
Hujan deras mengguyur kota yang masih terlihat ramai dalam kegelapan.. beberapa lampu penerang jalan mati karena adanya pohon tumbang, kemacetan pun tak dapat di hindari.
Sudah tiga puluh menit Bagas, Zaidar serta Dara terjebak kemacetan. Mereka yang duduk di kursi tengah nampaknya tengah di rundung rasa lelah, Zai terlelap lebih dulu. Kepalanya berada dalam dekapan hangat tubuh Dara kala itu, di susul oleh Dara yang ikut terlelap kepalanya ia sandarkan ke jendela mobil.
Bagas melihat ke arah anaknya yang nampak nyaman..
wahh.. apa yang Dara berikan pada Zai? kenapa mereka bisa sedekat ini.. hmm
Lamunan Bagas membawanya terlelap dalam tidurnya.
Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu selama empat puluh menit kini harus mereka tempuh selama dua jam akibat kemacetan yang terjadi.
Setibanya di lobby apartemen mewah, Bagas terbangun lebih dulu, karena supirnya yang membangunkan nya.
Bagas melihat Dara juga Zaidar masih tertidur sambil saling memeluk.
Bagas dengan cueknya meraih tubuh Zaidar perlahan dalam dekapannya, Bagas menggendong puteranya dengan sangat lembut agar Zaidar tidak terbangun dari tidurnya.
Dara menggeliat namun tidak terbangun, Dengan sekali hentakan Bagas dengan sengaja menutup kencang pintu mobil itu.
Bughhhhh...
Dara yang hampir saja terbangun terkejut, ia begitu shock..
"Astaghfirullahhhhhhhh" Dara mengucap dengan begitu emosional, matanya membulat, mulutnya sedikit terbuka.
"Gendeeengggggg...!!" kesal Dara melihat sosok Bagas menggendong Zaidar menjauh dari mobil.
Supir pribadi Zaidar bergegas membuka pintu tengah itu..
"Mbak Dara??? mbak Dara gapapa kan? mbak Dara se-hat mbak?" Ucap supir itu, ucapannya tertahan di akhir kalimat saat melihat ekspresi kesal Dara.
"Dasar Sinting" kesal Dara sambil meraih tasnya.
"Maaf mbak, bukan saya yang menutup pintunya" kata supir itu merasa tak enak pada Dara.
"Memang bukan bapak, noh majikan sinting" kesal Dara menunjuk ke arah Bagas yang sudsh berjalan menjauh.
Supir itu mendelik menelan Saliva nya, tak menyangka Dara sangat berani terhadap Bagas, majikannya.
Dara melangkah lebar berusaha menyamarkan posisinya dengan Bagas namun sepertinya sulit.. Bagas sudah masuk kedalam lift untuk tiba di Apartemen nya , sementara Dara.. dengan muka bantalnya dan rambut yang terlihat tak rapih berjalan cepat sambil mengungkapkan kekesalan nya.
"Dasar laki-laki gak ada otaknya, baru saja gue tidur pake di bangunin kasar kaya gitu, gue kurang apa si dari pagi ... menuruti apa perintahnya, menjalankan tugas dengan baik.. dia pikir menyiapkan makan, mandiin, pakein baju perkara mudah?? Kesabaran dan keimanan gue teruji disana.." emosi Dara.
__ADS_1
Dara bahkan berbicara tanpa memikirkan sekelilingnya yang tengah mendengarkan celotehan Dara.
Seorang ibu-ibu paruh baya membulatkan matanya sambil membuka mulut kecilnya.
"Awas aja.. kalo sampai aku masih di suruh ini dan itu lagi, hemm aku pura-pura tidur saja" kata Dara santainya.
"Pasti dia sudah memasang wajah singa kelaparan ya.. melihatku seperti mangsanya yang ingin segera ia terkam" Tambah Dara bermonolog.
Apa gadis ini seorang simpanan? kenapa berbicaranya seperti itu?
sayang sekali, ya? cantik-cantik namun pekerjaannya kurang baik.. memanfaatkan kecantikannya.
Tatapan beberapa orang begitu sinis pada Dara.. Sesaat Dara menyadarinya, wajahnya menjadi memerah saat ia merasa terpojokkan.
Mereka kenapa sih, sinis betul? Batin Dara merasa segan.
Ting...
