Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
MELEPAS RINDU


__ADS_3

Dara tidak dapat memejamkan matanya saat ia harus memikirkan Ayah serta Zaidar.. Tidur di ruang tunggu pasien di sebuah ruangan yang tak terlalu besar , beralaskan karpet hijau menjadi tempat Dara dan Ibunya berjaga di depan ruang ICU.


Aku pasti di pecat.. ucapnya membatin saat membayangkan Zaidar tengah menangis mencarinya.


Aku juga tidak hafal nomer ponsel pak Bagas...Tambahnya membatin..


"Salah dia sendiri sih" ucap Dara spontan saat benaknya menyalahkan Bagas yang tidak membalas pesan nya.


"Siapa yang salah, Dar?" Tegur ibu sontak membuat Dara menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Bukan siapa-siapa Bu" kata Dara sedikit salah tingkah.


"Apa yang kamu pikirkan? Nak Gustaf ya?" goda Ibu membuat dara menaikan sisi kanan bibirnya..


"Ibu ini, bicara apa? kenapa jadi ke mas Gustaf" kata Dara sambil menggaruk kepalanya.


"ibu hanya bertanya, apa kamu memikirkan nak Gustaf? " kembali ibu menjelaskan maksudnya.


"Bukanlah.. masa mas Gustaf.. " kata Dara dengan gaya bicara nyeleneh nya.


"Lalu siapa?" Tanya Ibu.


"Tidak ada Bu, hanya memikirkan pekerjaan Dara saja.." kata Dara berbohong.


"Kan ibu sudah bilang, jika ibu saja bisa menjaga ayah, kenapa kamu harus bolos bekerja?" kata Ibu saat itu.


"Dara lebih baik kehilangan pekerjaan ini Bu, dari pada harus meninggalkan ibu seorang diri disini" kata Dara cukup membuat haru hati ibu.


"Dara... Ayah kamu ingin sekali kamu berjodoh dengan Gustaf... tapi... kamu tenang dulu, ayah bicara sama ibu, kalo kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Gustaf maka ridho ayah akan selalu menyertaimu" kata Ibu sendu, entah mengapa air mata Dara mulai berkumpul di *** matanya..


"Bu.. Dara masih sangat muda, Ibu tahu kan cita-cita Dara" ucap Dara sambil tersenyum dengan air mata nya yang berlinang.


"Dara ingin ayah dan ibu senang..." ucapnya semakin lirih.


"Terimakasih, kamu dan Zhufar memang anak-anak hebat nak" kata Ibu hingga Dara tak kuasa lagi menahan diri untuk tidak memeluk ibu.. Dara memeluk erat ibu seolah keduanya t


entah menguatkan satu sama lain.


*


Matahari masih sangat malu untuk menampakan sinarnya, namun Bagas sudah kebingungan dengan tangisan Zaidar yang menanyakan sosok Dara.


"Zai.. lihat mata papa, sudah seperti zombie .." kata Bagas yang memang baru dua jam tertidur.


Zaidar masih terus menangis ..


"Okeoke . . papa akan jelaskan yang sesungguhnya, tapi tolong.. diam yaaa nak, diam" kata Bagas menggaruk kepalanya yang tak gatal..


Gaya bicaranya pun penuh rasa gemas kesal pada Zaidar.


"Apa?" kata Zaidar menahan tangisnya.


"Tante Dara, sedang menjaga ayahnya yang sedang sakit dan di rawat dirumah sakit... untuk itu Tante Dara tidak dapat kembali dulu ke sini..." kata Bagas penuh kesabaran, intonasinya lembut namun penuh penekanan di beberapa kata.


"Papa bohong" Zaidar masih sangat labil, seolah tak percaya dengan omongan Bagas.

__ADS_1


"Yaa Tuhan..." Bagas menepuk keningnya, mengumpat kesal dalam hatinya.


Benar-benar sulit menaklukan kamu Zai...


"Papa tidak berbohong, Nak.. ponsel Tante Dara rusak jadi tidak bisa di hubungi..." Tambah Bagas beralasan.


"Kalo begitu, kita temui saja Tante Dara." kata Zaidar santai.


Bagas kembali menggaruk kepalanya.


aku tidak bisa mengalahkan egonya.. benar-benar anak Rega ya kau ini... Kesal Bagas membatin..


"Oke... baiklah, tapi tolong berikan papa waktu untuk tidur, ya? lagi pula kita harus datang sesuai jam besuk" kata Bagas memohon pada puteranya.


"Baiklah.. akan aku bangunkan papa pukul delapan.." kata Zaidar sedikit menampakkan wajah kesalnya, sambil berpaling kembali berbaring memeluk guling.


