tidak tidak.. Zai akan marah pastinya.. Tapi, sedang membeli apa mas Gustaf di apotek Itu? siapa yang sakit, ya? Dara membatin..


"Siapa yang Tante maksud?" tanya Zaidar melihat ke arah yang sama dengan Dara.


"Oh itu tadi, teman Tante.. "jawab Dara singkat.


Dara meraih ponselnya melihat beberapa pesan singkat yang masuk.. memang Gustaf sudah jarang mengirimkan pesan singkat lagi untuk Dara, hanya ada balasan pesan jika dara menghubunginya terlebih dahulu untuk menanyakan kabar kedua orang tua nya.


Tak lama Bagas datang..


"Kok cepat?" tanya Dara.


"Yang mau memberikan antreannya padaku lebih dulu, aku traktir" kata Bagas membuat Dara mengerutkan keningnya.


"Bapak ini kebiasaan sekali... tidak sabaran.." kata Dara membuat Bagas terkekeh..

__ADS_1


Usai menghabiskan ice cream mereka masing-masing, Bagas kembali menancapkan gas mobilnya.. sudah tak seberapa jauh lagi untuk sampai ke tujuan.


"Tante... nanti kita jemput lagi yaa.." kata Zaidar memeluk Dara erat.


"Iya, sayang" kata Dara memeluk erat Zaidar tak kalah eratnya.


"Hati-hati yaa.. bisa hubungi saya kalo ada apa-apa..." kata Bagas.


"Terimakasih pak.. maaf merepotkan" kata Dara menimpali.


Dara mengecup pipi bocah gembil itu, Bagas hanya melihatnya penuh dengan rasa bahagia dara bisa menyayangi Zaidar, meski jelas Zaidar bukanlah anak Dari Bagas.


Dara turun dari mobil sedan mewah itu..


Dara menyebrangi jalan, Bagas masih belum bergegas sebelum sosok Dara hilang dari pandangannya saat itu.


Saat Dara menyebrang, suara klakson motor membuatnya berhenti berjalan lalu menoleh..


Yaa, Gustaf yang mengendarai motor tersebut.


Dengan jelas Bagas melihat Dara dan juga Gustaf berbincang hingga akhirnya Dara pergi berboncengan dengan Gustaf.


Apa- apaan itu! siapa pria itu? setahuku Dara hanya memiliki satu adik laki-laki yang bekerja di luar kota.. Dan nampaknya pria itu tak asing bagiku...


"Itu teman Tante ya Pah?" kata Zaidar yang mengamati Dara sejak tadi.


"Mungkin..." singkat Bagas menjawab


"Zai ingat.. itu kan om yang pernah berbicara dengan Tante, sewaktu kita menjemput Tante waktu pertama kali" kata Zaidar membuat daya ingat Bagas kembali terang.


Iyaa... benar kata Zaidar.. dia laki-laki yang pernah menahan sejenak kepergian Dara kala itu.. yaa aku ingat...


Ada hubungan apa mereka? kenapa Dara terlihat sangat akrab dengannya? ..


Bagas membatin penuh tanya, nampaknya hati Bagas tak tenang kala itu..


Aku melihatnya kesal sekali... apa aku??? ah apa aku, Cemburu???!!!


*


*


*


Cemburu menguras?????? menguras kolam air mata ,🤭😂


Kalian kalo cemburu sama pasangan seperti apa guys??


Jangan lupa like komen dan rate yaa..

__ADS_1


boleh juga kirim semangat untukku lewat setangkai dua tangkai mawar atau secangkir kopi ...


TERIMAKASIH 🥰


__ADS_2