Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
PANGGIL AKU "MAS"


__ADS_3

"Ini siapa, Dara?" Tanya ibu yang baru saja datang bersama dengan Gustaf..


Dara panik, bingung menjelaskan pada ibu..


Gustaf memperhatikan Zaidar, ingatannya langsung membuka ingatannya pada sosok Zaidar bocah yang memanggil Dara dengan panggilan Tante.


Bagas yang mengetahui alasan Dara pada kedua orang tuanya pun akhirnya angkat bicara.


"Saya adalah atasan. Dara, Dara bekerja sama saya, Bu .. mas" kata Bagas dengan santun pada ibu dan juga Gustaf.


Gue di panggil mas sama dia!! Gustaf membatin kesal.


"Owalah... Yampun pak, maaf yaa haduh saya jadi tak enak" kata Ibu sedikit panik karena mengetahui siapa Bagas.


"Panggil Bagas saja, bu" kata Bagas sopan.


Dara sepertinya nampak sedikit gelisah, wajahnya sangat panik kala itu.


Aku takut, takut ibu tahu pekerjaan asliku.. aku takut ibu kecewa dan malu .. Batin Dara panik.


"Ini yang tampan siapa" tanya Ibu pada Zaidar.


"Aku, Zai" ucapnya malu-malu.


"Dia anak saya, Bu" kata Bagas ternsyum.


oh sudah punya anak... bagus deh, jadi gak ada kesempatan dia merebut hati dara.. Gustaf membatin.


"Ohh, sama-sama Tampan yaa dengan papa .. mamanya mana?" tanya Ibu membuat Dara semakin gelisah.


"Mama juga sedang sakit.." kata Zaidar dengan polosnya.


"Ya ampun .. semoga mama mu lekas sehat nak" kata Ibu ternsyum lebar.


"Ibu bawa makanan, makanan sederhana.. kita makan bareng yuk, kebetulan ibu bawa lebih..."


"Di dalam saja Bu" ajak Dara ke dalam ruang tunggu yang di khususkan untuk keluarga pasien di ruang ICU.


Semua berjalan masuk kedalam . .


Gustaf nampak kesal saat Bagas dan Dara duduk bersampingan sementara Zaidar berada di pangkuan Dara .


"Nih, ibu bawa tumis cumi .. capcay dan tempe mendoan kesukaan dara" kata Ibu memperlihat kan menu yang ibu masak secara kilat.


"Bu.. pak Bagas gak bisa makan pedas" kata Dara.


"Tidak apa aku cicip sedikit" kata Bagas tersenyum dan hendak mencoba menu masakan ibu.


"Zai makan apa? ini pedes kecuali tempe mendoan nya" kata Dara yang masih memikirkan Zai..


Siapa sih mereka, menyebalkan sekali . Batin .


Gustaf kesal.


"Zai masih kenyang gak mau makan" kata Zaidar menggelengkan kepalanya.


"Loh sudah jam makan siang, Zai" kata Dara.


"Dia baru makan satu jam lalu.. kita bangun sangat telat tadi" kata Bagas terkekeh berbicara pelan.

__ADS_1


"Oh.. ya sudah.. nanti kita cari makanan yaa buat kamu" kata Dara pada Zaidar.


Ibu memberikan kertas pembungkus makanan berwarna coklat untuk menjadi pengganti piring saat itu, lebih praktis.


"Pak .. ini makannya pakai pembungkus nasi, gimana?" kata Dara menunjukkan gulungan kertas nasi itu sambil tertawa.


Bagas ikut melebarkan senyumnya.


"Tak apa ko"


"Nak Gustaf ayo di makan..." kata Ibu pada Gustaf yang sejak tadi sudah diam membisu.


"mas Gustaf, itu ada tumisan capcai kesukaan mas Gustaf kan?" kata Dara tersenyum lebar sambil memberikan nasi untuk Bagas.


kesal sekali , kenapa Dara memanggil orang itu mas juga, apa-apaan... Kesal Bagas membatin.


"Cukup?" tanya Dara pada Bagas.


"Ya cukup kok, terimakasih Dara..."


Atasan dengan bawahan, kenapa se akrab ini? aku kok jadi sedikit menaruh curiga yaa.. Gustaf membatin saat itu.


"Nak Gustaf, ayo nak makan dulu sebelum berangkat bekerja" kata Ibu.


"Masuk jam berapa, mas?" sambung Dara.


"Jam Tiga sore.. " kata Gustaf


"Mungkin aku ga menginap malam ini disini, Dar" kata Gustaf mengundang perhatian Bagas.


