
Dara menatap sinis Bagas, nampaknya ia tidak menyukai apa yang di ucapkan oleh Bagas pada Mawar kala itu.
Menyaksikan Mawar begitu merasakan kesakitan Bagas terdiam, merenangun sambil menatap kosong ke sembarang arah.
Apa aku terlalu berlebihan yaa? tapi itu semua seolah di luar kendaliku saat ini. Bagaimana jika Mawar merasakan sakit tadi itu karena ku? apa aku salah meluapkan isi hatiku? Halah mereka mana mengerti apa yang aku rasakan.
Bagas nampaknya merasa gundah, Dara dan Alex menampakkan kekecewaannya pada Bagas dengan sangat jelas.
Hari sudah malam, Bagas menyadari bahwa Dara masih berada di kamar Zaidar.
Apa dia ketiduran? Batin Bagas.
Bagas membuka perlahan pintu kamar Zaidar, ia melihat Dara tengah merebahkan tubuhnya sambil asik bermain game puzzle di ponselnya.
"Saya pikir kamu ketiduran" ucap Bagas berseru ria.
Hemm sok asik, padahal aku malas sekali meladeninya..
"Dara, apa kamu tidak kembali ke rumah sakit? siapa yang menjaga ayahmu malam ini?" tambah Bagas mendekat berjalan pelan ke arah Dara.
"Bapak ngusir?" kata Dara sambil merubah poisisnya menjadi duduk.
"Kok ngusir saya hanya bertanya, saya khawatir kalo kamu kesana terlalu malam nantinya" Ucap Bagas yang sesungguhnya.
"Justru saya berada disini karena khawatir sama Zai" kata Dara sedikit ketus.
"Khawatir kenapa? memang Zai kenapa? demam?" Jawab Bagas sedikit panik sambil memegang kening zaidar memastikan suhu tubuhnya.
"Ihh.. bukan..!" kesal Dara atas ketidak pekaan Bagas.
"Bapak gak sama sekali khawatir dengan mbak Mawar? Saya pikir saat ini bukan saat nya memikirkan cinta atau tidak tapi lihat posisi mbak Mawar, sebagai ibu Zaidar.. Terlebih kalian belum resmi bercerai.." kata Dara dengan cukup berani.
"Tolong Dara., saya sudah cukup merasakan sakit hati atas perbuatan Mawar.. Saya juga sangat menyayangi Rega, dia terlihat masih mencintai Mawar.." sendu Bagas yang masih merasakan sakit bila memikirkan pengkhianatan seorang isteri juga adik kandungnya.
"Iyaa, saya paham mungkin bapak masih memendam perih itu.. Tapi, Maaf mungkin kesannya saya terlalu ikut campur, karena saya juga wanita saya merasakan sakit yang mbak Mawar rasakan atas ucapan ketus bapak itu. kalian kan bisa bicara baik-baik tidak harus berbicara seperti tadi, sama saja bapak menelanjangi mbak Mawar di depan yang lainnya. " kata-kata Dara membuat Bagas semakin tertekan dalam sebuah kesalahannya.
"Pak... kalo kita melihat seseorang berdasarkan rasa ketidak sukaan, maka orang itu akan terus terlihat buruk meski seribu kebaikan ia lakukan.. Tapi, Jika ada dasar rasa suka, seribu kejahatan bisa menjadi kebaikan di mata kita.. Jadi menurut saya, itu tergantung dasar kita menilai seseorang, Pak..."
Bagas semakin terdiam..
"Datanglah kerumah sakit, temui mbak Mawar.. Dia hanya butuh perhatian bapak sedikit saja, lihat matanya yang penuh dengan penyesalan atas kesalahannya" kata Dara dengan nada yang pelan mendayu menahan tangis.
"Saya tidak bisa.." Singkat Bagas.
"Yasudah.. terserah bapak saja, saya tidak menyangka ego bapak terlalu besar, gengsi juga ya?". ketus Dara dengan beraninya.
"Kamu tidak paham, Dara"
__ADS_1
"Iyaa ga paham, kalo begitu saya mau pamit saja, mau melihat kondisi mbak Mawar lalu kerumah sakit menemani bapak dan adik saya.. " kata Dara menyingung Bagas.
Malam-malam begini? benar-benar nekat kamu, Dara.
"Jangan!! sudah biar saja saya menemui Mawar!" kata Bagas sambil bergegas pergi me inggalanan kamar itu begitu saja.
Dara melebarkan senyumnya di balik sedikit rasa cemburunya.
Aku yakin masih ada cinta di antara keduanya.. Dara membatin pilu..