Kamu juga ngantuk kan? hanya gengsi saja kan.. Bagas terkekeh sambil memejamkan matanya hingga dirinya terlelap tidur.


Pukul Sepuluh Pagi..


Bagas dan Zaidar sudah bersiap diri, mereka menuju ruang makan secara bersamaan untuk sarapan yang terlalu siang itu.


Beberapa menu di hidangkan oleh seseorang yang sudah di perintahkan oleh Alex.


"Papa... boleh ga kalo Tante sudah kembali kesini, aku sekolah lagi di sekolah?" tanya Zaidar sambil mengunyah makanannya.


"Nanti papa pikirkan" Singkat Bagas menjawab.


"Hemm mama akan tinggal disini kan, pah?" tanya Zaidar lagi.


"Hemm.. lalu, mama akan tinggal dimana pah?" tanya Ziadar lagi.


"Nanti akan papa pikirkan, habiskan makanan kamu agar kita bisa cepat menuju ke rumah sakit" kata Bagas sedikit kesal karena pertanyaan Zaidar.


*


Bagas tidak mengendarai mobil ya sendiri saat itu, menggunakan kaos polo berkerah berwarna hitam dengan celana pendek berwarna cream di padukan dengan sepatu kets membuat penampilannya terlihat sangat fresh..


Oh.. Sugar Daddy... hihi..


Bagas langsung menuju lantai tiga dimana tua g ICU berada.. Jantung Bagas berdetak lebih cepat selayaknya genderang yang ingin perang.


Kenapa aku nervous sekali.. Batin Bagas.


"Dimana Tante Dara ya Pah..." kata Zaidar celingukan..


"Dara..." Bagas melihat sosok Dara yang tengah berbincang dengan seorang wanita paru baya di hadapannya..


Dara nampak terkejut saat itu, bergegas ia beranjak menghampiri Bagas dan Zaidar.


"Astaghfirullah... Kalian???" kata Dara tak menyangka.


"Tanteeee" Zaidar berlari kecil menghampiri Dara, lalu memeluknya dengan manja.


Astaga rindu sekali aku pada bocah ini... Bati Dara.

__ADS_1


""Zai.. kok bisa sampai disini" kata dara.


"Karena papa tau kalo Tante disini.." kata Zaidar membuat Bagas merasa malu.


Pak Bagas tau aku ada disini? apa dia mencari aku yaa... - Batin Dara penuh kegembiraan.


"Siang pak" ucap Dara menyapa majikannya itu.


"Siang Dara, apa kabar?" kata Bagas.


kok gue tanya apa kabar sih?! kaku sekali .. kesal Bagas mengutuk dirinya.


"Kabar saya baik pak.." ucap Dara.


"Maaf dara kita kesini, Zaidar sibuk menanyakan kamu terus" kata BGas beralasan.


Aku kira bapak juga merasakan hal yang sama dengan Zai, nampaknya tidak ya ... Batin Dara.


"Tak Apa pak, maaf ponsel saya tertinggal dirumah..." kata Dara jujur.


Papa berbohong lagi, papa bilang ponsel Tante rusak.. Awas saja ya Pah.. Kesal Zaidar mengingat ucapan Bagas pagi tadi.


"Bagaimana keadaan orang tua kamu?" Tanya Bagas.


"Ayah masih dalam pengawasan intensif di dalam... doakan saja pak" kata Dara memberikan senyum harapannya..


"Kamu sendirian, atau???" Bagas menoleh ke arah perempuan paruh baya yang duduk bersama Dara tadi.


"Saya bersama ibu, tapi ibu saya pulang sebentar.. jadi saat ini saya sendiri" kata Dara menjelaskan.


Mereka duduk, Dara memangku Zaidar sementara Bagas dan Dara tengah berbincang bersama kala itu membahas kondisi ayah Dara..


Yaa Tuhan, kenapa aku senang sekali bisa melepas rinduku pada Zaidar.... hemm yaaa sama papahnya juga sih... hemm hati ini lemah sekali yaa.. Batin Dara yang begitu menikmati obrolan mereka.


Obrolan santai dan penuh keceriaan itu seolah menghibur Dara yang sejak kemarin berpuasa untuk tertawa karena rasa khawatirnya terhadap kondisi sang Ayah..


Ini namanya melepas rindu ..


Tak lama Dara menoleh panik saat namanya di panggil....


"Dara....."


Astaghfirullah... Dara membatin, di ikuti dengan debar jantung yang mulai berpacu lebih cepat lagi..


Bagas ikut berdiri saat Dara berdiri..


*


*


*


Kira-kira siapa yang memanggil Dara????


hihi..

__ADS_1


Like komen rate nya yaa.. 💋❤️


__ADS_2