Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
BT - 20


__ADS_3

"Maaahh... mamaa..." teriak Bagas usai pelayan membukakan pintu utama kediaman utama keluarganya.


"Den, Nyonya sedang berada di kamarnya" ucap salah satu asisten rumah tangga.


Langkah panjang Bagas membawanya ke dalam kamar sang ibu..


"Mahhh...." Bagai luluh seketika melihat sang ibu terbaring lemah. Infus penambah cairan tubuh pun terpasang di tangan kirinya.


"Selamat siang Mas Bagas..." sapa dokter pribadi keluarga Bagas.


"Mama kenapa?" tanya Bagas to the poin.


"Kekurangan cairan, Benayak beban fikiran juga sepertinya, tekanna darahnya sangat tinggi.." kata dokter menjelaskan.


Mah.. apanyang mama pikirkan? seharusnya mama jangan pikirkan Bagas mah.. Bagas membatin, ia mengingat cekcok yang terjadi pada Bagas dan sang ibu kemarin.


"Lalu bagaimana kondisinya?" tanya Bagas lagi.


"Sudah saya berikan obat, Allahamdulillah beliau bisa tidur dan saya yakin saat terbangun Nyonya akan jauh membaik..." ucap menenagkan dokter tersebut.


"Baik.. terimakasih..." jawab Bagas.


Bagas langsung menoleh ke arah Alex, membuat Alex melangkah mendekat.


Harusnya kita bertolak kerumah sakit saja.. bisik Bagas pada Alex dengan kesalnya.


Tapi Tuan, nyonya besar tenru lebih penting kan dari pada---


Diam kamu, atau kamu mau ya saya lempar ke kandang macan... -. kesal Bagas.


Bagas kemudian kelaur dari kamar tersebut di ikuti oleh Alex..


"Mama sedang istirahat, segera kita kerumah sakit" pinta Bagas saat itu juga.


Alex tidak dapat membatah, ia bergegas mengikuti langkah Bagas yang berjalan menuju mobilnya.


Alex kembali menujukan keahlian nya dalam mengendarai mobil dengan lincah dan cepat.


Jantung Bagas berdetak kencang saat ia mengingat sebuah panggilan telfon yang mengatakan bahwa mawar memberikan respon berupa gerakan pada jemarinya.


Siapa sangka di tengah perjalanan Bagas mendapatkan kabar tentang keadaan sang ibu ..


Bagas yang berniat menuju rumah sakit harus memutar arah menuju kediaman utamanya.


Memastikan keadaan Ibundanya akan membaik, Bagas bergegas menuju rumah sakit.

__ADS_1


Selama perjalanan Bagas dengan senyum tipisnya berharap mawar akan segera sadar dan dapat kembali sehat.


Bagas di arahkan menuju ruang dokter dimana dokter sudah menunggu kehadiran Bagas sejak tadi.p


"Dokter.. apa ini pertanda baik?" tanya Bagas pada salah seorang dokter senior.


"Jika ini berkembang terus menerus, maka ini manjadi pertanda baik.. jika tidak, yaa mungkin ini tandanya ia ingin segera di lepaskan" kata dokter tersebut, dokter senior yang menangani mawar.


*


Siapakah mawar? Rahasia dulu ya..


*


Bagas hendak kembali bekerja, namun langkahnya terhenti saat pintu lift terbuka.


"Rega...." ucap pelan Bagas..


"kak..." kaku bagas saat melihat sosok Bagas berdiri menunggu lift terbuka.


"Ada apa kamu kesini?" kata Bagas kesal bahkan ia meemutuskan untuk berdiam memberi pertanyaan pada Rega.


"Kenapa memangnya?" kata Rega dengan santainya.


"Cukup Rega!! kamu memang tidak pernah menghargai ku sebagai Kaka..." kata Bagas begitu kesal.


"Kakak? hemmm baiklah akan aku hargai... apa mau mu? Kaka?" kata Rega kesal, ucapanya begitu sinis dan menyingung perasaan Bagas.


"Aku sudah banyak mengalah bukan? sekalipun pengorbananku tidak sedikitpun kamu lihat.." Rega terkekeh kecil menertawakan ucapannya sendiri.


"Bagass.... Harusnya kamu yang harus nya mulai menyadari, posisi mu saat ini.. Tidak kah kamu kasihan dengan Zaidar? Carilah sosok ibu untuknya" kata Rega begitu ketus.


"Jangan kau mengandalkan kesadaran mawar untuk menjadi ibu dari Zaidar" kata Rega dengan tawa meledeknya.


Bagas begitu kesal, ia menggepal kedua tangannya dengan penuh rasa emosi, wajahnya bahkan sudah sangat memerah saat itu.


Alex menepuk pelan bahu Bagas, memberi tanda pada Bagas agar dapat menahan emosinya.


"Aku akan mundur jika mawar yang meminta...!!!" kata Bagas sambil berjalan pergi masuk kedalam lift meninggalkan Rega begitu saja.


Kau akan merasakan apa yang aku rasakan nanti, Kakak Bagas!! Rega membatin kesal.


*


Mood Bagas seketika saja berubah, senyum sumringahnya kini berubah menjadi tatapan iblis yang jahat.

__ADS_1


"Tuan, Kita ada meeting pukul satu" kata Alex mengingatkan.


"Batalkan..!!!" Ketus Bagas.


Bagas masuk kedalam mobilnya membanting pintu mobilnya dengan penuh rasa kesal.


Kenapa harus Rega? kenapa harus dia?


apa tidak ada pria lain???


Andai saja aku mampu bersikap saat itu, mungkin semua tidak akan terjadi.


"Alex... bagaimana kondisi gudang yang di kelolah Rega? Saya butuh laporan itu, segera..! kata Bagas tegas.


"Baik Tuan, saya akan siapkan.." kata Alex dengan tegas.


Tiba di kantor yang megah..


Alex memberikan laporan gudang dan pabrik yang di kelolah oleh Rega sejak tiga bulan terakhir.


Bagas membaca penuh ketelitian..


"Meningkat pesat.." Ucap Bagas sedikit luluh atas prestasi yang di capai adiknya.


"Siapa perempuan yang tengah dekat dengan Rega?" tanya Bagas pada Alex.


"Tidak ada pak, hanya perempuan di club' saja yang berusaha mendekati Tuan Rega, namun tidak ada satupun yang dekat dengan spesial.." kata Alex tegas dan yakin.


"Bagaimana sikapnya dirumah??"


"Masih sama Tuan, Pulang tengah malam, dan seperti Tuan juga, Rega pun sering berdebat dengan Nyonya..." kata Alex jujur membuat Bagas memalingkan wajahnya sinis.


"Awasi dia terus, jangan sampai dia tahu siapa Zaidar.." kata Bagas kesal.


"Baik Tuan.. saya mengerti ." kata Alex.


Maaf Rega, untuk saat ini akulah orang yang paling egois setelah kamu menusukku begitu dalam dan menyakitkan.. Aku tidak akan menyakiti kamu biar takdir yang membawamu merasakan sakit yang juga kurasakan kemarin...


*


*


*


Like Komen dan Rate yaa temen-temen.. aku sedang berusaha mengatur waktu supaya bisa up setiap harinya.. so jangan lupa supportnya yaa 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2