Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
Menikah Saja


__ADS_3

Mendapat Ekspresi Bagas yang nampak bahagia dan juga senang, Dara memalingkan wajahny ke arah jendela.. Astsga, apa yang baru aku katakan tadi? Apa aku mengatakan aku cemburu? Apa benar aku cemburu? Hemm pasti dia jadi kepedean deh.. Dara membatin merasa malu, namun nampaknya ucapan itu memang muncul Secara spontan karena hatinya merasakan hal tersebut.


"Terimakasih sudah cemburu, tapi kamu cemburu dengan siapa? Paman Alex?"


Mendengan Nama Alex, Dara menoleh memasang majah sinis sambil menaikan satu alisnya.


"Hemm atau pak Indra Client ku"


Dara menggelengkan kepalanya,.


"Ohh.. Sama hemm sama Yuni yaa? Sekertaris pak Indra yang cantik itu?" Dengan sengaja Bagas mengucapkan kata Cantik untuk mengetes bagaimana reaksi Dara saat itu. Dengan cerdik pula, Bagas sudah mengunci pintu mobilnya.. Yaa sekedar antisipasi jikalau Dara merajuk, ia tidak bisa keluar dari mobil.


Mendengar kata Cantik, mata Dara membulat ia langsung memalingkan lagi pandangannya sambil berkata.


"Cantik, sexy.. liat aja pake roknya balapan dengan celana short nya" kesal Dara membuat Bagas menahan tawanya.


Benar-benar mengelitik sekali cara kamu cemburu, Dara..


"Hahaha" Bagas tertawa cukup keras.


"Sayang kamu lucu sekali" Kata Bagas.


*Haduh, kenapa harus manggil sayang lagi? Kan rasa kesalku jadi sedikit melemah .. *


"Sayang.. dengar aku, wanita itu adalah sekertaris nya Pak Indra, kamu cemburu kenapa sama dia? Kok bisa cemburu? Padahal tadi kita bekerja secara professional dan kamu juga melihat kita kan??"


Bagas mencoba menjelaskan apa yang dapat ia jelaskan, baginya membuat Dara terlalu lama merajuk adalah kesalahan yang dapat membuatnya susah kemudian.


"Hah professional? Apa ada pekerjaan secara profesional pegang pegang lengan... kaya gini"


Dara mencontohkan dengan gaya lebih gemulai dan lebay, hingga kembali lepas tawa Bagas...


"Malah ketawa.. merasa lucu ya? Senang yaa di elus elus .. merinding tuh pasti" kata Dara kesal.


"Kamu kali yang merinding kalo aku cium" Ledek Bagas membuat Dara terkejut.


Hah? Dari mana dia tau? Astgaa malu sekali aku..


"Kenapa jadi aku, aku bahas dia yang tadi pegang pegang lengan kamu.. pake deket deket segala.. emang di angkot" kembali Dara mengundang gelak tawa Bagas ..


"Ngeselin ya kamu, aku lagi marah, kesel malah kamu ketawa"


"Maaf sayang.. maaf" Bagas berusaha menahan tawanya.


"Oke-oke.. aku minta maaf.. aku berani sumpah demi apapun, aku tidak fokus pada hal itu, aku hanya fokus pada perbincangan tadi di tambah aku harus mendengarkan apa yang paman jabarkan agar tidak ada yang salah.." kata Bagas mencoba menjelaskan.


"Tapi gapapa.. cemburu kan tanda sayang, cemburu tanda cinta, cemburu tanda kamu berhak atas aku.. makanya aku jadi senang, aku juga akan lebih menjaga hati kamu yang ternyata sensitif juga, ya?" Ucap Bagas namun Dara nampaknya masih sedikit acuh.


"Aku minta maaf yaa.." kata Bagas meraih satu tangan Dara dan mengecupnya.

__ADS_1


Astaga.. sengatan lagi, merinding lagi.. untung aku pakai lengan panjang jadi pak Bagas tidak tahu kalo aku merinding..


"Sudah ahhh.." Dara menarik tangannya.


"Bergegaslah aku rindu Zaidar" kata Dara merasa sedikit salah tingkah di buat kekasihnya itu.


*


Bagas sudah bersama Dara juga Zaidar di aprtemennya.. Masih memakai pakaian yang sama dengan rasa lelah di tubuh mereka, Dengan rasa bahagia mereka menyantap makan malam bersama sebelum terlalu larut waktunya.


"Enak??" Tanya Dara apda zaidar yang terlihat sangat lahap makannya.