Pintu Lift hampir terbuka, Dara bergegas keluar saat ia melihat angka 5 pada layar monitor kecil pada badan Lift.
"Cantik-cantik nakal" ucap salah satu wanita paruh baya disana.
Mata dara membulat, sambil menoleh ke arah belakang usai ia keluar dari lift.
"Aishhhh... kenapa semua menyebalkan?" kesal Dara kala itu.
Dara melangkah sedikit untuk tiba di depan pintu, Dara hendak mengetuk pintu namun ia mengingat bahwa ia memiliki akses masuk ke dalam apartemen tersebut.
Dara menempelkan sebuah kartu untuk dapat membuka pintunya.
Melihat sekeliling nampak sepi..
"Sepertinya Pak Bagas sudah membawa Zai ke kamarnya.. Ah lebih baik aku membersihkan diri lalu tidur" ucap Dara, sambil ia berjalan menuju kamarnya yang berdampingan dengan dapur.
Usai dara menyelesaikan mandinya, ia teringat akan tugasnya besok.. sejenak Dara menyempatkan diri menuju dapur menyiapkan beberapa bahan agar tidak terlalu tergesa-gesa saat pagi nanti.
"Astaghfirullah" Dara berteriak kencang, sambil ia menutup wajahnya dengan telapak tangan lalu membalik badannya.
"Hei.. ngapain kamu?!" Ucap Bagas Tegas.
"Haduh... bapak yang ngapain, kenapa ke dapur pake kolor tanpa baju? macam tuyul" ucap Dara spontan.
"Apa kamu bilang???" kesal Bagas.
__ADS_1
"Hemm anu pak... anu saya liat anu..." ucap Dara gugup.
Bagas terdiam sejenak.. ia melihat dirinya dari pintu kulkas..
Astgaaa... apa Anu yang dia maksud itu...Ah yang benar saja?! ini tidak nampak... Batinnya berusaha meyakinkan diri.
Bagas bergegas meraih handuknya yang ia letakkan di meja dapur.. Lalu ia melingkarkan ya di area pinggangnya.
"Ngapain kamu malam-malam ke dapur" kesal Bagas merasa malu.
"Saya mau .. mau anu... eh ... hmm maksud saya mau itu..." Dara sangat gugup, ia tidak pernah melihat seorang pria tampan nan rupawan telanjang dada seperti apa yang baru saja ia lihat...
"Bicara yang jelas!" ketus Bagas.
"mau... hemm saya... mau menyiapkan bahan masak besok" kata Dara dengan cepat berusaha keras ia memberanikan diri.
"Hemmm" Bagas berlalu begitu saja melewati tubuh Dara yang tengah mematung. Bagas terlihat membawa secangkir kopi kala itu.
Astagaaa kenapa gemetar kakiku.. itu dada Glowing banget, bahunya juga gak kalah Glowing .. pasti ikut pakai cream malam...
Dara membatin, terpesona melihat tubuh kekar putih nan indah menawan.
"Astaghfirullah....." Dara beristighfar menyadarkan lamunannya sambil mengusap sedikit kasar muka nya dengan kedua telapak tangan nya.
"Sadar Dara... Sadar.... Ini dosa... ternodai sudah mata suciku..." Ucap Dara pelan mengutuk dirinya.
"Ah.. Lumpuhkan ingatanku, Tuhan... jangan buat aku terbayang-bayang sama anu dan ahhh aku jadi membayangkan lagi dada bidang glowingnya itu" kata Dara kembali ingatannya memutar bidikan matanya saat melihat Bagas tadi..
Dara menuju wastafel pencucian piring, bergegas ia mencuci mukanya lagi.
"Hus hus hus... simsalabim.. hilang yaa ingatan itu..." Dara bermonolog dengan konyolnya berharap segala daya ingat itu hilang, meski secara manusiawi... Perempuan mana yang Dapat melupakan keIndahan Ciptaan tuhan?????? hihi.
*
*
Kalian bisa melupakan tidak??? tidak???? Lemah ,🤧🤭😅
aduh maap otornya Korban konten tik*ok 🤧🤣🙏
BTW
Selamat Hari Senin... Yuk vote, komen dan Like nya yukk.. Bila ada rejeki boleh donk berbagi mawar atau kopinya hehe.
__ADS_1
Makasih, berkah selalu ❤️🥰