*
Bagas menuju ruang perawatan, terlihat hanya ada Rega yang sudah tertidur di sofa saat itu, bahkan ia tidak terbangun saat Bagas membuka pintu dan masuk kedalam ruangan tersebut.
Lain dengan Mawar, entah mengapa matanya belum terpenjam, senyumnya melebar saat itu di balik alat oksigen yang terpasang.
"kenapa belum tidur" ucap Bagas pelan, mawar hanya menggelengkan kepalanya sambil menitihkan air matanya.
Astaga Tuhan.. apa ini karena perbuatanku? Bagas membatin menyesal melihat kondisi Mawar.
"Sudah pukul sebelas, tidur ya?" kata Bagas, dan Mawar hanya menggelengkan kepalanya.
"Jangan menangis" kata Bagas mengusap air mata mawar yang mengalir ke samping matanya.
"Maafkan aku ya, Mawar... ucapan ku begitu menyakiti hatimu .. maaf.. maaf sekali" kata Bagas, Bagas meraih satu tangan mawar lalu menggenggamnya.
"Cepat sehat, jangan sampai sakit.. kasihan Zaidar kalo tahu kamu terbaring lemah disini, dia akan sedih" kata Bagas memberi sebuah semangat untuk mawar.
"Aku.... aku sayang kalian" kata Mawar sangat lirih dan pelan.
Hati Bagas tersentuh dengan rasa Iba dan rasa Bersalahnya.
"Iya, aku Tahu, maafkan aku.. ya?" kata Bagas dengan sangat lembut.
Hatinya tak sanggup menahan rasa itu iba nya.
"Mas... Jika aku bisa memperbaiki semua, apa ada kesempatan???" lirih mawar berucap, pelan.
Bagas teridam tertusuk me dengar pertanyaan Mawar yang membuat hatinya bimbang.. sekilas pula muncul bayangan wajah Dara.
Apa yang harus aku jawab? ada Dara yang mulai membuka hatiku.
Tapi, ada mawar cinta pertamaku..
"Kak!!! Apa yang kamu lakukan??!" Rega bangun dari tidurnya terkejut melihat ke arah ranjang mawar.
Bagas menegakkan tubuhnya, Rega mendekat ke arah Bagas dan MAwar.
__ADS_1
"Tidak usah pakai nada tinggi, Mawar sedang sakit" kata Bagas melihat amarah pada wajah Rega.
"Justru mawar begini karena ulahmu, pikirkan itu!" kata Rega kesal.
"Cukup!" mawar membuka oksigen lalu berbicara cukup lantang.
"Aku ingin sendiri, tolong kalian tinggalkan ruangan ini sejenak" kata Mawar membuat kedua pria itu saling memandang satu sama lain.
"Tolong keluar dulu" tambah Mawar memberi peringatan.
Bagas dan Rega akhirnya berjalan keluar ruangan dengan emosi mereka masing-masing.
"Jantung mawar bermasalah!" kata Rega membuat Bagas sedikit terkejut.
"Bermasalah? kenapa?" kata Bagas sedikit shock.
"entah.. dokter masih harus mengobservasi keadaanya. . . masih ada kemungkinan karena koma nya kemarin" kata Rega me jelaskan dengan sedikit acuh pada Bagas.
Astaga, apa ada kaitannya dengan ucapan ku semalam? batin Bagas.
"Kak... jelaskan ucapan mu, tadi?" kata Rega masih dengan rasa penasarannya.
"Ucapan? ucapan apa?" Bagas bingung seketika.
"Ucapan mu soal, kehamilan mawar saat menikah denganmu?" kata Rega begitu on poin menjelaskan.
Bagas terdiam, jantungnya berdebar kencang mendengar ucapan itu.
Aku harus apa? apa aku harus menjelaskan apa yang sesungguhnya? Rasanya aku tak sanggup bila nantinya Zaidar akan Pergi meninggalkan aku..
cukup mawar, yaa cukup mawar saja yang pergi meninggalkan aku, dengan luka yang teramat dalam.. jangan tambah dengan luka yang sangat pedih lagi..
Bagas terdiam pilu membayangkan pedihnya, tak mampu rasanya jika harus di tinggal pergi oleh Zaidar.
"Kak... Tolong, Jawab!" Rega semakin menekan.
*
*
*
Tunggu jawabannya nanti.. hehe
Hai semua, mohon maaf ku bolos up kemarin karena sedang ada pekerjaan di luar kota..
Harap maklum yaa..
__ADS_1
Jangan Lupa Like komen dan berikan dukungan lainnya yaa ❤️❤️❤️❤️