"Enak Tante.. besok beli lagi ya?" Kata Zaidar dengan celotehan lucunya.


"Besok tante saja yang masak.."


"Boleh.. boleh.. aku juga rindu masakan tante.." Zaidar penuh rasa antusias.


"Dara.. kamu menginap kan?" Tanya Bagas.


"Iya.. aku sudah izin ayah dan ibu dan mereka sudah memberi izin tadi .." ucap Dara, di sambut senyum senang Dara.


Sudah pukul delapan malam.. sura bel terdengar, Bagas membukakannya segera.


"Mama" bagas sedikit terkejut dengan kedatangan ibundanya.


"Yaa ini sudah malam, mah.. wajar bagas terkejut dong..." kata Bagas.


Mama datang malam - malam membawa koper.. ada apa ya?


Dari meja makan Dara mendengar suara ibu nia pun sedikit terkejut dan jantungnya mulai berdebar sedikit kencang.


"Omah.. itu suara omah" kat zaidar yang langsung saja berlari menuju pintu utama.


Bagas sudah yakin jika ibu Nia akan bermalam disana..


"Oma kenapa omah bawa koper, oma mau menginap ya??" Zaidar berucap dengan sangat polos penuh rasa kegembiraan.


"Iyaa sayang... oma akan menginap disini" kata Ibu Nia sambil memeluk Zaidar.


Dara datang, sedikit membuat Ibu Nia terkejut, ada Dara? Aku pikir dia akan mundur setwlah ucapanku waktu itu di caffe.. Ibu Nia membatin sambil menyambut Dara.


"Ada Dara.. apa kabar Dara?" Ramahnya ibu Nia yang justru mengundang rasa cangung Dara.


"Dara juga menginap mah, siapa yang mengurus zai kalo Dara tidak disini.. " kata Bagas.


"Oh begitu, mama kira Dara sudah fokus di kantor " sindir Ibu Nia.


Dara hanya terdiam, sekilas melempar senyum tipisnya.

__ADS_1


Astaga.. aku hatus bersikap apa ya? Aku benar-benar dek-dekan sekali.. masih teringat pula ucapan ibu nia saat itu padaku..


"Tidak juga mah..." kata Bagas.


"Zai bisa tolong ambilkan oma minum?" Ucap Ibu Nia dengan sengaja.


"Biar saya saja ya, bu?" Dara mencoba mengambil alih tugas itu.


"Jangan!! Biar zaidar saja" larang Ibu Nia.


Aduh.. kenapa jadi kikuk gini aku.


Zaidar berlari dengan riang mengambilkan minum untuk neneknya.


Ibu Nia langsung menarik nafasnyaa dan menghembuskan kasar..


"Mama bingung, kalian kan saat ini kan memiliki hubungan lebih dari sekedar atsan dan pekerjanya.. kok bisa kalian berada di satu atap yang sama?"


Ibu Nia berucap sambil berjalan menuju sofa, ia duduk lalu menatap Bagas juga Dara.


"Yaa mau bagaimana lagi mah? Tidak mungkin Bagas bisa mengurus Zai sendiri.. "


"Ada mama kan? Apa kamu lupa dengan mama?" Cecar Ibu Nia yang membuat Dara hanya bisa diam tertunduk tanpa berucap satu kata pun.


"Kamu juga Dara, kamu kan perempuan.. ko mau satu atap dengan duda.." ucapan itu sangat menyakitkan bagi Dara, tak pernah terbesit di pikiran Dara mengenai apa yang akan mereka lakukan di apartemen itu meski kini status mereka berbeda.


"Astagfirullah.. mama!!" Bagas sedikit menekan ucapannya.


"Mah.. bisanya mama juga kan sibuk, mengurus salon mama, arisan dan lain halnya" kata Bagas memberi sedikit pembelaannya.


Bagas melihat Dara yang nampaknya juga sedikit takut dan tersingung dengan ucapan ibu Nia..


"Yaa kalo begitu, Menikah saja kalian dari pada mengundang fitnah! Ingat Bagas, ada beban nama baik keluarga yang harus kamu jaga!!"


Ucapan Ibu Nia yang tegas membuat Dara dan Bagas terkejut.


Menikah? Secepat ini?? Aku belum siap, Tuhan.. bantu akuu ...


*


*


*


TBC ..


Siapa ya yang belum siap? Hihihi


jangan lupa like komen dan rate nya yaa🥰

__ADS_1


__ADS_2