"Loh tak apa.. aku sendiri pun tak apa nanti biar ibu pulang naik ojeg" kata Dara santai.


Bagas hanya menyimak obrolan Dara saat itu.. Bagas mulai memakan menu masakan rumahan tersebut.. terlihat keringat mulai bercucuran di keningnya..


"Dara, bos kamu kepedasan" kata Ibu berbisik pada dara.


Dara membuka tas nya, mengambil tissue dan menyodorkannya pada Bagas.


"Keringet nya lap dulu" kata Dara membuat Bagas melempar senyumnya.


"Makasih" kata bagas.


Cemen... pedes gini aja udah keringetan.. Batin Gustaf kesal.


Ibu sedikit terkekeh melihat Bagas yang nampak berjuang menghabiskan makanan itu dengan cukup berselera.


"Pak .. enak?" tanya Ibu.


"Hemm enak Bu, Dara gak pernah masak ini di apartemen" kata Bagas secara spontan, sontak ucapan itu menggundang perhatian Ibu juga Gustaf.


"Hemm.. di luar kota Dara tinggal di apartemen Bu, mas..." Dara dengan cepat membuat sebuah pengakuan hingga Bagas juga menyadari ucapannya sedikit terlewat batasan.


Mabok cabe nih orang, sampe keceplosan... Kesal Dara.


"Oh begitu... Nak Bagas mau nambah? ini masih banyak" kata Ibu menawarkan.


"Saya mau nambah Bu, laper" kata Gustaff cepat.


"Laper apa Baper?" goda Dara dengan sangat jahilnya.

__ADS_1


"Baper memang bikin laper, Dara" kata gustaf kesal.


"Kalo BAPER nya berlebihan bisa jadi sulit makan Mas, merana memikirkan perasaanya" kata Dara membuat gelak tawa dirinya, ibu hanya tersenyum tak memahami apa yang di ucapkan Dara.


"Bu , habis ini Dara pamit bentar ajak makan Zai ya?" kata Dara meminta izin sambil menyelesaikan makan nya.


"Oh iya.. tidak apa-apa" jawab ibu


"Loh Dar, masa ibu sendirian.. mas kan mau kerja" kata Gustaf seolah tidak dapat merelakan begitu saja kebersamaan Dara bersama Zaidar terlebih ada Bagas saat itu.


"Tidak apa-apa.. ibu juga mau sambil mengaji" kata ibu menjawab.


Dara paham bahwa Gustaf tengah tersulut api cemburu..


Dara menggoda Gustaf dengan manik turunkan alisnya saat mendengar ucapan ibu.


Makan pun selesai, Dara berpamitan sejenak kala itu.


"Dia siapa?" kata Bagas saat berada si samping Dara menjauh dari ibu dan Gustaf.


"Dia siapa??" tanya Dara bingung..


"Dia?? yang kamu panggil mas!"


"Oh.. Mas Gustaf? teman sejak aku sekolah menengah pertama dia pindah ke dekat rumahku, menjadi tetanggaku juga" kata Dara jujur.


"kenapa kamu panggil dia, mas? sedekat itu kah kalian?" kata Bagas lagi.


"Yaa bingung mau panggil apa, memang manggilnya itu" santai Dara.


"Kalo begitu, kenapa kamu tidak memanggilku Mas?" kata Bagas membuat Dara melirik Bagas di iringi tawanya, serta jantung berdebar dan pipi mulai merah merona.


aku seperti tengah bermimpi di siang bolong.. apa iya pak Bagas sungguh-sungguh ingin ku panggil Mas??? sungguh membuatku salah tingkah kali ini..


"Mas??? Mas_a sih?" Dara memberi pelesetan yang membuat Bagas jengkel


"Saya serius" kesal nya menimpali ucapan Dara.


"Hahaha oke-oke... hemm jangan donk pak, saya ga enak.."


yaa meskipun saya mau... kata Dara dalam hatinya melanjutkan ucapannya.


"Kasih tuh anak kucing kalo gak enak" kata Bagas begitu ketus.


jutek nya singa ini mulai keluar... membuatku baper saja.. timpal Dara dalam hatinya.


"Zai.. mau makan apa, sayang?" kata Dara pada Zaidar mengalihkan pembicaraan.


Bagus sekali wanita ini.. bisa-bisanya dia mengalihkan pembahasan ku...


*


*


*


Hai.. kawan kawan semua.. Apa kabar? maaf kemarin tidak up yaa🙏❤️


Jangan lupa jejak petualang kalian disini di tinggalkan yaa.

__ADS_1


Like.. Komen dan Vote nya ❤️


__ADS_2